Cerpen, M Daniel Ilyas, Republika

Pak Sakim

5
(1)

PAK Sakim baru saja naik bus di terminal bus Grogol. Dia langsung duduk di tempat duduk yang kosong. Walaupun penumpang belum penuh sesak, sopir tergesa-gesa memberangkatkan bus menuju Depok. Sebuah bus dengan rute yang sama sudah masuk ke dalam terminal.

Dari arah belakang, seorang anak muda berjalan di antara para penumpang. Tangannya menggenggam sebuah dompet hitam. Spontan Pak Sakim meraba kantong belakang celananya, tempat dia biasa menaruh dompet. Ternyata, dompet itu sudah tidak ada. Semula Pak Sakim merasa ragu dan takut bertindak. Pak Sakim yang sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta tahu betul pencopet di Jakarta ini kalau beroperasi tidak pernah sendirian, berdua bahkan bertiga. Mereka juga membawa senjata tajam. Dalam keadaan kepepet, mereka tidak segan-segan melukai korbannya. Mengetahui pencopet itu sendirian, timbul keberanian Pak Sakim. Buru-buru ditangkapnya tangan anak muda itu dan minta dompetnya dikembalikan. Tanpa banyak bicara, anak muda itu menyerahkan dompet itu kepada Pak Sakim. Pak Sakim memeriksa isinya. Semua masih utuh, uang maupun kartu-kartu. Mungkin anak muda itu mengira aku punya ilmu, pikir Pak Sakim.

Laki-laki bertubuh gempal yang duduk di seberang tempat duduk Pak Sakim langsung berdiri menarik kerah baju anak muda itu. Sambil berteriak copet sialan, laki-laki itu mendaratkan tinju di wajah anak muda itu. Darah meleleh dari hidung anak muda itu. Dia menjerit minta ampun. Beberapa orang penumpang ikut nimbrung memukul dan menendang. Sebuah pukulan telak menyodok perut anak muda itu. Dia terjungkal di lantai bus. Berpegangan pada sandaran tempat duduk, anak muda itu sekuat tenaga berusaha bangkit dan terhuyung-huyung berlari ke arah pintu bus. Saat bus berhenti di lampu merah Slipi, anak muda itu menghambur turun. Pak Sakim tidak mengalami kerugian apa-apa. Namun, dia merasa bersalah. Gara gara mencoba mencopet dompetnya, anak muda itu berdarah-darah dihajar penumpang. Pak Sakim segera menyusul anak muda itu. Mengetahui Pak Sakim mengikutinya, anak muda itu berhenti. Dia jongkok memeluk kedua lutut Pak Sakim dan memohon, “Ampun Pak, saya jangan dilaporkan kepada polisi. Demi Tuhan, saya baru sekali ini mencopet. Saya terpaksa. Saya lapar. Dari pagi, saya belum makan. Saya malu mau minta-minta.”

Baca juga  Arafah Bak Padang Masyhar

Muka anak-muda itu lebam-lebam. Tetesan darah di pelipis kirinya mulai mengering. Cepat Pak Sakim memberikan uang lima puluh ribu. Pak Sakim tak lupa berpesan, “Beli obat merah untuk mengobati lukamu!”

Setelah mengucapkan terima kasih, anak muda itu buru-buru meninggalkan Pak Sakim.

“Jadi, pencopet yang tertangkap tangan mengambil dompet Bapak malah Bapak beri uang lima puluh ribu rupiah? Seharusnya, pencopet itu Pak Sakim tangkap bersama-sama penumpang lain dan menyerahkannya ke pos polisi terdekat.”

“Walaupun saya membenci kekerasan, melihat anak muda itu digebuki penumpang beramai-ramai saya kasihan, Pak. Mujur penumpang tidak melemparkannya keluar bus yang sedang melaju atau membakarnya hidup-hidup seperti para demonstran membakar ban-ban bekas.”

Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan Pak Sakim. Aku merasa kagum atas ketulusannya. Di kala masyarakat menaruh dendam terhadap penjahat, Pak Sakim justru mengasihinya.

***

Aku dan Pak Sakim belum lama bekerja pada sebuah stasiun televisi swasta tempat kami bekerja sekarang. Usia kami yang tidak terpaut jauh menyebabkan kami cepat akrab dan bersahabat.

Pak Sakim bekerja tanpa beban. Pagi-pagi, dia menyediakan segelas air putih dan beberapa lembar koran untuk karyawan. Setelah itu, Pak Sakim mengantarkan video tape dan surat-surat antarruangan, memfotokopi surat-surat dan dokumen, serta mengirim surat melalui fax. Jika semua karyawan sudah pulang, Pak Sakim memeriksa semua ruangan, mematikan pesawat televisi, video player, dan komputer jika masih ada yang menyala, serta mematikan lampu dan mengunci pintu ruangan. Sambil pulang, Pak Sakim menyerahkan kunci-kunci itu kepada petugas satpam di pos dekat pintu gerbang.

Kalau Pak Sakim tidak ada pekerjaan atau saat jam istirahat masih tersisa selesai shalat Zhuhur dan makan siang, dia mampir ke ruangan kerjaku. Pak Sakim senang menceritakan pengalamannya sewaktu masih menjadi pegawai negeri. Pak Sakim bangga sebagai pegawai negeri, sebagai abdi negara walaupun gajinya kecil.

Baca juga  Ranting Itu Belum Rapuh

Pak Sakim hanya lulusan Sekolah Rakyat. Sejak muda, Pak Sakim bekerja sebagai pengemudi di kantor pusat sebuah departemen. Memasuki usia setengah baya, Pak Sakim dipindahkan ke bagian administrasi pada sekretariat salah satu direktorat jenderal. Tugas Pak Sakim mencatat dan memberi nomor surat-surat masuk dan keluar di dalam buku ekspedisi dan menyimpan surat-surat itu dalam hardner yang tersedia sesuai jenis surat.

Pak Dirjen baru saja meninggalkan ruangan kerjanya. Pak Sakim langsung masuk ke ruangan itu dengan maksud merapikan surat-surat dan buku-buku di atas meja kerja Pak Dirjen. Pak Sakim melihat kacamata baca Pak Dirjen tergeletak di atas meja. Pak Sakim langsung menyambar dan mengenakan kacamata baca itu. Sambil menyandarkan tubuh di kursi Pak Dirjen, perlahan-lahan Pak Sakim memutar kursi itu ke kiri dan ke kanan. Diambilnya buku tipis bersampul plastik transparan berisi laporan salah seorang bawahan Pak Dirjen. Membaca laporan itu kadang-kadang Pak Sakim menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengerutkan jidatnya. Dia kecewa dengan hasil kerja bawahannya itu. Pak Sakim mengangguk-anggukkan kepala apabila dia merasa puas. Sesekali Pak Sakim merendahkan kacamata bacanya dan mendelikkan matanya supaya dapat menatap langsung wajah bawahannya yang sedang melapor.

Pak Sakim benar-benar menikmati suasana betapa berwibawanya seorang pejabat tinggi. Kalau Pak Dirjen berbicara, lawan bicaranya lebih banyak mengucapkan kata-kata, ya pak, ya pak, atau mohon petunjuk bapak. Begitu pula kalau menerima telepon, Pak Dirjen cukup menyahut dengan kata-kata, ya! atau bagus! Tidak seperti dirinya. Sebagai pegawai negeri golongan 1/d, dia harus ikhlas disuruh-suruh oleh pegawai yang lebih tinggi pangkatnya, mengerjakan pekerjaan yang tidak termasuk tugasnya seperti membeli rokok, membeli obat sakit kepala, atau membeli nasi bungkus ke restoran padang.

Baca juga  Obsesi

Tidak terduga Pak Dirjen masuk kembali ke ruangan kerjanya untuk mengambil kacamata bacanya yang tertinggal. Tanpa sepatah kata pun Pak Sakim buru-buru meletakkan kacamata itu di atas meja. Dia merosot dari kursi dan dengan jalan jongkok cepat-cepat kabur ke luar ruangan. Besoknya Pak Sakim menghadap Kepala Biro Kepegawaian. Pak Sakim mengajukan permohonan pensiun padahal di masih punya masa kerja tiga tahun. Pak Sakim merasa bersalah mengolok-olok jabatan seorang dirjen. Atas bantuan kenalannya, Pak Sakim diterima bekerja di perusahaan tempat kami bergabung sekarang.

***

Aku sedang bersiap-siap untuk pulang karena sore itu aku akan menemani anak perempuanku, Ferial, mengganti kacamatanya di Blok M. Tak lama, Pak Sakim masuk.

“Bapak sudah mau pulang?”

“Ya, Pak Sakim. Saya ada keperluan.”

“Bapak tadi tidak hadir pada acara penarikan undian dalam rangka ulang tahun perusahaan?”

“Semula saya ingin hadir. Tapi, tidak jadi karena ada materi siaran yang akan ditayangkan nanti malam yang harus saya cek. Pak Dirut jadi hadir?”

“Jadi, Pak. Pak Dirut sendiri yang menarik undian itu.”

“Siapa yang beruntung?”

“Saya Pak.” Jawab Pak Sakim gembira.

“Apa hadiahnya?”

“Naik haji bersama istri pada musim haji tahun ini.”

“Selamat Pak!” kataku sambil menyalaminya. “Kalau sudah sampai di Tanah Suci, tolong doakan saya juga menyusul.”

“Insya Allah, Pak.” Sebelum berangkat, sekali lagi kusalami Pak Sakim yang bersiap-siap merapikan ruangan kerjaku. (*)

M Daniel Ilyas adalah mantan redaktur dan reporter RRI/TVRI. Pernah bekerja di stasiun TVRI Manado, Makassar, dan Bandung serta stasiun TV Indosiar Jakarta. Cerpen-cerpennya antara lain dimuat majalah Sastra Jakarta (1968/1969), majalah Majemuk, dan Kartini. Tinggal di Depok, Jawa Barat.

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: