Cernak, Padang Ekspres, Riyan Prasetio

Pacu Tangkelek

0
()

Oleh Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 18 April 2019)

Pacu Tangkelek ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg

Pacu Tangkelek ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Usai upacara bendera di kantor camat. Fadil dan teman-temannya berbondong-bondong pergi ke tanah lapang yang terletak di belakang Desa Mekar Sari. Di sepanjang jalan terlihat ramai bendera merah putih berkibar di setiap depan rumah warga. Tak sedikit pula ada rumah yang sengaja dicat dengan warna merah putih demi memeriahkan hari kemerdekaan. Tak sedikit pula gelas plastik bekas air mineral yang sudah dicat warna merah putih tergantung rapi di sepanjang badan jalan. Kemeriahan semakin terlihat ketika melihat tugu-tugu kemerdekaan didirikan. Semakin menambah meriah suasana kemerdekaan tahun ini.

”MAU ikutan lomba apa, Dil?” tanya Rifki setibanya mereka di pinggir lapangan.

“Pacu karung,” sahut Fadil mengarahkan dagunya ke lapangan bagian kiri.

“Setiap tahun selalu saja ikut pacu karung. Bosan,” protes Giska bersungutsungut.

“Sudah pasti Fadil meraih juara lagi,” cibir Rifki melirik ke arah teman-temannya.

Fadil tampak berpikir sejenak. Dipandangi dengan saksama lapangan sepak bola yang disulap menjadi tempat perlombaan tujuh belasan. Terlihat beberapa orang panitia hilir mudik. Sesekali terdengar bunyi peluit dari seorang panitia cabang lomba tertentu. Menyuruh anak-anak yang mau mengikuti lomba tujuh belasan agar lekas mendaftar ke meja panitia.

“Yang itu lomba apa, Bang Fadil?” tanya Ivan menunjuk ke arah depan.

Serempak Fadil dan Rifki menoleh ke arah yang ditunjuk Ivan. Di depan mereka, tanah lapang telah disulap menjadi arena pacu tangkelek. Fadil mengulum senyum. Ia pun segera mengajak temanteman yang lain untuk segera mendaftar.

“Pacu tangkelek?” Kening Rifki mengkerut.

“Tangkelek itu apa?” sambar Ivan kebingungan.

“Tangkelek itu bakiak, Van. Bukankah di Jakarta juga ada?” sahut Giska balik bertanya.

Baca juga  Bidadari seperti Ibu

Ivan menggelengkan kepalanya. Selama tinggal di Jakarta belum pernah sekali pun ia melihat orang Jakarta memakai sandal bakiak. Merasa penasaran, mereka pun segera mendaftarkan diri menjadi peserta lomba pacu tangkelek.

“Apa kita bisa menang?” tanya Ivan ragu.

“Selama kita mau berusaha tidak ada yang tidak mungkin, Van,” kata Fadil bijak.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: