Benny Arnas, Lakonhidup.Com, Spasi

Penerokaan Raudal di Kepaimoan Sastra

1
(1)

Kalau memang, mengutip Aristoteles, sastra itu adalah mimesis, maka prosa itu adalah cerita yang mengalir apa adanya sebagaimana kehidupan itu sendiri.

SUATU HARI, PUTRI saya datang dengan bersemangat. Ia menggebu-gebu sekali ingin bercerita dan meminta saya menjadi pendengar yang khidmat. Katanya, temannya di ujung gang memiliki ayah yang sakti mandraguna.

“Bagaimana Dkayla bisa tahu?” gali saya. Saya senang sekali mendengar anak-anak bercerita. Polos. Lugu. Apa-adanya. Sebagaimana kehidupan. Begitulah realitas.

“Ayahnya bisa mengubah koin dalam genggaman tangannya menjadi gula-gula. Lalu gula-gula itu juga bisa berubah jadi pemotong kuku. Lalu pemotong kuku itu kemudian jadi koin lagi. Pokoknya hebat deh!”

“Iya, Ayah!” timpal Dinda, kakaknya yang sudah berusia 8 tahun. “Bisa sulap ayahnya!”

“Ya, sulap!” seru Dkayla seperti terwakili oleh informasi yang diberikan kakaknya. “Ayah bisa sulap juga, ‘kan?”

Saya tak tahu apakah ayah temannya itu memang benar-benar pesulap atau sekadar memanfaatkan ketidaktelitian anak kecil, tapi … saya pikir saya juga bisa melakukannya. Asalkan barang-barang yang mungkin saya sembunyikan dalam genggaman itu sudah saya siapkan dahulu di antara baju atau celana atau di antara anggota tubuh saya yang lain. Saya pikir, walau berada dalam tingkat keahlian yang berbeda, si pesulap juga melakukan hal yang sama.

Saya mengangguk, tapi saya minta waktu sejenak (tentu saja saya tidak bilang kalau saya akan mempersiapkan benda-benda yang nanti akan “taraaaa” mengejutkan mereka) untuk mengumpulkan kesaktian. Saya bisa saja izin ke belakang  atau masuk kamar atau ke tempat lain yang jauh dari jangkauan mata mereka.

Pertunjukan saya sukses. Mereka lalu bilang ke kawan-kawannya kalau mereka juga memiliki ayah yang tak kalah sakti dari ayah temannya itu—atau bahkan jauh lebih sakti dari siapa pun.

“Ayah,” kata Dkayla ketika saya sedang membaca di beranda. Kali ini dia membawa kawan-kawannya sekitar 7 orang. “Kami mau nonton Ayah sulap lagi,” kata Dinda bersemangat. “Sulap koin jadi kucing ya, Yah!” pinta Dkayla. “Jadi TV aja, Om!” pinta salah satu temannya yang lain. Lalu beramburanlah permintaan-permintaan yang tak mungkin saya penuhi karena: pertama, belum tentu benda itu bisa saya siapkan; kedua, kalaupun ada, karena ukuran benda-benda permintaan itu besar sekali, mustahil saya sembunyikan di baju, celana, dekat anggota badan, apalagi dalam genggaman!

***

PENGALAMAN DI ATAS bisa saya tuliskan apa-adanya dan—hop!—jadi prosa atau sastralah ia karena bagaimanapun ia memang ada, ia memang kenyataan yang saya hadirkan dalam cerita yang ditulis. Seharusnya begitu, ‘kan, kalau mengutip Aristoteles? Bahwa sastra mengandung nilai kemanusiaan dan memiliki lebih dari satu tafsir atau  harusnya mengandung konvensi estetika tertentu, itu perkara yang lain, itu lain perkara.

Tapi, kenyataannya tidak begitu. Atau … sastra yang kita imani ternyata tidak sesederhana itu. Dalam sastra, ada konvensi (baru) tentang bagaimana cerita bisa disebut prosa. Padahal, realitas mana peduli semua itu. Lapar, ya makan. Haus, ya minum. Kepepet, maling. Nyawa terancam, lari tunggang-langgang. Bahwa makan harus dengan bekerja dengan proses yang penuh drama atau air yang diminum ternyata diambil dari mata air negara lain atau maling adalah tindakan tidak terpuji atau lari dalam perang bukanlah sikap ksatria, kadangkala realitas tidak menyediakan informasi yang memadai tentang (semua) itu.

Ya, apabila seorang miskin kelaparan dan tanpa sengaja kakinya kesenggol batu—mungkin kelaparan membuatnya gagal fokus—lalu jatuh hingga membuat wajahnya mencium sebuah kardus yang berisi tumpukan uang yang nilainya ditaksir hampir 300 juta, prosa tidak mau menerimanya begitu saja karena ia tidak membuat kausalitas sehingga logika tidak bekerja di dalamnya.

Baca juga  Sapiokasual, Literasi Palsu, dan Pesawat Mencium Gunung Es

Pun ketika “hiduplah seorang pemuda dari kaum jelata yang mengimpikan seorang putri raja untuk menjadi istrinya, tapi ia tidak mengusahakan apa pun karena pada dasarnya ia pemalas”, tidak akan diterima sastra sebagai bagian dari sastra sebab ketiadaan konflik membuat kisah itu belum bulat sebagai prosa.

***

CERITA-CERITA HARI INI, yang lestari oleh penerbitan dan toko buku dan perpustakaan; yang menjadi skrip film sehingga produksi bisa dilakukan; yang menjelma ide lirik lagu-lagu hits; atau yang menjadi keterangan atas karya seni instalasi dengan visual yang membuat kening berkerut; adalah cerita dengan anggota keluarga yang lengkap dengan tokoh (karakter) sebagai kepalanya, visi atau tujuan sebagai kakinya, dan organ-organ vital dalam tubuh sebagai konfliknya. Bahkan, ada yang harus memasukkan alat kelamin sebagai misi sebuah cerita atau sepasang tangan sebagai (re)solusi sebuah cerita, sebuah karya teks.

Tanpa kehadiran elemen-elemen penting di atas, cerita akan lemah, cerita tidak akan memilki arah, cerita akan mengambang, cerita akan acakkadut. Cerita tidak akan diminati, tidak laku, tidak akan diakui, tidak akan dianggap keberadaannya. Itulah rumus yang berlaku. Itulah klaim yang tumbuh dan merimbuni kehidupan kita yang ternyata membutuhkan cerita sebagai hiburan atau permenungan atau pemantik kesadaran—katanya.

Maka, keberadaan andai-andai, kaba, dongeng, cerita rakyat, obrolan warung kopi, percakapan ngalur-ngidul, atau letupan kejadian merta-merta—yang sebagian besarnya tidak peduli kelengkapan tubuh cerita atau sejenisnya, yang tak jarang menceritakan sesuatu selintas lalu apa adanya, tanpa ambil pusing pada keterbatasan atau keluasan ruang—dijajah dan ditindas oleh cerita-cerita yang sudah “sempurna”, cerita-cerita yang “sudah atau lebih modern”, cerita-cerita yang diklaim ditulis sesuai prinsip dan aturan peradaban.

Rumah-rumah lama, bangunan kuno, atau permukiman adat, digusur oleh buldozer karena keberadaan mereka mengganggu pemandangan, karena yang lebih pantas dan layak adalah rumah atau bangunan dengan desain, standar sanitasi, dan tampilan yang sesuai zamannya.  Dan kini, rumah-rumah lama, bangunan kuno, dan daerah yang ndeso itu makin susah ditemui. Bila keberadaannya yang terbatas itu beririsan dengan kebutuhan zaman, digerus jugalah mereka. Beberapa ada yang keukeuh mempertahankannya atas nama sejarah, kebudayaan, dan kemanusiaan. Tapi, jumlah mereka sangat sedikit, makin sedikit.

Dalam kedigadayaan persepsi yang jamak tentang cerita yang lengkap (atau yang baik itu seperti apa), cerita yang tampil apa adanya atau dibiarkan begitu saja, berisiko disebut: tulisan yang belum jadi, tulisan yang dibuat kreator yang malas mengembangkan batang cerita, tulisan yang tidak akan diterima koran, tulisan yang akan banyak menerima tudingan miring karena ketidakbecusannya bercerita atau ketidakmampuannya beradaptasi dengan “norma”.

Raudal Tanjung Banua menyadarinya dan mengkhidmatinya. Sejak mula kepengarangannya. Satu setengah dekade proses kreatifnya, ia tampil sebagai penulis yang menghasilkan cerpen dengan premis yang memukau dan gaya bercerita yang menakjubkan, Raudal dapatlah dikatakan sebagai salah satu penulis prosa yang menggarap tema lokalitas dengan paling berhasil dalam sastra Indonesia. Dalam Parang tak Berulu (2005)—untuk menyebut salah satu bukunya yang paling banyak dibincangkan, kita melihat bagaimana mitos dan kedaerahan—untuk tidak menyebutnya “keminangkabauan”—digarapnya dengan aturan cerita yang sastra: berpremis dan bernarasi yang lentur dan khas.  Dalam tema dan teroka yang mirip, cerpen-cerpen dalam Pulau Cinta di Peta Buta (2003) atau Obituari bagi yang Hidup (2004), bergerak dan menunjukkan perubahan yang dinamis, mengetengahkan romantisisme lokal, dan memberi perspektif baru dengan diksi dan narasi yang kadang susah ditebak. Singkat kata, ia telah membukukan cerpen-cerpen yang taat premis dan taat konvensi awam.

Baca juga  Titik Hati

Tapi, ternyata Raudal sudah lama gelisah, tepatnya sejak 2007, sehingga ia, yang seolah luput dari perhatian, ternyata telah, menulis cerpen-cerpen yang memberontak konvensi itu. Tak sekadar menulis, tapi, ia juga (berhasil) merilis cerita-cerita tanpa tendens mematuhi premis atau rumus prosa tersebut di media massa dalam kurun 2007 hingga 2016. Belasan cerpennya yang menjadikan settting (tempat atau lokasi) sebagai elemen utama dalam bercerita dimuat oleh Jawa Pos sebelum kemudian Akar, penerbit indie miliknya, menerbitkannya di bawah judul Kota-kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai pada 2018. Hal serupa ia teruskan dengan pembukuan cerita-cerita yang pernah ia dengar dan alami dari kecil hingga dewasa—tanpa pretensi mengembangkan dan menabalkan cerita-cerita tersebut dengan narasi prosa yang kausal dan konflik yang ditabalkan sedemikian rupa—yang pernah dimuat Koran Tempo juga dalam kurun waktu sembilan tahun tersebut di bawah judul Cerita-cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan (2020).

Lalu, apakah cerita-cerita dalam dua buku mutakhirnya adalah sastra? Bisa ya, bisa pula tidak. Bisa saja tak masuk genre apa pun, atau bahkan bisa juga sangat sastra. Paling tidak, “wisuda” (baca: pemuatan cerpen-cerpen itu di rubrik sastra) di  Koran Tempo dan Jawa Pos membuatnya dianggap cerpen atau prosa atau cerita yang memenuhi kualifikasi sastra, paling tidak oleh redaksi yang bertanggung jawab atas rubrik itu.

Tapi, dalam sastra yang disebut Seno Gumira Ajidarma … sebetulnya tidak ada, tetapi diada-adakan demi kepentingan kelompok-kelompok tertentu (Susatra Kawan Paimo, sukab.wordpress.com), diskursus tentang itu sebenarnya tidak penting lagi. Raudal, lewat dua buku mutakhirnya itu, seperti tahu dan paham kalau sudah waktunya mengetengahkan apa sahaja kepada khalayak pembaca.

Seperti pengantar yang ditulisnya untuk Cerita-cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan, Raudal menuliskan alasannya keluar dari pakem penulisan cerita atau prosa yang mapan selama ini sebagai berikut: Dalam suatu periode berproses kreatif menulis cerita pendek, saya pernah merasa dihadapkan pada situasi nyaman “terberi”, ketika konvensi-konvensi short-story sudah begitu lengkap—latar, plot, tokoh—dan saya tinggal mengoperasikannya. Ternyata itu memunculkan kegelisahan juga: sejauh mana saya sudah mengolahnya? (hal. v)

Konsekuensinya jelas ada.

Dengan keberanian tersebut, apakah ada konsekuensi atas pelepasan cerita-cerita itu kepada publik? Kalau ada, apa dan bagaimana keadaannya?

Jelas sekali ada. Dan inilah yang terjadi:

Cerita-cerita dalam Kota-kota Kecil yang Kujumpai dan Diangan bergerak lambat dan cenderung menggenang. Ketiadaan tokoh yang menggerakkan, pengabaian plot yang menyetir cerita agar berubah, dan semata mengandalkan setting dengan segala kroniknya sebagai muatan teks membuat cerita seperti, ya seperti, berjalan tertatih-tatih dan memberi kesan berlarat-larat dalam beberapa bagian. Cerita-cerita itu seperti sengaja menantang pembaca agar bekerja ekstra keras untuk merampungkan pembacaan sekaligus menemukan jantungnya (baca: apa yang diinginkan penulis dan apa yang hendak ia ketengahkan). Bayangkan, sesuatu yang selama ini jadi “bayang-bayang” (baca: latar) tiba-tiba menjadi tontonan utama di panggung cerita. Dengan setia penulis menjadi narator atas senarai cerita dari “Kota-kota Kecil yang Terus Hidup di Kepalaku” hingga “Kota-kota Kecil yang Kulewati dan Nama-nama yang Bangkit”. Dengan kesetian serupa juga pembaca seharusnya—atau ia harapkan memberikan perhatian—pada apa yang telah dihidangkan.

Konsekuensi yang mirip akan ditemui pada Cerita-cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan. Pembaca akan diketengahkan cerita-cerita yang dituturkan lepas begitu saja. Baik cerita-cerita yang penulis dengar ataupun alami sendiri, tanpa peduli bahwa ada yang kurang lengkap atau kurang tereksplorasi syarat-syarat prosanya. Seperti “Cerita-cerita Kecil yang Tulus dan Murni dari Ibuku” yang berisi dongeng menjelang tidur yang kerap sang ibu ceritakan ketika penulis kecil dulu (bahwa cerita-cerita kecil itu sebenarnya bisa jadi embrio sebuah prosa lokalitas yang lebih kompleks, tidak Raudal acuhkan. Selain ia sudah kenyang melakukannya di kumpulan-kumpulan cerpen terdahulu, juga disebabkan itu bukan lagi konsen buku terbarunya itu), atau bagaimana ia menuliskan pengalaman dan perspektifnya terhadap bersin yang hadir dalam cerita berjudul “Bersin”, sehingga batas antara esai dan prosa tercerabut dari teks.

Baca juga  Percakapan Pengantin

Yang masih berpikir cerpen atau prosa itu begini dan begono, sebagaimana wara-wiri di hampir semua rubrik sastra koran atau buku-buku prosa yang terbit selama ini, memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan tawaran Raudal. Itu (proses adaptasi) pun belum tentu berhasil sebab kembali pada energi dan ketertarikan pembaca terhadap jenis atau keseriusan meneroka bacaan.

Tapi, lantas konsekuensi di atas kemudian juga potensial menumbuhkan kecurigaan terhadap aktivitas membaca kita yang jangan-jangan sudah teracuni atau dikurung oleh kenyamanan-terberi itu tadi. Sebab seperti juga obat atau MSG atau makanan favorit atau hobi atau apa pun yang telanjur menerbitkan kebaikan atau kesenangan, konvensi cerita (sastra) yang stuck dan itu-itu saja telah menyebar candu dan memakan banyak pembaca yang tidak kritis sebagai korbannya.

Tawaran Raudal bisa kita maknai sebagai sebuah usaha menguji kenyamanan, keterberian atau kecanduan itu, apakah ia memang yang “dibutuhkan” audiens cerita atau ia sekadar “perangkap kesenangan” dengan jeruji bergembok rapat.

Apabila beberapa waktu belakangan, kita sibuk membincangkan pilihan isu atau improvisasi teknis menggarap cerita yang masih mengimani premis sebagai kerangka baja cerita, ternyata itu saja belum cukup. Sebagaimana Raudal “memberontak” dan keluar dari kemapanan keduanya dengan cara—atau keberanian—nya. Meskipun yang ia lakukan bukanlah yang pertama (paling tidak, Italo Calvino dengan Kota-kota Imajiner atau Kawabata Yanusari dengan Cerita-cerita Telapak Tangan-nya), tapi dalam sastra Indonesia, Raudal adalah bagian dari yang segelintir.

Tidak mudah menyebut apa yang dilakukan penulis—sebagaimana yang Raudal lakukan—sebagai penjelajahan keberkaryaan, sebab kita bisa memandangnya demikian apabila si penjelajah memiliki riwayat menulis cerita konvensional, yang dasar, atau yang taat premis, dengan berhasil dulu. Tanpa didahului dengan itu, kita berpotensi dihidangkan lukisan yang disebut abstrak atau surealis atau kubis atau impresionis oleh pelukis yang gagal menggambar anatomi tubuh dan tidak mampu menggambar pemandangan dengan indah.

Akhirnya, mungkin kita bisa menempuh dan mengambil jalan yang lain untuk membersamai Raudal dalam gerbong “Cerita adalah mimesis dan mimesis tidak harus lengkap dan sarat atau taat aturan”. Apa dan bagaimana jalan  atau peran itu? Saya tidak berhak menjawab dan tidak ingin menjawabnya. ***

Lubuklinggau, 12 Desember 2020

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Tiga novelnya yang akan terbit: Bulan Madu Matahari, Ethile! Ethile!, dan Cahaya di Bawah Cahaya. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan membawanya melakukan lawatan kepenulisan dan kebudayaan di 17 negara. Kini, ia mengampu kelas menulis terbuka di kanal Youtube-nya.

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: