Cerpen, Kompas, Oka Rusmini

Men Tinggal

0
()

Cening putri ayu/Ngijeng cening jumah/Mèmè luas malu ka peken mablanja/Apang ada darang nasi/Mèmè tiang ngiring nongos ngijeng jumah/Sambilang mapunpun ajak titiang dadua/Dimulihnè dong gapgapin

Aku sangat menyukai lagu itu. Lagu khas anak-anak Bali. Judulnya, “Cening Putri Ayu”. Lagu yang membuatku paham wujudku sebagai perempuan. Lagu yang membuatku sedikit bisa membaca peta hidupku sebagai manusia.

Lagu itulah yang sering dinyanyikan pengasuhku, Men Tinggal, jika wajah kanakku terlihat memancarkan aroma kesedihan yang dalam. Atau jika tiba-tiba saja aku ngambul, ngambek tidak keruan. Tidak mau makan apa pun, hanya menangis gerung-gerung seolah ingin merubuhkan seluruh rumah dan pohon. Lengking tangisku konon memaksa orang-orang menutup telinga rapat-rapat. Begitu berisik dan heboh.

Jika aku sudah kumat seperti itu, hanya Men Tinggal yang mampu menenangkan beragam wujud kegelisahan dan rasa takut yang menghajarku.

Perempuan setengah baya itu memiliki aroma tubuh yang unik. Ketika aku dewasa, tak pernah kutemukan aroma tubuh menenangkan itu dalam botol-botol parfum yang dijual di toko ternama. Bahkan pernah, sewaktu diundang ke Italia, aku memaksa panitia untuk mengajakku berkeliling ke toko-toko fashion papan atas di Milan. Aku berjalan di sepanjang Galleria Vittoro Emanuelle II, menyusuri gerai-gerainya dengan tujuan mencari parfum beraroma tubuh Men Tinggal.

Hasilnya? Nihil!

Kota cantik yang dipenuhi bangunan tua mistis dan koleksi fashion kelas dunia terkini itu pun tidak mampu memberikan sesuatu yang paling kuinginkan dalam hidup: aroma tubuh Men Tinggal!

***

Men Tinggal ialah teman, musuh sekaligus ibu yang menemani seluruh rajutan hari kanakku. Ya, kau tak salah dengar: ibu. Dia sosok ibu bagiku.

Ibu kandungku sendiri sebenarnya perempuan yang baik. Sayangnya, dia tidak mahir mengurus anak. Di usianya yang terlalu muda, tidak seharusnya dia berani mengambil keputusan untuk kawin dengan bapakku. Selain tidak pernah mencintai Bapak, dia juga tidak memahami betapa penting arti kehadiran seorang ibu bagi pertumbuhan anak. Terlebih bagi anak gadis, yang memerlukan cermin untuk berkaca tentang bagaimana tumbuh sebagai seorang perempuan.

Aku pertama kali mengenal Men Tinggal ketika usiaku belum genap lima tahun. Nenekku memilih dia jadi pengasuhku. Sejak bertemu dia, aku merasa ada sesuatu yang nyaman mengalir masuk ke lubang-lubang tubuhku. Ke pori-pori otakku. Menyusup begitu meneduhkan.

Baca juga  Ziarah

Jemari tangannya yang besar-besar menggenggam tanganku yang kecil kurus. Begitu hangat. Dan terasa ada hawa segar merasuk jiwaku. Membasuh lukaku.

***

Men Tinggal buta huruf. Tapi tak mau disekolahkan nenekku. Meski hanya sekolah modes, kursus menjahit untuk perempuan, seperti yang diikuti pembantu-pembantu lain di rumah keluarga besar brahmana Bali tempat aku dibesarkan. Kata dia, sekolah itu tidak enak. Melelahkan dan menghabiskan waktu saja. Dia bilang menjahit baju bukan hobinya.

“Tiang tidak suka mendengar suara mesin jahit berdengung di telinga, Ratu Lingsir,” begitu alasannya kepada nenekku. Dia selalu memanggil Nenek dengan sebutan “ratu lingsir”, ratu sepuh. Penolakannya dikursuskan jahit menunjukkan ia bukan tipe penjilat yang sigap memuja-muji nenekku di depan, tetapi siap membisikkan kata-kata jahanam di belakang.

Men Tinggal sosok perempuan bertubuh kekar. Tenaganya sangat kuat. Di mataku, dia itu lelaki. Lelaki yang terjebak dalam tubuh perempuan.

Yang membuatku sering tertawa, tubuh sekokoh Men Tinggal ternyata takut suara mesin jahit. Kepadaku dia pernah berkata, suara mesin jahit seperti gergasi mengejar dirinya. Dia juga takut jarum, terutama jarum jahit.

Aku sendiri sangat takjub akan koleksi mesin jahit Singer nenekku. Aku senang memutar roda imbang, roda untuk menjalankan dan menghentikan mesin jahit. Suaranya terdengar aneh ketika kuputar sambil kakiku menginjak pedal. Aku akan tertawa girang jika Men Tinggal mulai mendelik dan berusaha mengangkat tubuh kecilku menjauh dari mesin jahit. Dia mengaku takut kakiku terjepit pedal atau tanganku tertusuk jarum. Padahal dia takut dikejar gergasi.

***

Sepertinya tak ada yang membuat Men Tinggal bahagia selain melayani aku dan melihatku tumbuh sehat. Hidupnya terkuras untuk mengurusku saja.

Dia tampak sangat senang jika aku begitu lahap menyantap masakannya. Di matanya, aku pasti terlihat kurus, pucat, tidak bahagia, kurang makan, dan kurang bersyukur. Padahal keluargaku tergolong sangat-sangat mampu. Tidak mungkin tidak bisa memberiku makanan bergizi atau membelikan apa-apa yang kusuka. Menyekolahkan anak-anak miskin yang bantu-bantu di rumah keluarga besarku saja nenekku mampu! Mungkin Men Tinggal merasa aku makhluk aneh yang perlu diselamatkan.

Baca juga  Laila: Tarian Pengorbanan

Setahuku, Men Tinggal tidak memiliki impian apa pun. Tidak punya keinginan ini-itu. Hidup ini, baginya, datar-datar saja. Semua baik-baik saja. Tak ada emosi. Tak ada drama.

Dengan mengabdi kepada keluarga kami, Men Tinggal merasa hidupnya sudah berjalan sangat baik. Dia merasa beroleh keberuntungan yang tidak dimiliki banyak orang. Bisa makan teratur, bisa tidur di tempat yang bersih. Bahkan nenekku sering membelikan beras, kelapa, telur, dan minyak untuk keluarganya ketika ada odalan di rumah asalnya. Itu sudah kemewahan yang tidak terkira. Dia sadar betul, tidak sembarang orang bisa terpilih untuk mengabdi di griya.

***

Saat mengasuhku, Men Tinggal suka bergumam melantunkan lagu tanpa kata. Kadang dia membuat musik dengan mulutnya sambil menepuk-nepuk pipinya atau meniup-niup dan bersiul-siul tidak jelas.

Suatu hari, aku bosan dengan gumamannya yang selalu hadir saat menidurkan aku. Kusuruh perempuan itu bernyanyi. Dia menolak halus. Tapi seminggu kemudian, Men Tinggal sudah memiliki lagu untukku: “Cening Putri Ayu”. Entah di mana dia belajar menyanyikan lagu itu. Kadang syairnya dibalik-balik. Kadang satu larik saja diulang-ulang.

Men Tinggal jadi keranjingan menyanyikan “Cening Putri Ayu”. Menjelang aku tidur, ketika aku bangun tidur. Kadang dia nyanyikan dengan berbisik ketika aku ngamuk meraung-raung tidak jelas.

“Cening Putri Ayu” seperti mantra yang bergaung menenangkan. Mengurai beragam rusuh gelisah kekusutanku. Menetralkan bermacam ketololan yang kuternakkan dalam hidupku. Sunyiku seolah terbaca hanya oleh Men Tinggal. Hanya dia perempuan yang paham seluruh cuaca hatiku dan pikiranku.

Rasa kecewa, kehilangan, terbuang, dan terhina telah menjelma jadi sedimen kemarahan yang merongrong masa kanakku. Membuatku terluka parah. Mengurungku menjadi makhluk penyendiri yang sibuk bersabung dan menenggelamkan diri dalam tumpukan pikiran aneh yang terus berbiak menutupi perjalanan hidupku. Tak ada manusia yang bisa menyentuh dan menyelamatkanku. Aku memasuki arus gelap dan tenggelam dalam palung kesunyian usia kanak.

Sampai kutemukan Men Tinggal. Ia yang mengulurkan tali. Menarikku sekuat tenaga sepenuh cinta keluar dari palung yang kuciptakan sendiri.

Baca juga  Rumah

Aku terbuai lagu yang dinyanyikan dengan suara paraunya itu. Satu-satunya lagu andalan untuk meredakan badaiku. Tidak pernah berkembang. Tidak pernah berubah. Tapi nadanya selalu berbeda tiap kali keluar dari mulutnya. Itulah seninya. Aku merasa lagu itu tak henti-henti digubahnya.

“Cening Putri Ayu”, kata Men Tinggal, bercerita tentang kecantikan seorang anak perempuan kecil yang kesepian. Perempuan kecil yang hanya merasa nyaman berteman dengan pikiran-pikirannya sendiri. Kelak jika kau tumbuh remaja, kau harus menjelma jadi gadis paling cantik dan paling bahagia. Karena hidup itu luar biasa indah dan lucu jika kita menikmatinya. Begitu pesannya.

Ah, Men Tinggal, Men Tinggal. Ternyata kau sok tahu juga.

Sampai sekarang, sering aku berpikir kenapa Men Tinggal menjatuhkan pilihan pada “Cening Putri Ayu”. Kenapa hanya lagu satu itu yang sering diulang-ulangnya? Padahal ada banyak lagu anak Bali yang tak kalah indah dan jenaka.

Mungkinkah justru dia yang ingin menjelma jadi sang putri ayu?

Di balik kelucuan, kenaifan, dan keriangannya, aku tahu sang putri menyimpan luka menganga yang tak pernah sembuh. Kelak luka itu menumbuhkan beragam bunga yang remahnya mereka taburkan pada jasadmu. Bunga yang menemanimu pergi. Entah ke mana.

Oka Rusmini, buku terbarunya adalah Jerum (2020), novel adaptasi dari karya sastra kuno Bali, Kidung Kundangdya. Kumpulan puisinya, Saiban, memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2014.

Triyadi Guntur Wiratmo, lulusan Desain Komunikasi Visual ITB pada 1998 dan pascasarjana Seni Rupa dan Desain pada 2005. Lalu pada 2014 sekolah di The Reinwardt Academy, bagian dari Amsterdam University of the Arts. Selain mengajar di almamaternya, dia aktif menjadi ilustrator di media massa, penerbit buku, dan BUMN. Setidaknya pernah tiga kali pameran solo ataupun gabungan di Singapura dan Jepang.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: