Cerpen, Rahmat Petuguran, Suara Merdeka

Konvensi Kecil di Zwizanie

4.5
(4)

Lima tahun tinggal di Zwizanie adalah lima tahun terburuk bagi Tuan Mallimo. Ia meringkuk dalam kamar penampungan khusus manula bersama 18.000 manula lain di kotanya.

Lelaki 75 tahun itu awalnya tak punya harapan. Ia pasrah membiarkan diri bakal membusuk dalam kerentaan, dagingnya yang alot dimakan tikus, bahkan jasadnya dibuang begitu saja oleh pegawai Komisi Urusan Manula yang mengelola tempat itu.

Namun dia merasa mati seperti itu tak layak. Entah bagi gelandangan, pengemis, juga para kriminal sekalipun, lebih-lebih bagi orang yang hampir sepanjang hidup melayani warga seperti dia.

Meski hanya pegawai rendahan di perpustakaan kota, ia tak boleh menerima kematian yang buruk di Zwizanie sebagai takdir. Ia bersumpah akan keluar dari tempat busuk itu. Tidak sendirian. Ia akan membebaskan diri bersama 18.000 penghuni lain.

Tuan Mallimo pun menyusun rencana.

***

Zwizanie adalah gedung raksasa 52 lantai, berbentuk lingkaran seperti atap tribune stadion sepak bola. Setelah dibangun 12 tahun, tempat itu siap huni. Pemerintah kota mengiklankan tempat itu sempurna bagi manula.

Sejak saat itu, mulailah Komisi Urusan Manula menjemput penduduk berusia 70 tahun menuju ke Zwizanie.

Namun gambaran dalam iklan benar-benar berbeda dari kenyataan. Zwizanie ternyata panti jompo raksasa yang makin hari fasilitasnya kian buruk. Jangankan indah, manusiawi pun tidak. Kini, ia lebih mirip kamp khusus manula.

Memang ada robot-robot pelayan yang mengepel, mencuci baju, dan mengantarkan makanan pada penghuni. Namun itu bukan robot “penyayang” yang mengerti humor orang tua seperti gambaran dalam iklan. Juga bukan robot penuh perhatian yang betah lama mendengarkan cerita orang tua yang berbelit dan berulang. Robot-robot itu cuma pekerja yang tak tahu perasaan apa pun. Bahkan karena menua, beberapa menjadi rongsokan.

Nama Zwizanie dalam bahasa setempat berarti tamasya. Namun para penghuni memelesetkan nama itu menjadi Swizandi, yang berarti kematian.

***

SEBENARNYA Tuan Mallimo sudah menyusun rencana pelarian sejak tiga tahun lalu, kurang-lebih dua tahun sejak datang di tempat itu. Ia mempelajari detail tempat itu agar bisa melarikan diri. Ia menghitung pintu-pintu, mencatat jadwal jaga, bahkan menghafal jalur pembuangan air yang mungkin bisa jadi jalan pelarian.

Makin lama menghitung ia kian yakin peluang selamat dalam pelarian seorang diri seperti itu bahkan lebih kecil daripada peluang menang lotre. Karena itulah ia mengubah strategi.

Pelarian hanya mungkin kalau seluruh penghuni punya niat sama. Dengan 18.000 orang yang ada, pelarian bersama itu akan menjadi pemberontakan. Dan itu hanya mungkin jika para manula seperti dia bisa bicara satu sama lain untuk merencanakan.

Baca juga  Tikus dan Manusia

Masalahnya, para penjaga ternyata membatasi obrolan untuk topik-topik tertentu. Ada kata-kata yang dilarang penghuni Zwizanie ucapkan. Tuan Mallimo sebenarnya baru mengetahui soal pelarangan kata baru-baru ini.

Sore hari, entah Selasa entah Rabu ia tak ingat persis, ia duduk di lorong Blok 36 bersama Tuan Gustavo Arkaf, mengenang pengalamannya memenangi lomba maraton. Segera setelah ia mengucapkan kata “lari”, kepalanya terasa pusing sampai nyaris jatuh. Hal yang sama ia rasakan saat mengucapkan kata “renang” dan “berkuda” pada hari berikutnya. Sakit kepala hebat menyerang.

Kejadian itu membuatnya percaya desas-desus bahwa otak para penghuni Zwizanie telah dikendalikan. Ada robot mikro yang diam-diam ditaruh dalam otak mereka.

Lalu, bagaimana merencanakan pelarian massal kalau ia tak bisa menggunakan kata-kata teknis untuk membicarakan?

Beberapa pekan Tuan Mallimo memikirkan itu dan menemu jalan buntu. Harapan baru muncul dua pekan kemudian. Suatu pagi, entah Jumat entah Sabtu ia tak ingat persis, di lorong Blok 36 ia berpapasan dengan lelaki berkumis tebal melengkung di kedua ujung. Sekilas ia seperti kenal laki-laki itu. Namun ia ragu apakah itu Hans Babut mantan tukang sapu perpustakaan atau Tuan Bernabe si wartawan lepas yang sering mampir ke perpustakaan di sela mencari berita.

Setelah dua hari mengingat-ingat, Tuan Mallimo yakin laki-laki berkumis tebal itu bukan keduanya. Wajah laki-laki itu terlintas karena mirip seorang ilmuwan Swiss yang wajahnya pernah ia lihat tercetak dalam sampul buku klasik di perpustakaan yang ia jaga: Ferdinand de Saussure.

Ingatan tentang wajah Tuan de Saussure memberi gagasan, sebuah jawaban untuk masalah komunikasinya. Selama ini ia tak bisa menggunakan kata-kata tertentu untuk membicarakan pelarian. Namun saat dia menggunakan kata yang bermakna kebalikan, semua baik-baik saja. Ia bisa mengucapkan kata “santai”, “tinggal”, “bahagia” tanpa merasa pusing sedikit pun.

Kondisi itu memberinya ide untuk merencanakan pelarian bersama Tuan Gustavo dengan kata-kata yang berkebalikan maksud. Dua karib itu membuat kamus baru dalam pikiran mereka.

Saat Tuan Mallimo bilang “diam” itu berarti yang dia maksudkan lari. Saat ia bilang “tinggal” yang sebenarnya ia maksudkan kabur. Begitu juga ketika dia bilang “senang”, yang dia maksudkan marah.

Baca juga  Kepulangan yang Tak Ditunggu

Makna kebalikan itu mereka sepakati karena Tuan Mallimo tahu bahasa bekerja melalui kesepakatan. Kata-kata awalnya hanyalah bunyi-bunyian, sama seperti kentut dan bunyi sendawa. Ia menjadi bermakna ketika sekelompok orang menyepakati maknanya. Karena itu, makna bisa digeser, diubah, bahkan dibuat bertolak belakang dengan makna sebelumnya.

Tuan Gustavo tak langsung menjawab ketika Tuan Mallimo mengungkapkan gagasan. Baginya gagasan itu terasa baru, sedikit asing, bahkan lucu. Namun dia sabar mendengarkan.

“Aku sedikit bingung sebenarnya. Tapi eeee… baiklah, kau boleh lanjutkan.”

Tuan Mallimo melirik kanan-kiri memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Ia lalu mengambil sendok teh di dekatnya.

“Kamu tahu ini apa?”

“Eeee, kupikir itu sendok,” jawab Tuan Gustavo masih tampak bingung.

“Bagaimana kalau mulai sekarang kita sebut ini bawang merah?”

Tuan Gustavo menahan tawa. Namun ia segera bisa mengendalikan diri dan membiarkan rekannya melanjutkan cerita.

Tuan Mallimo meletakkan sendok persis di antara mereka, seperti telah mengukur titik tengah antara dia dan lawan bicara.

“Tuan Gustavo, tolong ambilkan bawang merah untukku.”

Tuan Gustavo kembali menahan tawa. Kali ini tak berhasil. Tawa kecil menyelinap di antara dua bibirnya. Ia geli karena merasa seperti sedang bermain dengan anak kecil.

Namun tawa itu segera hilang saat ia menatap wajah Tuan Mallimo yang tampak serius. Ia segera mengambil sendok teh di depannya.

“Itulah cara kerja bahasa. Kesepakatan. Kita bisa abaikan cara orang lain menyebutnya. Asal kita sepakat menyebutnya bawang merah, benda ini sekarang bawang merah.”

Tuan Mallimo mengambil napas, kemudian kembali bertanya. “Kau sebut ini apa?” tanyanya sambil menunjukkan jari telunjuk.

Tuan Gustavo menahan jawaban karena tahu itu pertanyaan retoris.

“Kalau kita sepakat, kita bisa sebut ini jempol. Kau bahkan bisa sebut ini biri-biri atau meteor.”

Ucapan itu kembali membuat Tuan Gustavo menahan tawa. Namun, sekali lagi, ia bisa segera mengendalikan.

Konsep bahwa bahasa adalah kesepakatan sebenarnya sudah Tuan Mallimo ketahui lumayan lama, tapi ia tak pernah memikirkan secara serius. Saat masih aktif berdinas di perpustakaan, ia mendengar kisah lelaki Irlandia bernama Charles Boycott, veteran perang yang dihormati. Tiap orang yang mendengar namanya selalu menaruh rasa hormat. Namun setelah pensiun, Tuan Boycott bekerja jadi agen tanah yang suka sewenang-wenang dengan penggarap lahan.

Kesal atas sikap sewenang-wenang itu, warga County Mayo di Irlandia Barat menggelar protes menolak bicara, bahkan berpapasan dengannya. Ke mana pun Tuan Boycott pergi, tak ada yang mau menyapa. Keperluan apa pun yang Boycott cari dari warga, tak ada yang mau melayani.

Baca juga  Ketika Semua Berjalan Mundur

Segera nama Boycott menjadi kata yang berarti “penolakan untuk melayani sebagai bentuk perlawanan”.

“Itulah kesepakatan, Tuan Gustavo.”

Tuan Gustavo mengangguk tanda mengerti.

Angka-angka di jam digital terus berganti. Tuan Mallimo melanjutkan diskusi dengan menawarkan dua konsep, yaitu kebalikan dan rotasi makna. Konsep kebalikan digunakan untuk menyebut kata sifat.

“Kalau yang kukatakan adalah kata putih berarti yang kumaksudkan adalah hitam. Kalau yang kukatakan tinggi berarti yang kumaksudkan adalah rendah. Kau paham? Ini kesepakatan di antara kita.”

Kali ini Tuan Gustavo tersenyum tanda paham.

Konsep rotasi digunakan untuk menyamarkan kata-kata benda. Mereka sepakat menggeser selangkah benda yang dimaksud. Kalau Tuan Mallimo mengatakan pintu, yang dia maksud adalah tangga. Kalau ia menyebut tangga, yang dia maksud adalah jendela. Mereka menyapakati pergeseran itu berdasar tata letak Blok 36 tempat mereka tinggal.

“Anda cerdas, Tuan Gustavo. Ini pasti sederhana,” kata Tuan Mallimo.

Tuan Gustavo kembali tersenyum.

“Kalau aku sebut sapu, apa yang sebenarnya kumaksud, Tuan Gustavo?”

Tuan Gustavo melirik sudut ruangan tempat perkakas disimpan.

“Baiklah. Kupikir eee… aku paham,” jawabnya. “Pasti sekop!”

Tuan Mallimo tersenyum puas seperti guru matematika yang berhasil mengajar aljabar pada pertemuan pertama. Namun senyum itu segera hilang saat melihat Tuan Gustavo tiba-tiba hampir jatuh dari kursi. Sakit kepala dahsyat mendadak menyerang.

Dua manula itu paham dari mana rasa sakit itu berasal.

Kata “sekop” ternyata juga masuk daftar hitam. Ada “seseorang” dalam kepala mereka yang membuat mereka pening saat mengucapkan.

“Kita bicarakan lagi besok,” kata Tuan Mallimo sambil berlagak tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia melirik kanan-kiri memastikan tak ada orang lain memperhatikan.

Namun terlambat. Seorang penjaga bersama lima robot perkasa telah berdiri di belakang mereka. Mimpi buruk bagi kedua manula itu dimulai. (28)

Rahmat Petuguran, dosen bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: