Cerpen, Gita FU, Radar Banyumas

ZIARAH

3.2
(5)

SETO mengucek mata. Perjalanan enam jam sejak tengah hari dalam bus ekonomi berakhir sudah. Ia meregangkan tubuh hingga terdengar bunyi gemeretak dari tulangnya yang kaku. Teman sebangkunya sudah lama turun bersama arus penumpang lain, meninggalkan dirinya seorang.

Langit muram Cilacap menyambutnya. Di jalan, debu bercampur dedaunan kering dan sampah plastik berpusar di udara. Orang-orang melindungi wajah mereka dari terpaan angin. Seto mengayuh langkah setengah berlari keluar dari terminal, mengabaikan tawaran para pengojek. Adiknya telah berjanji menjemput. “Semoga anak itu sudah datang,” batin Seto.

Di pinggir jalan, terlihat anak remaja usia SMP melambaikan tangan demi melihat Seto. Ia berdiri di samping bebek hitam setrip biru. “Cepetan, Mas! Sebentar lagi hujan!” teriaknya.

Segera setelah pantat Seto mendarat di jok belakang, si adik menggeber motor bebeknya. Menembus lalu lintas kota yang berdenyut kencang, berpacu mendahului hujan. Seto mendekap tas dan kardus kecilnya erat-erat di depan dada. Rumah, aku pulang, bisiknya.

Dua tahun Seto bertahan tinggal dalam kamar kontrakan pengap di wilayah Bandung pinggiran, menyesapi hari demi hari sebagai buruh pabrik tekstil. Ia selalu kelelahan. Tak pernah cukup waktu luang. Tak pernah cukup simpanan uang. Semua alasan itu yang selalu ia kemukakan, jika ibunya meminta dirinya pulang.

Untuk apa pulang? Belum ada monumen membanggakan yang bisa ia tunjukkan pada orangtua dan saudara. Pun tidak pula seorang mojang sebagai bakal istri. Maka ia cukup bertukar kabar melalui telepon genggam. Lalu sekali sebulan ia mengirim uang lewat bank pemerintah, sekadar menambah uang lauk. Sejatinya Seto tahu, ibunya tak akan terlantar hanya karena ia menolak pulang. Masih ada kakak perempuan dan adik laki-lakinya yang menemani Ibu. Lagipula Ibu masih sehat, dan punya penghasilan dari membuka warung sembako di rumah.

Kecuali hari ini.

Ibu menyambutnya dengan kerinduan meruap. Momen singkat menjelang maghrib dipergunakan wanita separuh baya itu untuk mengusap wajah sang putra, sembari duduk di kursi ruang tamu. Kakak dan adik Seto sudah lenyap dalam kesibukan lain-lain.

“Maaf, Bu. Aku ndak bawa banyak oleh-oleh,” ucap Seto pelan. Wanita tersebut tersenyum lebar, ada kilau kaca di dalam matanya.

“Kamu ini! Kamu mau pulang saja Ibu ‘dah senang!”

Baca juga  Kafe

Seto merasa jengah. Bagaimanapun, ada sebongkah rasa bersalah muncul melihat reaksi Ibu atas kepulangannya. Ia berdehem-dehem menekan keharuan tersebut.

“Oh iya! Kamu pasti capek, ya. Sudah sana ganti baju di kamar. Terus ke dapur, makan dulu,” instruksi Ibu.

“Jam berapa selametannya, Bu?”

“Nanti lepas Isya,” Ibu beranjak ke dapur, menyiapkan hidangan untuk Seto.

Inilah alasan kepulangan Seto, acara mendhak pindho almarhum Ayah. Meskipun ia terpaksa harus mengajukan izin kerja, karena hitungan selametan jatuh pada hari Kamis Wage malam Jumat Kliwon. Itu bukanlah jatahnya libur di minggu ini. Demi Ayah, Seto melanggar tekadnya untuk jarang pulang.

Sambil mengunyah makanan di piringnya, Seto mengenang kembali sosok ayahnya semasa hidup. Hal yang paling mengemuka dari beliau ialah, sikap penuh maklum terhadap hal-hal yang terjadi dalam keluarganya. Apa saja polah tiga anaknya, Ayah menyikapi dengan lapang dada. Kala Mbak Surti ditinggal mati suaminya, Ayah menganggap itu hal wajar. Bukankah masuk akal bila seorang gembong curanmor yang buron tewas tertembus timah panas petugas?

Di lain waktu ketika Seto mbalelo tak mau mengikuti ujian akhir SMA dan lebih memilih ikut lomba Merpati, Ayah pun tak muntab kepadanya. Sebaliknya, Ayah malah menawarkan pilihan mengikuti ujian persamaan. Demikian pula saat menghadapi si bungsu Rino yang hobi merusak mainan anak tetangga, Ayah tetap bersikap tenang. Dengan sopan Ayah mendatangi tetangga tersebut untuk meminta maaf sekaligus mengganti kerugian. Justru Ibulah yang murka, menangis, atau menyumpah-nyumpahi kami.

Menerawang hal-hal silam kian meneguhkan perasaan sesal dalam diri Seto. Ayahnya orang baik. Seharusnya meninggal dengan tenang di tengah keluarga. Namun beliau malah menemui ajal di jalan sepulang mancing, akibat ditabrak pemuda mabuk. Demi menebus rasa sesal itu, malam ini ia akan bergabung bersama Ibu dan dua saudaranya. Seto yakin Tuhan Yang Maha Baik mau menerima doa mereka sekeluarga, ditambah doa dari orang-orang yang baru pulang dari mushola.

Acara selamatan untuk sang ayah berjalan lancar. Tepat sesudah acara doa berakhir, langit menyiramkan hujan ke bumi. Ibu lega hajat mereka terlaksana. “Besok kita ke kuburan ayah kalian, menyiramkan air doa ini,” tuturnya di depan tiga anaknya.

Baca juga  Edelweiss Melayat ke Ciputat

Seto menatap air dalam botol kemasan satu setengah liter di meja. Botol itu tadi diletakkan di depan pemimpin jamaah selama pembacaan doa bersama. Itulah yang selalu dibawa kala berziarah ke makam. Tentu dengan harapan doa-doa akan meresap di tanah dan sampai pada orang terkasih di seberang.

“Biar kusimpan botol ini, Bu,” tanggap Surti cepat. Di luar ricis hujan terus menemani malam yang kian merangkak.

***

Jumat Kliwon adalah hari sakral bagi sebagian besar masyarakat Jawa. Tak heran banyak peziarah mementingkan hari tersebut untuk nyekar ke kuburan. Seto dan keluarganya turut larut dalam pawai, berjalan kaki ke pekuburan Karang Suci yang hanya berjarak 500 meter saja dari rumah mereka. Ibu dan Surti telah pula membawa aneka bunga tabur, dan uang receh secukupnya.

“Buat apa”, tanya Seto ketika melihat koin-koin itu.

“Nanti kamu tahu sendiri,” tukas Surti. Rino hanya mengangkat bahu untuk menjawab ketidakmengertian Seto. Ibu berjalan di depan mereka bertiga, sibuk menyapa orangorang yang berpapasan. Di langit sana, bola lampu Tuhan mulai memanjat naik.

Seto memang belum pernah menziarahi siapa pun di hari Jumat Kliwon. Maka ia terperanjat bukan kepalang menyadari arus manusia memenuhi tiap tapak tanah pekuburan. Dan tidak semuanya penziarah. Seto menyadari itu saat mendapati lelaki atau perempuan yang membawa-bawa sapu lidi. Tiap ada rombongan mendatangi suatu gundukan makam, si pembawa sapu itu akan mendului, lalu membersihkan kuburan itu dari apa saja yang mengotori. Tak lama ia akan diberi upah atas kerja sesaatnya.

Tampak pula sejumlah pedagang makanan dengan gerobak dagangan di atas motor, berhenti di pinggir-pinggir setapak menanti peziarah yang lapar; ada bakso aci, siomay, batagor, cilok, atau cimol. Seto pun melihat kelompok kecil pemuda menjadikan makam yang dinaungi pohon kepuh, sebagai tempat kongko dan bermain telepon pintar. Beberapa anak-anak kecil membuntuti peziarah sembari menadahkan tangan.

“Beri mereka, Rino,” perintah Surti. Setelah menerima sekeping-dua keping uang logam, anak-anak tadi berhenti mengekori mereka dan berpindah pada orang lain.

“Tapi itu ada ibunya, Mbak!” Seto menunjuk seorang wanita berbaju lusuh, duduk di atas cungkup kuburan. Wanita itu mengawasi, bahkan mengarahkan anak-anak tadi untuk mengikuti rombongan lain.

Baca juga  Nelayan dari Pulau Rote Ndao

“Ya ampun, Seto, tentu saja! Mereka semua sedang ngethek di sini!”

“Sshh, diamlah. Kita sudah sampai,” Ibu melerai mereka. Lokasi kuburan Ayah ada di pinggir Segara Anakan.

Di sana, seorang lelaki tua telah mencabuti rumput di sekitar kuburan, lalu menyapunya hingga bersih. Dengan tersenyum lebar ia mempersilakan Ibu melakukan ritual ziarah. Sementara ia sendiri mundur dan menunggu di dekat situ.

Seto berusaha memusatkan perhatian pada Ayah di balik tanah. Mereka berjongkok, mengusap kepala nisan, menangkup tangan, merapal doa bagi ayah mereka. Lalu Ibu menyiramkan air doa, Surti dan Rino menaburi bunga. Ritual selesai. Lelaki tadi kembali mendekat untuk menerima upah yang diangsurkan Ibu.

Ibu beranjak meninggalkan kuburan Ayah. Kali ini Rino memimpin jalan, dan Surti segera menjajari Ibu. Namun Seto masih enggan beranjak. Pikirannya melantur. Angin meniup lepas kembang kamboja. Pemuda itu merasakan kedamaian di tengah keriuhan manusia di sekitarnya.

“Seto, ayo!” seru Surti. Malas-malasan Seto beranjak meninggalkan rumah terakhir Ayah.

Anak-anak berlarian menelusup di antara para peziarah. Tertawa-tawa memamerkan gigi hitam akibat kebanyakan makan gula-gula. Salah satunya menabrak Seto cukup keras. Anak itu menyengir lebar, sebelum dibentak ibunya yang tengah mengawasi.

“Jangan nabrak orang, ya Ndul!” Anaknya yang berambut jabrik langsung mengkeret takut.

Suara nyaring wanita itu membuat Seto menoleh. Ia merasa kenal. “Lasmi?”

Wanita itu terperanjat. Setelah memastikan wajah Seto, ia buru-buru menarik tangan anaknya, dan berbalik pergi. Seto hanya bisa termangu. Tadi itu benar Lasmi, cinta pertama yang pergi mencampakkannya demi memburu uang di negeri seberang beberapa tahun lalu. Seto tak menyangka bertemu Lasmi dalam keadaan begini. Ziarah ini sungguh membawanya kembali ke pusaran masa lalu. (*)

Cilacap, 021220

Catatan:
  1. Mendhak pindho: ritual selamatan 2 tahun meninggalnya seseorang.
  2. Ngethek: bertingkah laku seperti kera.

GITA FU. Penulis perempuan muda dari Cilacap yang cukup produktif. Karya tunggalnya berupa kumpulan cerita anak berjudul “Pekerjaan Rahasia”, terbit tahun 2018

Average rating 3.2 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: