Cerpen, Jawa Pos, Ramayda Akmal

Lelaki yang Melempar Koin

3.2
(5)

Sudah tiga minggu matahari menghilang dari hari-hari Karam. Ia bekerja dari jam tujuh pagi yang seperti malam dan berakhir jam empat sore yang sudah malam. Di akhir bulan Desember seperti ini, kopi panas dan bangku taman jadi satu-satunya penghiburan.

KARAM meletakkan jari di mesin tanda kerja telah usai, lalu membuang baju abu-abu, masker, dan penutup kepala ke tong besar. Ia menghilang di toilet dan loker pribadinya. Setelah berganti pakaian, ia memencet mesin kopi untuk segelas kapucino jumbo. Teman dari Turki sesama transporter bernama Mehmet datang dan membawa satu baki besar makan malam. Empat roti gandum, selai buah, mentega, keju-kejuan, clementine, dan yoghurt. Karam mengambil satu roti dan membelah cepat dengan tangannya, memasukkan dua lembar keju sembarangan ke dalam belahan itu, dan menjejalkan ke mulutnya tanpa irama.

“Saudaraku, liburan Natal kau akan di sini atau di rumah?” tanya Mehmet.

“Akan di sini sepenuhnya,” jawab Karam singkat.

“Sama denganku. Semoga tidak terlalu banyak pasien akhir tahun ini. Aku mulai susah tidur. Hari ini aku membawa mayat dua kali. Ah, yang satu bahkan masih berdarah.” Mehmet berbisik.

“Tenanglah, Saudaraku. Minum kopi ini dan lihat pintu itu. Begitu keluar, kamu melupakan semuanya,” tanggap Karam sambil menyodorkan espreso yang dipencet Mehmet dari mesin. Ia sendiri telah selesai makan dan keluar cepat dengan kopinya tanpa pamit.

Karam berjalan mengitari rumah sakit. Ia mencari rute singkat menuju stasiun bawah tanah. Perjalanannya satu jam menembus hutan-hutan menuju rumah. Rumah Sakit Asklepios tempatnya bekerja terletak di pinggir kota, dikelilingi hutan pinus dan anak sungai Elbe. Rumah sakit ini khusus menangani pasien lanjut usia dengan penyakit dalam yang menahun atau menular.

Sambil melewati pinggiran gedung, Karam mulai menunduk. Kebiasaan yang ditemukannya beberapa saat setelah bekerja di situ. Ia mencari suatu benda. Tak butuh lama, ia menemukan dan memungutnya satu-satu. Beberapa koin besaran lima dan dua sen, satu koin dua euro, dan beberapa cokelat sisa dari Nikolas masuk ke kantong jaketnya. Karam pun menjauh dan menghampiri salah satu bangku taman. Dari situ Karam bisa memandang ke jendela-jendela pasien. Demikian juga sebaliknya. Sudut antara bangku dan jendela memaksa mereka bisa melihat satu sama lain dalam posisi yang estetis, yang jika ditambah cahaya matahari jadi sangat indah.

Baca juga  Septemberku

Dari bangku itu Karam mulai mengamati pasien-pasien yang dikenalnya, yang beberapa bulan ia antar jemput dari kamar mereka ke pos-pos pemeriksaan rutin. Bapak bekas tentara, ibu bekas pemabuk, nenek yang selalu wangi, anak muda yang pneumonia, nenek dari Yunani yang tidak pernah bicara, dan beberapa lain yang belum Karam kenal. Seorang kakek yang baru saja menghuni kamar paling ujung menampakkan diri di sisi jendela. Pandangannya yang sedang mencari-cari seseorang berhenti pada pemuda yang duduk persis di sebelah Karam.

Pemuda itu memegang teropong di tangan kirinya dan tangan lain memberikan kode kepada kakek tua itu. Lalu ia mencoba menelepon, tetapi dering berakhir tanpa diangkat. Kakek itu hanya diam di pojok jendela tanpa merespons isyarat. Sore yang gelap semakin mempersulit semuanya. Pemuda pun menurunkan teropong dan sadar jika Karam memperhatikan.

“Apa dia keluargamu?” Karam memulai perbincangan.

“Iya, dia ayahku.”

“Baru masuk kelihatannya.”

“Ya, hari ini. Wabah itu menyerangnya. Jantungnya lemah. Sementara dia alzeimer dan kami tidak bisa menjenguknya. Kombinasi yang sulit.”

“Ya, bisa kubayangkan. Jangan khawatir, mereka akan merawatnya dengan baik.”

“Kau bekerja di sana?”

“Ya. Aku transporter. Bukan dokter atau suster. Namun, aku bertemu pasien lebih sering dari mereka. Aku mengantar mereka ketika harus pindah dari satu ruang ke ruang lain.” Karam menjelaskan dan pemuda itu manggut-manggut.

“Jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, bicara padaku. Aku tidak bisa janji, tetapi mungkin aku akan bertemu ayahmu.”

“Terima kasih. Aku hanya ingin dia sehat. Mungkin jika kamu mengantarnya suatu ketika, hindari anak tangga. Dia trauma,” jawab pemuda itu.

“Baik. Aku akan melakukannya. Mungkin kamu bisa membawakan beberapa koin untuknya.”

Baca juga  Prometheus Ubud

“Koin?”

“Ya, seorang ibu pasien dari Yunani memulai ritual membuang koin lewat jendela demi harapan kesembuhan. Ia mengidap kanker paru-paru. Setiap kali buang koin, ia yakin satu sel kanker ikut terbuang. Kami menyebarkan ide itu ke pasien lainnya. Dan beberapa mengikutinya. Mereka tampak menikmati.” Karam menjelaskan.

“Oh ya? Aku akan bawakan besok.”

“Aku sering memunguti koin-koin itu. Kuberikan kepada gelandangan di depan sana. Atau kubelikan makanan ringan untuk teman perjalananku pulang.” Karam mengakui kebiasaannya.

“Kamu tampak menikmati pekerjaan ini ya.” Pemuda itu menanggapi sambil tersenyum.

“Harus. Aku bekerja di sini. Aku harus menjadi bagian dari peradaban mereka, peradaban negeri ini. Lima tahun lalu aku melewati hari-hari dalam ancaman maut di Syria. Siapa sangka sekarang aku di sini, bekerja di sebuah rumah sakit, bicara bahasamu, menikmati kopi dan mendapatkan gaji. Yang lain-lainnya, yang buruk-buruknya, tidak perlu dibicarakan,” papar Karam. Pemuda itu manggut-manggut lagi sambil terus memperhatikan siluet ayahnya di jendela.

Saat Karam pamit pulang, pemuda itu masih duduk di tempatnya. Sore sudah kelam sempurna dan dingin tidak lagi bisa ditahan. Selama beberapa hari kemudian, Karam rutin duduk bersama pemuda yang menjenguk ayahnya itu. Sayangnya, Karam tidak sempat bertemu ayah pemuda itu karena seminggu ketika Natal menjelang, Karam dipindah tugas ke bagian lain.

Dan ketika Natal berlalu, Karam disambut sore yang bukan cuma dingin, tapi putih oleh es. Walau demikian, duduk di bangku dan menatap jendela masih sebuah keharusan baginya. Kadang ia menemukan pasien yang sedang menyulam, sebagian lain membaca, dan ada yang mengamati orang-orang di luar. Memperhatikan itu Karam merasa lega. Campuran antara kepasrahan dan keyakinan pasien-pasien itu menghangatkan jiwanya. Saat itu pula Karam sadar, kamar paling ujung sudah beberapa hari kosong. Tidak ada lampu. Tidak ada kakek tua. Juga tidak ada pemuda di bangku sebelah. Kehangatan itu perlahan hilang. Rasa seperti antara hidup dan maut yang ia hadapi di negerinya datang lagi. Kamar yang kosong semakin menegaskan kesendirian. Wajah ayah dan ibunya yang telah tiada membayang di jendelanya. Canda tawa kakak-kakaknya menggema di angin yang basah. Di mana mereka? Bagaimana nasibnya? Karam menjadi satu-satunya di keluarga yang berhasil imigrasi bersama keluarga besar yang lain. Dalam dirinya harapan keluarga diselamatkan. Namun, bagi Karam, apa guna harapan itu jika ia harus menghidupinya sendiri. Kepada siapa harus dibagi cerita-cerita yang mekar dari harapan itu? Karam mendesah panjang berulang-ulang. Ia merogoh saku dan mengambil beberapa koin yang berhasil ia kumpulkan. Lalu satu per satu ia lempar. Semoga akar-akar kesedihan ini hilang, batinnya. Ia mendesah lagi sebelum kemudian bangkit hendak pergi saat seseorang menyapanya dari belakang.

Baca juga  Larasati

“Apa kabar?” Pemuda itu muncul lagi.

“Halo, Saudaraku! Lama tak berjumpa,” jawab Karam terkejut.

“Ayahku sembuh.” Pemuda itu tersenyum sambil menggandeng pelan ayahnya ke hadapan Karam. Wajah lelaki tua itu hanya tampak samar-samar. Karam menangkap kerutan di dahinya, bintik-bintik hitam di pipinya, alis matanya yang putih, dan senyumnya. Lelaki itu tidak bicara apa-apa. Tangannya yang gemetar menyodorkan sesuatu. Sebuah kantong kain dengan koin-koin.

Karam tersenyum lebar. Sambil membersihkan tangan yang basah, ia terima bingkisan itu. Tergopoh-gopoh lelaki tua itu pun memeluk Karam. Pelukan yang hangat dan lama. (*)

Hamburg, Desember 2020

RAMAYDA AKMAL. Lahir di Cilacap, 5 Mei 1987. Saat ini menempuh pendidikan doktoral di Universitat Hamburg, Jerman.

Average rating 3.2 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: