Cerpen, Republika, Sam Edy Yuswanto

Sajadah

0
()

SUDAH seminggu ini Angga membiarkanku terkapar sendirian di pojok kamarnya yang lembap dan dingin. Aku digeletakkan begitu saja. Dicuekin sendirian. Sekujur tubuhku jadi terasa gatal-gatal karena debu-debu yang menempel di badanku kian menumpuk setiap harinya. Bahkan, tadi pagi tubuhku dijadikan lalu lintas segerombolan semut-semut kecil berkulit hitam. Tadinya, kupikir semut-semut itu mau menggigitiku. Lantas menjadikan tubuhku sebagai sarangnya. Tapi, dugaanku meleset. Karena ternyata, semut-semut itu cuma sekadar menumpang lewat saja.

Ajaibnya, dari mulut para semut itu tak henti-hentinya melafazkan rangkaian kalimat zikir. Subhanallah! Sekujur tubuhku sampai merinding dibuatnya. Manusia yang dikaruniai akal saja tidak sesering itu mengucapkan zikir. Malah sering abai untuk sekadar bertasbih, mengingat Sang Khalik yang telah meruahkan beraneka kenikmatan yang tiada bisa terhitung.

Sebelumnya, Angga, majikanku itu sangat perhatian dan bersikap manis sekali dengan keberadaanku. Mengenang masa-masa indah bersamanya, aku jadi merasa tersanjung. Setiap hari, dengan penuh rasa kasih sayang, Angga membersihkan debu-debu liar yang menempel di tubuh merahku. Tak lupa, disemprotkannya wewangian dengan aroma terbaik ke sekujur tubuhku. Dan, jika tubuhku sudah mulai ada tanda-tanda beraroma kurang sedap, buru-buru Angga membawaku ke kamar mandi. Pelan, diguyurnya tubuhku dengan air suci menyucikan.

Dengan telaten Angga menyabuni tubuhku menggunakan sabun yang aromanya begitu wangi menusuk kedua lubang hidung. Setelah tubuhku telah kering benar, lagi-lagi disemprotkannya wewangian nomor wahid, yang semerbak harumnya membuat teman-temannya berebut meraih dan menciumiku. Aku selalu tersenyum bangga bahagia bila mengingat itu semua.

Setiap azan shalat menggema, Angga buru-buru mengambil air wudhu, kemudian menyisir rambut cepaknya hingga rapi. Mengganti celana jeans-nya dengan kain sarung. Dan tak lupa menukar kaos oblongnya dengan baju koko putih lengkap dengan peci hitamnya. Disemprotkannya wewangian ke seluruh tubuhnya, juga ke tubuhku. Lalu, ia mengajakku ikut serta menemaninya ke masjid yang berjarak hanya selemparan kerikil saja dari depan rumahnya untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Seusai shalat, aku masih setia menemaninya melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan khusyuk. Setelah itu, ia pun memanjatkan doa, mengharap dipermudah segala urusan dunia akhiratnya. Spontan, tubuhku yang semula gerah, tiba-tiba jadi terasa adem. Nyaman sekali rasanya saat ikut terhanyut bersama rangkaian kalimat-kalimat shalatnya. Pun saat mendengar lantunan ayat-ayat suci dan doa yang menggema dari bibirnya. Hhmm, benar-benar aku tidak bisa melupakan begitu saja saat-saat termanis dan terindahku bersama Angga, majikanku yang saleh itu.

Tapi, sudah seminggu ini, jangankan untuk merapikan atau mengguyur tubuh merahku dengan air dan menggosokku dengan sabun terwangi. Sekadar menjamahku pun sudah tak pernah dilakukannya. Aku merasa ditelantarkan begitu saja. Habis manis sepah dibuang. Itulah yang tengah menimpaku. Oo, sungguh, aku sedih sekali. Perubahan drastis majikanku itu bertepatan saat kulihat dia mulai akrab dengan Blackberry barunya.

Baca juga  Bacalah: Merapi!

Perhatiannya kini lebih tercurah kepada BB kesayangannya itu, hadiah papanya saat dia berulang tahun yang ke-17 belum lama ini. Ke mana pun Angga pergi, benda ajaib itu selalu menemaninya. Acap kali kulihat dia tersenyum dan tertawa-tawa sendiri sembari memandangi ponselnya yang sedang menyala-nyala, menyinari sebaris nama perempuan yang membuat dada majikanku mendebar nakal. Saat BB-nya telah menempel di telinganya, terdengarlah dia bercanda mesra dengan seorang perempuan genit di seberang sana.

Di saat tidur pun, Blackberry-nya selalu tergolek manja di sampingnya. Pernah kumemergoki, Angga tertidur pulas sambil memeluk dan memeganginya. Benar-benar aku merasa iri dan cemburu dibuatnya. Dulu, sewaktu Angga belum memiliki ponsel, waktu luangnya banyak dihabiskan untuk membaca buku, dari buku-buku pelajaran, novel, kumpulan cerpen, majalah, dan koran harian langganan papanya. Tak jarang, kulihat beberapa kali dia mendatangi majelis taklim untuk mengikuti tausyiahnya Pak Haji Imron yang setiap Ahad pagi rutin dilaksanakan di serambi masjid depan rumahnya. Dan tentu saja, aku selalu turut serta mendampinginya.

Namun kini, semua aktivitas itu sudah tak pernah lagi kulihat. Tiap hari, saat berada di kamarnya, kulihat Angga sering tertawa cekikikan sambil ngobrol ngalor-ngidul tidak jelas dengan seorang perempuan melalui ponselnya. Bahkan, pernah beberapa kali kulihat, Angga menelepon perempuan yang bukan muhrimnya itu mulai tengah malam hingga menjelang Subuh. Maklum, pada masa itu, tarif menelepon tengah malam kan gila banget murahnya. Dan, sekujur tubuhku meradang dan bergetar hebat menahan amarah saat dari mulut Angga keluar kata-kata jorok saat mengobrol dengan cewek tersebut.

Setengah jam sebelum azan Subuh berkumandang, dia menyudahi percakapannya, lantas merebahkan badan dan dalam hitungan detik langsung pulas bersama mimpi-mimpinya. Angga ketiduran hingga sang mentari nyaris beringsut ke tengah langit mengeluarkan teriknya yang sedang menuju puncak klimaks. Shalat Subuh pun terlewat begitu saja. Andai saja aku mampu bergerak, pasti aku akan menggulung tubuhku untuk kupukulkan berkali-kali ke tubuh dan wajahnya agar dia bangun dan sadar kalau dia punya kewajiban bersujud menghadap Sang Khalik.

Namun, itu sangatlah mustahil kulakukan karena aku hanyalah sehelai kain dengan panjang satu meter lebih sedikit dan lebar hanya 60 sentimeter. Tidak begitu tebal. Juga tidak terlalu tipis. Yang tak mampu berkata-kata. Juga tak dapat berbuat apa-apa. Hanya sebatas merasakan keprihatinan yang mendalam dengan perubahan-perubahan drastis majikanku itu.

Baca juga  Subuh Mak’ke

Masih terasa hangat di ingatan, saat-saat terakhir majikanku menjamah dan menunggangi tubuhku dengan kasar. Dia terlihat grusa-grusu shalatnya. Gerakan-gerakannya selaksa kilat, tak ada thuma’ninah-nya sama sekali. Seusai shalat, Angga yang punya kebiasaan berzikir dan membaca beberapa baris ayat Alquran dan disudahi dengan doa, tapi waktu itu sungguh lain dari biasa-biasanya. Gegas dia berdiri dan melemparkanku begitu saja di pojok kamarnya yang dingin tak beralas itu.

Buru-buru dia menukar sarungnya dengan celana jeans hitamnya. Lalu, dia berdandan rapi dan… wangi sekali. Rambutnya dilumuri dengan minyak rambut yang jika disisir dengan jari-jari tangan langsung berdiri sendiri. Dia mengenakan baju hem lengan pendek biru motif kotak-kotak.

Hmmm, dia jadi terlihat tambah ganteng saja dengan dandanan seperti itu, keren sekali, layaknya presenter kondang Choky Sitohang yang jam terbangnya mengawang tinggi tiada tanding. Tapi, ngomong-ngomong majikanku itu mau ke mana, ya? batinku bertanya-tanya kala itu. Belum lagi rasa penasaranku terjawab, tiba-tiba Blackberry-nya bergetar dan melengking-lengking nyaring. Angga meraih BB-nya yang tergeletak di ranjang berseprai warna biru muda. Kulihat, dia tersenyum-senyum kegirangan seraya memandangi ponselnya dengan kedua mata membinar tak berkedip dan menggumam kata “yes, yes,” berkali-kali.

“Halo, Sayang…. Tunggu sebentar, ya?”

“Iya, Sayang, nggak lama kok. Ini juga sudah mau berangkat. Tunggu sebentar, ya? Mmmuuaah…!” begitu katanya setelah memencet salah satu tuts ponselnya.

Ups! Aku pun langsung teringat, waktu itu adalah malam minggu. Bukankah saat nelpon kemarin sore, kudengar Angga bikin janji sama cewek yang dikenalnya lewat situs FB itu, mau nge-date di salah satu gedung bioskop? Katanya ada film horor yang baru tayang. Judulnya “Hantu Bantal Guling”. Pantesan, tadi shalatnya terburu-buru sekali. Astaghfirullah, apa yang terjadi denganmu Angga? Mengapa secepat itu kamu berubah? Lagi-lagi, aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menangisi dan meratapi kepergian majikanku. Tanpa mampu menghalangi atau sekadar berteriak mencegahnya.

***

Sepulang nge-date bareng perempuan itu, Angga terlihat lelah sekali. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Diraihnya remote AC yang tergeletak di sebelahnya. Sejurus kemudian, hawa dingin sekonyong-konyong menyerang tubuh merahku yang terbujur kaku kedinginan karena terlalu lama tergeletak di pojokan kamarnya yang tak beralaskan apa-apa. Lagi-lagi, Blackberry-nya menjeritjerit. Angga tersenyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya berkedip-kedip manja.

Baca juga  From Gaza with Love

“Halo, Sayang. Iya, barusan nyampe rumah, nih. Apa? Masih kangen? Aih, genit, ah! Baru ketemu kok sudah kangen sih?” Angga mesam-mesem sekaligus ngomong sendiri, persis orang gila yang pernah kulihat di gang dekat masjid saat aku dan Angga sedang duduk-duduk santai di serambi masjid seusai shalat Ashar beberapa bulan yang lalu.

“Iya. Abang juga kangen, kok. Ya udah, sekarang kamu bobo dulu, ya. Besok kita ketemuan lagi. Met bobo, Honey, semoga mimpi ketemu Abang, he he he…. Mmmuuuaah…,” lanjutnya, lalu menutup teleponnya sambil mengecupnya berkali-kali. Dan aku semakin yakin, kalau majikanku itu benar-benar telah terinfeksi virus gila nomor 49.

Tak berapa lama kemudian, kulihat dia begitu pulas tertidur tanpa mengucapkan doa sebelum tidur terlebih dulu. Padahal, dulu Angga paling rajin melafazkan kalimat-kalimat yang pernah diajarkan Rasulullah itu saat menjelang tidurnya. Apakah Angga sudah tidak hafal atau jangan-jangan sudah lupa?

‘Tuk kesekian kalinya, aku hanya mampu menatap majikanku itu dengan penuh keprihatinan. Andai saja aku bisa menjelma menjadi manusia, tentu aku sudah menangis di hadapannya. Bahkan, kalau perlu, aku akan bersujud di kakinya, memohon agar dia kembali seperti Angga yang dulu. Angga yang rajin shalat berjamaah di masjid, mengaji, dan tak pernah alpa dengan aktivitas-aktivitas positifnya.

Dan, seperti janjiku dulu, aku akan selalu bersetia menemani hari-harinya saat suka ataupun duka. Aku benar-benar rindu dengan bau napasnya saat melantunkan doa-doa khusyuknya di setiap sujud shalatnya.

“Ya, Allah. Aku mohon berikanlah dia petunjuk-Mu, kembalikan dia ke jalan yang lurus,” dalam sedihku, doaku terus mengalir untuknya. (*)

Puring-Kebumen, Januari 2011

Keterangan:

Thuma’ninah: salah satu rukun shalat (artinya, anteng/diam sejenak sekira cukup membaca tasbih).

Grusa-grusu: tergesa-gesa.

Penulis adalah cerpenis dan bergiat di FPK (Forum Penulis Kebumen), Mahasiswa S1 Tarbiyah STAINU Kebumen. Cerpen-cerpennya telah dimuat di berbagai media seperti Seputar Indonesia, Republika, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Pontianak Post, Surabaya Post, Tabloid Cempaka, Majalah POTRET, Kompas.Com, Suara Merdeka (cerpen anak), Kedaulatan Rakyat (cerpen anak), dan Annida-online.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: