Cerpen, Fajar Makassar, Rachmat Faisal Syamsu

Suatu Malam di Macanda

1.5
(2)

Tanah seluas satu koma empat hektar. Tadinya akan digunakan sebagai tempat pemakaman plat merah bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun sejak bulan April lalu semua rencana berubah. Tanah pemakaman milik Pemprov Sulsel ini makin padat, bukan karena pembangunan perumahan atau pusat perbelanjaan. Fungsinya tetap sama sebagai pemakaman tetapi jasad-jasad yang mengisinya kini berbeda.

Macanda. Begitu orang-orang memberi nama jalan di pemakaman itu. Macanda kira-kira dapat diartikan sebagai jalan-jalan. Mungkin maksudnya jalan untuk kembali ke pangkuan Tuhan. Siapa sangka pemakaman ini sekarang menjadi tempat kepulangan terakhir bagi pasien-pasien yang wafat dengan diagnosis Covid-19. Tempat yang menjadi salam perpisahan terakhir antara keluarga dan sang mayit. Hingga tidak ada lagi yang bisa dijabat, tidak ada lagi yang bisa diajak senyum, tidak ada lagi yang bisa dipeluk.

Suatu malam Macanda berbicara. Tepat pukul 22.00. Berisikan curahan para penghuninya. Pak Abdul membuka pembicaraan, sebagai penghuni pertama pemakaman itu. “Dulu di sini sangat sunyi sewaktu saya tiba. Tetapi semua berlalu begitu cepat. Dalam hitungan hari saja, sudah puluhan yang datang menemani saya.” Pak Abdul sambil menunjuk orang kedua, ketiga, dan seterusnya sesuai giliran kedatangan.

“Mungkin dulu orang menganggap enteng virus ini, maka korban begitu banyak dan cepat berjatuhan.” Pak Beddu menyambung Pak Abdul.

“Sekarang masih, Pak!!!” Ibu Sitti, spontan menyahut dengan nada agak kesal.

“Iya, betul itu! Sekarang masih banyak, malah akhir-akhir ini jumlahnya betambah.” Daeng Ambo, ikut membenarkan kekesalan Ibu Sitti.

“Seandainya mereka yang masih hidup itu mau mendengar kita sebentar saja.” Ibu Lilis mencoba menyambung percakapan.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari samping Ibu Lilis. Suara Ibu Rabiah. Sejak tiba di Maccanda, hampir setiap malam Ibu Rabiah seperti itu. Tetapi kali ini tangisannya lebih dari biasanya. Dan seperti biasa, Bu Sitti selalu setia menenangkan Bu Rabiah.

Baca juga  Begenggek

“Kenapa itu Ibu menangis, sedih sekali?” tanya Anto, pemuda penghuni Maccanda yang baru tiba kemarin sore. Semua terdiam setelah mendengar pertanyaan Anto yang keluar dengan begitu polosnya. Tidak ada yang berani menjawab, seakan memberi ruang kepada Ibu Rabiah untuk menjawabnya sendiri. Dan malam semakin larut, pekat.

***

Pukul 23.30 malam. Terdengar sirine Ambulance memecahkan perenungan di Maccanda. Pertanda akan ada korban baru yang akan segera bergabung. Namun kali ini ada pemandangan yang menarik. Iring-iringan pengantar jenazah itu sangat panjang bahkan memenuhi hampir sepanjang jalan menuju Maccanda.

“Siapa ’mi kodong yang meninggal ini? banyaknya orang antar ’ki!” Ucap Pak Abdul.

Setelahnya tampak satu persatu petugas pemakaman turun dari mobil dan bersiap mengambil tugas masing-masing lengkap dengan Alat Pelindung Diri (APD) mereka. Dan para keluarga hanya bisa pasrah menatap dari kejauhan jenazah tersebut dimakamkan dengan prosedur Covid-19. Ada puluhan bahkan ratusan pengantar menyaksikan pemakaman ini. Ada yang tertunduk memerah, ada yang duduk berdoa, hingga beberapa yang merekam mengabadikan kenangan terakhir. Ternyata yang barusan dimakamkan adalah seorang Dokter, Guru besar salah satu Univeritas Negeri di Kota ini.

“Pantas pengantarnya banyak sekali. Orang hebat ternyata.” Anto berucap lagi dengan polosnya.

“Betul-betul ini Virus, tidak pilih-pilih di’ Dokter lagi nah bunuh apalagi kita ini orang biasa ’ji kodong.” Daeng Ambo menyambung Anto.

“Tapi memang banyak sekali ini pengantarnya tawwa. Pernahkah ada sebanyak ini selama di sini ’ki, Daeng?” Anto melempar pertanyaan.

Belum sempat Daeng Ambo menjawab, terdengar lagi tangisan Ibu Rabiah. Lebih keras dari pada sebelumnya. Ibu Sitti spontan memeluknya erat, sangat.

Pak Abdul lalu mendekati Anto dan berbisik, “Anto, Ibu Rabiah itu kodong sama seperti kita semua, meninggal karena Virus Covid-19. Tetapi dia itu tidak sempat lagi nah lihat keluarganya biar untuk terakhir kali. Pas meninggal langsung dibungkus dan dibawa ke sini. Dan yang paling bikin ’ki sedih lagi, ada anak kecilnya kodong di rumah.”

Baca juga  Lempuyangan: Seraut Kenangan

Anto tertunduk agak menyesal. Sedari tadi dia bertanya dan berbicara tentang keluarga yang seharusnya tidak pada tempatnya.

“Bu Sitti juga itu mirip kasusnya, bedanya dia lebih kuat. Tabah. Dia yang selalu menenangkan Ibu Rabiah, padahal dia sendiri sebenarnya rapuh. Demam, sesak, pingsan di rumah, pas bangun, sadar, ternyata sudah di sini. Tidak ada keluarga yang mengantar pas dia tiba di sini.” Pak Abdul melanjutkan penjelasannya.

“Ada beberapa di sini yang begitu, Dek. Jadi agak sedih kodong kalau kita bicara soal keluarga.” Bibir Pak Abdul agak bergetar mengucapkan ini. Karena tidak ada yang tahu bahwa dia sendiri merasakan hal yang sama. Virus ini mengambil jasadnya tanpa memberi kesempatan menatap wajah keluarga untuk terakhir kalinya bahkan untuk satu senyuman sekalipun. Tidak. Dia yang pertama tiba di Maccanda sehingga tidak ada yang bertanya padanya saat tiba. Pak Abdul tidak ingin menceritakan kisahnya karena enggan membuat rasa sedih semakin larut kepada penghuni Maccanda.

Air mata kemudian menjadi teman berbaring dalam tubuh yang mati, tetapi jiwa yang akan tetap hidup untuk menuju Tuhannya. Maut memang tidak pernah memilih-milih. Tugas kita hanyalah bersiap, dengan atau tanpa Covid-19.*

RACHMAT FAISAL SYAMSU. Dosen Kedokteran UMI, penulis buku Dunia yang Berubah karena Pandemi Covid-19.

Average rating 1.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: