Cerpen, Republika, Sinta Yudisia

Titik Hati

5
(1)

NYONYA Maali melompat dari kursi. “Apa?”Sepasang matanya seolah keluar dari tempurung kepala. Sekelompok lelaki, preman sekalipun, mengerut bila berhadapan dengan perempuan macam Nyonya Maali. Kritiknya tajam, suaranya pedih, tuduhannya merajam. Lebih dari itu, uangnya mampu mengaliri nadi untuk tetap hidup. Setiap yang bergantung di ketiaknya merasakan nyaman bersarang di gundukan uang, enggan untuk bersikap memusuhi. Ya, ya, ya. Usahakan ia mendengar persetujuan. Usahakan senyumnya terkembang. Usahakan ia selalu senang. Jika riang gembira, Nyonya Maali ibarat ATM berjalan.

Secara fisik, Nyonya Maali tak pantas ditakuti. Tubuhnya langsing, cita rasa perempuan kosmopolitan yang meski telah berusia senja tetap rutin memanjakan diri di spa-spa mahal. Apa saja yang menjanjikan jaminan kecantikan dilakukan Nyonya Maali. Sedot lemat, suntik pemutih, tarik wajah, sistem platelet, ia sangat memusuhi waktu yang menggerogoti usia. Tak heran, usianya yang setara dengan tukang rombeng keliling bertubuh tambun dan ubanan, Nyonya Maali tetap berkulit halus bak gadis remaja. Jika boleh, perempuan itu pun ingin menawar Izrail agar tak cepat-cepat memindahkan rumah mewahnya ke sepetak tanah.

Uang dan kekuasaan merupakan makanan utama hingga kudapan yang disikat setiap hari. Setiap yang bertemu dirinya akan mendapatkan suntikan serupa: jangan mau hidup jika tak punya kekuasaan, amit-amit lagi kalau tak punya uang! Konon kabarnya, kekayaan dan kekuasaan Nyonya Maali sudah turun-temurun, dari leluhur dan nenek moyang, dari mbah buyut, dari kakek nenek, orang tua, dari suaminya yang meninggal mendadak terkena serangan jantung saat main golf di Bali. Tak ada yang perlu ditakutkan Nyonya Maali terkait keuangan meski dunia perbankan di Indonesia gonjang-ganjing, uangnya tetap mengeram aman di bank-bank Eropa.

Yang membuatnya meradang, ketika menyadari bahwa dinasti keuangannya harus segera mengangkat pangeran pengganti, Nyonya Maali kebingungan. Ia hanya punya sepasang anak kembar, Dinar dan Dirham, harus memilih salah satunya sebagai penerus. Ambisi Nyonya Maali pun tak main-main, ia ingin salah satu anaknya menjadi penguasa, betul-betul penguasa. Minimal jabatan setingkat wali kota. Dinar tidak mungkin, kiprahnya di dunia modeling tak menjadikannya ikon yang pantas diajukan sebagai calon wali kota. Dirhamlah yang memungkinkan, sekalipun ijazah S1 dan S2-nya didapat secara instan, ia sosok lelaki muda yang menawan dan punya karisma. Setidaknya, itu pendapat Nyonya Maali.

Masalahnya, untuk mengajukan diri sebagai calon wali kota harus melalui serangkaian tes psikologis. Tim sukses Dirham yang didanai sepenuhnya oleh Nyonya Maali mengabarkan berita tak enak. Dirham tak lolos fit and proper test, kondisi psikisnya mengalami kesenjangan. Secara kasat mata, Dirham adalah lelaki muda masa kini. Rupawan, orator ulung, pemilik saham besar, pengusaha real estat, hingga pabrik kelereng plastik, menguasai bisnis dari hulu hingga ke hilir. Insting bisnisnya serupa dengan Nyonya Maali. Sayang, dalam battery test, ia banyak menunjukkan ketidakmampuan.

Baca juga  Seperti Natnitnole

“Beli saja hasil tesnya!” raung Nyonya Maali.

“Be…li?” ketua tim sukses tergagap. Menyogok polisi dan jaksa sudah biasa, memanipulasi tender adalah keahlian kroni Nyonya Maali. Membeli alat tes dan hasilnya? Belum terpikirkan. Merekayasa uang dan kekuasaan sudah menjadi hal yang mudah. Merekayasa ketahanan jiwa manusia? Tim sukses pusing juga meski mata menyala berkilat melihat janji Nyonya Maali.

“Kalau Dirham jadi wali kota, semua tender harus lewat meja kita.”

***

Tim sukses mendatangi biro psikologi.

Beramah-tamah pada awalnya, meminta agar Dirham di tes ulang. Mungkin saja terjadi kesalahan. Bukankah stres dan lelah bisa memunculkan pengelabuan hasil tes? Masuk akal juga. Sekelompok tester dengan senang hati menerima bayaran lebih. Bukan hal yang melanggar hukum, toh mereka hanya mengetes ulang.

Tim sukses menunggu cemas, Nyonya Maali uring-uringan, Dirham tak ambil pusing. Menjadi wali kota ambisi sang ibu, bukan ambisinya. Ia tak ambil peduli selama angka nol di tabungan tidak berkurang digitnya. Bukan hanya tim sukses yang pusing, para psikolog muda beserta tester pening berputar-putar.

“Pribadinya tidak terbaca, tidak konsisten,” cetus tester kesatu, melihat grafik batang EPPS.

“Kecenderungan sosiopat, gangguan emosional,” tester kedua menerawang grafik Sixteen Personality Factor Questionnaire.

“Jangan berinterpretasi,” tegur psikolog pertama, mengumpulkan data dan menyimpannya rapi.

Mereka memandang kerja tes Pauli yang seolah berteriak menyajikan hasil tanpa perlu diperiksa, MMPI yang seakan menyimpan berita horor. Setelah berkutat lama, tim sukses mendapatkan laporan.

“Kami hanya bisa menyimpulkan seperti yang tertera dalam laporan,” sang psikolog menyodorkan hasil.

Tidak punya ketahanan kerja.

Tidak punya daya dobrak.

Tidak punya konsentrasi yang baik.

Kecenderungan paranoid dan skizofren.

Mudah terintimidasi.

“Berapa kami harus membayar?” tim sukses menggebrak.

Psikolog tergeragap, menyatakan bahwa administrasi telah diselesaikan di depan.

“Bukan! Bagaimana kami harus membeli hasil agar Pak Dirham mampu menampilkan citra yang baik?”

Berkeringat, ketua tim yang masih terlihat muda dan penuh idealisme memberanikan diri berbicara.

“Kami tak bisa seperti itu, Pak….”

“Sebutkan saja harganya!”

“Bagaimana jika Pak Dirham diterapi sebentar? Atau mungkin… Bapak perlu membawanya ke beberapa peneliti kami yang terbukti mampu menyembuhkan klien sehingga mereka memiliki pribadi yang jauh lebih kuat?”

Tim sukses membayangkan wajah Nyonya Maali.

***

Nyonya Maali ibarat suhu turun gunung. Tim suksesnya dianggap tak cukup cepat bergerak sementara waktu pendaftaran calon wali kota di ambang penutupan. Ia menuju klinik terapis yang disarankan. Sekilas terpikir Dirham akan masuk ruang berjeruji mirip sel pesakitan. Sebaliknya, klinik yang disarankan jauh dari kesan seram. Dikelilingi pepohonan rindang, didominasi lahan luas, dan sebuah tempat peribadatan di ujung. Jika harus mendekam sementara, entah diutak atik jiwa atau otaknya demi menampilkan citra yang lebih kokoh, baiklah. Lagipula, klinik asri ini terasa aman untuk bersembunyi. Setidaknya demikian yang dirasakan Nyonya Maali.

Baca juga  Masjid ke-1.000

Sang terapis di klinik lebih terlihat seperti agamawan, berjenggot perak, dan mata bersinar-sinar. Asistennya lebih aktif bicara, menjelaskan, sementara sang terapis lebih banyak berdiam diri mengumbar senyum.

“Kami menemukan terapi baru. Sebetulnya sudah lama digagas Al Ghazali, yang mungkin lebih dikenal sebagai seorang ulama sufi. Al Ghazali menemukan nodus sinoatrial, terletak dalam titik tersembunyi di jantung. Mengapa orang berpikir, tapi merasa dengan dadanya? Mengapa matanya melihat perselingkuhan, tapi jantungnya yang terasa sakit? Itulah yang dinamakan nodus sinoatrial….”

Nyonya Maali mendengus. Entah menangkap atau tidak, ucapan asisten yang terlihat sangat ingin berilmiah itu tidak menggedor keingintahuannya. Dalam benaknya, Dirham akan keluar dengan kepribadian yang lebih baik, tidak dengan hasil yang diungkap para psikolog bodoh di biro murahan itu. Mata Nyonya Maali meneliti ruang klinik. Foto-foto Sigmund Freud, Carl Rogers, dan Watson bersanding dengan puisi-puisi Jalaluddin Rumi serta sertifikat sang terapis yang lebih sering didengarnya dipanggil Pak Yayi. Gabungan ilmu jiwa dan ilmu agama, boleh juga.

Dirham mendampingi Nyonya Maali, menurut meski menggerutu. Ia harus taat jika ingin tetap dimasukkan ke dalam daftar ahli waris.

Pak Yayi menemukan mesin baru, didukung santri-santrinya dalam menemukan penyakit yang tak terlihat. Belum dipatenkan, tapi sudah diuji coba dan terbukti berpuluh bahkan beratus menunjukkan hasil menggembirakan. Penyakit yang tak terdeteksi, jauh di bawah kulit, tak dapat didiagnosis dengan tes darah atau apa pun yang bersifat materi, telah dapat ditemukan dengan alat serupa mirip mesin fotokopi. Klien dibaringkan, disinar, lalu keluarlah lembar foto negatif yang menunjukkan penyakit yang diderita. Penyakit psikis, tentunya.

Asisten menyambung kabel, memutar kenop, memasang layar komputer, mengerjakan langkah demi langkah, sementara Pak Yayi mendampingi. Dirham tak mendapatkan perlakuan istimewa, hanya karena diagnosis dan terapi ini belum paten, Pak Yayi perlu mendampingi agar tak terjadi kesalahan fatal. Siapa yang harus bertanggung jawab jika tiba-tiba klien justru kehilangan kendali diri?

Nyonya Maali berdiam diri di ruang tunggu dengan gelisah, berkipas-kipas meski angin berembus bebas melewati jendela-jendela lebar yang dinaungi rimbun pohon mangga. Tidak ada AC, gerutunya. Bagaimana mungkin klinik seperti ini tidak memiliki fasilitas memadai?

Baca juga  Putusnya Tali Tasbih Kaoka

Asisten membimbing Dirham berbaring, mengajaknya relaksasi kemudian memotret keseluruhan tubuhnya tanpa kecuali. Tak sampai dua jam, hasil diketahui. Pak Yayi berkerut-kerut dibuatnya. Nyonya Maali terlonjak melihat Dirham berjalan beriringan.

“Bagaimana, Pak Yayi?”

Lelaki berjanggut perak itu terlihat berusaha memilih kalimat.

“Kapan terakhir shalat?”

Nyonya Maali menaikkan alis, Dirham menggeleng.

“Masih ingat surah al-Fatihah?”

Dirham angkat bahu.

“Syahadat?”

Dirham tak menjawab, Nyonya Maali meradang.

“Mengapa harus diinterogasi? Saya ingin Dirham bisa lolos fit and proper test, ia harus lolos tes psikologi dan Anda dirujuk oleh para psikolog bodoh itu mampu menyembuhkan kecemasan, kekhawatiran, dan kegilaan! Anak saya tidak punya masalah! Dia hanya butuh lolos seleksi!”

Pak Yayi menyodorkan sebuah negatif film.

“Apa yang Ibu baca?”

Nyonya Maali menarik kasar, menerawang foto itu di langit-langit.

“Saya tak lihat apa-apa!”

Pak Yayi mengangguk.

“Semua klien saya memiliki titik putih di sini,” ia menunjuk bayang hitam serupa jantung. “Ini yang diungkapkan Al Ghazali sebagai nodus sinoatrial, titik hati. Berdenyut makin baik, berwarna makin kemilau menyerupai noktah besar. Semakin cemerlang, semakin putih noktahnya, semakin luas pendarnya, semakin sehat jiwanya. Mereka yang bermasalah, titik hatinya hanya berupa noktah putih kecil. Putra Anda… sama sekali tidak memiliki noktah di sini.”

Nyonya Maali naik pitam.

“Jadi… bagaimana?”

“Bahkan, Sigmun Freud tak bisa mengobati jiwa seseorang. Yang bisa mengobati hanya kemauannya sendiri untuk melakukan upaya transendental.”

“Maksud Anda…?”

“Pak Dirham akan lolos seleksi jika ia punya struktur kepribadian yang kuat, itu hanya bisa diraih jika ia memang mau memperbaiki hubungan vertikal dan horizontal.”

Wajah Nyonya Maali memerah saga. Dirham hanya tersenyum dikulum. Menjadi wali kota bukan impiannya, lebih baik memutar uang di tempat lain. Prestise toh tidak didapat hanya dengan menjadi kepala daerah. Nyonya Maali menyeret langkah. Bersumpah serapah untuk mencari biro dan terapis lain yang lebih unggul. Sebelum pulang, Dirham berpaling.

“Pak Yayi… apa yang tak saya miliki dalam foto negatif Anda?”

“Titik hati.”

Dirham mengangguk, menyeringai lebar.

“Saya memang tidak punya Tuhan, Pak Yayi.” (*)

Sinta Yudisia, pegiat FLP, mahasiswi psikologi Univ.17 Agustus Surabaya.

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: