Cerpen, Dhia Agustia, Republika

Prasangka

5
(4)

Saya mengenal dia sejak siaran Smack Down memenuhi ruang-ruang penglihatan di awal milenium kedua. Lelaki bertubuh ceking yang tiap sebentar bolak-balik penjara karena bermacam ulahnya. Penangkapannya yang terakhir malah kami saksikan dengan mata kepala lewat celah-celah jendela, berkejar-kejaran dengan polisi yang mengacungkan pistol di belakangnya, persis seperti aksi di film india.

Ia duduk di depan pintu rumah saya yang dibiarkan terbuka begitu saja, ikut merasakan atmosfer ketegangan saat The Rock dihajar tanpa ampun oleh lawan tandingnya. Awalnya saya takut kalau-kalau ia akan ikut pula mematahkan tulang-tulang kami yang kecil ini. Hingga acara berakhir, ternyata yang kami takutkan tidak terjadi. Ia pamit, kembali ke tempat nongkrong-nya di mulut gang. Tak jelas apa yang tengah dilakukannya, selain sibuk mengganggu anak-anak gadis yang berlalu lalang.

Saat saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, Bang Lai—begitu dia dipanggil—semakin sibuk hilir-mudik petantang-petenteng di gang rumah kami. Berjualan togel, itulah pekerjaan yang dilakoninya. “Meracuni” warga-warga miskin di lingkungan rumah kami, agar mau membeli angka-angka sial itu barang lima ratus atau seribu perak dengan janji-janji kemenangan yang tak pernah terealisasi.

Kadang kehadirannya menerbitkan rasa muak di hati, terlebih saat ia tak tahu waktu menyetel musik di tengah malam buta dengan volume suara yang membuat setan pun tak bisa memejamkan mata. Apalagi, saat malam tahun baru, satu kompi rekan preman Bang Lai yang entah datang dari mana, mabuk berjamaah di teras rumahnya. Warga tak berani protes, tentu saja.

Wataknya yang keras—hasil didikan bertahun-tahun di hotel prodeo—juga tatapan matanya yang tajam seolah ingin menguliti siapa saja yang kedapatan memperhatikannya. Menciutkan nyali siapa saja yang ingin buka suara menyerukan kekesalan. Suka tak suka, terpaksa dinikmati saja.

Saya pun punya pengalaman tak menyenangkan dengannya. Satu hari, saat tengah asyik mengepulkan asap rokok di sebuah rumah kosong bersama teman-teman, Bang Lai tiba-tiba saja datang menciduk aksi kami.

“Bongak! Masih kecik sudah berani ngisap kau ya?!” bentaknya kasar. Saya buru-buru membuang rokok yang baru terbakar setengah batang. Menunduk dalam-dalam. Takut.

Nak jadi preman macam aku kau, ha! Tak payah mak bapak engkau berkais-kais membuang duit. Biar kuajari kau satu-satu kalau begitu. Kelakuan macam ni, tak perlu kalian datang ke sekolah lagi!”

Baca juga  Mbah Dul Karim

Dicengkeramnya kerah baju saya, lalu mendaratkan tapak tangan beserta lima jarinya di pipi, meninggalkan bekas merah dan rasa ngilu. Begitu juga dengan Ujang, Panjul, Pudin. Semua dapat jatah tamparan satu per satu. Sejak saat itu, setengah mati saya membencinya. Meletup-letup amarah saat melihat mukanya. Hingga saat saya memutuskan untuk pergi merantau ke Pulau Jawa, tak pernah lagi kami bertegur sapa.

***

Hari ini saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Di tengah ketidakpastian nasib setelah badai korona menyapa, terpaksa saya mengambil keputusan sulit ini. Terus bertahan di kota ini hanya akan membuat keluarga mati kelaparan. Sudah hampir satu bulan tak ada pemasukan. Toko pakaian tempat saya berjualan terus berjalan sewanya meski tak satu pun pembeli singgah. Sepi. Kontrakan rumah pula tak boleh menunggak barang beberapa hari. Gelap. Tak saya temukan jalan ke luar selain kembali ke Pulau Sumatera, menumpang pada orang tua.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini warga menyambut kedatangan saya dengan tatapan tak suka. Seolah di badan saya telah bersemayam jutaan virus mematikan yang siap menyerang mereka semua. Kebaikan saya di tahun-tahun yang lalu tergerus begitu saja tanpa sisa. Pulang tanpa harta memang membuat diri dipandang hina.

Saya berpapasan dengan Bang Lai saat hendak masuk ke pekarangan rumah orang tua. Badannya tak lagi seceking dulu. Sudah agak berisi. Ia menggunakan celana jeans yang robek di bagian paha, sementara badannya terbungkus singlet yang mulai menguning warnanya. Beberapa helai rambut ber warna putih menyembul dari balik lembaran hitam rambutnya.

“Oi, pulang juga kau rupanya. Tak bawa virus kau, kan?” tanya Bang Lai tanpa perasaan. Ia tak peduli apakah saya akan tersinggung atau tidak dengan pertanyaannya. Saya memilih diam, tak memberi jawaban barang satu kata pun.

“Kau jangan ke luar rumah, ya. Karantina. Ada paham, kau?” ujarnya sambil berlalu tanpa peduli saya akan menjawab atau tidak.

***

Dua hari di rumah saja menimbulkan rasa bosan di hati. Saya pikir, tak ada salahnya juga jalan-jalan sebentar melihat situasi kampung setelah dua tahun tak pulang. Saya berjalan kaki menuju pasar, rindu sekali menyapa kawan lama, Ujang dan Pudin yang sekarang menjadi tauke ikan.

Baca juga  Anak Ibu

Berbeda dengan di kota perantauan yang sepi pasarnya, di sini malah seperti tak ada kejadian apa pun. Pasar-pasar tetap ramai, orang-orang berlalu lalang tanpa masker yang bertengger di batang hidungnya. Saya singgah membeli ketupat sayur dan lemang, bercengkerama sebentar lalu balik ke rumah.

Malamnya tiba-tiba suhu badan naik tinggi. Tenggorokan panas rasa terbakar. Bahkan saat bernapas terasa seperti ada pecahan kaca yang tersangkut di kerongkongan. Keluarga cemas, tapi saya lebih lagi. Otot terasa pegal dan nyeri. Tiba-tiba saja saya tenggelam dalam rasa takut, bagaimana jika saya terkena virus korona? Ibu saya cemas, apalagi istri dan anak-anak, semua panik saat saya beri tahu tentang gejala ini. Saya minta mereka untuk tutup mulut, berita ini tak boleh tersebar sampai ke luar.

Entah siapa biang keladi yang tak bisa menjaga mulut, pagi ini berbondong-bondong warga datang menghakimi saya.

“Kalau datang hanya untuk membawa wabah, lebih baik mati saja kau di perantauan!” protes warga kasar.

“Sudah dibilang jangan pulang kampung, masih juga nekat. Sekarang engkau bawa masuk wabah ke sini, kalau ada yang kena, mati kau!” ancam salah seorang warga.

Semakin lama suara mereka seperti dengungan lebah di telinga saya. Berisik dan menakutkan. Bang Lai datang dari belakang kerumunan.

“Bubar! Bubaaar! Orang belum jelas positif atau tidaknya sudah kalian hakimi!” teriak Bang Lai. Suaranya besar menggelegar. Di tangan kirinya teracung kayu balok sebesar betis orang dewasa.

“Kalian telepon itu orang puskesmas, biar rumah sakit yang urus si Kahar ini!” sarannya entah pada siapa. Warga menggerutu dan tak juga kunjung bubar dari kerumunan. Saya hanya bisa memandang dari balik terali jendela.

Mondar-mandir Bang Lai berjalan sembari mengayunkan balok ke tengah kerumunan warga. Mengumpat mereka dengan segala nama binatang yang tersimpan di kepalanya. Ciut juga nyali mereka rupanya, satu per satu warga terlihat mulai meninggalkan pekarangan rumah saya.

Bang Lai masuk ke rumah tanpa salam, tanpa canggung. Beliau memanggil saya dan memulai ceramahnya.

“Kan sudah kubilang, kau karantina di rumah. Jangan ke mana-mana! Bebal! Bikin repot orang sekota saja kalau kau benar positif korona,” geram Bang Lai. Saya mengaku salah, karena itu terpaksa diam saja tanpa berani membantah.

Baca juga  Siapa Tahu yang Kelima?

“Sudah kutelepon orang puskesmas, siap-siaplah engkau, sebentar lagi mereka menjemput.”

“Tapi, aku cuma demam, Bang!” Saya berusaha membela diri. Tak terima jika nanti harus diisolasi di rumah sakit tanpa sanak famili.

“Kau punya hape pintar, tapi otak kau tak pintar. Perlu pula aku yang preman kampung ini jelaskan apa itu ODP, PDP, ha!” Lagi-lagi ia membentak dengan intonasi tinggi.

“Kau tau sendiri kalau orang kampung kita ini ekonominya kelas menengah ke bawah semua. Makanya, kubilang jangan ke luar rumah. Karantina, supaya kalau kau bawa korona dari rantau, orang sini tak tertular. Tapi, kemarin kau malah jalan-jalan ke pasar. Bodoh namanya itu! Besok ditutup pasar itu gara-gara kebebalan kau. Mematikan mata pencaharian orang!” Semakin sadis saja katakatanya ketika memarahi saya.

“Seperti kata Abang, aku pun belum pasti positif Covid atau tidak,” jawab saya membela diri. “Warga saja yang terlalu panikan.” Bang Lai geram mendengar jawaban saya. Ia menggocoh lengan saya dengan keras, menyisakan rasa ngilu di tulang.

“Makanya kau dulu sekolah jangan membolos terus, pas gurumu bagi-bagi otak, gak kebagian kau, kan?” sindirnya sambil melangkah menuju pintu. Tiba-tiba saja dia memutuskan untuk pergi, padahal saya belum sempat membalas sindirannya itu.

Setelah sepersekian menit, baru saya sadari ada sesuatu yang hilang. Sial! Bang Lai mencuri ponsel saya diam-diam seper tinya. Padahal tadi rasanya masih ada di saku belakang celana yang saya kenakan ini. Saya pikir dia sudah berubah, ternyata masih saja seperti dulu, panjang tangan. Ingin rasanya mengejar keparat itu keluar, tapi saya takut dihakimi massa seperti tadi. Akhir nya hanya mengumpat jadi jalan pelampiasan.

“Dasar Setaan!!”

“Brengsek betul kau, Lai!”

“Maling setan!”

Rasa ingin saya ludahi mukanya itu. Mendengar saya yang berhenti meneriakkan makian, sekonyong-konyong istri dan bocah laki-laki saya yang berumur empat tahun datang, di tangannya tergenggam ponsel milik bapaknya ini, yang entah kapan pula ia mengambilnya. ■

Average rating 5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: