Cerpen, Gol A Gong, Republika

Jasmine

5
(1)

Ya, Tuhan! Bocah berumur 7 tahun dicabuli! Begitulah hot news di televisi sore hari. Peristiwa itu terjadi di sudut Kota Jakarta, bocah 7 tahun dicabuli dua pemuda. Kasus itu terkuak ketika korban merasakan kesakitan yang luar biasa di kemaluannya. Orang tuanya langsung melaporkan kedua pelaku ke polisi. Betul-betul biadab. Bagaimana nanti masa depan si anak! Ya, Tuhan! Lindungilah putri semata wayangku yang sedang memasuki usia pancaroba ini!

Tiba-tiba, “Assalamualaikum.” Terdengar suara seorang anak lelaki.

“Waalaikumsalam.” Aku berjalan ke pintu depan. Tangan kananku menyambar masker yang tergeletak di rak buku. Ah! Sedang PSBB begini, siapa yang bertamu! Kubuka pintu perlahan sambil mengenakan masker.

“Selamat malam, Om.” Tamu tak diundang itu berdiri sekitar dua meter dari pintu.

Aku mendelik. Rambut gondrong. Wajah tertutup masker!

“Jasmine ada, Om?” Santai saja suaranya dan tetap menjaga jarak.

“Sedang PSBB! Tidak menerima tamu!” Aku hendak menutup pintu.

“Papa….” Istriku sudah ada di belakangku. “Siapa tamunya?”

“Mau ketemu Jasmine,” bisikku meminggir, memberi ruang kepada istriku.

Istriku menatapku. Wajahnya yang dilingkari jilbab putih tampak lucu. Dia tersenyum simpul. “Kayak kamu dulu.” Istriku balas berbisik di telingaku.

Napasku ngos-ngosan. Tak pernah kurasakan perasaan ini sebelumnya. Setelah 17 tahun kami hidup tanpa ada orang lain, tiba-tiba ada anak gondrong ingin bertemu dengan Jasmine! Putriku, yang kujaga dan kurawat dengan telaten! Saat pandemi Covid-19 pula!

“Siapa, ya?”

“Ramadhan, Tante …”

“Jasmine baru saja shalat Isya.”

“Saya sudah, Tante. Tadi ikut berjamaah di mushala kompleks sini. Menyegerakan waktu shalat, kata Jasmine, sangat dianjurkan.”

Jasmine menganjurkan anak sialan ini untuk menyegerakan shalat? Anak brengsek ini shalat juga? “Shalat pake celana robek-robek begini?” sindirku tidak percaya. Ah, cari perhatian!

Anak sialan itu menunjukkan tas punggungnya. “Saya selalu bawa sarung, baju koko, peci, dan Quran kecil, Om,” kata dia sambil menepuk-nepuk tas punggungnya.

“Aku shalat Isya dulu. Menyegerakan shalat!”

Istriku tertawa kecil, sambil mencubit lenganku pelan. Anak muda itu ikut tertawa juga. Huh! Dikiranya aku sedang melawak. Padahal aku betul-betul kesal dengan bualannya.

“Kamu tarik kursinya, ya. Silakan duduk.”

Baca juga  Ilusi

Terdengar suara kaki kursi bergesekan dengan lantai keramik.

“Kenal di mana sama Jasmine?”

“Di bus Trans Jakarta, Tante. Waktu itu saya mau ke kampus. Jasmine nggak kebagian tempat duduk. Saya berdiri, mempersilakan Jasmine duduk.”

Dia anak kuliahan juga! Sok-soknya cari perhatian putriku hanya dengan sebuah kursi!

“Wah, kamu baik sekali …”

“Tapi Jasminenya nolak, Tante.”

“Menolak? Kenapa?”

“Kursinya diberikan buat seorang Ibu yang juga berdiri. Saya jadi malu, Tante.”

Aku menahan tawa! Apa aku bilang! Mancing perhatian putriku hanya dengan sebuah kursi? Hah! Kursi bus kota lagi! Lalu aku ambil masker di rak buku.

“Jasmine memang seperti ayahnya. Selalu memikirkan orang lain ketimbang dirinya.” Kalimat ini sengaja dikeraskan. Aku hampir saja terbatuk.

“Papa?” istriku mengingatkan. “Katanya mau menyegerakan shalat?”

Aku dongkol juga. “Pakai maskernya.” Aku sodorkan kepada istriku. Lalu bergegas masuk ke ruangan dalam. Tujuanku sekarang ke kamar Jasmine. Shalat Isya bisa ditunda sebentar. Urusan Jasmine dan anak sialan ini harus disegerakan juga!

Aku ketuk pintu kamar Jasmine.

Nggak dikunci, Pa …”

Aku kaget. Ternyata Jasmine menunggu kedatanganku. Aku melihat Jasmine sedang melipat sajadah. Mukenanya masih dipakai. Wajah putriku memang cantik dan separuhnya tersembunyi penuh misteri di balik jilbabnya. Dia cantik seperti ibunya. Aku sangat mencintai kedua wanita yang kumiliki ini. Akan kupertaruhkan segala-galanya untuk melindungi mereka. Apalagi setelah kelahiran Jasmine, dokter melarang istriku mempunyai anak lagi, karena selain rahimnya lemah, juga sel darah putih istriku jauh di bawah standar. Istriku sudah mengalami dua kali keguguran. Sewaktu mengandung Jasmine juga rawan keguguran. Beberapa kali istriku pernah mengalami pendarahan. Jasmine sewaktu bayi juga berwarna biru seperti ketiga kakaknya terdahulu. Untung Jasmine diberi kesempatan berumur panjang oleh Allah SWT. Dan, kini ada anak lelaki datang mencari Jasmine!

“Jasmine nggak akan nemuin dia kalau Papa nggak ngijinin…”

Aku terkejut. Ada nada protes di dalamnya. Ada nada pemberontakan. Ada nada mempertanyakan, seolah-olah kenapa ini tidak boleh, itu tidak boleh. Hal sama pernah aku alami saat usiaku seperti dia.

“Siapa lelaki itu?” Aku menatapnya.

Temen,” jawabnya pendek.

Baca juga  Membincang Nasib

Temen apa ‘temen’?” aku mencoba melucu.

Kenapa, Pa? Apa Jasmine nggak boleh punya temen seperti itu?”

“Tapi, dia bukan muhrim kamu, Jasmine. Lihat, lihat dia! Apa Papa bisa memercayai anak muda seperti dia? Tampang bergajul begitu! Bisa-bisa kamu dirusak oleh dia!”

“Papa!” Jasmine menatapku, raut mukanya tampak serius. “Kenapa Papa langsung memvonis dia seperti itu?” Jasmine berkaca-kaca matanya. “Seolah-olah dia penjahat saja!”

“Ini kekhawatiran Papa, Jasmine! Kamu satu-satunya milik Papa dan Mama yang berharga di rumah ini. Apa kamu nggak pernah melihat di televisi atau di koran, betapa banyak remaja-remaja seusia kamu yang salah jalan? Hamil di luar nikah, mengonsumsi narkoba …”

“Papa!” Jasmine memotong. “Untuk apa Papa memanggil Ustaz Kasman ke rumah, kalau bukan untuk Jasmine lebih waspada dengan pergaulan anak Jakarta sekarang? Untuk apa semua itu kalau ternyata Papa masih saja khawatir?” Jasmine menatapku dengan mata berkaca-kaca.

Putriku betul-betul menangis. Jangan-jangan dia menderita oleh perlakuanku yang terlalu mengekang. Kalau Jasmine sudah menemukan lelaki pilihannya, aku lebih rela menikahkannya saja sekalian. Menikah muda itu jauh lebih baik ketimbang menumpuk dosa!

Aku dulu hidup di antara pergaulan bebas seperti itu. Aku pernah jadi saksi, bagaimana teman-temanku hamil di luar nikah dan mereka melakukan aborsi.

Aku pernah bercerita masa laluku kepada Jasmine. Aku bertemu dengan ibunya di masjid kampus. Dialah yang mengajakku ke jalan yang benar. Sejak kenal anak rohis kampus itu, aku jadi sering pergi ke masjid. Di awal-awal aku ke rumahnya, rambutku masih gondrong dan penampilanku slengekan juga kayak genderuwo satu itu! Tapi, tiga bulan kemudian, dengan sangat drastis penampilanku berubah. Rambut gondrongku dibabat di tukang cukur! Celana blue jeans bluwek dan yang namanya serbajaket tinggal kenangan!

Sekarang setelah aku jadi ayah, perasaan ingin melindungi putriku dari orang-orang brengsek sangat tinggi. Apalagi sebagai seorang redaktur pelaksana di media daring nasional, setiap hari aku menerima banyak laporan tentang peristiwa pemerkosaan!

“Kamu nggak bahagia selama ini, Jasmine?” Aku kecewa.

“Jasmine bahagia, Papa. Jasmine mengikuti semua aturan Papa, karena Jasmine memang menghendakinya. Tapi, untuk yang satu ini, Jasmine nggak sependapat!”

Baca juga  Kepura-puraan

“Kamu mau menemui anak berandalan itu dan berteman dengannya?”

“Namanya ‘Muhammad Ramadhan’, Papa. Dan, dia bukan berandalan. Dia mahasiswa sastra Inggris semester akhir. Dia aktif di teater kampus dan sudah magang di media online seperti Papa dulu…”

Menohok sekali kalimat putriku ini.

“Soal penampilan, kata Mama, Papa juga dulu begitu.”

Diam beberapa saat.

“Papa tahu nggak, dia mengagumi tulisan-tulisan Papa. Dia ingin belajar sama Papa.”

Aku menyenderkan tubuhku pada dinding kamar.

“Jasmine tahu, Papa nggak bisa menerima kenyataan bahwa Jasmine sudah dewasa …”

Aku menatapnya lagi.

“Jasmine hanya ingin Papa memercayai Jasmine.”

“Kamu mencintai dia?”

“Kami nggak pacaran, Papa. Jasmine melihat banyak sisi positif dimiliki dia, Pa.”

Aku hanya mendengarkan saja.

“Halo, anybodyhome!” Tiba-tiba istriku muncul di pintu kamar.

“Tamunya, Ma?” Jasmine cemas melihat ibunya.

“Mama suruh pulang.” Istriku tampak tenang sekali. “Lagi PSBB begini.”

Wajah Jasmine memancarkan perasaan kaget dan kecewa.

“Jangan takut, Sayang. Mama menyuruh dia untuk datang lagi kalau PSBB sudah dicabut. Sekarang video call saja dulu.” Istriku duduk di samping Jasmine, merangkul bahunya.

“Terus Mama bilang apa lagi sama dia?”

“Mama bilang sama dia, kalau mau jadi teman Jasmine, harus bisa naklukin papamu dulu!” Istriku tersenyum melirikku.

Aku tersenyum senang.

“Mama bilang begitu?” Jasmine menatap kami bergantian.

“Iya!”

“Mama …”

“Kita lihat aja! Iya kan, Pa?”

Aku tersenyum. Aku buka lebar kedua tanganku. Jasmine bangkit dan mendekatiku. Istriku tersenyum haru. Kupeluk anakku. *

Rumah Dunia, Oktober 2020

Gol A Gong adalah mentor Kelas Menulis Gol A Gong, pendiri Komunitas Literasi Rumah Dunia, BP Forum Lingkar Pena. Sudah menulis 125 buku; antologi cerpen, antologi puisi, how to, travel writing, dan novel. Novelnya yang berjudul Balada Si Roy siap difilmkan. IG: @golagong, Twitter: @Gol_A_Gong, Youtube di GolAGong TV.

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: