Ayna Indiera, Cerpen, Koran Tempo

Perempuan Pendongeng dan Cerita Cinta yang Dikisahkannya

3.2
(13)

AKU masih menceritakan kisah tentang Maya dan Yus kepada seorang lelaki yang sedang koma berhari-hari di rumah sakit. Ini hari kedua puluh satu.

Lelaki itu adalah penghuni rumah kayu di belakang sebuah tempat karaoke. Dulunya, tempat karaoke itu hanyalah lahan kosong tempat Maya dan Yus mencari angin sebelum langit berubah gelap. Di kaki pohon mangga, mereka bersandar, dan Yus mengatakan hal yang sama hampir setiap hari: “Akan kubuat ayunan di sini, untuk anak kita nanti. Talinya dari tambang dan tempat duduknya dari kayu pohon kelapa.”

Namun, pada hari keempat ratus sekian, Yus absen mengunjungi lahan kosong itu. Ia merasa malu pada pohon mangga yang mungkin saja bosan mendengar cerita yang sama setiap hari, sementara suami-istri itu belum juga memiliki anak.

Kemarin, telah kuceritakan tentang suatu malam ketika Yus dan Maya bertengkar hebat. Yus menuduh Maya mandul dan perempuan itu murka, lalu memasukkan semua pakaiannya ke dalam jarik dan ia ikat jarik itu dengan simpul mati. Baru 10 meter melangkah, Maya berbalik arah. Raut wajahnya menyimpan marah sekaligus iba. Pintu rumah dibukanya kembali dan didapatinya Yus masih duduk di kursi kayu dengan mata sembap. Maya dan Yus berpelukan. Tidak perlulah mereka meminta maaf, sebab tatapan mata saja telah mengisyaratkan penyesalan mendalam. Jika pertengkaran bersebab hal yang sama terulang, barangkali Maya tidak akan berbalik arah lagi.

Sayangnya, kisah yang kemarin kuceritakan kepada lelaki yang koma itu tidak juga membuatnya sadar. Mungkin caraku bercerita kurang menarik, atau kisah itu bukanlah kisah yang menggugah emosinya. Sepertinya, aku harus belajar lagi kepada seorang kenalanku yang berengsek, tapi ia pandai berkisah dan—menurut cerita—si Berengsek itu pernah dipanggil oleh Bapak Wali Kota untuk bercerita di Balai Kota. Yang tidak kusuka dari si Berengsek, ia meminta imbalan bukan berupa uang. Katanya, “Menikahlah denganku, dengan senang hati akan kuajarkan cara bercerita yang baik.” Sialan!

Lelaki yang masih dalam keadaan koma itu masih terbaring di ranjang dengan mulut dan lubang hidung dipasangi selang. Aku tidak tahu apa fungsi utama selang-selang itu selain menyambung nyawa pasien. Ia tidak sedikit pun merasa terganggu. Meski tersumpal selang dan memiliki luka bakar di wajah, ia tetap terlihat tampan di mataku. Alisnya berbaris rapi dengan menyisakan sedikit sekali jarak di antara kanan dan kiri, sedangkan pipi kirinya dihiasi lesung pipit. Kurang ajarnya, lesung pipit itu menggoda bibirku agar mengecupnya lembut. Lembut sekali.

“Kamu tahu? Aku datang sejak setengah jam lalu dan siap menceritakan kisah yang baru untukmu,” kataku berbisik. “Tapi, aku mohon, jangan memintaku menceritakan kisah selain kehidupan Maya dan Yus, sebab tidak satu pun kisah yang kupahami.”

Baca juga  Bermalam di Pasar Swalayan

Kumiringkan kursi agar bisa menatap ke luar jendela dan memastikan posisiku cukup nyaman untuk bercerita—seperti kebiasaan Yus di kaki pohon mangga. Yus selalu memilih bersandar di tempat yang bisa membuatnya melihat perubahan warna langit, dari biru, kuning, jingga, hingga menuju kelam.

“Akan kubuat ayunan di sini, untuk anak kita nanti. Talinya dari tambang dan tempat duduknya dari kayu pohon kelapa,” kata Yus sambil menunjuk pokok pohon yang menyerupai otot seorang petinju.

“Siapa yang akan mengayunkannya? Kamu?” Maya bertanya.

“Memangnya mau siapa lagi? Kamu?”

“Kalau kamu bekerja, ya, sudah pasti akulah yang melakukannya,” kata Maya.

“Jangan! Nanti kamu kelelahan, lalu ranjang kita tidak hangat lagi. Bukankah kata orang, ranjang kita harus selalu hangat agar memiliki banyak anak? Tunggu saja sampai aku pulang.” Yus lalu memperlihatkan otot lengannya. “Di sini, seorang ayah menyimpan bergunung-gunung tenaga untuk menyenangkan anak-anaknya.”

Ah, rasanya aku ingin menangis menceritakan kisah tersebut kepada lelaki yang terbaring koma itu. Seandainya ia tahu, ketika Yus meyakinkan Maya tentang bagaimana ia akan menjaga keluarganya, di dalam hati Maya tersimpan doa agar Tuhan selalu menjaga Yus dan memanjangkan umurnya.

Saat larut dalam kisah antara Yus dan Maya, seharusnya aku tidak perlu malu untuk menitikkan air mata. Toh, lelaki itu masih saja memejamkan mata.

Kisah sepasang suami-istri itu benar-benar membuat dadaku tercabik-cabik.

“Maya meninggalkan banyak hal untuk hidup bersama Yus,” kataku. “Terutama mimpinya berpendidikan tinggi dan membangun sekolah tempat nantinya ia bisa mendongeng sepuas hati. Yus tidak mampu membiayai kuliahnya. Gaji Yus hanya cukup untuk membayar listrik, PAM, dan makan selama sebulan. Dan kamu tahu apa yang dikatakan Maya kepada Yus setiap kali sarapan?” Aku menarik napas sebentar, lalu membelai rambut lelaki itu. “Kata Maya, ‘Yus, hati-hati kalau kerja, sebab kalau kamu celaka, aku rasa…, aku tidak bisa lagi menghadapi hidup.’ Dan Yus akan membalas dengan membelai lembut kepala Maya.”

Air mataku mengembang lagi. Sial! Mungkin aku harus menghentikan cerita tentang Yus dan Maya sekarang. Ini cerita terbodoh yang aku kisahkan kepadanya, sebab cerita ini hanya membuat dadaku sendiri yang ngilu, mataku yang sembap, dan perasaanku yang semakin kacau melebihi hari-hari sebelumnya, sementara ia tetap bergeming.

Sebenarnya, cerita barusan belumlah seberapa dibanding cerita pada hari ketika Yus memutuskan tidak lagi menemani Maya duduk di kaki pohon mangga sembari melihat langit sore berubah gelap.

“Maya tahu, hari itu, Yus menunjukkan kekecewaannya,” kataku. “Tapi seharusnya Yus tidak melakukan itu, bukan? Maksudku, tidak seharusnya ia melimpahkan semua kesalahan kepada Maya, sebab mereka tidak pernah pergi ke dokter dan memastikan siapa yang mandul. Lagi pula, Maya rajin memarut kunyit dan meminum air perasannya agar rahimnya sehat.”

Baca juga  Kisah dari Alam Kubur

Lelaki itu masih diam terbaring di kasur. Hanya bunyi teratur dari sebuah monitor yang menimpali ceritaku.

Kuceritakan juga kepadanya bagaimana Yus membuat keadaan semakin kacau dengan menghadirkan orang lain ke dalam rumah mereka. Kata Yus, tamu mereka adalah kawan mainnya sewaktu kecil. Namanya Bip dan ia pandai bercerita.

Menurut Yus, mungkin Bip bisa membuat hari-hari Maya jadi lebih berwarna. Namun Maya justru balik bertanya, “Hari-hariku, katamu? Kenapa hanya hari-hariku dan bukan hari-hari kita, Yus?”

“Yaaa…, karena…,” Yus sedikit gugup. “Karena sepertinya kamu butuh seorang teman yang satu hobi denganmu, yang bisa menghiburmu, Maya.”

“Sudah berapa kali kubilang padamu, Yus. Aku cukup terhibur dengan rencana-rencana kita di bawah pohon mangga itu.”

“Tapi aku jenuh, Maya.”

***

Sudah hampir dua jam aku berada di sini. Seorang perawat datang dan memeriksa keadaan lelaki koma itu. Seandainya diusir, aku akan memohon agar ia memberiku perpanjangan waktu sampai ceritaku tentang kisah cinta Maya dan Yus berakhir. Namun kelihatannya ia sama sekali tidak menghiraukan kehadiranku, seperti hari-hari sebelumnya.

Perawat itu duduk sebentar, mencatat sesuatu di atas kertas-kertas yang didekapnya tadi, lalu pergi begitu saja. Sejujurnya, aku ingin menawarkannya duduk manis di situ dan ikut mendengarkan ceritaku tentang Bip dan hubungannya dengan Maya sampai akhir. Mungkin saja ia tertarik akan cerita bagaimana Bip merayu Maya ketika Yus sedang bekerja. Bip sungguh berengsek!

Mula-mula, di meja makan, Bip menceritakan salah seorang anggota keluarganya yang miskin hingga menjadi seorang jutawan. Katanya, seorang wanita telah mengubah nasib saudaranya. Pada hari berikutnya, Bip menemani Maya menjemur pakaian. Bip bersandar di tiang jemuran dan mengambil selembar baju tidur perempuan itu.

“Wanita itu makhluk spesial, Maya. Ia bisa mengubah kehidupan seseorang hanya dengan selembar pakaian tidur.” Bip menarik sebelah sudut bibirnya. Maya ingin sekali meludahi wajah di hadapannya itu. Ia tak suka senyum licik Bip.

“Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan kepadaku, Bip?”

Bip terdiam sebentar sambil mencium baju tidur Maya yang dipegangnya.

“Tidurlah di ranjangku, Maya! Kita akan mendapatkan keturunan.”

Tentu saja, Maya tidak perlu membuang waktu untuk berpikir apakah layak sepercik ludah dihadiahkan ke wajah Bip, disusul sebuah tamparan yang mendarat di muka lelaki itu.

Malam harinya, Maya gelisah. Ia ingin menceritakan kepada Yus tentang kelakuan Bip, tapi tak cukup nyali menghadapi reaksi Yus yang—mungkin saja—justru mengecewakannya. Maya benci mendengar jam berdetik, yang berbunyi seperti sebuah bom menunggu waktu untuk meledak. Saat-saat itu bahkan terasa lebih melelahkan ketimbang berputar mengelilingi lahan kosong di halaman rumahnya. Dan, karena tak sanggup menahannya, Maya membuka suara.

Baca juga  Matahari Tanpa Cahaya

“Kamu pernah mendengar suara seseorang yang baru pertama kali memegang mikrofon dan harus berbicara di atas panggung, ditonton ratusan orang?” aku bertanya kepada si Lelaki Koma. “Suara Maya lebih bergetar daripada itu.”

Lelaki yang koma itu tak bergerak dan matanya tetap terpejam. Aku menatap ke luar jendela. Langit kelabu, kendaraan lalu-lalang entah ke mana tujuan mereka. Aku ingat, dulu sekali, saat Yus dan Maya baru saja meresmikan hubungan mereka sebagai kekasih, Yus pernah membonceng Maya melewati jalan di seberang rumah sakit. Seharusnya Yus mengingat masa-masa itu sebelum menyodorkan istrinya berduaan dengan lelaki lain.

Baru tiga patah kata keluar dari mulut Maya, Yus mengetahui apa yang ingin dibicarakan istrinya. Itu sebabnya, Yus memotong pembicaraan.

“Biarlah aku tetap jadi suamimu, Maya. Dan Bip akan menjadi ayah biologis dari anak-anak kita.”

“Kamu sadar, Yus?! Kamu menjualku?”

Suasana mendadak hening. Yus membuang napas dengan berat, sebab kalimat yang akan keluar dari mulutnya sungguh susah untuk diucapkan.

Yus bilang, “Aku mandul, Maya. Aku yang tidak bisa memberimu keturunan. Aku yang salah. Hidupku miskin dan….”

Maya melempar bantal ke wajah Yus dengan sangat keras, lalu bantal itu jatuh mengenai vas bunga dan botol minuman. Vas bunga pecah, beling berserakan; botol minuman melayang mengenai cublik hias yang belum lama mereka beli dan masih menyala; cublik jatuh di atas kasur dan membakar seisi kamar.

“Itu cerita yang sangat kejam, bukan?” aku bertanya pada lelaki yang koma itu. Lagi-lagi, air mataku menggenang, kali ini lebih banyak daripada sebelumnya. Namun sepertinya ini cerita yang baik untuk membangkitkan emosi lelaki yang koma itu. Terbukti, aku melihat air matanya menitik, lalu mengalir perlahan.

Sontak, aku bangkit dan berteriak-teriak memanggil perawat, tapi ada tak satu pun yang datang. Aku berlari ke ruang perawat, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Dari belakangku seorang perawat gendut berteriak, “Mia, tolong hubungi dokter Bas, pasien Yus telah sadar.”

Kemudian, seorang perawat yang bernama Mia—yang beberapa waktu lalu memeriksa si Lelaki Koma—berjalan mendekatiku. Ia duduk tepat di sampingku dan tangannya … sungguh kurang ajar, menembus tubuhku untuk mengambil pesawat telepon!

Suatu saat nanti, akan kubuat perawat ini menangis ketika mendengarku mengisahkan cerita cinta Yus dan Maya.

Balikpapan, akhir Agustus 2020

Ayna Indiera adalah nama pena penulis. Ia lahir di Bekasi dan memilih menetap di Balikpapan bersama suami dan keempat anaknya.

Average rating 3.2 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: