Cernak, Solopos, Yudadi BM Tri Nugraheny

Sedekah Laut

0
()

Oleh Yudadi BM Tri Nugraheny (Solopos, 30 Juni 2019)

Sedekah Laut ilustrasi Solo Posw.jpg

Sedekah Laut ilustrasi Hengki Irawan/Solopos 

Mulut Budi asyik menyenandungkan lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut. “Cie yang mau mudik,” kata Ardian, teman sebangkunya di kelas V. Budi memang pernah bercerita kalau libur Lebaran kali ini hendak mudik ke Juwana, Kabupaten Pati. Sebuah kota nelayan di Jawa Tengah. Miko, teman lainnya hanya tersenyum.

Biarin. Memangnya kamu, enggak punya kampung halaman,” balas Budi.

“Yaaa… gitu saja marah,” kata Ardian.

Hla kamu mengejekkku kok,” kata Budi.

“Bukan. Aku tidak bermaksud mengejekmu, kok,” kata Ardian. Keduanya berjabat tangan tanda bermaafan.

“Ini kan masih bulan Syawal,” kata mereka bersamaan. Keduanya pun rukun lagi.

“Eh, katanya kamu kemarin mau lihat apa di tempat nenek buyutmu?” tanya Ardian.

“Sedekah laut,” jawab Budi.

“Apa itu?” tanya Ardian.

“Sedekah laut itu wujud rasa syukur para nelayan atas anugerah Tuhan berupa hasil laut dan keselamatan yang mereka peroleh selama berlaut. Kan pamanku dan kakekku nelayan,” kata Budi.

“Terus apa saja yang dilakukan para nelayan?” tanya Ardian lagi.

“Mereka melarung sesaji sebagai wujud rasa syukur,” jawab Budi.

“Sesajinya apa saja?” tanya Ardian. Budi menggeleng.

“Ada kepala kerbau, miniatur kapal, buah-buahan,” lanjut Budi.

“Syukurlah aku bisa melihat lagi sedekah laut. Ramai sekali di sana,” jelas Budi.

Miko yang dari tadi hanya menyimak mengeluarkan suara. “Seperti menyenangkan sekali.”

“Iya. Lebaran ketupat diadakan tujuh hari setelah hari raya Idulfi tri. Pada saat Lebaran ketupat, biasanya mereka membuat ketupat yang dimasak, lalu dikirimkan kepada kerabat terdekat dan kepada mereka yang lebih tua, sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang. Kemarin pas Lebaran ketupat aku belum bisa ke sana. Kebetulan ayahku tidak mendapat cuti. Baru sekarang bisa berlibur ke rumah Mbah Buyutku. Dan kebetulan malahan. Minggu ini pas ada acara sedekah laut,” lanjut Budi.

Baca juga  Senyuman Delima

***

Budi paling senang menaiki kapal jika pergi ke Juwana. Paman akan membawanya melaut. Ia bisa merasakan nikmatnya aroma laut. Hal yang tidak didapatkannya di kota tempat tinggalnya. Tapi, hari ini paman sedang sibuk mempersiapkan acara sedekah laut. Ia cukup puas naik dari kapal ke kapal yang berhenti. Berfoto di dek kapal sebagai kenang-kenangan. Setelah itu, ia melihat persiapan sedekah laut bersama saudarasaudara sepupu.

Tradisi sedekah laut sudah dilaksanakan sejak dulu kala. Sebagai wujud syukur atas hasil yang sudah diperoleh di laut. Pada sedekah laut, akan dilarung tumpeng dan sesaji ke tengah laut. Sedekah laut dihadiri pejabat, tokoh budaya, dan tokoh agama. Bagi penduduk yang tidak kebagian perahu atau tidak ikut melarung sesaji, di darat telah ada hiburan campursari dan dangdutan. Saat sedekah laut, banyak wisatawan yang berkunjung untuk menyaksikannya. Ada pula karnaval budaya sebagai rangkaian acara. Acara sedekah laut disesuaikan dengan perhitungan hari baik sesuai adat Jawa. Jadi, tidak tentu dilakukan pada hari ke delapan Lebaran.

Budi tidak mau kalah. Ia melompati perahu yang sudah penuh orang ke perahu sebelahnya. Ia ingin sekali bisa mengikuti prosesi sedekah laut. Byurrrr… Budi tercebur ke laut. Untungnya ia bisa berenang. Tidak terlalu dalam sih. Ia hanya sedikit malu karena kurang hati-hati. Sepupunya mengajak pulang untuk berganti baju. Budi menolak. Agus, sepupunya bersikukuh. “Nanti kamu masuk angin,” kata Agus.

Budi menuruti Agus. Ia berlari pulang untuk berganti baju. Untunglah jaraknya dekat. Tidak sampai lima menit, Budi dan Agus sudah sampai lagi. Kebetulan, perahu terakhir masih lowong. Mereka naik.

Perahu meluncur ke tengah laut mengikuti perahu-perahu lainnya. Budi bersorak. Pengemudi perahu dengan lincah mampu mendekati perahu utama pembawa sesaji. Ia sudah lupa tadi sedikit malu karena saking antusiasnya mengikuti sedekah laut.

Baca juga  Miss Gatal-gatal

“Kita tidak akan meninggalkan adat dan tradisi kampung nelayan pada sedekah laut. Kita tidak menanam tapi memanen. Kita tinggal mengambil hasil laut. Sungguh itu semua karena kebaikan dan kemurahan Tuhan pada kita. Semoga sedekah laut ini berjalan dengan lancar, tertib, dan aman.” Demikian pidato singkat tokoh masyarakat pada saat sedekah laut.

Dalam hati, Budi membenarkan. Hasil laut bukan kita yang menanam. Para nelayan tinggal mengambilnya. Sudah selayaknya tradisi ini dilestarikan. Budi mendekat, berusaha untuk mendekati sesaji dan berswafoto dengan latar belakang sesaji. Agus khawatir kalau Budi tercebur lagi. Ia mengingatkan saudara sepupunya. Untunglah, Budi berhasil. Cekrek. Status dan foto Budi dengan latar belakang sesaji terpampang di WA. #[email protected]

 22 total views,  2 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: