Analisa, Cernak, Khairu Nisa

Hadiah untuk Ayah dan Bunda

0
()

Oleh Khairu Nisa (Analisa, 30 Juni 2019)

Hadiah untuk Ayah dan Bunda ilustrasi Analisaw.jpg

Hadiah untuk Ayah dan Bunda ilustrasi Analisa

Zidan baru saja menjalankan hukuman, karena hari ini lagi-lagi ia tidak mau mengerjakan tugas di sekolahnya. Ibu guru menyuruhnya menyalin catatan sebanyak satu halaman penuh. Bagi anak kelas 1 SD, hukuman seperti itu cukup membuat lelah dan jera, tapi tidak bagi Zidan. Ia pasti akan mengulangi kesalahan yang sama besok, bahkan dengan kenakalannya yang lain.

Setelah pulang sekolah, bunda menjemputnya. Sampai di rumah, bunda memarahinya dan menghukumnya lagi. Zidan disuruh belajar membaca bersama Riyan, abang kandungnya yang saat ini sudah duduk di bangku SMP. Riyan orang yang sangat rajin belajar, berbeda dengan Zidan yang pemalas.

“Bunda gak akan izinkan Zidan main sebelum hukuman dari Bunda Zidan selesaikan.”

“Tapi Zidan mau main bola bersama teman-teman Zidan, Bun,” protesnya.

“Setelah belajar membaca, baru Zidan boleh main.”

“Yaaah,” Zidan merengek.

“Kamu belajarnya jangan malas dong, kalau begitu bagaimana mau pintar,” kata Riyan menasihati Zidan yang terlihat malas saat belajar.

“Di sekolah sudah belajar, kok di rumah belajar lagi?”

“Belajar itu sangat penting, karena kalau tidak belajar seseorang bisa bodoh. Supaya kamu pintar membaca, kamu harus belajar.”

“Tapi Zidan mau main, Bang.”

“Abang janji, kalau kamu sudah bisa mengeja satu halaman buku ini, kamu boleh main bola.”

“Ya sudah.”

Akhirnya Zidan mau belajar. Mulai dari mengulang pengenalan huruf, pengejaan, dan coba perlahan-lahan menyambung kata. Semakin lama Zidan semakin bosan, ia malah semakin malas. Sesekali ia menguap karena menahan kantuknya, sesekali juga matanya terpenjam. Riyan menggeleng melihatnya. Ia tak heran, karena setiap kali Zidan disuruh belajar pasti selalu seperti itu. Sampai akhirnya Zidan tertidur.

Baca juga  Ketika Adik Lapar

Hari semakin sore, Zidan baru terbangun dari tidurnya. Ia langsung berlari menuju luar untuk bermain bola bersama teman-temannya, tapi bunda melarangnya. Zidan tak melihat jam, ternyata magrib akan tiba. Zidan merengek lagi karena ketiduran, sampai melewatkan waktu mainnya.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: