Cernak, Padang Ekspres, Riyan Prasetio

Kereta Api Pertamaku

0
()

Oleh Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 14 Juli 2019)

Kereta Api Pertamaku ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg

Kereta Api Pertamaku ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Fadil berusaha menarik selimut yang membalut tubuhnya saat mendengar suara lembut yang memanggil namanya. Tak lama kemudian ia merasakan tangan seseorang yang berusaha mengguncang tubuhnya. Menyuruh bangun.

“BANGUN Sayang. Katanya mau naik kereta api,” bisik Mama Darti di samping telinga kanan Fadil.

“Memangnya sudah jam berapa, Ma? Masih ngantuk,” keluh Fadil enggan membuka matanya yang terasa berat.

“Sudah mau subuh. Buruan mandi lalu salat setelahnya baru berangkat ke stasiun.”

“Tapi Ma ….”

“Fadil mau ketinggalan kereta?”

“Tidak, Ma. Tidak!” tegas Fadil segera bangun.

Fadil berusaha membuka matanya lebar-lebar. Berulang kali telapak tangan kanannya menutupi mulut yang menguap karena rasa kantuk yang masih menyergap. Hari masih gelap. Dengan langkah malas Fadil pergi ke kamar mandi. Kalau di rumah, biasanya Fadil baru akan mandi jam enam pagi. Air di rumah neneknya yang terasa dingin membuat tubuh Fadil menggigil, kedinginan.

“Memangnya stasiun keretanya sudah buka, Ma?” tanya Fadil ragu.

“Sudah Sayang. Buruan dipakainya sepatunya.” Mama Darti mengingatkan.

Bergegas Fadil memakai sepatu. Cekatan tangannya memasukkan tali pada lubang yang ada di sepatunya.

“Sudah siap, Ma,” lapor Fadil berdiri tegap.

“Sebelum berangkat, pamitan dulu sama Kakek dan juga Nenek, Sayang.”

Fadil mencium punggung tangan Kakek dan Neneknya secara bergantian. Tak lupa pula cium pipi kanan dan kiri. Sebagai balasan, Fadil mendapat usapan lembut di puncak kepalanya dari sang nenek.

“Jangan lupa salat, Cu,” kata neneknya menasihati.

“Baik, Nek,” jawab Fadil menganggukkan kepalanya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: