Kedaulatan Rakyat, Resensi, Saniati

Mengolah Polah Beragama

1
(1)

FIKSI menyulam gambaran keseharian dengan caranya sendiri, dan ia lazim mengakomodasi pelbagai fenomena yang muskil juga garib dibincangkan oleh jenis teks lainnya, termasuk ihwal yang kadung dianggap suci sekaligus tak elok digugat seperti agama. Barangkali, itu adalah dua alasan mengapa saya, pada titik tertentu, lebih sering bertekun ria dengan fiksi untuk kemudian mencerna dan mengambil simpulan terhadap realitas.

Ketika dihadapkan pada teks sejenis, pembaca yang tergesa-gesa berpotensi menjatuhkan penghakiman pada pengarang, sementara pembaca yang tekun senantiasa berangkat untuk menguji keimanan. ‘Forgulos’ (Basabasi, 2020) memang tidak bertolak dari ritus agama-agama dunia, melainkan menciptakan dua agama khayali; Freos dan quos sebagai agama, sementara Freo dan Quo didaulat sebagai Tuhan para penduduk Vulos. Tetapi dengan cara itulah, saya kira, sang pengarang bisa lebih leluasa menguarkan imajinasi, bahkan yang paling liar sekalipun.

Hasilnya, kompleksitas novel tipis ini merentang dari kritik terhadap ajaran agama, secara an sich, hingga polah para penganutnya. Dua dimensi yang masih menarik minat perbincangan kita, baik di rumah ibadah atau di mimbar ilmiah, di warung kopi maupun di tepi serambi.

Judul Buku : Forgulos
Penulis : Aveus Har
Penerbit : Basabasi
Cetakan : I, 2020
Tebal : 152 halaman
ISBN : 978-623-7290-74-2

Uji falsifikasi terhadap doktrin religi, jika boleh dibilang demikian, berlangsung lentur dan dijaga begitu ketat intensinya melalui dialog antartokoh dan tuturan narator. Misalnya, “Bagaimana Tuhan disebut Mahabaik jika Dia suka mengancam?” (halaman 128), yang dengan sangat benderang merogol nalar sekaligus lelaku intimidasi dan teror atas nama Tuhan, atas nama kebaikan.

“Aku tak tahu siapa yang menciptakan kita dan semua ini, jika memang ada yang menciptakan. Tetapi aku tak bisa membayangkan diri kita seperti lemari atau pisau yang tak berlaku apa-apa, yang tak hidup. Dan, aku tak akan berkata bahwa aku mengingkari kepercayaanmu, Tuan Lula, tetapi aku tak pula mempercayainya.” (halaman 28).

Baca juga  Akurasi Misteri yang Kompleks

Rembukan di atas, yang berakhir diterimanya Forgulos dan agama, menjadi titik pangkal segala kerumitan, konflik dan friksi yang terhampar di Vulos. Dua hal yang mulanya disaring dan dicegah begitu ketat, justru pada akhirnya membuat mereka dipaksa untuk beradaptasi. Mite baru bermunculan, modernitas dan interaksi dengan dunia luar mulai dikerek. Pertikaian politik, kebencian dan ketakutan telah menyelimuti Vulos.

Nilai tambah dari novel ini adalah keberanian penulisnya untuk melakukan eksperimen. Ia merangkai alur secara berputar, dimulai dari Bab 12-20 lalu 1-12. Sehingga impresi ‘sejarah berulang’ bisa kita temukan sejak membaca daftar isi. *)

Saniati, mahasiswa filsafat, penulis esai dan ulasan buku.

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: