Cerpen, Jawa Pos, Silvester Petara Hurit

Baju Natal buat sang Cucu

3
(3)

Desember menyimpan keajaiban. Pohon-pohon yang meranggas mulai mengeluarkan tunas-tunasnya begitu hujan pertama di akhir November.

PEMANDANGAN kuning kecokelatan pada puncak kemarau berubah. Di Desember pohon-pohon merimbun beraneka warna. Beberapa di antaranya memekarkan bunga yang indah. Kurun waktu ini disebut: wulan nikat, bulan menanam dalam penanggalan lokal.

Ada pohon yang nyaris seluruhnya tampak bunga. Orang-orang hari ini menyebutnya dengan bunga Desember. Ada pula yang menamainya dengan bunga Natal karena mekar di hari-hari menjelang Natal. Hampir pasti bahwa di Desember inilah orang-orang Portugis berlayar melintasi bagian timur Flores dan melihat pemandangan menakjubkan tersebut, lalu memberinya nama: cabo de flores, tanjung bunga!

Ketika Desember sayuran tumbuh subur. Padi membiakkan tunasnya. Daun jagung bergoyang-goyang ditiup angin. Ulat tanah tiba-tiba menjadi begitu banyak yang segera mati menjelma pupuk. Alam begitu bermurah hati. Tak kalah gembiranya Tala, cucu semata wayang Ama Tobi. Bahwa sebentar lagi Natal tiba. Pada saat Natal biasanya anak-anak dibelikan baju, celana, atau sepatu baru. Tak peduli beli di mana atau harganya berapa. Pokoknya baru. Mengenakan pakaian atau sepatu baru sudah merupakan kegembiraan dan kemewahan bagi anak-anak kampung. Itulah makna Natal bagi mereka.

Ama Tobi sangat ingin menggembirakan cucu laki-lakinya itu. Di Natal ini, ia berniat membeli baju dan sepatu baru. Tala sudah kehilangan orang tuanya ketika longsor menimbun rumah mereka di musim hujan tahun lalu. Kini ia hidup dengan kakeknya di gubuk sederhana tepat di pinggir jalan tak seberapa jauh jaraknya dari gereja.

Mengapa beringin-beringin ditebang? Ia bukan rumah berhala, pusat sihir, atau santet. Bagi orang sederhana dan tak sekolah seperti Ama Tobi, beringin-beringin itulah yang menyimpan air hujan sehingga kemarau masih dapat menyisakan sedikit keteduhan. Rembesan air membantu tanaman dari siksa kekeringan.

Bukan hanya tanaman, binatang-binatang kecil yang berumah di dalam tanah pun tertolong. Mereka punya peran tersendiri seperti membusukkan sampah tanaman. Ama Tobi sangat percaya gagal panen dalam tiga tahun terakhir akibat kekeringan, hama padi, ulat yang mengeroposkan jagung, disusul serangan tikus masih terkait dengan ratusan beringin yang dimusnahkan tersebut. Pohon-pohon adalah anggota tubuh ibu tanah yang mendadani serta melengkapi semesta dengan kesuburan dan kesegaran.

Setelah beringin-beringin itu ditebang, akarnya tak lagi menyerap air, mencengkeram batu, serta menahan tanah. Saat hujan lebat longsor datang membuat cucunya kini tak berayah-ibu. Ama Tobi sudah terlalu tua dan lemah, sedangkan cucunya masih terlalu kecil untuk menanggung kepedihan hidup. Siapa yang menjaring awan jika pohon-pohon besar itu sudah tak ada?

***

Para misionaris waktu dulu menyimpan patung bayi berwarna perak di perahu salah seorang leluhur Ama Tobi yang bernama Ama Nara saat malam hari. Pagi-pagi ketika hendak melaut, ia menemukan patung tersebut dan sejumlah patung lainnya dalam perahunya. Ia mencari barangkali ada orang yang tanpa sengaja telah meninggalkan patung-patung tersebut. Dalam jarak yang tak terlalu jauh, ia bertemu dengan dua orang misionaris yang mengatakan bahwa Ama Nara telah menerima berkah yang luar biasa. Didatangi sendiri oleh sang juru selamat pembawa damai, terang, dan cinta bagi dunia.

Baca juga  Ada Rumput Tetangga yang Lebih Kering Meranggas

Cerita tentang juru selamat yang disampaikan kedua misonaris mirip dengan kisah Nogo Letek bagi Ama Nara. Nogo Letek gadis Lewoangi tiba-tiba hamil tanpa pria. Selama 10 tahun saudara-saudaranya bertanya, memaksa, bahkan memarahinya, tapi Nogo tak menjawab siapa pria yang telah menghamilinya. Maka, bersiasatlah saudara-saudaranya dengan mengundang seluruh pria di wilayah daratan Flores Timur untuk pesta nyanyian dan tarian adat peresmian korke. Nogo ditugaskan bersama anaknya melayani tetamu menyuguhkan sirih pinang. Saudara-saudaranya mengangkat sumpah, jika nanti anak Nogo memeluk kaki seorang pria, dialah ayahnya. Tak ada ampun, mereka langsung membunuhnya.

Leluhur Ama Tobi dari masa yang lebih jauh bernama Boki diundang juga ke pesta itu. Pelatin Lela seorang pria Leworahang menawarkan dirinya untuk ikut serta dengannya. Tak disangka-sangka, di tengah sukacita tarian dan nyanyian, anak Nogo Letek memeluk kaki Pelatin Lela. Saudara-saudaranya menghunus parang. Boki minta pertimbangan karena ia yang membawa Pelatin Lela. Ia mohon mereka dinikahkan. Ia bersedia kembali ke Lewolema untuk mengambil gading sebagai belisnya.

Setelah kepergian Boki, saudara-saudara Nogo Letek mengambil kesempatan untuk melampiaskan amarah mereka. Pelatin diperintahkan bangun korke dalam sehari. Jika tak berhasil, ia dibunuh. Pelatin Lela menangis bersusah hati. Binatang-binatang hutan datang bergotong royong membantunya. Saudara-saudara Nogo menuangkan cairan gula tuak ke laut dan memintanya mengisi kembali ke wadahnya tanpa sedikit pun tercampur air laut. Kura-kura membantunya melakukan itu. Merasa belum puas, mereka mencampurkan biji jawawut dengan pasir halus dan meminta Pelatin memisahkannya dalam waktu singkat. Semut-semut bergotong royong menolongnya.

Ketika Boki tiba dari Lewotala, dengan berurai air mata Pelatin Lela menceritakan perlakuan mereka atas dirinya. Boki mencabut parangnya, berdiri di tengah pelataran korke dan menantang perang. Semua yang berkumpul khawatir jika tantangan itu disambut saudara-saudara Nogo. Boki adalah pemimpin Lewolema yang memiliki banyak sekutu, sementara Lewoangi pun demikian.

Melalui negosiasi yang alot, akhirnya Nogo Letek diikhlaskan mengikuti Pelatin Lela tanpa belis. Belisnya adalah um baja yang artinya damai dan cinta kasih total: tanpa perang, tanpa saling berkata kasar, apalagi melukai perasaan. Ini dikukuhkan dengan sumpah adat dan berlaku sampai turun-temurun.

Ketika rombongan Boki membawa Pelatin dan istrinya kembali ke Lewolema, hujan dan angin mengiringi mereka. Binatang-binatang bersukacita keluar hutan memberi restu. Bunga-bunga mengeluarkan wewangiannya.

Sejak saat itu, ketika di Lewoangi dan kampung-kampung serumpunnya belum turun hujan, mereka pergi ke kampung-kampung di Lewolema menari dan menyanyi sepanjang malam mengisahkan kisah Nogo Letek-Pelatin Lela. Saat mereka pulang, hujan mengikuti dan menyegarkan ladang-ladangnya. Begitu pun sebaliknya. Pun saat dalam perjalanan melintasi Lewolema jika haus atau lapar, mereka boleh mengambil hasil kebun untuk melepaskan lapar dan haus. Orang-orang Lewolema tak boleh melarangnya. Demikian pun sebaliknya.

Baca juga  Orang Gila dan Hikayat Mata Air Keramat

Orang-orang umumnya tahu bahwa Pelatin Lela telah menghamili Nogo Letek dan perkawinan mereka terjadi karena Pelatin Lela adalah seorang yang sakti. Namun, Boki menyimpan semua rahasia itu. Bahwa sesungguhnya Nogo Letek hamil tanpa seorang pria dan Pelatin Lela pun tahu itu. Atas kemurnian hati, ketulusan berkorban demi tak terjadi perang besar, semesta merestui. Cinta kasih hadir.

Cerita misionaris tentang sang juru selamat diterima dengan pengertian. Ia yang dikandung ibunya tanpa pria, yang lahir bercahaya, dikunjungi para raja dari Timur sungguh menarik. Yang lebih menarik lagi adalah ia raja damai, mengajarkan belas kasih, mencintai orang kecil dan papa. Maka, Boki menyimpan patung-patung itu bersama benda-benda pusaka leluhurnya. Mewariskannya kepada keturunannya hingga banyak yang berpindah tangan karena di masa kemudian keturunannya dianggap menggabungkan kekatolikan yang luhur dan kekafiran yang menyesatkan. Namun, sampai generasi Ama Tobi hari ini, kisah itu tetap dirawat. Mereka mencintai sang juru selamat dengan cara mereka yang khas, merawat ajaran-ajaran sucinya dalam hidup keseharian yang tak mencolok.

***

Natal tinggal beberapa hari lagi. Tala selalu bercerita setiap kali ada temannya yang dibelikan baju, celana, atau sepatu baru. Ama Tobi tahu maksud cucunya itu. Maka, secara diam-diam ia pergi menawarkan kambing kepada breun-nya Paman Usman di Kampung Baru. Paman Usman sebenarnya tak terlalu butuh. Tapi, ketika tahu demi baju dan sepatu Natal untuk sang cucu, Paman Usman langsung membayarnya seharga 350 ribu rupiah.

Ama Tobi pulang dengan lega. Sambil menikmati singkong rebus, ia mengajak cucu ke pasar Lamawalang besok. Di luar rintik sebentar lagi hujan membuat singkong dan kopi terasa lebih nikmat dari biasanya.

“Ama Tobi, Ama, Ama…..” ada suara memanggil.

Raut muka Ama Tobi tiba-tiba berubah. Kopi yang tengah diteguknya seperti tak bisa ditelan lagi.

“Mari, Ibu Ana, silakan masuk….”

“Ama Tobi sehat-sehat?”

“Sehat, Ibu.”

“Tala pintar tidak di sekolah? Sekolah yang rajin supaya bisa jadi Romo Deken atau Bapa Uskup. Tahu tidak? Kemarin Pak James anggota DPR dapil kita yang di Senayan itu beri hadiah mobil Fortuner buat Romo Deken!”

Tala mengangguk-angguk.

“Atau seperti ibu ini. Melayani Tuhan jadi ketua Komunitas Basis. Pak Johan suami ibu yang kepala sekolah itu menyumbang 100 sak semen buat pembangunan aula paroki.”

Setelah puas memuji-muji diri dan keluarganya, Ibu Ana mengutarakan maksud kedatangannya.

“Begini, Ama, saya tagih kewajiban sebagai anggota gereja: iuran wajib 100 ribu, 3 sak semen untuk pembangunan aula paroki total 150 ribu, sumbangan wajib pembangunan kapel stasi Philipus 50 ribu, serta derma aksi Natal seikhlasnya sesuai kemampuan. Semua sudah lunas, hanya Ama yang belum.”

Tanpa suara, Ama Tobi bangun perlahan-lahan mengambil dari saku bajunya uang hasil penjualan kambing tadi siang. Dari 350 ribu, 15 ribu sudah dibelikannya ikan dan 15 ribu untuk biaya ojek tadi. Yang tersisa 320 ribu diserahkannya ke Ibu Ana.

Baca juga  Topeng Ireng

“Terima kasih, Tuhan pasti menggandakannya berlipat-lipat dan memberkati dengan berkat surgawi dan duniawi,” katanya sambil pamit.

Ama Tobi terdiam cukup lama, lalu menghampiri cucunya.

“Jangan sedih, besok kakek jual lagi yang satunya.”

***

Matahari tepat di ubun kepala. Belum ada yang membeli kambingnya. Sepanjang dua hari ini Ama Tobi telah berusaha. Situasi lagi sulit. Tinggal beberapa jam semua toko tutup. Malam ini malam Natal. Akhirnya dengan nekat ia ke rumah kepala kantor agama. Hanya ada istrinya. Ama Tobi menawarkan kambingnya. Tapi, istrinya bilang mereka baru menyumbang 3 juta untuk pesta Natal bersama di lingkungannya. Ia mengambil sebotol Coca-Cola dan memberikannya kepada Ama Tobi.

Merasa tak ada lagi harapan, Ama Tobi pulang dan langsung memasak ayam yang sudah ditangkapnya kemarin. Ia menyajikannya sebelum Tala pulang dari rumah Nia teman kelasnya yang sebentar malam berperan sebagai Maria dalam dramatisasi kitab suci tentang kelahiran Yesus.

Menjelang gelap, Tala pulang setengah berlari menemui kakeknya dengan mata berbinar.

“Ini ada kue cucur kesukaanmu, ada Coca-Cola, dan ayam rebus yang masih panas.”

“Saya mau mandi. Kami kumpul di rumah Nia, lalu berangkat sama-sama.” Tala meraih handuk dan dalam hitungan tak sampai 5 menit kembali dengan tubuh belum dilap sempurna.

“Baju Natal…?” tanyanya tak sabar.

“Mari duduk makan dulu, baru kakek cerita.”

Wajah Tala sontak berubah.

“Kakek sudah berusaha keras, tapi tak ada yang beli.”

Tak satu pun kata. Hanya air mata yang terus jatuh.

Ama Tobi berusaha menemukan kalimat yang bisa menghentikan kesedihan cucunya.

“Yesus menerima semua yang mau berteman dengan dia, termasuk yang tak punya baju baru.”

“Tala, Tala, Tala, ayo jalan!” panggil teman-temannya.

Ama Tobi keluar.

“Kalian jalan lebih dulu. Sedikit lagi Tala nyusul. Ia masih makan.”

“Cepat, Tala. Jangan lama-lama! Kami tunggu di gereja ya.”

“Iya, dia nyusul.”

Ama Tobi masuk dan tak melihat lagi cucunya. Ia menengok ke dalam kamar. Tala membenamkan wajahnya ke bantal. Sesenggukan menahan isak. Ia berbalik mematung lama menyandarkan bahunya di pintu kamar yang semakin lapuk kayunya. Diam dan beku.

Di luar sana, dari gereja kor begitu meriah menyanyikan: Gloria in excelsis Deo. (*)

Lewotala, awal Desember 2020

DAFTAR ISTILAH

Korke: rumah adat kampung

Breun: teman, sahabat dalam budaya Lamaholot

SILVESTER PETARA HURIT. Penulis adalah pendiri Nara Teater. Bergiat mengembangkan teater dan sastra di Flores Timur, NTT.

Average rating 3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: