Goenawan Mohamad, Koran Tempo, Puisi

SOMEWHERE

4
(5)

SOMEWHERE

/

Turis berpapasan. Turis berpisahan.

pada kaca telepon genggam

/

Somewhere, I’ll meet you somewhere.

/

Di belakang ada suara batuk, lampu kedai goyang.

Dan pelayan itu nangis, kehilangan

ceritanya sendiri.

/

“Aku mau namamu tetap tertera

pada pinggan makan malam

–dan kita ketemu lagi”

/

Somewhere, I’ll meet you somewhere.

/

Setelah itu,

banyak hal tak terjadi.

/

2020

/

PEMBURU

–dari Mausala Parwa, bagian yang terhapus.
36 tahun setelah Perang Bharatayudha.

/

Pemburu yang membunuh kijang kurus di hutan itu, yang ternyata Kresna, tak membawa pulang apa-apa.

/

Tiga hari kemudian, ketika ia keluar dari celah-celah andaman, ia dengar cerita

tentang imperium yang runtuh.

/

“Aku…” katanya kepada isterinya, sesampai di rumah,

“aku kembali dengan tangan hampa.”

/

Tapi jari-jarinya hitam. Dan isterinya menciumnya. “Itu cukup,” katanya. “Tanganmu berjejak. Rusa yang kau tinggalkan itu tak ingin kau lupa.”

/

Tapi ia lupa. Ia tak tahu lagi di mana Dvaraka, siapa Somba, siapa Kresna, dan di mana sejarah berakhir. Ia hanya dengarkan resi di tepi dusunnya bercerita: mereka yang tewas, mereka yang tak tewas, mereka yang mencincang, mereka yang dicincang, para pelaku perang yang lalu (yang dikisahkan agak berlebihan itu), telah beriringan ke langit. Tapi langit tak mengingat mereka lagi.

/

2020

/

SEORANG PEREMPUAN KAFIR

/

Seorang perempuan kafir

menetakkan tuas

pada marka jalan.

Tuhan teramat baik, ia bergumam,

Tuhan teramat baik.

/

Ia tak datang

menggangguku.

/

2019

/

DI RUMAH INI

/

Di rumah ini potret kita

berdiri

seperti ajal.

/

Di tembok yang diperpucat

matahari.

/

Esok akan kau cium aku dari lumut,

dari retak.

/

yang pelan,

yang putih,

yang rata.

/

Seperti waktu.

/

Tapi tiap kali

Baca juga  Peristiwa Kedua, Seperti Komidi Putar

kita gosok pagi

dengan pagi

/

–alur rutin

kematian kita.

/

Tiap kali

lupa berulang.

/

berulang.

/

2019

/

DI PERON

/

Sudah lama ia siapkan kopor

sebelum Tugu.

/

Dua jam kemudian sinyal jatuh

dan pagi mendesak.

/

Peluit, seperti pekik burung,

tak memulai apa-apa

/

selain sebuah garis:

arah, jarak,

tempat jauh–

/

Sejenak ia merasa seperti sepatu tua

yang dikekalkan Van Gogh:

migrasi antara ada

dan tak ada.

/

Dan ia meraba kopornya–

/

Ia meraba kopornya

sebelum gerbong pertama.

/

2019

/

UNTUK CONCHA BUIKA

     –ia menyanyi di Cafe Berlin, Madrid.

/

Flamenko hitam, seperti hujan prairie

aku mendengarmu.

/

Nyanyi yang menirukan mimpi

di Sabtu yang diam,

aku mendengarmu

/

Seperti trompet kertas robek,

Setajam garam di bibir

seperti nipis di tuak meksiko

/

Aku tak tahu kau tak menyukai kesedihan.

/

Tidak, katamu. Aku suka ingatan yang

perlahan-lahan.

/

2019

/

Goenawan Mohamad menulis puisi, esai, hingga lakon. Buku puisi terbarunya berjudul Trigis (2019). Adapun buku esai terbarunya Kata dan Pengalaman (2020). Satu bukunya yang lain, Estetika Hitam: Adorno, Seni, Pembebasan, segera terbit.

Average rating 4 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: