Cerpen, Jernih Siregar, Waspada

Di antara Keheningan

4.2
(5)

BAGAIMANA cara agar kita selalu muda? Kembali merasakan semangat mencinta dan melukai begitu kuat? Karena kebisuan yang tercipta akan selalu menjadi bahasa paling menakutkan.

***

Malam telah larut dalam langit yang hitam pekat, kesunyian selalu memikat. Adi sudah tidur dan mendengkur seperti biasa, sedang aku masih terjaga. Dulu saat masih di usia muda ia akan tidur setelah sholat subuh dan bangun jam tujuh pagi tanpa melihat fajar menyingsing dan pagi naik perlahan, sebelum itu kami akan membicarakan banyak hal di ranjang; politik, pemerintah, negara, pendidikan, buku, film, anak-anak, dan semua hal yang menurut kami menarik.

Apa yang membuat Adi berubah? Mungkinkah usia? Tidak, aku tidak yakin pada kelemahan yang timbul setelah hari tua, aku tidak berubah meski kerut di wajah semakin tidak dapat disamarkan, energi dan semangat kerjaku tidak berkurang, ya, tidak berkurang meski performanya sudah tidak sama.

“Kamu sudah bangun.” Ucapku pada Adi yang kini duduk di beranda.

“Aku lihat tidurmu nyenyak, jadi kuputuskan membiarkan kamu menikmatinya.”

Aku berhenti sejenak memandangnya, seluruh rambutnya telah memutih, saat itu ia masih terlihat gagah meski pada beberapa sisi kulitnya sudah mengkerut. Aku membawa baki berisi makanan. Kami duduk bersisihan, sunyi dan senyap. Kesepian selalu tercipta dengan sendirinya, tidak ada yang membuka suara kami makan dengan bergeming menikmati sinar matahari menerebos dari jendela serta aroma mawar yang gugur di musim semi.

Agenda sarapan pagi ini berjalan seperti biasa, hening dan hikmat. Kemudian Adi berdiri mengambil satu plastik jagung untuk ayam-ayamnya, sementara aku merapikan meja makan dan kembali ke dapur untuk melihat stok sayuran yang bisa di masak untuk siang hari. Kehidupan masa tua kami berlangsung dengan damai dan tenang, meski jarang berkomunikasi tapi kami saling memahami.

Adi keluar dari pekerjaannya sebagai anggota di salah satu partai politik dengan alasan yang cukup tidak jelas, tapi aku juga tidak banyak bertanya dan berusaha menghargai keputusannya. Dia juga tidak pernah melarangku untuk melakukan apapun yang aku mau.

Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa kami tengah berada dalam satu kapal dengan tujuan berbeda. Masing-masing di antara kami dapat menghabiskan satu hari dengan baik tanpa bersama. Ini tidak mudah, dulu kehidupan tidak pernah seberat ini, meski jarang bertemu karena pekerjaan Adi selalu punya cara yang membuat aku semakin jatuh cinta kepadanya, jatuh sejatuh-jatuhnya hingga aku tidak bisa berpaling.

“Aku harus pergi.” Ucapku.

“Semoga pekerjaanmu berjalan lancar.”

“Begitu juga dengan pekerjaanmu.” Ucapku.

Sangat membosankan memang, aku merasa seperti sendirian, namun aku juga menikmati kesunyian yang tercipta di antara kami berdua. Aku menyimpan perasaan sakit, cemas, dan hal-hal yang aku rasa tidak penting untuk kami bicarakan. Tentu dia juga menyimpan rahasia yang membuat kami tampak harmonis yang juga menciptakan ketidakharmonisan itu sendiri; seandainya pembicaraan dapat dilakukan dengan mudah.

Baca juga  Seseorang di Mimpiku, Tapi Bukan Kamu

Kami telah menikah selama dua puluh tahun lebih dan memiliki tiga orang anak perempuan dan ketiganya telah menikah. Masih segar dalam ingatan bagaimana waktu berlalu dan kami menghadapi segalanya dengan penuh suka cita. Badai kadang menghampiri tapi kami tak pernah goyah kepercayaanku pada Adi adalah hal yang selalu berusaha aku jaga begitu juga kepercayaanya padaku. Tapi siapa sangka saat usia semakin menua kepercayaan itu malah berubah jadi sikap acuh.

Aku menceritakan masalahku ini dengan Maya sahabatku, aku bertanya apakah ia dan suaminya juga merasakan hal yang sama seperti yang aku alami.

“Memangnya apa yang kau rasakan saat ini?” Ucap Maya.

“Sebuah Kecemasan.” Jelasku padanya.

“Kami sudah menikah puluhan tahun dan semua baik-baik saja, kami memang tidak selalu bicara lewat tatap muka tapi setiap hari kami saling bertanya kabar dan saling merindukan satu sama lain.”

Saat aku berusaha menjelaskan aku membaca ekspresi kebingungan di wajah Maya, alih-alih menanggapi dengan serius sesaat kemudian ia malah tertawa dan mengataiku seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.

“Lalu apa kau berpikir bahwa Adi selingkuh?”

“Ntahlah, aku tidak yakin dengan hal itu.”

Bila masa telah tiba, sepasang manusia akan diburu waktu, tubuh menjadi lebih lusuh, tapi apakah rindu dan cinta akan pudar dikikis usia? Apakah benar menjadi tua adalah keramat?

***

Malam itu adalah malam ulang tahun pernikahan kami yang kesekian, Adi telah mempersiapkan segalanya ia pulang lebih awal dan menungguku di rumah. Sudah lama kami tidak merayakan hari pernikahan dan sangat jarang mengingatnya karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun tiba-tiba ia menelpon saat aku tengah rapat.

“Pulanglah lebih awal.”

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu denganmu?” Tanyaku dengan tegas. Tapi ia malah tertawa.

“Kamu seperti mengintimidasiku, apa kamu juga bertanya seperti ini pada mahasiswamu?” Jawabnya dengan bercanda.

“Aku masih ada rapat dengan para dosen.”

“Baiklah, aku merindukanmu jika sudah selesai pulanglah aku menunggu di rumah.” Adi menutup teleponnya dan aku masuk kembali ke ruang rapat.

Kubuka pintu, Adi menyambut dengan ramah lalu mempersembahkanku sekuntum bunga mawar, senyumnya merekah begitu hangat. Matahari pagi menerobos masuk lewat jendela mengakhiri malam yang indah, kulihat Adi masih terjaga garis wajahnya begitu tegas ia masih tampan sama seperti pertama kali bertemu. Kubuka jendela, melihat gambaran kota yang sesak, terik mentari membuat semua terlihat semakin jelas.

Bunyi klakson, bau debu, asap jalan dan teriakan para pemburu rejeki memberi kesan tersendiri. Adi menggeliat lalu menekuk tubuhnya, aku duduk di sisi ranjang kemudian kupeluk dia.

Baca juga  Menunggu Imam

“Pukul sembilan, hari ini tidak ada janji?” Adi balas memeluk membawaku kembali rebah dalam dekapnya.

“Tidak ada, sebaiknya kau juga tidak usah pergi bekerja, kita bisa menghabiskan waktu seharian bersama.” Jawabnya dengan mata masih terpejam.

Aku cukup kaget dengan ucapannya, rasanya sudah lama sekali sejak Adi mengajakku mengahabiskan waktu bersama tapi aku menolaknya sebab masih harus bekerja, itu adalah tanggungjawab yang tidak bisa aku tinggalkan. Dengan penuh kehati-hatian aku menolak ajakannya seperti biasa Adi tidak menyangkal ia selalu menghargai keputusanku.

***

Hari ini aku melakukan debat yang hebat dengan salah satu mahasiswa, dia tidak setuju tentang pendapatku mengenai eksistensi perempuan dalam berkarier, menurutnya pencapaian terbaik seorang perempuan adalah saat ia dapat memberikan dedikasi tinggi untuk kebahagiaan keluarganya. Dia tidak menyangkal tentang perempuan berkarier asal dapat meletakkan sesuatu sesuai porsinya yakni waktu untuk keluarga, karena menurutnya perempuan adalah rahim letak segala kebahagiaan dan kebaikan berasal.

Sesampainya di rumah aku melihat Adi sudah tertidur pulas. Selalu begitu, hari-hari kami akan kembali dilewati dengan sangat mulus tanpa interaksi dan tanpa komunikasi.

Harusnya aku memang sudah terbiasa dengan semua ini, namun berjalannya waktu kesepian lebih sering mengusik jiwaku. Bau balsam memenuhi ruangan, ia pasti sangat kelelahan waktu itu ia pernah mengatakan padaku bahwa berkebun dapat membuat tubuhnya semakin bugar dan bau balsam membuatnya sadar tentang usia. Pasti hari ini ia menghabiskan waktu berkebun dan karena keram ia mengoleskan balsam keseluruh tubuhnya. Dia terlihat sangat bangga dengan usianya saat ini dibanding saat ia berhasil menduduki satu posisi penting dalam perusahaan.

Dia terlihat benar-benar ingin menjadi tua, sementara aku akan sangat bangga saat bisa menggunakan penemuan dari teknologi baru, mengikuti perkembangan, bergaul dengan para anak muda yang merupakan mahasiswa dan dosen, dengan begitu aku merasa terus muda dan produktif.

“Kamu sudah pulang, apa kamu mau mengoleskan balsam kepunggungku?” Ucapnya tiba-tiba. Lalu aku mengambil balsam di meja dan duduk di sisi ranjang.

“Hari ini Irma mengirim bibit bunga mawar.” Ucapnya lagi dan aku masih bergeming.

Irma adalah anak bungsu kami, dia tidak dekat dengan ayahnya lebih tepatnya tidak satupun di antara ketiga anak kami yang dekat dengan kami berdua karena dulu kami selalu sibuk bekerja. Ketiga anakku diurus oleh seorang pengasuh yang kami pekerjakan di rumah. Tapi sepertinya akhir-akhir ini ntah kenapa mereka lebih sering berkomunikasi dengan ayahnya dan menjadi lebih dekat.

“Berkebun membuatku bahagia, menyaksikan sesuatu yang kita rawat sejak kecil tumbuh dengan baik, kau harus mencobanya.”

Baca juga  Septemberku

“Aku tidak tertarik berkebun, aku mengurus banyak orang di universitas itu membuatku lelah bergerak dan berfikir.”

“Maka kamu harus mencoba menenangkan pikiranmu beberapa hari.”

“Aku tidak sempat untuk itu, liburan tidak akan membuat bahagia, orang-orang di usia muda akan bahagia saat terus produktif menemukan ide baru untuk menyelesaikan pekerjaannya.”

“Ayolah, kita tidak lagi muda, sekarang kita hanya perlu menghabiskan waktu dengan baik menunggu saat Tuhan memanggil.”

“Aku membangun karierku dengan susah payah masa aku harus menghanncurkannya hanya karena usiaku yang sudah tidak muda, itu konyol.”

Setelah itu Adi hanya diam, mungkin terlalu lelah untuknya berdebat malam ini denganku. Malam berlalu. Adi tidur lebih awal dariku dengan tangan memeluk sebagian tubuhnya seperti tengah memeluk penderitaan dan aku masih terjaga di peluk sunyi dan angin malam.

Aku membuka tirai jendela memandangi keadaan kota di tengah malam, angin masuk perlahan dari sela-sela menyentuh tubuh yang rapuh, dan dingin malam seolah menikam hati yang semakin sunyi. Kemudian aku melihat bunga warna-warni yang sedang mengatup terlihat begitu indah. Bungan-bunga itu adalah bunga mawar yang Adi tanam.

Keesokan harinya aku bangun agak siang dan kutemui Adi di sampingku masih bergeming, wajahnya terasa lebih pucat, karena khawatir aku membangunkanya tapi ia masih tetap tak mau bangun aku goyang tubuhnya dengan keras tapi tetap saja ia bergeming.

Sudah satu minggu Adi pergi meninggalkanku, bayangannya masih terlihat jelas bagaimana caranya menatapku, bagaimana suaranya memanggilku semua masih segar dalam ingatan.

Untuk mengusir rasa sepi aku masuk ke dalam kamar memutar semua ingatan yang pernah terjadi di antara kami, sekadar untuk mengobati rasa rindu. Lalu aku membuka sebuah buku yang ada di meja dan menemukan sketsa wajahku tengah tersenyum, di bawah sketsa itu ada sebuah tulisan tangan.

Aku akan sangat meridukanmu, kelak di hadapan Tuhan. Aku akan meminta agar kita berjumpa kembali dengan bahagia.

***

Di atas pusaranya aku menabur bunga mawar yang kupetik pagi tadi, sambil membicarakan banyak hal sendiri aku membayangkan kini ia tengah berada di hadapanku mendengarkan segala keluh kesahku dengan hikmat. Kini ia bisa menikmati hari-harinya di sana. Sementara aku masih tetap berada di antara keheningan yang tercipta, membiarkan diriku terburu oleh waktu dan perlahan kehilangan segalanya.

Bintang Kompak Juni 2020

Average rating 4.2 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: