Cerpen, Suara Merdeka, Yudhi Herwibowo

Anak Iblis

1
(1)

ANACUCU, hari ini biarkan Ame Tua bercerita padamu. Pada waktu singkat, di antara gerimis yang tiba-tiba datang, aku akan bercerita perlahan agar engkau dapat menangkap segala sesuatu yang terungkap. Ini adalah kisah yang harus engkau tahu, karena tak ada lagi yang bisa menceritakan padamu, selain Ame Tua ini….

***

ENGKAU belumlah lahir kala itu. Tapi saat hari terasa begitu muram, ia lahir di kampung kita. Aku masih ingat, kala itu malam tanpa bulan dan bintang. Gumpalan awan yang biasa menyebar, tiada. Hanya lembaran hitam luas yang terlihat di langit. Sementara di kejauhan, suara burung hantu terdengar begitu jelas. Sepertinya jumlahnya tak hanya dua-tiga ekor seperti biasa, tapi sampai belasan. Sungguh, ini terasa aneh, membuat bulu kuduk kami meremang.

Namun heran, tak ada dari kami yang mengucapkan keanehan itu. Ya, tak ada. Mungkin karena saat itu perasaan kami memang tengah tak menentu. Hampir seluruh penduduk kampung ini, tengah berkumpul di depan mbaru niang keluarga kita, untuk menunggu kabar tentang kelahiran seorang yang seharusnya menjadi kae-mu.

Saat itu semua telah tahu, bila sudah lebih dari 20 bulan ini Mamae Lingpo, salah satu saudara terdekat kita, telah hamil besar. Dan semua orang pun tahu, bila ia hamil tanpa laki-laki bersamanya. Inilah yang semula membuat kami berpikir buruk padanya. Namun itu tak lama. Saat dua orang perempuan di kampung kita, yang hamil setelah Mamae Lingpo namun melahirkan lebih dulu, kami langsung menyadari bila perut membuncit pada Mamae Lingpo pastilah sesuatu yang tak biasa!

Anacucu, sejak dulu kampung kita adalah kampung kecil yang semuanya bersaudara. Hanya ada beberapa pendatang dari kampung sebelah, dan itu tak banyak. Ini mungkin karena kampung kita tak cukup menarik untuk didatangi bila di banding Wae Rebo. Namun sebenarnya, kampung kita tak jauh berbeda. Hanya bukit-bukit panjang yang menjulang ke langit tiada bercelah, yang seakan memagari kampung kita. Itu yang membuat orang di luar sana, tak banyak yang cukup tahu tentang keberadaan kampung kita.

Kampung kita adalah kampung berkabut yang di setiap permulaan harinya akan selalu di basuh oleh gerimis. Namun pada hari-hari menjelang kelahiran Mamae Lingpo, baru aku sadari bila gerimis tak lagi datang di kampung kita, juga kabut yang selama ini menyelimuti. Tentu ini mungkin sekadar kebetulan. Dan aku tak akan berpikir sampai sejauh ini, sampai hari kelahiran Mamae Lingpo benar-benar datang!

Di puncak malam, teriakan Mamae Lingpo memecah keheningan. Sangat panjang dan menyayat, membuat jantung kami semua seakan terhenti. Namun sejeda kemudian, gema teriakan itu berganti dengan tangisan bayi. Awalnya kami semua yang menunggu, bersamaan bernapas lega. Namun beberapa perempuan yang keluar dari dalam mbaru niang dengan terburu, membuat kelegaan kami seketika hilang. Terutama saat pembantu dukun beranak itu nampak terhuyung-huyung, dengan muka sepucat mayat.

Waktu itu aku yang menjadi tu’a golo di kampung ini, tentu saja segera mendekati dan bertanya padanya. Namun pembantu dukun beranak itu, hanya menatapku penuh ketakutan. “Bayi itu….” ia benar-benar tak bisa melanjutkan ucapan.

Tentu saja aku segera berlari ke dalam mbaru niang. Para perempuan di dalam sana, segera menepi memberi jalan. Dan begitu kain itu tersibak, aku lihat Mamae Lingpo telah terbaring kaku dengan mata terbelalak. Jelas ia meninggal selepas bayi itu keluar dari rahim karena tak jauh dari kedua kakinya, aku melihat bayi itu bergerak-gerak lemah.

Baca juga  Niat Jahat di Kepala Cheng Ho

Dan saat itulah, mata Ame Tua terbelalak.

Anacucu, engkau tahu apa yang kulihat di situ? Sungguh, kau tak akan pernah bisa menebaknya. Bayi yang terlahir itu, yang kini tergeletak di dekat kedua kaki ibunya, ternyata bukanlah bayi biasa. Tubuhnya berwarna merah. Tentu semula aku menyangka itu adalah warna bekas darah. Namun pikiran itu segera hilang, ketika dukun beranak itu mulai berdesis pelan. “Itu bukan darah,” ujarnya seakan bisa membaca pikiranku. “Dan jangan kaucoba untuk menyentuh! Tubuhnya… tubuhnya begitu panas….”

Aku terdiam. Mencoba membayangkan sepanas apa tubuh bayi itu. Namun kain yang tersingkap di antara kaki Mamae Lingpo seakan menjawab pertanyaan itu. Ya, di situ, di lubang kemaluan Mamae Lingpo, dapat aku lihat sesuatu yang tampak menghitam dan melepuh, seakan sesuatu… yang baru saja terbakar!

Sungguh, Ame Tua hanya bisa memandang itu semuanya dengan tak percaya. Ini sangat mengerikan. Dan orang-orang yang ada di dalam mbaru niang ternyata juga merasakan hal sama. Terlebih saat sang dukun yang nampak pucat pasi mendesis pelan, “Ia… bayi iblis….” Ia menunjuk bayi itu. “Kita harus… membunuhnya….”

Dan orang-orang tentu saja terpana mendengar ucapannya. Ketakutan tak bisa Ame Tua bayangkan muncul di wajah mereka. Dan sebelum semuanya terjadi, segera aku mengambil keputusan. Aku dekati bayi itu. Lalu setelah membalutnya dengan kain tebal, aku angkat bayi itu dalam pelukan.

“Ia baru saja lahir,” ujarku pada orang-orang di dalam mbaru niang ini. “Belum ada dosa yang ia buat. Apa kita tega menyebutnya dengan bayi iblis?”

***

SEJAK itu, aku mengasuh bayi itu. Sebenarnya aku ingin sekali memberinya nama seperti bocah-bocah lain. Namun orang-orang di kampung telanjur memanggilnya Bakar, sebuah nama yang diambil dari tanda tubuhnya yang merah seakan terbakar!

Maka jadilah ia tumbuh sebagai Bakar, tumbuh seperti bocah-bocah lain. Senang mendengar orang menyanyi, meminum susu, menangis selepas mengompol, dan semua tingkah bayi pada umumnya. Nampak tak berbeda. Hanya, tubuhnya memang selalu mengeluarkan hawa panas, membuatnya jarang sekali mau berpakaian. Maka aku beberapa waktu sekali, akan menceburkannya ke dalam bak air untuk mendinginkan tubuhnya. Kelak, semakin besar, aku membuatkan untuknya sebuah kolam kecil di depan biliknya.

Saat menginjak menjadi anak-anak pun ia bermain dengan bocah-bocah sepantarannya. Bermain kayu, memelihara anak babi, dan berlarian ke dalam hutan mencari sayur hutan. Dan satu lagi yang kemudian membuat orang-orang lain tak lagi membencinya adalah kesopanannya terhadap orang-orang kampung lainnya. Inilah yang lama-kelamaan, membuat gunjingan negatif tentang dirinya hilang dengan sendirinya.

Semula aku merasa lega. Apa yang aku lakukan dulu selepas kelahirannya, ternyata sesuatu yang benar. Namun entah mengapa, pada umur keenam, aku mulai merasakan sesuatu yang lain. Itu terjadi saat aku memarahinya karena sebuah sebab kecil. Tiba-tiba saja tanpa terduga, ia menatap tajam padaku. Sungguh, tak pernah aku merasakan sebuah tatapan yang begitu tajam, seakan sebuah pisau tajam. Mampu menggentarkan hati, dan membuat rasa takut muncul begitu saja.

Bahkan Ame-mu, yang ketika itu turut melihat berkomentar pelan, “Ia… sangat mengerikan….”

Dan aku hanya bisa menggeleng kepala perlahan. “Tubuhnya yang merah yang membuatnya tampak mengerikan. Bila tubuhnya berwarna seperti kita, tatapannya akan terasa biasa….”

Sebenarnya aku mengucapkan itu untuk menenangkan hati. Namun ucapan itu ternyata hanya bisa bertahan beberapa bulan saja. Karena sejak itulah, beberapa kejadian mengerikan terjadi di kampung kita!

Baca juga  Si Loak

Anacucu, pada saat engkau mulai tumbuh dalam janin ibumu, kisah-kisah tentang Bakar, mulai bermula. Kisah pertama yang aku ingat adalah saat ia tengah bermain dengan teman-temannya di ujung kampung. Seorang temannya tiba-tiba saja terjatuh, dan puluhan ular, kelabang dan kalajengking, tiba-tiba merubung dirinya dan menggigit seluruh tubuhnya. Entah di gigitan yang mana nyawanya meregang!

Saat mendengar kabar itu kali pertama, aku tak berpikir apa-apa. Engkau harus tahu bila di kampung kita binatang-binatang seperti itu banyak berkeliaran. Di setiap karang yang kauangkat, engkau pasti akan menemukan. Namun bisikan-bisakan para tetangga, tetap saja akhirnya membuat pikiranku menuju pada Bakar.

“Temannya itu baru saja mengalahkannya dalam permainan kayu,” bisik seorang tetangga. “Tiba-tiba Bakar memandangnya dengan tajam dan membuat temannya terjatuh, lalu… tu’a golo tahu sendiri apa yang kemudian terjadi….”

Aku masih mencoba menggeleng kepala saat itu. Tapi sungguh, gelengan ini terasa berat. Terlebih saat kejadian seperti itu, kembali terulang beberapa bulan kemudian. Kali ini menimpa seorang guru di sekolah Bakar. Entah bagaimana bisa, papan tulis di depan kelas, tiba-tiba jatuh menimpa tubuhnya. Tak hanya jatuh biasa, namun sangat keras, hingga meremukkan kepala sang guru.

Beberapa tetangga tentu saja segera datang padaku. Dengan wajah diliputi ketakutan mereka bercerita tentang itu. “Gurunya itu baru saja hendak menghukumnya karena ia tak membuat peker jaan rumah,” ujar salah seorang dari mereka.

Dan kali ini aku hanya bisa diam terpaku. Walau pada akhirnya aku masih menggeleng tak percaya, namun sungguh, gelengan itu semakin terasa tak meyakinkan.

Dan semuanya kemudian terjawab beberapa bulan berselang. Ame-mu tiba-tiba ditemukan jatuh ke dalam sumur kampung. Saat itu adalah hari ketika engkau akan lahir, dan ia baru saja pergi ke sumur untuk mengambil air bersih untukmu. Entah apa yang kemudian membuatnya memarahi Bakar di sana, namun engkau tahu apa yang kemudian terjadi? Di depan mata beberapa orang kampung ini, tiba-tiba saja tubuhnya terjengkang ke dalam sumur, seakan-akan ada orang yang mendorong tubuhnya dari depan!

Dan seiring teriakan kematiannya yang panjang, tangismu yang pertama pecah.

***

ANACUCU, engkau tahu, aku seharusnya tak menceritakan tentang keburukan keluarga kita, karena kita semua di sini adalah bersaudara. Kau lahir tujuh tahun setelah kelahirannya. Tentu saja engkau belum mengingat semuanya.

Tapi kala itulah aku dengan desakan semua orang-orang kampung, terutama tu’a gendang, memutuskan untuk mengusir Bakar dari kampung kita.

Ini mungkin terasa menyakitkan. Tak ada dari kami yang melihatnya melakukan hal-hal buruk itu secara langsung. Kami hanya tahu, ia menatap begitu tajam, sebelum sesuatu kemudian menimpa korban-korban itu. Tak lebih seperti itu. Kami yang kemudian menyimpulkan sendiri!

Dan Bakar hanya bisa menunduk pasrah, tanpa membela diri. Aku melihat matanya berair. Engkau tahu, waktu itu usianya baru genap tujuh tahun, jadi wajar bila ia menangis. Ingin rasanya saat itu aku memeluknya, seperti dulu, saat kali pertama aku menyelamatkannya.

Tapi aku tak dapat melakukan lagi kali ini. Dan Bakar, hanya bisa menatapku tak percaya. Ia memang sudah mendengar cerita bagaimana dulu ketika aku menyelamatkannya!

Saat itulah aku menyadari bila ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik celananya. Sebatang lidi, yang juga berwarna merah. Lalu dengan gerakan lambat, ditancapkannya lidi itu ke tanah, di antara aku dan dirinya.

Baca juga  Boikot

Setelah itu, tanpa berkata-kata lagi, dia pergi. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang merah, menjauh ke arah matahari. Lalu selepas tubuhnya tak lagi terlihat, tatapan kami kemudian beralih pada batang lidi yang tertancap itu. Melihat lidi yang berdiri rapuh seperti ini, mengingatkanku pada sebuah dongeng usang tentang seorang bocah yang teraniaya dan kemudian menantang para penduduk yang menganiayanya untuk mencabut lidi yang ditancapkan. Namun tak ada yang bisa menariknya, selain dirinya sendiri. Lalu dari lubang lidi itulah banjir kemudian datang dan menenggelamkan desa itu….

Ya, dongeng itu menggelitikku. Tapi pada zaman sekarang ini, tentu itu tak akan terjadi. Seorang pemuda kampung yang kemudian mendekati lidi itu, tanpa meminta pertimbangan yang lain, sudah menariknya dengan begitu mudah. Tak ada yang bereaksi atas tindakannya. Walau sebelum lidi itu benar-benar lepas dari tanah, ia sempat melirik ke arah kami seakan meminta pertimbangan.

Dan engkau tahu apa yang kemudian terjadi? Dari lubang bekas lidi itu tertancap, tiba-tiba keluar air yang memuncrat ke atas. Aku hanya bisa menatap tak percaya. Semula semburan itu hanya sekecil ukuran lubang lidi itu, namun lama kelamaan semburan air itu membesar dan terus membesar. Sungguh aku hanya bisa tertegun tak percaya. Dongeng usang itu seakan terjadi di depan mataku.

Dan sebelum kami semua benar-benar sadar, air semakin membesar, kotor, berlumpur, dan membuat gulungan yang mengerikan!

Keadaan seketika menjadi panik. Kami semua berlarian menyelamatkan diri. Namun semburan lumpur itu semakin bergerak cepat, membuat gelombang besar yang terus berulang. Menenggelamkan sejengkal demi sejengkal tanah kami.

Satu rumah terdekat kemudan hancur. Ame tua-mu ini masih bisa meraih tubuhmu yang terlepas dari pegangan ibumu, di antara gerimis yang tiba-tiba muncul….

***

 ITU adalah hari terkelam bagi kampung kita. Semua seakan menjadi gelap. Hanya aku yang masih bisa bangkit di antara mayat-mayat yang bergelimpangan itu.

Engkau lihatlah, Anacucu! Semua telah mati di sini, juga ibumu. Walau engkau belum cukup bisa memahami semuanya, namun aku yakin kalau kenangan mayat-mayat di antara genangan lumpur yang menggenangi seluruh kampung kita, akan engkau ingat sepanjang hidupmu. Maka itulah aku membuatkan sebuah sampan kecil, agar engkau bisa terus berlayar melihat kampung kita yang kini telah berganti menjadi kubangan lumpur.

Namun…aku tak bisa menemanimu lagi. Sudah kuputuskan untuk mencari Bakar untuk membunuhnya, sebagai cara untuk membayar semua ini. Dan nanti, bila engkau tak lagi mendengar kabar tentang Ame Tua-mu ini. Entah itu karena aku tak juga menemukan manusia itu, atau pun aku yang ternyata terbunuh olehnya, engkau yang harus melanjutkan semuanya. Karena hanya engkau satu-satunya yang tersisa dari kampung kita. (*)

Pawon Solo, 2010

Catatan

Ame : bapak

Ame tua : lelaki tua, bisa sebagai sebutan bagi diri sendiri

Anacucu : sebutan bagi seorang anak kecil/cucu

Kae : kakak

Mbaru niang : rumah asli Manggarai yang bentuknya bulat beratap jerami

Tu’a gendang : pemimpin upacara adat

Tu’a golo : kepala kampung

Wae Rebo : salah satu wilayah di Ruteng, NTT

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: