Adi Ekopriyono, Cerpen, Suara Merdeka

Awang Uwung

1
(1)

PADA awalnya gelap gulita. Tiba-tiba muncul warna-warna: hitam, kuning, hijau, ungu, dan abu-abu. Abu-abu lalu terlihat sangat dominan, hanya degradasinya yang berubah-ubah: kuat-lemah, kuat-lemah, berganti-ganti.

Tubuhku gemetaran. Kakiku terasa dialiri getaran-getaran yang sama sekali tidak aku pahami. Getaran itu pelan-pelan menjalar ke atas, menyebabkan seluruh tubuhku makin gemetaran dan menggigil. Aku merasa darahku berubah-ubah panas-dingin, membuat tubuh bergetar dan tidak lagi bisa aku kendalikan.

Getaran yang mengalir itu sampai ke bagian dadaku. Sejenak berhenti, kemudian aku merasakan getaran itu membawa jiwaku naik ke otak. Aku merasakan suatu konflik yang dahsyat berkecamuk di dalam otakku. Terjadi tarik-menarik yang sama-sama kuat; apakah aku akan melepaskan jiwaku dari tubuh atau tetap saja berdiam di dalam tubuh. Aku dilanda ketakutan yang tidak terhingga.

Aku tidak lagi sempat berpikir, ketika tiba-tiba merasa diriku menjadi seukuran kepalan tanganku sendiri dan melesat keluar dari kepalaku. Meluncur, meluncur, dan meluncur tanpa bisa aku cegah. Aku merasa bagaikan naik jetcoaster yang terlepas dari relnya. Cepat sekali! Menembus warna abu-abu dari berbagai gradasi. Jauh, makin jauh, menuju satu arah yang tidak aku pahami. Sangat menakutkan!

Baru kali ini aku merasakan ketakutan yang teramat sangat. Ketakutan yang selama ini aku kira sebagai ketakutan ternyata tidak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan ketakutanku kali ini.

“Gusti Allah, janganlah Engkau ambil nyawaku sekarang, karena masih banyak kewajiban dan tanggung jawab di dunia yang harus aku selesaikan. Aku masih punya anak-istri, aku masih harus menyelesaikan banyak pekerjaan di kantor. Ampuni aku duh Gusti, Zat yang Maha Pengasih-Penyayang, yang menguasai hidup matiku.”

Aku merintih-rintih, merengek-rengek dalam ketakutan yang mendera-dera. “Gusti, kalau boleh biarlah aku merasakan pengalaman ini sampai pada batas tertentu yang bisa aku kendalikan.”

Aku yang seukuran kepalan tanganku sendiri terus meluncur tanpa henti.

Astaga! Aku lihat ke kanan, tidak ada batas sama sekali. Aku lihat ke kiri, tidak juga ada batas sama sekali. Aku tengok ke atas, tidak ada batas. Aku tengok ke bawah, tanpa batas. Yang ada hanya abu-abu. Ampun Gusti!

Aku yang seukuran kepalan tanganku sendiri terus meluncur dalam kecepatan yang tidak dapat lagi aku ukur. Inikah perjalanan menuju kematian? Inikah perjalanan menuju alam yang kata orang akhirat itu? Menuju surgakah aku? Atau ke nerakakah aku?

Tubuhku yang seukuran kepalan tanganku sendiri terus meluncur tanpa bisa aku kendalikan. Entah berapa kilometer atau bahkan berapa ribu kilometer perjalanan yang telah aku tempuh. Otakku kadang bisa bekerja, tapi kadang kosong sama sekali. Yang ada hanya abu-abu.

Tiba-tiba ketakutanku berangsur-angsur menipis, berganti dengan kedamaian, keteduhan, ketenteraman. Aku merasakan kedamaian, keteduhan, dan ketenteraman yang tiada batas, yang belum pernah aku alami. Jiwaku damai, jiwaku teduh, jiwaku tenteram. Aku ingat kata-kata leluhurku dulu, “Sejatine ora ana apa-apa, sing ana kuwi dudu.

Baca juga  Kota-Kota Rantauan

Dalam kedamaian, keteduhan, dan ketenteraman itu aku hanya merasakan kekosongan. Aku yang seukuran kepalan tanganku sendiri, melayang-layang dalam warna abu-abu yang tak aku mengerti.

Sejenak aku tidak lagi ingat dunia, tidak lagi ingat anak-istri, tidak lagi ingat pekerjaan. Kosong! Inikah yang dikatakan orang manunggaling kawula lan Gusti? Aku tidak tahu! Atau, inikah pengalaman seperti yang dialami Bima dalam perjalanan menemukan banyu suci perwitasari, perjalanan bertemu dengan Dewaruci? Aku juga tidak tahu!

Kosong! Melayang-layang dalam atmosfer abu-abu. Awang uwung. Suwung. Damai, teduh, tenteram. Tidak ada dendam, tidak ada dengki, tidak ada permusuhan, tidak ada angan-angan yang menyandera, bahkan tidak ada cita-cita. Tulus, ikhlas!

Dalam ketulusan aku yang seukuran kepalan tanganku sendiri, terus meluncur tanpa henti, ketika tiba-tiba nun jauh di sana aku melihat cahaya putih yang sangat terang benderang; terang sekali! Menyilaukan! Nyaris aku merasa tidak bisa melihat apa-apa. Aku tidak paham, cahaya apa itu, cahaya siapa itu? Aku yang seukuran kepalan tanganku sendiri terus meluncur menuju cahaya terang benderang. Terasa dekat, sangat dekat, tapi tidak juga kunjung sampai.

Kembali ketakutanku menjadi-jadi. Kembali aku merasakan ada konflik yang mendera-dera. “Gusti aku pasrah,” tapi pada saat yang bersamaan bayangan-bayangan dunia seperti menari-nari. Aku ingat anak istriku, aku ingat teman-temanku, aku ingat berbagai kewajiban dan tanggung jawab yang masih harus aku selesaikan.

Tarik-menarik begitu kuat, sehingga tubuhku kembali gemetaran, menggigil. Gusti, Gusti, Gusti…. Aku tidak kuasa menembus cahaya yang sangat terang itu. Aku membayangkan melewati cahaya itu akan berarti tidak lagi bisa kembali. “Kados pundi dhuh Gusti, kawula mboten kiat.” Tiba-tiba aku berteriak, “Di mana anak istriku?” dan aku yang seukuran kepalan tanganku sendiri, dengan kecepatan yang tak aku mengerti, sudah kembali ke tubuhku yang makin gemetaran dan menggigil.

“Kamu manusia penakut. Kamu munafik. Manusia yang takut meninggalkan hal-hal yang biasa kamu lakukan. Manusia yang sering berkata pasrah, tapi ternyata sama sekali tidak memunyai kepasrahan. Manusia yang sering berkata “sebaiknya tidak terikat pada keduniawian” tapi takut meninggalkan dunia. Dasar manusia penakut dan munafik!” Suara itu mengiang-ngiang.

Aku terbengong-bengong di antara dunia sekitarku. Aku tidak lagi seukuran kepalan tanganku sendiri. Aku masih hidup, tapi suara itu terus menggedor-gedor jiwaku yang ternyata rapuh, munafik, dan tidak pasrah.

Aku merasa jiwaku tercabik-cabik, terjerembab pada kenistaan manusia yang ringkih tapi sok kuat, kotor tapi sok suci. Aku menangis dalam isak yang nyaris tidak terdengar. Aku menggapai-gapai bayang-bayang cahaya yang sangat terang benderang, tapi tidak lagi nyata. Aku menyesal, sangat menyesal, mengapa tadi tidak pasrah total saja untuk menembus cahaya itu, agar menemui pengalaman yang sama sekali belum pernah aku mengerti.

Baca juga  Danau, Kisah Pria-pria Bermasalah

“Kamu memang baru sampai pada tarafmu itu, wahai manusia kerdil tidak tahu diuntung. Ketakutan dan ketidakpasrahanmu telah menjadi batu sandungan. Nikmati saja tahapanmu itu, karena semua pasti ada hikmah bagi kehidupanmu,” suara itu lirih.

Matur nuwun, Gusti,” kataku, juga lirih, meskipun aku tidak paham suara apa dan suara siapa itu. Masih dalam keadaan terbengong-bengong, dalam pikiran yang belum sadar sempurna, aku merasakan alam semesta mengecil dan memasuki tubuh-jiwaku. Inikah menyatunya jagad cilik dan jagad gedhe? Aku tidak tahu! Inikah kenyataan tentang ‘ilmu maklum’, yang membuat manusia memahami alam semesta yang ada dalam dirinya sendiri? Aku pun tidak tahu!

Dalam keterbengongan, aku merasakan ada suatu kekuatan yang mengendalikanku. Aku tidak mampu melawan kekuatan yang secara jelas menuntunku memahami sesuatu yang benar dan sesuatu yang tidak benar, sesuatu yang layak dilakukan dan sesuatu yang tidak layak dilakukan. Aku merasa tidak lagi bebas berpikir, bersikap, dan berperilaku. Kekuatan itu selalu mengarahkanku pada pikiran, sikap, dan perilaku yang ia kehendaki.

Kadang, bahkan sering, aku ingin melepaskan diri dari kekuatan yang tidak aku pahami itu, tapi pada saat bersamaan kekuatan itu sungguh sangat kuat menarikku. “Hidup itu pilihan, Nak! Kamu bebas menentukan akan mengikutiku atau menuruti angan-anganmu sendiri. Terserah!” suara itu berbisik lagi, kali ini agak keras.

Aku diberi kebebasan memilih, tapi kekuatan itu sangat kuat. Atmosfer abu-abu dan bayang-bayang cahaya yang sangat terang terus aku rasakan menguasai diriku. Meski hidup di dunia, aku merasakan keterikatan yang erat sekali dengan mosfer abu-abu dan bayang-bayang cahaya yang sangat terang itu. Inikah mati sajroning urip? Aku tidak mengerti! Yang aku rasakan hanyalah alam semesta yang merasuki diriku, seperti air samudera yang menyirami jiwaku. Damai, teduh, dan tenteram.

Matur nuwun dhuh Gusti! Engkau memang Zat yang tidak pernah meninggalkan manusia yang mau berupaya mendekat pada-Mu, meskipun upaya itu tidak pernah sempurna.

“Tidak! Kamu bukanlah manusia yang berupaya dengan sepenuh jiwa-ragamu. Kamu masih belum apa-apa, masih jauh, karena keterikatanmu pada dunia masih sangat kuat. Kamu tidak pasrah, meskipun kamu sering berkata ‘pasrah’. Kamu baru punya kehendak, tapi tidak berani melaksanakan kehendakmu itu dengan ikhlas. Kamu tidak akan sampai pada kesejatian, selama angan-anganmu masih membelenggumu,” suara itu terdengar lagi.

Aku merasa terjerembab pada kenistaan manusia yang lemah dan sok tahu. Aku sangat menyesal mengapa tidak mampu mematikan pikiranku sendiri untuk pasrah total dan menembus cahaya putih yang sangat terang benderang itu. Aku menggapaigapai bayang-bayang cahaya itu, tapi gapaianku tak pernah sampai. Aku menangis dan merengek-rengek untuk sampai ke sana, tapi tangisan dan rengekanku terasa sia-sia.

Baca juga  Cerita Pendek yang Tidak Pernah Selesai

Kedamaian, keteduhan, dan ketenteraman yang sudah aku rasakan, ternyata masih jauh dari “yang seharusnya”. Alam semesta yang aku rasakan sudah merasukiku, air samudera yang sudah menyiramiku, ternyata masih belum juga menjadi kesejatian. Inikah gambaran tentang sulitnya manusia meniti sirotolmustaqim; rambut yang dibelah tujuh? Atau potret sulitnya manusia menuju kesempurnaan karena “lebih mudah onta masuk ke lubang jarum daripada orang kaya masuk surge”? Entahlah!

Atmosfer abu-abu dan cahaya terang benderang terus-menerus membayangiku. Kerinduanku teramat sangat. Penyesalanku berkepanjangan. Ampunilah aku, Gusti. Aku memang manusia yang tidak tahu diuntung, manusia bodoh yang tidak layak bersanding dengan-Mu. Berikan kekuatan duh Gusti, agar aku mampu menerima hukuman dari-Mu.

“Tinggalkan keduniawianmu, tinggalkan kedengkianmu, tinggalkan kesombonganmu, tinggalkan angan-anganmu, kamu akan menemukan dirimu sendiri, menemukan kesejatian….” suara itu terasa mengetuk-ngetuk jiwaku.

Aku tertodong dalam keadaan tersipu. Malu sekali! Selama ini, ternyata aku hanyalah manusia pongah, yang tidak mengerti apa-apa. Atmosfer abu-abu dan cahaya sangat terang benderang itu membuka tabir kemunafikanku, topeng keakuanku yang selama ini membungkus kekotoran-kekotoran angan-angan, sikap, dan perilakuku.

Aku mulai sadar, bahwa apa yang selama ini aku anggap sebagai ketakutan ternyata bukanlah ketakutan, karena ketakutan yang sesungguhnya adalah ketika jiwa akan tercerabut dari tubuhku. Aku mulai sadar, bahwa apa yang selama ini aku anggap sebagai kedamaian, keteduhan, dan ketenteraman ternyata bukanlah kedamaian, keteduhan, dan ketenteraman yang sejati. Kedamaian, keteduhan, dan ketenteraman sejati hanya ada dalam atmosfer abu-abu dan cahaya yang sangat terang itu, ketika pikiran tak lagi ada, ketika jiwa berada dalam kekosongan: suwung.

Atmosfer abu-abu dan cahaya sangat terang itu melampaui sekat-sekat yang dibuat oleh manusia di dunia ini, entah itu bernama pangkat, derajat, etnis, golongan, bahkan agama maupun batas-batas baik dan buruk. Bahkan, atmosfer abu-abu dan cahaya yang sangat terang itu juga melampaui batas-batas kekinian dan ke-di sini-an. Kosong! Zero quantum!

“Aku ada di sini, tapi kamu tak pernah mampu menjangkau-Ku.” Aku merasakan suara itu. Aku bertambah malu pada diriku sendiri yang lebih sering diperbudak angan-angan daripada memasrahkan diri kepada Yang Maha Pasrah.

Dhuh, Gusti, paringana kekiatan.” Aku kembali merengek-rengek dalam kelemahanku. Aku menggapai-gapai awang uwung, tapi gapaianku tak pernah sampai. Aku mencari-cari cahaya yang sangat terang benderang, tapi pencarianku tak kunjung usai. (*)

Genuk Indah, Januari 2011

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: