Anindita S Thayf, Cerpen, Solopos

Hujan Seribu Malam

3.3
(8)

Seribu malam aku menangis untuk Ibu. Pada malam keseribu satu, giliran hujan yang menangis untukku. Dan seakan tahu aku tidak bakal bisa menangis lagi, sejak hari itu pula Ibu berhenti menyiksaku dengan bunuh dirinya yang tak pernah selesai.

Tujuh belas tahun sebelumnya, aku masih selugu bocah kelas empat Sekolah Dasar kebanyakan. Masih percaya pada keajaiban harapan dan cita-cita. Masih mudah ditakut-takuti perkataan orang dewasa bahwa keburukan bakal datang dari kematian. Itulah mengapa kata “bunuh diri” tidak mendapat tempat dalam pikiranku. Serupa kata bermakna buruk lainnya, ia hanya kuizinkan melintas bila seseorang kebetulan membincangkannya. Hingga suatu hari seorang kawan diam-diam membawanya ke dalam kamarku, meletakkannya di atas bantal bersama helaian rambut rontoknya dan membiarkannya melesap masuk ke dalam kepalaku saat aku tidur.

Boleh dibilang dialah satu-satunya kawan dekatku hanya karena Ibu sering mengizinkannya menginap di kamarku. Dia dan keluarganya tetangga rumah kontrakan kami. Setiap malam, rumahnya sering dibisingkan suara pertengkaran hebat hingga dia tidak bisa tidur padahal besok mesti bersekolah. Seragam sekolahnya memberitahu dia lebih tua dariku, tapi entah mengapa tubuhnya seolah berhenti bertumbuh di usia sepuluh.

Pernah kukejar dia dengan pertanyaan tentang umurnya, juga hal lain seputar dirinya, tapi dia membisu seperti biasa. Belakangan, dari bisik-bisik sekitar dan berita di televisi barulah kudapat apa yang kuingin tahu tentang kawanku itu. Dia berumur tepat lima belas pada hari ketika memutuskan menggantung tubuhnya yang penuh lebam dan luka bekas sundutan rokok dengan tali jemuran. Meninggalkan kekasih ibunya yang mesti mendekam dalam penjara sebagai pedofil. Rupanya, aku dan mendiang kawanku itu tidak jauh berbeda. Kami anak ibu yang tak kenal bapak.

Bila ingatan ini kuulur jauh ke belakang, memang hanya Ibu seorang yang selalu ada dalam hidupku. Tidak ada kerabat, saudara, apalagi sosok bapak yang muncul dalam kenang-kenanganku sebab kata Ibu, “Kita tidak perlu mereka, Sayang. Ibu bisa memberimu makan, dan kau bisa membuat Ibu bahagia. Semua itu sudah cukup. Benar begitu, kan?” Aku yang masih bocah tentu setuju saja dengan ucapan Ibu, sesetuju aku mulanya pada kisah asal muasal diriku yang seajaib film kartun. Kisah itu kerap diceritakan Ibu sebelum aku tidur.

Alkisah, seseorang menawarkan sebotol minuman kepada ibuku yang kebetulan sedang kehausan, dan karena orang itu tampak baik hati maka diminumlah isi botol itu oleh ibuku dan membuat perutnya tiba-tiba menyimpan bayi karena ternyata botol itu berisi susu bayi. Cerita ini meninggalkan pesona dongeng yang istimewa dalam kenangan masa kanak-kanakku, tapi tidak sampai lama. Seiring usiaku bertambah, cerita itu justru menciptakan malu.

Oleh teman-teman sepermainan, aku dijuluki “Anak Botol” usai cerita asal usulku itu kubagikan kepada mereka. Oleh teman-teman di sekolah, aku diberi ejekan buruk hanya karena gagal mengingat nama palsu yang kukarang untuk Bapak. Namun melebihi semua itu, apa yang kudengar dari orang-orang dewasa tentang diriku adalah yang paling menyakitkan. Khusus untukku, para tetangga menciptakan versi lain cerita asal muasalku yang berbeda dari cerita versi Ibu. Kuyakin, inilah saat kumulai melihat perempuan yang melahirkan dan membesarkanku itu dengan tatapan berbeda. Ada noda muncul di dahinya.

Baca juga  Lelaki Jempolan

Umurku sekitar dua belas ketika Ibu dipecat dari pabrik gara-gara terus batuk. Bersama batuknya, Ibu lantas mencari pekerjaan lain, tapi tidak kunjung ketemu sebab kata Ibu, semua pintu kantor dan pabrik langsung terhempas menutup begitu dia batuk. Hingga tabungan Ibu tidak mampu lagi membayar rumah petak kontrakan bahkan yang seukuran kandang kambing. Hingga kami hanya mampu makan nasi bertabur garam yang diseduh air mendidih, yang oleh Ibu dinamakan nasi kuah gurih. Hingga aku dikirim pulang ke rumah oleh kepala sekolah karena tidak mampu melunasi uang seragam yang tertunda lama. Hingga kami terpaksa pindah ke perkampungan tepi sungai dan membuatku menangis sejadi-jadinya karena menolak tinggal di tempat jelek-bau itu, tapi bujuk Ibu, “Di sini kau akan mendapat teman bermain baru dan Ibu akan mendapat pekerjaan. Percayalah.” Aku yang masih anak-anak tentu percaya saja pada ucapan Ibu, yang kebetulan terbukti benar kala itu.

Kutemukan teman bermain baru yang lebih baik daripada anak-anak pengejek di lingkungan rumahku yang lama. Di perkampungan itu, ternyata bukan hanya aku yang tidak punya bapak, melainkan banyak bocah bernasib serupa. Jadilah mereka teman sepermainanku hingga usia remaja memisahkan kami dan aku mengenal asyiknya berpacaran.

Kata Ibu, aku terlalu sibuk pacaran. Bantahku, pacaran justru baik karena seperti sekolah: sama-sama untuk masa depan. Saat itu, bila kupandangi lama-lama, entah mengapa sosok Ibu perlahan terlihat seperti musuhku. Dia menjelma menjadi perempuan cerewet yang seakan benci melihatku bahagia. Maka kuputuskan berhenti menjadi anak manis hanya supaya dia tersakiti. Kumulai membantah semua kata-katanya dan jarang pulang ke rumah. Kubiarkan juga pacar-pacarku memiliki tubuh beliaku agar dia lebih terluka. Dengan semangat kekanak-kanakan, kukobarkan perang melawan Ibu sembari berpikir bahwa hal itu penting dilakukan atau aku bakal mati kejang. Dan ketika Ibu mendiamkanku, kupikir akulah pemenangnya.

Sesungguhnya cintaku pada Ibu dipenuhi rasa takut. Jika terlalu mencintainya, aku takut jalan hidupnya, juga penyakitnya, bakal menulariku. Aku tidak mau menjadi tukang cuci yang diupah sedikit. Juga tidak mau selamanya tinggal di gubuk jelek. Namun lebih daripada itu, aku tidak mau menjalani sisa hidupku bersama penyakit parah memalukan seperti yang diderita Ibu, yang diyakini para tetangga ditularkan seorang laki-laki, entah bapakku entah orang lain.

Itulah mengapa kupikir hidupku akan lebih baik jika semuanya kurencanakan, termasuk dengan siapa aku akan menikah kelak. Aku kupilih laki-lakiku dengan hati-hati. Dia mesti seorang kesatria yang mampu membebaskanku dari kemiskinan sebagaimana yang terjadi dalam sinetron. Sebuah keyakinan yang barangkali akan bertahan lama seandainya ini tidak terjadi.

Baca juga  Hantu Kebun Tebu

“Ibu, aku hamil.”

“Apakah bapaknya kukenal?”

“Aku tidak tahu.”

“Lantas…”

“Aku disuruh menggugurkannya.”

“Jadi kau ingin Ibu melakukan apa?”

“Aku tidak tahu harus pergi ke mana, Ibu. Tolong jangan usir aku seperti dia. Aku mau membesarkan bayi ini! Tolong jangan usir aku…”

“Seorang ibu tidak akan mengusir anaknya.”

Dan Ibu memang tidak pernah mengusirku, meski aku bukan lagi anak manisnya. Ibu juga rela membiayai dan mengurusi bayiku, bahkan ketika dengan kurang ajar aku malah memberinya beban tambahan. Seorang bayi lagi dari laki-laki yang berbeda. Rupanya dibutuhkan dua kali kegagalan untuk membuka mataku bahwa hidup ini mirip bajingan yang suka menyakiti para gadis. Kesadaran itu mengubahku.

Hari-hari berikutnya kujalani serupa pejudi ulet. Kutantang kehidupan dengan bertaruh pada apa pun yang kupikir bisa membuat hidupku akan sedikit terasa lebih baik. Aku berpindah-pindah pekerjaan, menggonta-ganti kekasih—dengan lebih berhati-hati, kali ini—bahkan mengutak-atik warna dan model rambutku di salon murahan demi memancing keberuntungan. Sialnya, apa yang kutunggu tidak kunjung datang sampai pada suatu hari…

Dari hidup aku belajar cara menjadi kejam, tapi apa yang kulakukan pada malam itu adalah puncaknya. Aku terbangun di tengah rupa-rupa bunyi yang memenuhi udara. Tangis bayiku. Deru angin bercampur hujan. Empasan atap seng. Gemuruh sesuatu yang sangat akrab dan membangkitkan perasaan tidak enak. Hujan terus-menerus telah meluapkan sungai di belakang rumahku seperti biasa. Dan seperti biasa pula, kampung tempat tinggalku yang sudah diserang banjir sebetis berumur sehari belum ditinggal mengungsi penghuninya. Hingga gelap datang bersama hujan yang lebih deras. Sungai yang marah mengirim air bahnya malam itu juga. Mengusir semua penghuni perkampungan, termasuk aku dan kedua anakku, tapi tidak dengan Ibu.

Inilah cerita yang ingin kupercayai. Ibu yang sedang tertidur nyenyak tidak bisa kubangunkan. Kondisi Ibu yang melemah gara-gara sakitnya membuatnya sulit terbangun seketika. Maka kuputuskan membawa anak sulungku dan bayiku terlebih dulu ke tempat aman, lalu meminta bantuan kepada siapapun yang ada di sana untuk membawa Ibu, tapi ternyata terlambat. Ibu sudah tidak ada di dipannya.

Sehari setelah banjir bandang, Ibu menemuiku di pengungsian, malam-malam. Semula hendak kusambut kedatangannya, tapi Ibu malah berlari menabrakkan diri ke dinding di dekat situ tanpa perasaan. Hingga wajahnya merekah. Hingga darah menodai dahinya. Perempuan itu mencoba bunuh diri di depan mataku.

Di dalam kepalaku, Ibu telah mati ratusan kali. Apa yang terjadi malam itu ternyata berulang esok malamnya, dan esok malamnya lagi, dan terus di malam-malam selanjutnya selama bertahun-tahun. Ibu mendatangiku di mana pun aku berada hanya untuk memaksaku menyaksikannya bunuh diri dalam rupa-rupa cara meskipun gagal. Kubilang gagal sebab di akhir semua percobaan mengerikan itu, Ibu masih hidup. Dia membawa tubuhnya yang terluka mendekatiku hingga jarak beberapa langkah, sebelum akhirnya raib dibawa angin.

Baca juga  Mata Sayu Itu Bercerita

Pada malam-malam seperti itulah aku selalu menangis hingga jatuh tertidur. Cerita kematian Ibu yang coba kuyakini mati-matian justru menyiksaku. Ya, aku sengaja meninggalkan Ibu yang sedang tidur karena kupikir, dengan penyakitnya yang makin parah, ajalnya mesti tidak lama lagi. Kala itu, aku merasa itulah yang terbaik. Aku mengizinkan sungai mengantar ibuku ke tempat peristirahatan terakhirnya sebab aku sadar tidak bakal mampu menguburkannya jika dia meninggal nanti. Dan selama berminggu-minggu sejak malam itu, aku terus berdoa agar tim penolong menemukan mayat Ibu, lalu menguburkannya dengan layak. Namun hingga hari ini aku tidak pernah mendengar kabar tentangnya.

Demi menenangkan hati, aku pun berandai-andai Ibu masih hidup di suatu tempat setelah keajaiban menyelamatkannya. Aku juga lebih suka berpikir bahwa barangkali itulah alasan yang ada di balik kemunculannya yang tidak kenal lelah. Ibu hendak meminta bantuan. Nyatanya, aku salah. Alasan dari kemunculan Ibu baru terjawab pada malam keseribu kutangisi kepergiannya.

Hujan deras belum mereda saat kakiku tiba di jembatan dekat rumah. Warung majikanku baru saja ditutup dan itu membuatku terlambat pulang. Dari jembatan, aku bisa melihat rumahku yang berdiri goyah di tepi sungai. Jendelanya yang tertutup seakan memberitahu kedua anakku sudah tidur. Berpikir demikian membuatku merasa tenang, tapi hanya sebentar. Jendela rumahku mendadak terbuka oleh angin kencang. Dan Ibu tiba-tiba ada di sana. Di tengah-tengah bingkai jendela, melambai kepadaku. Seiring itu, rumahku tampak bergerak seolah hendak mencium sungai yang bergolak di dekatnya. Runtuh.

Itulah malam yang tidak mungkin kulupa sebab di tengah tamparan hujan, aku menangis untuk terakhir kalinya. Dari awal malam hingga ujung subuh. Dan karena air mataku sudah habis, bersama hujan yang terus turun berhari-hari setelahnya, kuputuskan untuk tertawa saja demi melepaskan sesaknya duka ini sambil menunggu kedatangan mereka yang entah mengapa belum muncul juga: Ibu dan anak-anakku tersayang.

Anindita S Thayf. Menulis cerpen dan novel. Novelnya, Tanah Tabu (Gramedia Pustaka Utama, 2009), menjadi juara I lomba menulis novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2008, finalis Khatulistiwa Literary Award 2009 dan diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan judul Daughters of Papua (Dalang Publising, San Fransisco, 2014).

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: