Benny Arnas, Cerpen, Jawa Pos

Air Akar

4.8
(5)

Baru saja usai memperkenalkan diri di kelas lima, erang kesakitan dari bangku belakang membuat kelas gaduh. Beberapa murid perempuan meminta Bunga Raya mengabaikan Nalin yang memang suka membuat gaduh. Gadis 24 tahun itu bergegas mendekati anak laki-laki belasan tahun itu. Sungguh ia bisa membedakan mana air mata buaya, mana air mata menahan sakit. “Bawa dia ke ruangan Ibu!” perintahnya ke beberapa murid laki-laki yang bertubuh bongsor.

Di ruang guru yang lengang, dibaringkanlah Nalin di atas kedua meja yang didempetkan. Bunga Raya mencoba bertanya apa yang dimakan murid itu pagi tadi. Tapi tak ada kata-kata yang keluar selain erang kesakitan. Untunglah teman sebangkunya memberitahu bahwa pagi tadi murid itu sebenarnya tidak diperkenankan berangkat ke sekolah oleh orangtuanya karena sejak malam tadi hampir setiap satu jam sekali ia hilir-mudik ke Sungai Lubukumbuk untuk buang hajat. Bunga Raya berpikir sejenak, sebelum menyuruh murid-murid perempuan bergegas ke rumah warga terdekat untuk membuat oralit.

Ah, ingat sekali Bunga Raya bagaimana ekspresi mereka ketika membunyikan cairan garam-gula itu dalam intonasi bertanya. Bahkan anak muridnya yang tengah menderita sakit perut itu pun menghentikan erangannya seketika demi memastikan apa yang baru saja didengar.

Sore harinya, kedua orangtua Nalin mendatangi kediaman Bunga Raya yang terletak 100 meter di belakang sekolah. Gadis itu khatam bagaimana tabiat penduduk Desa Nulang yang berdarah panas; mudah naik pitam, dan gampang main tangan. Apalagi status pendatang sebagai CPNS yang ditugaskan di SD Nulang membuat yatim-piatu itu makin merasa sebatang kara. O, apa yang terjadi dengan Nalin? Bulir demi bulir keringat tumbuh dari keningnya. Namun kekhawatirannya menguap serta-merta ketika mengetahui Nalin sudah sembuh. Mereka membungkukkan badan berkali-kali sebagai ungkapan terima kasih. Ah, singkuh nian Bunga Raya. “Itu hanya oralit, Pak, Bu,” Bunga Raya mencoba menjelaskan. Tapi … tak ada yang menggubris.

Hari-hari berikutnya, Bunga Raya dikirimi beras, sayur-mayur, berbagai jenis ikan sungai, bahkan tempoyaksejenis asam durian khas Sumatera. Pada hari yang lain (mungkin ayah Nalin mengira Bunga Raya juga akan menyadap karet seperti perempuan Desa Nulang pada umumnya), ia dikirimi sebotol cuka para, air keras berwarna gelap yang sering digunakan untuk mencetak karet sebelum siap dijualBunga Raya tetap menerimanya (ia berencana akan memberikannya kepada penyadap karet sekitar yang membutuhkan).

Barulah Bunga Raya paham dengan siapa ia berhadapan. Orangtua Nalin adalah dua orang terpandang. Ayahnya adalah juragan karet yang juga petinggi puak. Ibunya adalah seorang tabib (Ah, syukurlah ia tidak seperti tabib kebanyakan yang pongah. Perempuan itu malah mengakui betapa tak ada apa-apanya ia dibanding Bunga Raya yang berhasil menyembuhkan sakit perut anaknya). Benarlah kata orang, mulut adalah tali terpanjang untuk menyambung kabar dalam lingkaran. Ya, sejak itu, saban hari, ada-ada saja penduduk yang datang ke kediaman Bunga Raya. Sudah habis liur membasahi lidah, sudah lelah mulut menganyam kata, demi menyangkal keyakinan penduduk tentang karomah yang diturunkan kepadanya, namun orang-orang desa pandai nian membuatnya tak kuasa menolak menjalani peran baru. Ada-ada saja sanggahan dan desakan mereka. Beginilah bila keyakinan sudah bersarang, tak ada guna menghindar dari permintaan!

Mati nian, Bunga Raya!

Seiring matahari yang lalu-lalang di cakrawala, Bunga Raya harus berdamai dengan kenyataan yang tak pernah diduga-duga. Dengan mengendarai sepeda motor kreditan, ia rajin ke kota setelah jam mengajar berakhir untuk membeli obat-obatan di apotek. Dalam keadaan demikian, hatinya sungguh teriris mengingat kedua orangtuanya yang berpulang karena tipes ketika ia seusia Nalin. Kehidupan masa kecil yang susah di Musirawas membuat kebiasaan hidup bersih tidak akrab dengan keseharian mereka.

Baca juga  Kepsek Tasdi

Namun … ternyata tak mudah meyakinkan penduduk untuk mengonsumsi obat-obatan modern. Mereka masih mengira, oralit yang diberikan kepada Nalin adalah ramuan rahasia. Walau sudah Bunga Raya ceritakan tentang mudahnya membuat oralit, mereka masih bergeming kalau itu bukan dari Bunga Raya sendiri. Maka, setelah berulang kali bolak-balik Nulang-Lubuklinggau, setelah berulangkali berkonsultasi dengan ahli herbal dan tua-tua adat yang sering berurusan dengan ramuan tradisional, Bunga Raya akhirnya tahu kalau Musirawas memiliki ramuan herbal dengan banyak khasiat. Tak ingin berhenti sampai di sana, ia belajar—hingga akhirnya bisa—membuat air akar, demikianlah sari umbi-umbian dan akar-akaran itu dulu dinamai.

Ramuan cokelat pekat yang diyakini dapat menyembuhkan sejumlah penyakit dan keluhan itu biasanya dimasukkan ke dalam botol dan dapat digunakan untuk waktu berpekan-pekan. Memang, rasanya pahit tak kepalang. Namun, ini bukan tentang rasa yang kerap diributkan orang-orang kota. Ini tentang tampilan yang harus berkarib dengan alam dan desa yang sederhana. Untuk itu semua, Bunga Raya merelakan sebagian gajinya terpakai. Ia tahu, tak cukup hanya dengan bismillah untuk mengurusi nyawa orang!

Tuhan memang mahaadil. Setiap tabiat mulia yang ditanam, tentulah akan tiba panen buahnya. Dan buah itu, bukan hanya dipetik Bunga Raya, tapi juga dinikmati para penduduk yang telah menahbiskannya sebagai guru serbabisa. Sejumlah keluhan yang lazim di derita penduduk, seperti kepala pusing, masuk angin, dan lesu yang berkepanjangan, dapat diatasi dengan air akar. O, Bunga Raya, ini bukan hanya tentang kemujaraban akar dan umbi-umbian. Ini juga tentang karomah Tuhan, zat yang takkan mendiamkan hamba yang sudah lintang-pukang mengikhtiarkan kebaikan ….

Bunga Raya sadar benar. Bagaimanapun, negara menempatkannya di Desa Nulang untuk mengabdi sebagai guru, bukan sebagai mantra, apalagi tabib. Maka, demi menjalankan kewajibannya tanpa mengabaikan orang-orang yang datang berobat, ia meminta Bu Mindu, seorang janda yang berjualan rempah di pasar kalangan saban Selasa, untuk membantunya di rumah. Ah, siapalah yang kuasa menolak permintaan Bunda Guru yang termasyhur nama, ilmu, kepandaian, dan kebaikan hatinya. Ya, Bunda Guru. Begitu penduduk Nulang yang datang berobat kerap memanggilnya. Dan seolah berjodoh, tak membutuhkan waktu lama, Bu Mindu sudah cakap melayani keluhan ringan penduduk yang datang ketika Bunga Raya tengah mengajar di SD. Singkat cerita, Bunga Raya benar-benar terbantu karenanya. Ia pun menjalankan dua peran dengan hati yang bungah.

Namun, tentulah bukan kehidupan namany bila kebaikan berlayar tanpa diusik gelombang. Beberapa guru menjulukinya mantri abal-abal, guru yang memanfaatkan kebodohan penduduk untuk menangguk rupiah. Mereka mengambinghitamkan persediaan beras, sayur-mayur, lauk-pauk, atau bahkan kain lasem yang Bunga Raya sebagai bahan gunjingan. Terakhir, Bunga Raya mendapati mereka meragukan dedikasinya di sekolah.

“Terlampau sibuk cari uang dengan menjual ramuan, bisa-bisa PNS baru tu menelantarkan anak-anak di kelas.”

Awalnya, Bunga Raya terbakar oleh sindiran itu. Namun, setelah dipikirnya masak-masak, tak guna melayani orang-orang yang tak dapat membuktikan ucapannya, tak guna menanggapi orang-orang yang diragukan pengabdiannya. Ya, lucu rasanya bila guru-guru yang kerap terlambat, justru sibuk menggunjingkan guru yang rajin. Lagipula, apa hubungannya dengan statusnya sebagai CPNS. Apalah guna masa kerja yang lama bila tak paham jua tentang tugas dan kewajiban. Ya, dua jam pelajaran pertama di SD itu hampir selalu ditangani Bunga Raya seorang. Kadang ia meminta Bu Mindu dan Wak Jamingan, penjaga sekolah yang sudah pikun itu, untuk memastikan bahwa murid-muridnya tidak membuat kegaduhan di kelas-kelas yang lain. Sungguh, bila diperturutkan, betapa jengkel ia kepada kepala sekolah dan dewan guru yang kerap datang terlambat dan alpa mengajar.

Baca juga  Perempuan Tua dalam Kepala

“Jangan samakan mereka denganmu yang tinggal di desa ini, Bunga Raya,” ujar kepala sekolah ketika Bunga Raya mengeluhkan kedisiplinan yang tidak tegak lagi di SD Nulang. “Apalagi sekarang ’kan pengujung tahun, maklumilah bila mereka berhalangan datang karena hujan lebat. Mereka tak bisa tinggal di Nulang sepertimu karena mereka punya rumah dan keluarga di Lubuklinggau….”

Bunga Raya menunduk. Matanya hangat. O, Ayah, Ibu, di mana …

Sejak itu, Bunga Raya belajar tahu diri. Ya, di antara sepuluh orang guru (termasuk kepala sekolah), hanya ia seorang yang memilih tinggal di Desa Nulang setelah SK pengangkatan pegawai diterima. Ia pun memahami betapa jarak Nulang-Lubuklinggau sejatinya tidak dihubungkan oleh jalan yang lurus. Bahkan, hanya seperempatnya yang beraspal. Selebihnya adalah jalan-jalan koral, tanah liat yang bergelombang, kelokan yang melengkung, dan tanjakan serta turunan yang di salah satu sisinya jurang menganga bersembunyi di balik rimbun pakis haji dan rumput kanji. Belum lagi, beberapa jembatan yang harus dilalui adalah bilah-bilah papan merbau yang tua, rapuh, basah, dan berlubang di beberapa bagian. Dan di pengujung tahun seperti saat ini, tentulah hujan menjadi penyempurna keadaan yang mengenaskan itu. Kerap ia tak sengaja mendengar orang-orang di warung kopi yang menyebut mundurnya Suharto tahun lalu tidak berarti apa-apa untuk Nulang karena harga karet anjlok, harga sembako pelan-pelan naik, dan puskesmas tak kunjung dibangun di Nulang. Ah, Bunga Raya kibaskan lamunannya. Ia binar-binarkan wajahnya. Ia lapang-lapangkan dadanya. Begitulah yang kerap dilakukannya bila sedih yang merundung kian menggelisahkan.

***

Di pagi Ahad yang mendung, Bunga Raya mengajak Bu Mindu ke Lubuklinggau. Sebelum men-starter sepeda motor, ia menitipkan kunci kepada Wak Jamingan. Ia juga berpesan, kalau ada yang datang berobat, silakan kembali bakda Asar sebagaimana jam praktiknya di hari libur. Selain membeli bahan makanan dan barang keperluan rumah tangga lainnya, Bunga Raya ke kota juga untuk membuat air akar yang baru. Beberapa bahan seperti akar pelawan dan umbi lingga hanya bisa didapatkan di pasar tradisional Lubuklinggau karena keduanya memang tidak tumbuh di Nulang. Ia memang sudah meminta Bu Mindu untuk membawa air akar yang isinya tinggal seperempat botol itu. Sejak empat hari yang lalu, Bunga Raya tidak nyaman dengan bau yang menguap dari ramuan itu.

Setelah menunaikan Zuhur di masjid dekat simpang pasar dan memastikan semua barang sudah dibeli dan keperluan sudah ditunaikan, mereka menyusun barang-barang di sepeda motor agar tidak mudah jatuh di perjalanan. Tapi … belum setengah perjalanan, langit menggelap. Tak menunggu lama, hujan lebat disertai angin kencang menguyupi mereka di atas motor. Bunga Raya mengenakan mantel yang sudah disiapkan di dalam boks sepeda motor. Namun cuaca memburuk. Gemuruh dan kilat halilintar membuat mereka harus memperlambat laju sepeda motor. Bahkan beberapa kali mereka menepi untuk berteduh, termasuk menunaikan Asar di masjid tua di perbatasan Lubuklinggau-Musirawas. Ketika azan Magrib dilagukan di masjid Nulang, barulah mereka tiba di rumah berpagar rerimbun kembang sepatu.

***

Pintu rumah tampak terbuka. Lampu-lampu sudah dinyalakan. Ah, Wak Jamingan memang cekatan, pikir Bunga Raya sebelum mengucap salam. Sayup-sayup terdengar jawaban dari dalam. Bunga Raya membuka mantel dekat pintu. Bu Mindu langsung ke belakang untuk mengambil wudu. Wak Jamingan muncul dari bilik praktik.

Baca juga  Menulis dan Ketidakselesaian

“Bunda Guru, tadi ada anak tujuh tahunan dari desa seberang yang mau berobat.”

“O ya?” Bunga Raya memeras mantel di atas umpun tapak dara dalam ember besar di dekat kursi.  “Maaf, Wak. Kami telat ….”

“Ya, Bunda Guru,” potong Wak Jamingan bersemangat. “Saya memang suruh tunggu, tapi karena orangtuanya ada pekerjaan mendesak, jadi anaknya dititipkan di sini dulu. Paling sebentar lagi dia datang menjemput.”

“Menjemput?” Bunga Raya mengerutkan kening. “Menjemput siapa, Wak?”

“Anaknya, Bunda Guru.”

“Anaknya?”

“Ya, Bunda Guru,” kata Wak Jamingan sambil tersenyum. “Umurnya baru 7 tahun.”

”Memangnya anaknya di mana, Wak?” suara Bunga Raya bergetar.

“Sudah saya obati, Bunga Guru.”

“Maksud Wak?”

“Tadi Bunda Guru lama sekali pulangnya. Saya lihat anak itu pun tersiksa sekali dengan sesak napasnya. Saya ambil air akar di dapur. Saya tuang ke gelas sampai penuh. Saya paksa dia minum sampai habis.”

Air akar?” Bunga Raya memeriksa tasnya. Sebotol air akar ada di sana. Wajahnya kini benyai. Gegas ia bangkit menuju dapur. “Air akar yang mana, Wak?” nada suaranya tercekat.

“Anak itu memang mengerang kesakitan ketika menenggaknya, Bunda Guru. Tapi tetap saya paksa. Saya teringat kata-kata Bunda Guru. Kalau minum obat, rasanya memang tidak enak.” Wak Jamingan membuntuti Bunga Raya sambil nyerocos penuh percaya diri, seakan ia benar-benar berjasa telah membantunya dalam melakukan pengobatan.

“Bunda Guruuu!” Teriakan Bu Mindu dari ruang praktik mengejutkan Bunga Raya dan Wak Jamingan.

Di atas dipan, seorang anak dengan tubuh biru-kaku terbujur dengan bibir yang terbakar. Bu Mindu menangis meraung-raung. Bunga Raya mengalihkan wajah ke Wak Jamingan. Degup jantungnya terburu-buru. Wak Jamingan gegas ke belakang lalu kembali dengan sebuah botol sirup yang berisi cairan cokelat pekat.

“Saya sering melihat Bunda Guru memberi air akar ini kepada orang-orang yang datang berobat,” kata Wak Jamingan sembari menunjukkan sebuah botol di tangannya. “Sepertinya ini obat semua penyakit. Apalagi anak itu cuma mengerang sebentar. Setelah itu langsung tenang, bahkan langsung tidur.”

Bunga Raya menyambar botol itu dari tangan Wak Jamingan. Bu Mindu terperangah seolah-olah ada yang mencekat tenggorokannya. Bibir Bunga Raya menggigil. Bahunya turun naik menahan buncah. Kepalanya bagai bergasing. Bunga Raya dan Bu Mindu bersitatap. Ada marah dan ketakutan yang menyala di mata-mata mereka. Tangan Bunga Raya gemetar hingga botol di tangannya jatuh. Pecah. Beling-beling berserakan. Isinya muncrat ke kaki kanan Wak Jamingan. Laki-laki berumur itu mengerang kesakitan. Jari-jari sebelah kakinya terbakar seketika. Wak Jamingan berguling-guling menahan perihnya kulit dan jari-jari kaki yang terbakar, terbakar oleh … cuka para! (*)

 

Nulang, 29 Agustus 2011

 

CATATAN:
  • Air akar adalah ramuan herbal multikhasiat warisan leluhur yang masyhur di Musirawas. Dalam perkembangannya, air akar tidak hanya terbuat dari jenis akar dan umbi-umbian, tapi juga sudah dipadupadankan dengan bangle, kunyit, jahe, browowali, sisik naga, greges, meniran, kejibeling, kumis kucing, bawang putih, bahkan aneka bunga.
  • “Air Akar” mendapat penghargaan sebagai Cerpen Terbaik Indonesia Tahun 2012 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: