Aci Ariana, Cernak, Singgalang

Janji Ridho

0
()

Oleh Aci Ariana (Singgalang, 28 Juli 2019)

Janji Ridho ilustrasi Singgalangw.jpg

Janji Ridho ilustrasi Singgalang

HARI ini adalah hari pertama ajaran baru di sekolah. Banyak anak-anak yang sudah berdatangan diantar oleh orang tuanya. Sebelum masuk ke kelas, semua murid dikumpulkan terlebih dahulu di lapangan. Orang tua murid satu persatu mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Sebagian murid baru menangis karena ditinggal oleh orang tuanya. Guru-guru pun mulai menenangkannya sampai terbiasa di sekolah.

Acara pengarahan su dah berakhir. Murid-murid mulai masuk ke dalam kelas. Mereka memilih bangku untuk ditempatinya selama belajar satu semester. Mereka terlihat antusias. Setelah semua mendapat tempat duduk, belajar mengajar pun dimulai. Semua tampak semangat dan gembira. Guru-guru yang mengajarpun terlihat sangat senang.

Kriiing…kriingg…

Bel sekolah berbunyi pertanda waktu istirahat. Semua murid pergi ke kantin untuk belanja. Ada yang beli lontong, gorengan, serta makanan ringan. Namun, ada satu murid yang tetap berada di dalam kelas saat jam istirahat.

Ridho, murid yang tetap tinggal di dalam kelas. Ia hanya melakukan kegiatan seperti duduk-duduk setelah itu tidur-tiduran. Namun, lama kelamaan sepertinya Ridho terlihat bosan. Tampak ia mengambil sebuah pena. Lalu mencoret-coret meja dan bangku Fiq yang kebetulan dekat dengan mejanya.

Saat bel istirahat sudah berakhir, semua murid menuju ke kelas masing-masing. Fiq terkejut saat ia akan duduk di bangkunya.

Ia melihat bangku dan mejanya penuh dengan coretan. Ia terlihat marah. Namun juga terlihat sedih.

“Do, kamukan yang nyoret-nyoret meja dan bangkuku?” tanya Fiq, salah satu murid berprestasi di sekolah itu. Ia bertanya kepada Ridho, temannya yang tetap berada di dalam kelas sewaktu istirahat.

“B-bu-kkn bukan aku,” jawab Ridho dengan wajah pucat sambil tergagap.

Baca juga  Penikung dan yang Tertikung

“Jadi siapa lagi yang nyoret kalau bukan kamu. Kan kamu sendiri yang tinggal di dalamkelas,” tanya Fiq dengan wajah kesal.

“Ya, ya mana aku tahu,” jawab Ridho dengan ketus. Tetapi diraut wajahnya seperti ada yang disembunyikan.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: