Cerpen, Radar Banyumas, Sam Edy Yuswanto

Di Surga Hanya Ada Kebahagiaan

5
(2)

“BU, apakah nanti kita akan masuk surga? Lalu adakah kesedihan di sana?”

Suatu hari, Naya, putri bungsuku, bertanya perihal surga dan kesedihan. Aku hanya tersenyum sambil memberikan sedikit motivasi kepadanya.

“Kalau kita menjadi orang baik semasa hidup kita, Insya Allah kita akan masuk surga, Nak,” ini adalah jawaban yang kuberikan dari pertanyaan Naya yang pertama.

“Konon, di surga tidak ada kesedihan, yang ada hanya kebahagiaan,” ini adalah jawabanku untuk pertanyaan Naya yang kedua. Kali ini mataku mengawang, membayangkan keindahan surga yang konon hanya berisi kebahagiaan.

“Berarti kita harus selalu jadi orang baik ya, Bu?”

Aku menatap kedua bola mata bening putriku. Tersenyum. Mengangguk.

“Selain berbuat baik, kita juga harus menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Tuhan, dan berusaha menjauhi larangan-Nya, Nak,” aku menambahkan sedikit keterangan padanya. Sebenarnya aku agak terkejut sendiri dengan kata-kata yang mungkin lebih pantas terucap dari mulut penceramah itu. Terlebih selama ini aku merasa masih sangat jauh dari kategori manusia baik yang selalu menaati segala perintah Tuhan.

“Kalau di surga nggak ada kesedihan, Naya ingin sekali masuk surga selama-lamanya, Bu,” ucap Naya kemudian dan kembali membuatku tersenyum.

“Kalau hanya orang baik yang masuk surga, berarti orang jahat nggak bisa masuk surga, dong, Bu?” Naya kembali bertanya. Pertanyaan yang membuat keningku berkerut. Setahuku, sejahat apa pun manusia, asalkan dia mau bertobat, kelak dia bisa masuk surga. Namun, aku merasa bingung untuk memberikan penjelasan tentang hal ini pada Naya. Selanjutnya, aku memilih tersenyum, mengangguk, dan berkata:

“Benar, Nak. Orang jahat nggak akan masuk surga.”

“Berarti Bapak masuk neraka dong, Bu. Kan Bapak telah berbuat jahat pada Ibu, Naya, dan Kak Mia,” ucapan polos Naya langsung membuatku tersentak. Ada duri-duri tajam yang tiba-tiba merambat begitu cepat dan menghunjami hati. Sakit. Luar biasa sakit saat aku kembali teringat lelaki yang memilih pergi dengan perempuan lain dan menelantarkan kami bertiga.

***

Selalu menyisakan sakit tak terkata saat aku kembali teringat Wongso, suamiku yang memilih pergi meninggalkan aku dan kedua anakku. Ternyata benar kabar yang selama ini beredar dari mulut tetangga, bahwa di kota tempat suamiku bekerja sebagai ajudan bupati, konon ia terpikat dengan pesona perempuan lain. Perempuan lajang yang, katanya, berusia jauh lebih muda dariku. Semula aku tak memedulikan mulut para tetangga yang memang hobi bergunjing. Mulanya aku menganggap bahwa mereka hanya merasa iri dengan kehidupan rumah tanggaku yang nyaris tak pernah menampakkan masalah.

Baca juga  “Thoughts of a Dying Atheist”––Muse

Aku juga selalu berusaha berbaik sangka. Tak mungkin Wongso tega menduakanku dan menyakiti kedua buah hati yang telah susah payah kami rawat bersama. Namun, semua anggapan positif tentang sosok Wongso langsung sirna dalam hitungan detik. Semua bermula ketika suatu malam ia pulang ke rumah dan mengajakku berbicara empat mata.

Ketika kedua anakku sudah tertidur pulas, di ruang tamu Wongso mengatakan hal yang begitu menyengat telinga. Intinya ia memohon agar aku mengizinkannya menikah lagi. Saking tak percayanya mendengar kata-kata yang terucap pelan, lirih, dan terdengar tanpa beban itu, aku sampai refleks mencubit pipiku. Aku berharap ini hanya bunga tidur yang bakal lenyap dalam sekejap saat aku terbangun nanti.

Namun, ternyata semua itu bukan mimpi. Aku meringis saat merasakan sakit di pipi akibat cubitan tanganku sendiri. Selanjutnya aku hanya tergugu saat ia lebih memilih pergi meninggalkanku demi perempuan lain. Ya, setelah aku menjelaskan kepadanya tentang ketidaksudianku hidup di sangkar madu, ia berniat menceraikanku.

***

Mulanya, aku berusaha keras merahasiakan hancurnya kehidupan rumah tanggaku kepada dua buah hatiku. Terlebih Naya, bungsuku yang baru berusia 7 tahun. Aku merasa belum siap melihat mereka bersedih atas semua persoalan berat ini. Tapi rupanya, mulut tetangga lebih tajam dan begitu cepat mewartakan kabar retaknya biduk rumah tangga kami. Tak sampai seminggu, Naya dan Mia sudah mengetahui kabar kepergian bapaknya demi perempuan lain.

“Kenapa Ibu nggak pernah cerita kalau sebenarnya Bapak telah menceraikan Ibu?” cecar Mia sepulang sekolah. Saat itu Mia sudah duduk di bangku kelas tiga SMP. Sementara Naya baru kelas dua SD. Serasa tersengat lebah kedua telinga ini saat mendengar ucapan ketus putri sulungku. Aku pun perlahan menyadari, cepat atau lambat, kedua putriku pasti akan mengetahui perihal perceraian orangtuanya. Aku hanya berusaha mengulur waktu. Aku ingin menceritakan semuanya bila saatnya sudah tepat. Tapi rencanaku berantakan gara-gara kenyinyiran mulut tetangga.

Baca juga  Bangunan Itu Menelan Ibu dan Bulanku

Aku pun berusaha menenangkan Mia yang tengah terbakar emosi. Awalnya ia sangat marah kepadaku karena telah menutupi semua persoalan ini darinya. Namun, beberapa hari kemudian perlahan Mia mulai berusaha menerima semuanya. Ah, tak semuanya ia terima. Ada satu hal yang sulit ia terima, yakni perihal perselingkuhan dan pengkhianatan Wongso kepada kami bertiga. Hal itulah yang membuatnya sangat marah terhadap perilaku bapaknya.

“Sampai kapan pun aku nggak akan sudi memaafkan Bapak!” tegas Mia dengan sorot mata tajam.

Sebenarnya, meski hati ini sangat sakit, ingin sekali kukatakan pada Mia, bahwa seburuk apa pun tabiat Bapak, ia tetaplah sosok yang harus dihormati. Bagaimanapun ia orangtua kandungnya. Aku juga ingin katakan padanya memaafkan bapaknya adalah tindakan yang sangat mulia. Meski bagiku sendiri melupakan hal menyakitkan yang telah dilakukan suamiku itu bukan hal mudah, bahkan mungkin tak dapat terlupakan seumur hidup.

Akhirnya aku memilih diam. Tak kuasa mengatakan hal itu pada sulungku. Aku takut emosinya akan semakin meledak dan membuat hubunganku dengannya bertambah buruk ke depannya.

***

Sejak kedua anakku mengetahui karamnya rumah tangga orangtuanya, nyaris setiap hari kesedihan selalu menggelayuti raut wajah mereka. Ah, tak hanya Mia dan Naya, aku juga masih terus terkurung dalam duka ini. Aku yakin, semua perempuan di dunia ini akan merasakan kesedihan sama denganku. Kesedihan seorang perempuan yang ditinggal pergi suami demi memenangkan hati perempuan lain yang lebih menawan dan menggoda.

“Assalamuaikum, Bu.”

Lamunanku terpenggal saat suara Naya menggema lirih. Aku menghentikan aktivitasku yang tengah mencabuti rumput liar yang mulai menyerbu pot-pot bunga di teras rumah. Aku menoleh. Menatap Naya yang barusan pulang sekolah.

Baca juga  Lontong Tek Sidar

“Waalaikum salam, Nak,” aku menjawab salam seraya menyambut uluran tangan Naya yang dengan begitu lekas mencium punggung telapak tangan kananku.

Selanjutnya seusai menunaikan shalat Dzuhur, aku mengajaknya makan bersama di ruang dapur. Tak kusangka, usai makan ia kembali menanyakan sesuatu yang sebelumnya sudah kerap ditanyakan. Perihal apa setelah meninggal dunia kita akan masuk surga? Apa di surga nanti ada kesedihan?

Sebagaimana yang pernah kujelaskan sebelumnya, bahwa setiap orang Islam kelak akan masuk surga bila selama di dunia selalu berusaha berbuat baik terhadap sesama. Perihal pertanyaan kedua, aku menjawab bahwa di surga nanti hanya ada kebahagiaan. Tak ada kesedihan di sana sebab semua hal yang kita ingini pasti dikabulkan oleh Allah.

“Bila setiap hal dikabulkan oleh Allah, apa Naya boleh meminta agar Bapak kembali berkumpul bersama kita di surga, Bu?” pertanyaan polos Naya kali ini begitu menyentak telinga dan relung hatiku. Lagi, rasa sakit itu kembali datang dan mengaliri sekujur tubuh ini. Rasa sakit atas penghianatan yang telah dilakukan Wongso padaku.

Saat aku tengah berpikir keras mencari jawaban atas pertanyaan Naya yang sepintas sederhana tapi sebenarnya rumit, ia kembali melontarkan pertanyaan yang membuatku tercengang.

“Eh, Bapak kan jahat, jadi nggak mungkin bisa masuk surga dan berkumpul bareng kita, iya kan, Bu?” (*)

Puring – Kebumen, 28 Februari 2020

SAM EDY YUSWANTO. Lahir dan berdomisili di Kebumen. Tulisannya tersiar di berbagai media cetak dan onilne. Tiga buku kumpulan cerpennya yang telah terbit, “Percakapan KunangKunang”, “Kiai Amplop” dan “Impian Maya”

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: