Arafat Nur, Cerpen, Jawa Pos

Tangisan Sedu Sedan di Antara Siaran Iklan Radio

4.5
(2)

Radio sedang menyiarkan iklan membesarkan dan memanjangkan alat kelamin pria ketika Misdi mendengar kabar bahwa istrinya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Surabaya telah dinikahi lelaki lain.

TIBA-TIBA saja kepala Misdi pening, pandangannya berkunang-kunang, dan kupingnya sumbat seperti berada di puncak Bukit Semaur yang bertekanan udara rendah.

“Aku juga sangat kaget, kenapa Poniyem sampai bisa kepincut lelaki lain. Padahal, kalian sudah punya anak dan akur-akur saja. Aku tidak habis pikir. Kalau dulu aku ketemu dia, pasti sudah aku nasihati. Tapi, aku tidak pernah ketemu dia karena tempat kerja kami berjauhan. Lagi pula, sekarang apa gunanya. Dia sudah kawin,” kata perempuan paro baya yang baru pulang sebagai pembantu rumah tangga di Surabaya. Kata-kata perempuan tetangga itu tidak bisa lagi dicerna Misdi yang mendadak wajahnya berubah sangat pucat.

“Mas, kamu kenapa?” tanya perempuan itu kebingungan karena melihat wajah Misdi sangat tegang. Dengan hati-hati dia pun berujar, “Sabar ya, Mas. Maaf, aku balik dulu…”

Dengan langkah gontai, Misdi masuk kamar, merebahkan diri di ranjang. Tercium bau apek. Dia memejamkan mata, kemudian membukanya lagi. Pandangannya menerawang ke atap rumah yang tanpa ada langit-langit. Dinding tanpa plester, lantai semen kasar berdebu, demikian juga lemari kayu yang dibuat sekadarnya agar pakaian mereka tidak berserakan dan disangkutkan di mana-mana.

Dari radio yang masih menyala, terdengar sebuah lagu dangdut yang tidak begitu selaras dengan musik. Seperti lagu rekaman ulang dari penyanyi amatiran. Namun, lagu-lagu semacam itu tetap enak di pendengaran orang-orang Desa Semaur yang tidak tahu apa-apa tentang musik. Seusai lagu itu diputar, langsung terdengar lagi siaran iklan memperbesar dan memperpanjang alat kelamin pria…

***

Sebelumnya, seminggu sekali atau dua minggu sekali, Misdi menelepon istrinya dari puncak Bukit Semaur—hanya di situ sinyal telepon di desanya paling bagus—di antara bayangan pohon pinus dan tanaman kunyit yang merana, menanyakan kabar istrinya, kapan istrinya pulang.

Poniyem selalu menjawab, “Aku belum bisa pulang, Mas. Majikan bilang, kalau aku pulang, aku tidak bisa balik kemari lagi. Dia akan mencarikan pembantu lain. Mas kan tahu mencari pekerjaan itu sulit sekali.”

Baca juga  Kota Palsu

Misdi langsung percaya dan tidak pernah memikirkan yang bukan-bukan. Sudah setahun lebih istrinya tidak pulang dan selalu saja mengutarakan alasan yang masuk akal. Memang kebanyakan perempuan yang bekerja sebagai pembantu ataupun pekerja pabrik jarang-jarang pulang ke kampung halaman. Setidaknya paling cepat tiga bulan sekali. Itu pun cuma sebentar. Paling lama seminggu, kemudian mereka harus balik lagi. Kebanyakan enam bulan sekali baru pulang. Ada yang setahun, dua tahun, bahkan lima tahun sekali baru pulang kampung, terutama mereka yang bekerja di luar negeri seperti di Malaysia dan Hongkong.

Kebanyakan penduduk di sini harus mengadu nasib ke luar desa untuk bisa bertahan hidup, buat biaya makan dan biaya sekolah anak-anak. Desa ini seperti kena kutuk Tuhan dan penduduknya tetap memanjatkan doa walaupun jarang sembahyang, meminta kepada arwah leluhur, menaruh sesajen di kamar, di kali, di alas atau ladang, dan di sawah-sawah, berharap hasil panen melimpah. Nyatanya, hasil panen tidak pernah bagus. Jahe yang ditanam di bawah lahan pinus milik pemerintah terserang hama yang menyebabkan umbinya busuk, kunyit hanya bisa dipanen dua tahun sekali, dan banyak gabah yang kopong.

Makanya, setiap orang yang sudah menikah dan dikaruniai seorang anak, salah satu di antaranya harus pergi mencari kerja ke kota. Kebanyakan yang pergi bekerja dan harus meninggalkan keluarga adalah istri karena pekerjaan menjadi pembantu atau pekerja pabrik adalah perempuan. Kaum perempuan lebih mudah mendapatkan pekerjaan di kota dibandingkan lelaki yang hanya menamatkan sekolah dasar dan tidak memiliki keterampilan apa-apa.

Jika tidak ada salah seorang anggota keluarga yang bekerja di kota, hidup mereka akan miskin, terpaksa tinggal di rumah orang tua tanpa pernah bisa membangun rumah sendiri, makan berlauk tahu-tempe, tidak bisa membeli barang apa-apa, pakaian sekadarnya, tidak bisa beli HP pintar, tidak bisa beli perabotan, tidak bisa beli televisi, dan tidak ada biaya untuk pendidikan anak-anak mereka. Lantas, mereka harus terus menumpang hidup di rumah orang tua sambil mendengarkan siaran radio yang tidak henti-hentinya memutar iklan memperbesar dan memperpanjang alat kelamin pria…

***

Mungkinkah Poniyem mengkhianatinya? Misdi membatin dan sulit untuk bisa percaya. Sebab, dia masih istrinya, belum bercerai, dan selama ini Poniyem tidak pernah mengeluh meminta cerai. Mereka baik-baik saja, hampir tidak pernah cekcok.

Baca juga  Akar Bahar Tiga Warna

Poniyem adalah gadis desa tetangga, berparas biasa saja, tetapi suka dandan dan memakai pakaian menurut gaya masa kini. Penampilannya itulah yang membuat mata Misdi tidak berkutik dan langsung jatuh hati saat kali pertama mereka bertemu di Pasar Ngrayun. Misdi memberanikan diri menegurnya yang dibalas dengan keramahan berlebihan, kalau tidak bisa dibilang genit.

Misdi, sekalipun penampilannya agak kumal, memiliki paras yang lumayan tampan dan menyenangkan. Hal itu pula yang membuat pandangan Poniyem gelap. Singkat kata, mereka pun menikah sampai kemudian dikaruniai seorang anak perempuan dan hidup mereka semakin terimpit sulitnya keuangan. Demikian pun mereka jarang cekcok, apalagi bertengkar.

Kesulitan keuangan mereka segera teratasi saat Poniyem menerima ajakan seorang perempuan tetangga yang menawarinya pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Surabaya. Meskipun jarang pulang, setiap bulan Poniyem mengirimkan uang gajinya kepada Misdi yang tinggal bersama ibunya yang turut membantu mengasuh putri mereka.

Sejauh ini tidak ada tanda-tanda bahwa mereka tidak cocok, apalagi bertengkar. Mungkinkah Poniyem sampai hati mengkhianatinya? Pertanyaan itulah yang selalu mengiang-ngiang di telinga Misdi.

***

Siang itu, saat Misdi keluar rumah, berlari-lari ke Bukit Semaur untuk menelepon istrinya, dia sempat mendengarkan kembali iklan radio memperbesar dan memperpanjang alat kelamin pria. Iklan itu-itu saja yang sering diputar di pemancar radio swasta kecamatan yang berhasil tertangkap gelombangnya di desa terpencil bebukitan yang penuh dengan pohon pinus milik pemerintah.

Dengan napas memburu, jemari kasar Misdi yang gemetar langsung menekan tombol yang menghubungi nomor telepon Poniyem di Kota Surabaya yang berjarak sekitar 350 km. Tidak sedikit pun terlintas bagaimana bayangan kota itu di benak Misdi. Kota paling besar yang pernah dilihatnya adalah Ponorogo dengan polisi lalu lintas yang berkeliaran di jalan-jalan. Itu pun cuma sekali, saat dia mengantarkan istrinya dengan motor ke terminal.

Sejak remaja sampai menikah, kehidupan Misdi hanya berputar-putar antara rumah, alas, dan sawah. Sesekali dia turun ke kota Kecamatan Ngrayun untuk berbelanja dengan motor butut yang tanpa STNK dan surat hak milik yang dibelinya dengan cara menukarkan seekor kambing jantan usia dua tahun.

Baca juga  Lontong Tek Sidar

“Halo,” kata Misdi dengan bibir bergetar tak tertahan. Bukan hanya bibir, sekujur tubuhnya juga bergetar.

“Halo,” sahut suara dingin dari seberang. “Ada apa, Mas?”

Sesaat hening karena Misdi sangat kebingungan. Tiba-tiba saja dia kehilangan kata-kata, tidak tahu apa yang mesti diucapkannya.

“Aku dengar kamu sudah kawin. Apa benar?” suara Misdi terdengar serak dan seperti orang mau menangis.

Sejurus hening. Begitu heningnya sehingga Misdi bisa mendengar degup jantungnya sendiri yang begitu keras.

“Benar, Mas,” terdengar jawaban tanpa dosa dari seberang.

“Kenapa bisa? Kamu kan masih istriku? Kenapa tiba-tiba kamu kawin lagi? Apa salahku?” sembur Misdi menahan gejolak amarahnya.

“Maafkan aku, Mas. Aku hanya minta kamu menceraikanku.”

“Cerai?” Misdi kembali kehilangan kata-kata.

Sejak itu Misdi menjadi lelaki yang tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Dia menjadi lelaki pendiam yang tidak bisa lagi diajak berbicara. Misdi tidak bisa bicara apa pun lagi.

Sehari-hari kerjanya hanya ke ladang dan sawah, bahkan di tengah malam yang gelita. Dia tidak peduli apa pun, bahkan dia tidak paham terhadap orang-orang yang begitu panik menghadapi persebaran wabah korona yang sudah sampai ke desa-desa.

Ketika di rumah, dia lebih banyak mengurung diri di kamar untuk menghindari ibunya dan anak gadisnya yang sekarang sudah duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Yang sering terdengar dari suaranya yang keluar adalah tangisan sedu sedan. Dan, tangisan sedu sedan itu kerap kali lebih nyaring terdengar ketika radio yang diletakkan di ruang utama menyiarkan iklan memperbesar dan memanjangkan alat kelamin pria. (*)

Ponorogo, 10 September 2020

ARAFAT NUR. Dosen Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Ponorogo yang sering menjuarai sayembara menulis novel dan cerpen. Buku kumpulan cerpen terbarunya yang berjudul Serdadu dari Neraka (Diva Press, 2020) sudah beredar luas.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: