Cerpen, Radja Sinaga, Waspada

Hujan Tadi Malam

4.5
(2)

MEMANG sering kau dengar kalau lelaki yang bekerja sebagai pelaut adalah lelaki bajingan. Membicarakan kesetiaan kepada lelaki yang bekerja sebagai pelaut adalah sesuatu yang bodoh. Namun kau tak percaya anggapan itu. Keburukan seseorang tak dilihat dari profesinya.

“Dia bukan seperti yang kalian pikirkan,” katamu dengan mantap.

“Bermain perempuan tabiat pelaut!” Teman-temanmu meyakinkan.

“Jangan pikir semua Bapak Dewan makan gaji buta!” Balasmu.

“Ya, tapi…”

“Nah jika begitu tak semua pelaut bermain perempuan!”

Begitulah pertama kali kau berusaha meyakinkan teman-temanmu yang tak setuju ketika kau hendak menikah dengannya. Sedang ibumu tidak terlalu peduli apakah dulu kau benarbenar menikah dengannya karena, sebelum kau dila-mar, dia memberikan kalung kepada ibumu.

Dan mengingat itu semua, dalam keadaan mabuk, membuatmu semakin gila.

***

Di lantai dua, Jalan Gajah Mada, di salah satu toko buku terbesar di kota tempatmu tinggal, kali pertama kau berjumpa dengan pelaut itu. Ketika itu kalian berada di jejeran rak buku terjemahan. Kau mengambil salah satu buku Emile Zola sedang dia meraih 1Q84. “Sesekali kau perlu membaca Murakami.”

“Aku lagi kepingin tentang pendeskripsian yang mendalam. Aku suka kata-kata yang menggambarkannya, seperti itu menurutku Emile Zola.”

Selama dua bulan kau tak melihat ia, padahal kau di sana, di rak buku terjemahan, tiap minggu. Menunggunya. Mungkin, kau sudah gila. Tetapi cinta dan kegilaan bukankah dua hal yang sama?

Kau tidak tahu apa yang membuatmu menunggunya. Barangkali karena kau jarang melihat seorang lelaki menyukai buku-buku. Kau tahu itu karena tak jarang setiap kau ke toko buku, selalu yang terlihat hanyalah pelanggan perempuan. Bila ada seorang lelaki di toko buku langgananmu, paling tidak ia seorang penjaga atau lelaki yang sedang menemani kekasihnya membeli buku. Terlebih ia memiliki kulit yang hitam dan rambut acak-acakan tapi menyerbakkan aroma yang membuatmu nyaman.

Baca juga  Sayap

Kau mencoba menerkanerka parfum apa yang ia gunakan. Hingga sepintas kau kepikiran Jazz, Parfum, dan Insiden. Kemudian kau tergidik. Mungkin ia bukan penikmat buku seperti diriku, batinmu.

Tetapi saat pertengahan bulan ketiga, ia muncul kembali toko buku itu dan tetap berada di rak buku terjemahan. “Kali ini Murakami?” katamu saat ia sedang khusyuk menelusuri katalog nama pengarang.

Begitulah pertama kali kau berkenalan dengannya. Dan ketika kalian duduk di sebuah cafe yang tak jauh dari toko buku itu, ia mengaku kalau selama dua bulan lebih ia melaut.

“Aku pelaut. Dua bulan belakangan kapalku tak bersandar.”

Dan mengingat itu semua, dalam keadaan mabuk, membuatmu semakin gila.

***

Perkenalan itu mengawet. Di bulan-bulan selanjutnya, kalian kerap ke toko buku bersama. Tapi, buku-buku itu tak sepenuhnya kalian baca. Ia lebih suka membaca buku-bukumu, dan begitu pun sebaliknya.

Aku menyukai buku-buku sejak SD, katanya waktu itu. Tetapi kenapa kau menjadi pelaut? Tanyamu. Ia memicingkan alis. Maksudku, lanjutmu, pelaut dan buku terkesan aneh, mengapa kau tak menjadi pustakawan? Ia tertawa tibatiba dan menarik nafasnya, “Semua permintaan ayahku.”

Senyum pudar. Tampak matamu berkaca-kaca. Kenapa, katanya. Kau tersenyum tipis. Dan ia bertanya kembali. Tetapi kau alihkan pembicaraan. “Jika nanti kau melamarku, aku ingin kau lamar aku dengan bukubuku!”

Ia tertawa tiba-tiba dan menarik nafasnya, “Kau aneh!”

Begitulah pertama kali kau mengutarakan cintamu. Dan setahun kemudian, ia benarbenar melamarmu dengan buku-buku. Hingga kemudian kau membuka ruang baca di sebuah rumah yang dibeli setelah tak lama kalian menikah.

Dan mengingat itu semua, dalam keadaan mabuk, membuatmu semakin gila.

***

Awalnya kau takut bila ia tahu jika kau hidup tanpa ayah. Jadi itukah alasannya waktu itu, tanyanya. Kau mengangguk. Dan ia memelukmu. Tetapi mengingat itu semua, saat ini, hanya membuatmu semakin gila.

Baca juga  Tangisku Tergantikan

Kau baru turun dari lantai dua, rumahmu. Belakangan kau memang telat bangun. Semua itu bermula ketika sebuah telepon menggedor ponselmu. Telepon itu dari sebuah perusahaan. Kau bersyukur bisa berbahasa Inggris karena lawan bicaramu di telepon itu menggunakan bahasa Inggris.

Pak Robi jatuh ke dalam laut, ketika itu ia berada di lumbung kapal dan ombak lumayan mengerikan, kata orang itu dari seberang. Mulanya kau tak percaya. Hingga seminggu kemudian, ia dikirim ke hadapanmu dengan keadaan kaku. Tapi semua itu belum usia setelah kau tahu, organ dalam tubuhnya tidak ada di sana.

Kau mencoba protes kepada perusahaan itu. Memaksa memberikan informasi yang sebenarnya. Tapi semua sia-sia. “Itu biasa terjadi kepada pelaut,” kata temanmu yang kebetulan bernasib yang sama.

Karena itulah kau telat bangun. Belakangan kau banyak menenggak bir. Membuat mabuk. Dan karena itu juga, perpustakaan pribadimu tak dibuka.

Jika saja banyaknya klakson yang berbunyi di luar, tak mungkin kaubangun. Tapi, saat kau turun ke lantai satu, tempat perpustakaan pribadimu berada, kau semakin gila sebab kau lihat air menggenang setinggi lutut. Banyak buku mengapung ke seluruh penjuru rumah. Kau tak sadar kemarin malam, saat kau mabuk, perut langit pecah begitu lama.

Kau bergumam tak jelas. Duduk sebentar di anak tangga. Hingga kau angkat tubuhmu untuk mengutip buku-buku itu. Kau mengutipnya hingga ke kamar mandi. Di sana kau lihat 1Q 84 mengapung, di sampulnya terdapat beberapa kecoak. Kau bunuh kecoak-kecoak itu dengan buku yang sedang kau pegang. Tubuhnya pecah. Benda hitam mengotori sampul buku. Hingga sepintas kau kepikiran kapal, organ dalam, dan dirinya. Kemudian kau tergidik. Mengabaikan bukubuku itu tersapu banjir.

Baca juga  Kota-kota Kecil Penyanggah Kota Kecil

Radja Sinaga. Mahasiswa PBSI, Universitas HKBP Nommensen Medan. Bergiat di Komunitas Lantai Dua (Koldu).

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: