Azizah Hefni, Cerpen, Republika

Pergi Haji

0
()

HARI ini, Pak Pri dan Bu Pri bertengkar. Padahal sebetulnya, hari ini mereka harus segera datang ke rumah Yamin, tetangga sebelah rumah yang menggelar selamatan haji istrinya, Azizah. “Seandainya aku bisa meniru sikap Yamin, sudah pergi haji aku! Mengapa dulu tidak kutinggal saja kamu!” Pak Pri mengeraskan suaranya. Bu Pri geram. “Bapak ini jangan menyalahkanku terus! Katanya, bapak cinta, bapak ingin susah senang bersamaku!”

Pak Pri melengos, pura-pura tak mendengar pembelaan istrinya. “Sekarang, pakai uang siapa supaya aku bisa berangkat haji, heh?! Raka gombloh itu minggat! Ini gara-gara kamu! Terlalu percaya pada anak!”

“Pak, Raka itu anak kita! Jangan bicara seperti itu!”

Halah! Anak kurang ajar kok dibela!” Ia menarik napas dalam, “Usiaku sudah tua! Bagaimana kalau aku keburu mati dan belum berangkat haji?”

Mendengar itu, Bu Pri berlari ke kamar dan membanting pintu. Ia menangis tersedu-sedu. Dada Pak Pri bergemuruh. Ia menggerutu, memaki-maki istrinya. Tiba-tiba, matanya terasa berat. Ia menangis juga akhirnya.

Dulu, saat Yamin hendak berangkat haji, Pak Pri dan Bu Pri tak datang. Ini karena mereka kesal dengan sikap Yamin. Menurut Bu Pri, Yamin terlalu egois, dan Pak Pri yang selalu menurut pada istrinya itu, membenarkan pendapat istrinya. Saat itu, Yamin memang keras kepala, tak menghiraukan nasihat mereka. Tega betul ia berangkat haji sendirian, meninggalkan Azizah yang hamil tujuh bulan dan anaknya, Bayu, yang baru berusia tiga tahun.

“Yamin itu senang kok dinikmati sendiri! Kasihan Azizah dan Bayu! Baru saja kawin dan anaknya masih kecil sudah ditinggal pergi jauh!” Begitu komentar Bu Pri dengan nyinyir. “Kan bisa ditunda dulu! Pelan-pelan, mengumpulkan uang lagi, supaya bisa berangkat bareng-bareng. Kalau begini, Azizah jadi korban. Dikiranya mudah apa hidup tanpa suami?”

Pak Pri manggut-manggut seperti ayam. Ia sepakat dengan perkataan istrinya. Menurutnya, suami istri itu seharusnya susah senang bersama. Ia saja rela menunda keberangkatan hajinya, hanya karena istrinya merasa belum siap. Kata istrinya begini, “Haji itu bukan perkara mudah. Pergi haji itu sama dengan pergi mati. Haji punya beban moral dan sosial yang berat. Jadi pak haji itu harus siap menjadi imam di masjid tiap saat. Harus siap jadi penasihat masyarakat. Kalau jadi pak haji itu tidak bisa seenaknya pakai celana pendek dan singlet sembarangan, aku juga tidak bisa pakai rok dan harus pakai kerudung! Jadi haji juga harus pinter mimpin diba’, pinter ngaji, pinter doa-doa bahasa Arab! Nah, kita?”

Baca juga  Kota Ini adalah Sumur

Jadi, demi istri tercintanya—termasuk takutnya ia pada berbagai tuntutan sebagai Pak Haji, Pak Pri memutuskan menunda keberangkatannya ke Tanah Suci. Setelah menerima pesangon pensiunan dari pabrik rokok tempatnya bekerja sebesar enam puluh juta, Pak Pri memutuskan untuk menabungkan dulu uangnya ke bank.

Ia percaya, seiring berjalannya waktu, istrinya bisa mempersiapkan mental dan segala risiko menjadi bu haji. Ia tak mau berangkat tanpa istrinya yang sudah setia menemani dan mencintainya.

Pak Pri ikut-ikutan kecewa dengan keputusan Yamin yang berangkat haji duluan, tanpa menunggu istrinya. Sudah berkali-kali dinasihati, masih saja nekat anak itu. Karena kesal pada Yamin, Pak Pri dan Bu Pri tidak datang ke selamatan keberangkatan haji Yamin. Mereka sengaja di rumah, melihat sinetron berdua.

Tapi, dasarnya Yamin anak baik, ia datang sendiri ke rumah Pak Pri dan Bu Pri untuk berpamitan. Saat itu, ia datang bersama istrinya. Walaupun ketika ia datang disambut dengan muka masam keduanya, Yamin tetap tersenyum seramah mungkin.

Ia berkata setenang ini, “Saya mau pamit, Bu. Doanya, semoga saya bisa kembali dengan selamat.” Lalu, permintaan restu itu ia sambung begini, “Istri saya sudah saya bilangin agar tidak merepotkan bapak dan ibu. Cuma, kalau ada hal yang mendesak, mohon dibantu. Bagaimanapun, bapak dan ibu sudah kami anggap seperti orang tua sendiri.”

Sesegera mungkin, Bu Pri bangkit dari kursinya dan mendekati Yamin. “Lihat mata istrimu itu! Kamu tidak kasihan lihat dia nangis terus?!” Yamin langsung cemas. Tapi, lagi-lagi, ia tetap mencoba tenang. “Saya tahu bapak dan ibu belum bisa menerima. Tapi, maafkan saya, saya harus pura-pura buta dan tuli. Saya sudah dipanggil, jadi saya harus berangkat. Istri saya sudah saya beri pengertian. Saya akan kumpulkan uang lagi untuk haji istri saya nanti.”

Bu Pri melengos, “Halah, kamu ini! Berangkat bersama, kenapa? Tunggu beberapa tahun saja, apa susahnya? Uangmu itu bisa di bank-kan, seperti suamiku ini. Pasti aman! Kita bisa berangkat bersama-sama kalau kamu mau! Kamu tidak sabaran sekali! Kasihan istrimu ditinggal sendirian!”

Yamin menggeleng. “Saya harus berangkat mumpung ada kesempatan.”

Lho, kesempatan itu cuma ditunda, bukan dibuang! Bukan begitu, Pak?” Pak Pri mengangguk-angguk ditanya begitu. Bu Pri mencibir, prihatin dengan watak Yamin yang keras tidak ketulungan.

Azizah menangis perlahan. Yamin melirik istrinya tak tega.

“Lihat! Istrimu jadi sedih begitu! Tega sekali kamu ini, Min, Min!”

Yamin diam. Ia hanya menggenggam tangan Azizah erat: mengisyaratkan bersabar. Hanya itu yang bisa ia lakukan.

Baca juga  Susuk Kekebalan

Akhirnya, Yamin tetap berangkat ke Tanah Suci. Bu Pri sering sekali memergoki Azizah menangis sendiri di rumahnya. Walaupun Azizah berusaha menutupi kesedihan hatinya, kemurungan di wajahnya tetap saja kelihatan. Mata Azizah sering sembap, bibirnya tambah hari tambah memucat. Bayu pun begitu, tak berhenti bertanya ke mana bapaknya pergi.

Sampai suatu hari, Raka, anak Pak Pri dan Bu Pri yang ada di Jakarta itu menelepon. Raka meminta Pak Pri membantu memberinya modal untuk mengembangkan usaha persewaan mobilnya. Alasannya, satu mobil saja tak cukup banyak menghasilkan uang. Dekat-dekat minggu ini, istrinya mau melahirkan. Belum lagi, Raka harus memasukkan anak kembarnya ke SMP.

“Nanti modal itu akan saya kembalikan! Saya janji! Kalau persewaan mobil itu berkembang, keuntungannya lumayan. Jadi, jangan khawatir, Pak, tahun depan pasti saya bayar kontan!” Pak Pri mendiskusikan hal itu dengan istrinya. Dan jawaban istrinya begini, “Wah, kalau begitu kita kasih pinjam saja si Raka itu. Toh, dia janji mau kembalikan uang itu tahun depan. Tidak apalah. Raka itu anak jujur dan bertanggung jawab, tidak seperti Budi, kakaknya!”

Maka, Pak Pri memberikan semua pesangon pensiunannya pada Raka. Menyimpan uang itu di bank dengan mengutangkannya pada Raka yang jujur itu tak ada bedanya, begitu pikirnya. Toh, Raka akan cepat mengembalikannya.

Saat tiba waktu Yamin datang dari Tanah Suci, Azizah—yang sedang hamil tua itu—girang tak ketulungan melihat suaminya datang dengan selamat. Seterusnya, Yamin memang berubah. Setiap hari datang ke masjid. Yamin juga mulai diminta memimpin tahlil, membaca doa, memimpin dibaiyyah, dan lain sebagainya. Julukan Yamin berubah. Orang-orang menyebutnya Kaji Yamin.

“Apa kubilang? Jadi pak haji itu berat! Iya, kalau Yamin bisa melakukan tugas pak haji dengan baik, lha bapak? Tahlil saja tidak hafal-hafal!” Mendengar itu, Pak Pri cuma bisa malu.

Beberapa bulan setelah itu, betapa terkejutnya Pak Pri saat tahu bahwa Raka, anaknya itu mengalami kebangkrutan. Dua mobil yang disewakan dibawa lari penyewanya. Polisi tak bisa menangkap pelakunya yang kabur entah ke mana. Raka depresi. Rumahnya dijual. Pak Pri marah tak karuan. Didampratnya anak semata wayangnya itu lewat telepon, “Kamu ini bagaimana?! Itu duit naik haji bapak sama ibu! Pokoknya kembalikan!!”

Ditekan begitu, Raka dan istrinya malah kabur entah ke mana….

Itulah cikal bakal pertengkaran Pak Pri dan Bu Pri. Pak Pri yang selalu menurut pada istrinya, mulai berani protes. Istrinya juga tak mau kalah. Puncak pertengkarannya adalah ketika Azizah berhasil berangkat haji.

Baca juga  “La Vie”

Tapi, dasarnya Yamin orang baik, maka, malam itu, diantarkannya istrinya ke rumah Pak Pri dan Bu Pri untuk berpamitan. Melihat Yamin dan Azizah, Pak Pri serta-merta menangis tersedu-sedu. Karena ia sudah tua, tangis itu berbuntut pada batuk-batuk.

Duh, Min…seandainya aku bisa bersikap seperti kamu, aku sudah berangkat haji. Mengapa tidak kutinggal saja istriku itu!” Ia merengek-rengek. Belum sempat Yamin merespons, Bu Pri datang dari belakang dengan berkacak pinggang dan menyahut, “Dia itu selalu menyalahkanku, Min! Kurang ajar betul dia! Padahal, dia sendiri juga salah!”

Heh, nenek cerewet! Jangan banyak cincong! Ini semua gara-gara kamu!”

Yamin dan Azizah menggelenggeleng. “Sudah, jangan bertengkar,” Yamin berusaha melerai. Ia kemudian menjawil paha istrinya yang terbengong-bengong. Yamin mengedipkan mata kirinya. Istrinya segera menyahut, “Pak, Bu, saya akan sebut nama bapak keras-keras kalau sampai di depan Ka’bah nanti. Saya akan minta bapak segera menyusul ke sana secepatnya. Dulu, Mas Yamin melakukannya juga kok. Doa di sana mustajab Pak! Tak perlu khawatir. Buktinya, saya bisa berangkat sekarang.”

Pak Pri diam sejenak. Bu Pri melengos.

“Tapi, aku sudah tua….” Pak Pri merengek lagi. “Kalau aku keburu mati?”

“Kalau begitu, akan saya doakan juga, supaya umur bapak panjang. Biar sempat berangkat haji.”

“Jangan hanya dia, aku juga doakan panjang umur!” Bu Pri menyahut.

“Tentu, tentu, akan saya doakan semua nanti. Yang penting, yakin!”

Pak Pri melirik istrinya sinis, begitu juga sebaliknya. Yamin melirik Azizah, begitu juga sebaliknya. Suasana mulai tenang.

“Kalau begitu, saya pamit dulu. Mohon restunya,” Diciumnya tangan Pak Pri. Ia juga mendekati Bu Pri, lantas, memeluknya erat.

Sayangnya, dalam suasana haru itu, Pak Pri tiba-tiba menyahut, “Kalau aku dipanggil duluan jangan harap aku mau menunggumu!”

Mata Bu Pri merah, dilepaskannya cepat pelukan Azizah, “Jangan terlalu percaya diri! Siapa tahu aku dulu yang dipanggil! Aku juga tidak sudi menunggumu!”

Azizah menelan ludah. Ia menatap suaminya kehabisan kata-kata. (*)

 

Malang, 14 Februari 2008

Azizah Hefni adalah penulis asal Malang, Jawa Timur. Beberapa karyanya pernah dimuat di sejumlah media cetak.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: