Irawan Sandhya Wiraatmaja, Koran Tempo, Puisi

Ketika Telur Menetas

1.5
(2)

kapan telur-telur yang dieram akan menetas/di atas batu-batu lumut yang hitam menjadi keras/ilalang telah berubah menjadi sarang yang sembunyi/di balik warna waktu yang berkabut: buram dan samar

/

burung-burung akan mengepakkan sayapnya

di garis musim ketika daun-daun pun luruh menjadi

semak belukar yang terbakar oleh panas cahaya

masih adakah telur-telur menetas diam-diam tanpa napas

/

yang pernah kau berikan sebelum senja berubah malam

dan kita masih setia untuk menulis kegelisahan di dalam rumah

seperti ada yang tak sampai, mungkin kata-kata yang tersekat

/

di pangkal lidah yang terluka atau diam yang tak menjawab

suara-suara dari jarak kejauhan, yang menjadi isyarat

untuk sebuah rindu yang mencari tanda kelahiran, mungkin kita?

Maret 2020

Irawan Sandhya Wiraatmaja, buku puisinya, Giang Menulis Sungai, Kata-kata Jadi Batu (2017), meraih Anugerah Puisi Utama HPI 2017. Buku puisi terbarunya adalah Vu, Berbilang Akar-akar Kecubung (2019) dan Nausea Kota dalam Telepon Genggam (2020).

Average rating 1.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Baca juga  Ceracau Embun

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: