Buku, Faris Al Faisal, Koran Tempo

Cerita dari Kampung Pesisir

0
()

Oleh Faris Al Faisal (Koran Tempo, 24-25 Februari 2018)

Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil ilustrasi Google

Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil ilustrasi Google

Membaca antologi cerpen ini, kita akan diajak mengunjungi kampung-kampung pesisir dan merasai desir kehidupan masyarakatnya. Tentang ikan dan perahu, adat istiadat tanah pesisir, kemiskinan, ketidakadilan ekonomi, ketimpangan sosial, serta ketegangan hubungan antara juragan alias pemilik perahu dan nelayan.

“Kalau Bapak berhenti melaut, terus mau kerja jadi apa? Terus utang-utang kita pada juragan itu mau dibayar pakai apa?” ujar ibunya, yang terdengar sedikit kesal dan kecewa.

Di cerpen lain dituliskan, “Cerita itu turun-temurun masih saja sama, sampai kemudian aku mendengarnya sendiri dari wanita-wanita di Paoman, dengan kedua telingaku, sebuah kisah yang lain, kisah yang tertulis pada setiap lembaran kain batik, kisah yang sebenarnya mengandung riwayat dan hikayat yang lahir dari peradaban Sungai Cimanuk yang hulunya di Pegunungan Papandayan Garut dan bermuara di pesisir Indramayu.”

Setiap penulis cerpen memiliki penafsiran yang berbeda dalam mengemas tema. Begitu pula gaya dan teknik penulisannya. Ada yang menggunakan gaya surealis, yang memandang karya tulis sebagai ungkapan filosofis dan penuh penafsiran. Ada pula yang menulis dengan gaya realis, yang memandang karya tulis tanpa prasangka dan penafsiran.

Setiap pilihan teknik dan gaya penceritaan memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu, antologi cerpen ini bukan saja kumpulan penulis Nusantara yang bercerita tentang masyarakat di kampung pesisir, tapi juga himpunan gaya dan teknik penulisan cerpen yang elok.

Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil merupakan judul cerpen yang ditulis Mashdar Zainal, penulis cerpen kelahiran Madiun dan tinggal di Malang. Cerpen itu dinobatkan sebagai juara 1 Lomba Cerpen Tingkat Nasional 2017 Dewan Kesenian Indramayu. Kisahnya tentang seorang anak yang mengorbankan tubuhnya sendiri untuk ikan-ikan kecil di laut sebagai balas budi.

Baca juga  Misi Baik dalam Komedi

Sebuah kesedihan yang mengambang di lautan, tangis nelayan yang oleh nasib selalu dipermainkan. Menariknya, cerpen ini tidak secara verbal berkisah tentang ketidakadilan sosial yang terjadi pada para nelayan, tapi menciptakan metafora dan penafsiran terhadap simbol-simbol pengorbanan diri yang menembus batas realitas.

“Selama berabad-abad, sejak pertama kali ikan diciptakan, ikan-ikan telah memberi makan begitu banyak anak manusia, dengan tubuhnya. Termasuk nenek moyang kita, para nelayan. Kini saatnya aku membalas budi mereka, memberi makan anak-anak ikan. Dengan tubuhku….”

Adapun cerpen Sampyong, Kematian Sebuah Perahu, Siapa Berani Menantang Laut, Kisah di Ujung Canting dari Sentuhan Tangan Indah Wanita Pesisir, dan Sedekah Laut terpilih sebagai juara terbaik setelah Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil.

Dalam Sampyong—kata ini berarti sebuah pertandingan saling menjatuhkan lawan—para juragan perahu harus menang dari nelayan biasa. Harga diri dan kedudukan yang semestinya dimiliki dengan cara jujur seringnya harus kalah karena kepentingan. Kemudian pada cerpen Kematian Sebuah Perahu, nelayan yang terjerat utang juragan perahu nekat membakar perahu juragan yang ia pakai untuk melaut.

Dalam cerpen Kisah di Ujung Canting dari Sentuhan Tangan Indah Wanita Pesisir, penulisnya mengajak pembaca memahami simbol-simbol dari goresan batik pesisir yang merepresentasikan sejarah orang-orang pantai, kearifan lokal, dan filosofi hidupnya. Dan pada cerpen Sedekah Laut, penulisnya berkisah soal nadranan sebagai ungkapan rasa syukur atas pemberian terbaik Tuhan dari laut. Keenam cerpen tersebut dinyatakan sebagai cerpen terbaik tanpa mengurangi nilai baik dari 19 cerpen lainnya.

Membaca antologi cerpen ini membuat kita menemukan aneka kekayaan yang tersembunyi di kampung pesisir Tanah Air. Seperti yang dikatakan Maman S. Mahayana bahwa cerpen adalah karya ilmiah. Sebab, di situ ada riset, sistematika, serta fakta dan data.

Baca juga  Rumah Kopi Singa Tertawa

 

JUDUL : Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil (Antologi 25 Cerpen Pesisir Nusantara)

PENULIS : Mashdar Zainal (Darwanto), dkk.

PENERBIT : Rumah Pustaka

CETAKAN : Pertama, Oktober 2017

TEBAL : 220 halaman

 

 

Faris Al Faisal, penulis fiksi dan nonfiksi, tinggal di Indramayu.

 173 total views,  2 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!