Cerpen, Tiana Amelia, Waspada

Siapa Tahu yang Kelima?

4.5
(2)

“Kamu yakin mau menikah dengannya?”

Wanita separuh abad itu melipat kedua tangannya.

“Kenapa Mama menanyakan itu lagi?”

Wanita berkulit sawo matang memalingkan wajahnya.

“Mama dengar Ibunya itu galak sekali, suka mengatur pula. Mugkin karena itu dia bercerai dengan suaminya.”

Erlan melebarkan bola matanya.

“Ma… Aku mengenal betul sifat Erlin. Kami sudah bersama cukup lama, Ma.”

“Ya Mama kan hanya berusaha menasehati, Nak. Mama tidak ingin kamu salah pilih.”

Erlan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan lewat mulut. Ia tengah berusaha menenangkan isi kepalanya yang tengah dipanaskan oleh Ibunya.

***

Pagi hari di warung kelontong.

“Hai, Jeng, aku dengar Erlin akan menikah ya dengan Anaknya Bu Tiana si Erlan?”

Ibu Erlin yang tengah fokus memilah sayuran seketika berhenti.

“Insha Allah Bu doakan saja ya!” Jawab Ibunda Erlin singkat.

“Ibu gak khawatir?” Sambung salah seorang Ibu-ibu lainnya.

“Khawatir kenapa?”

“Duh maaf nih ya Bu maaf sekali. Bukan bermaksud ikut campur. Rumah tangga Ibu saja tidak berjalan mulus. Ibu tidak khawatir Erlin akan mengalami nasib yang sama?”

Ibunda Erlin meletakkan sayur yang ia genggam. Dibukanya dompet yang ia kepit di ketiak kemudian mengeluarkan uang lima ribuan.

“Aku tidak khawatir sebab Aku yakin Tuhan akan melanggengkan pernikahan anakku agar tidak bernasib sama sepertiku. Ini Bang uang sayurnya.”

Wanita separuh abad itu mengambil langkah seribu meninggalkan tempat yang suka memancing darah tingginya itu.

Sesampainya di rumah.

Ibunda Erlin baru saja sampai di rumah. Omongan Ibuibu usil barusan ternyata membuatnya sedikit kepikiran.

Wanita berkulit putih ini tidak segera meletakkan belanjaan di dapur. Kakinya justru terpaku pada sebuah frame keluarga besar. Di sana ada Ia, Erlin, Ketiga Adik Erlin, Ayah Erlin, serta tiga orang wanita di sebelah kiri Ayah Erlin.

Baca juga  Kepura-puraan

***

25 Tahun sebelumnya.

“Bang…berikan Aku kesempatan satu kali lagi saja Bang! Siapa tahu yang kelima akan berhasil!”

Perempuan yang baru 40 hari partus itu memohon belas kasih kepada suami tercinta.

“Aku sudah memberimu kesempatan sebanyak empat kali. Aku sudah capek!”

Perempuan itu memegang lengan sang suami dengan tangan sebelah memegang bayi.

Ayah empat orang putri itu menghempaskan tangan istrinya.

“Lepaskan! Aku yakin tidak akan ada lagi keberuntungan pada yang kelima. Sudah cukup empat kali Aku bersabar.”

Lelaki bertubuh gelap itu pergi meninggalkan istrinya yang tengah menangis keras.

“Bunda…”

Rengekan putri sulung ikut menangis melihat Ibunda tercinta menagis sembari menggendong bayi di lantai.

Keesokan paginya.

Tok…tok…tokk…

Ketukan pintu kayu terdengar dari luar. Ibu empat orang putri membuka pintu tersebut.

“Mas! Akhirnya Kamu pulang juga.”

Alangkah bahagianya wanita ini melihat kedatangan suami yang telah meninggalkan rumah berhari-hari.

Senyum bahagia mengembang di wajah cantiknya yang tidak bisa tidur berhari-hari.

Namun senyuman itu harus pudar melihat Ibu mertua turut serta di belakang sang suami.

“I…Ibu?”

Ibu mertua dan suami masuk keruang tamu. Kipas angin tak lepas dari tangan nenek 4 orang cucu tersebut.

“Duh gerah ya rumah ini.”

Mendengar suara tak asing itu anak-anak keluar dari kamar mereka.

“Ne…nek…!” Riuh suara 3 gadis balita menggemaskan.

“Stop di sana!” Tolak sang nenek.

Tiga balita tersebut terkejut mendapati respon nenek kesayangan mereka yang jauh berubah menjadi dingin.

“To the point saja ya Ta. Saya mau kamu dan Rey berpisah.”

Duarrr! Bak disiram air panas di siang bolong. Perih hati Ibu 4 orang anaka ini mendengar permintaan Ibu mertuanya.

Baca juga  Lebih Baik Ditampar Kejujuran

“Ta…tapi kenapa Bu. Apa salah saya?”

“Kamu masih menanyakan apa salahmu? Sudah jelaskan akar permasalahannya. Kamu tidak bisa memberikan keluarga kami cucu laki-laki. Harta ayah Rey itu baru bisa cair apabila Rey punya anak laki-laki. Sudah 4x kami menunggu dan Kamu masih terus saja melahirkan anak perempuan. Aku pun sudah menjodohkan Rey dengan anak temanku.”

Wanita yang akrab disapa Rita memandang kewajah Ayah dari anak-anaknya yang mematung di atas sofa. Segarispun tidak ada gurat-gurat penyesalan maupun sedih yang tergambar.

***

“Ma…”

Dekapan hangat membuyarkan lamunan 25 tahun silam.

“Eh Erlin sudah pulang Nak.” Rita menghapus sedikit bulir air mata yang menetes.

“Sudah Ma. Di depan juga ada Erlan tuh. Loh Mama menangis?” Erlin menyentuh pipi Mamanya.

“Ah tidak. Sudah sana temani Erlan. Oh ya Mama ada cemilan biar Mama ambil ke dapur.”

Rita membawa cemilan dan the hangat untuk putri sulung dan calon menantunya yang sedang asyik mengobrol di teras rumah.

Langkan kaki Rita yang terlampau pelan membuat ia terhenti dan menangkap percakapan menarik antara Erlin dan Erlan.

“Bang! Abang sudah benar-benar yakin dengan hubungan kita? Abang sudah tahu kan kalau Aku ini anak broken home.”

Erlin menundukkan kepalanya.

“Hey Dek. Memang apa yang salah dengan anak broken home? Tidak ada satu anak pun yang ingin mengalaminya bukan? Semua sudah Tuhan atur sedemikian rupa. Tuhan memberikan takdir ini untukmu dan keluargamu karena Kamu dan keluargamu itu kuat Dek. Kalian bisa melewatinya, Aku salut sama Tante yang berhasil mendidik kalian berempat sehingga bisa jadi orang sukses. Tante adalah single parent hebat yang pernah ku kenal. Kamu pun demikian, kepribadian itulah yang membuatku mantap ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu.”

Baca juga  Di antara Keheningan

Rita yang mendengar jawaban Erlan tersnyum bahagia. Ia semakin yakin Erlan akan menjadi imam yang baik untuk putrinya.

“Hayo lagi ngobrolin apa? Nih cobain dulu cemilan buatan tante. Oh iya jadi tanggal berapa rencana pernikahan kalian?”

“Lima!” kompak Erlan dan Erlin.

Rita terkejut.

“Hmm…lima.” ***

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: