Afri Meldam, Cerpen, Media Indonesia

Kulaghi

5
(2)

AKU akan pergi ke sarasah [1] sebentar,” ujar Gadih sembari meletakkan segelas kopi panas di samping dipan kayu tempat suaminya berbaring. “Kalau Lian bangun, suruh ia mengambil nasi di bawah niru.”

Suaminya mencoba bangkit, tapi hanya sedikit saja ia mampu menggeser badannya. “Kau pergi menemui Junan?” Ia memijit-mijit kedua kakinya yang lumpuh layu.

“Angah bicara apa?” Gadih yang sudah berada di mulut pintu dengan tangguk di tangan, menatap suaminya sambil menahan gemuruh di dada.

“Kudengar tahun baru ini, laki-laki itu tengah kembali dari Malaysia.” Dipan kayu itu berderit begitu suaminya kembali menggeser badan.

“Tolong jangan menuduhku seperti itu.” Suara Gadih bergetar.

“Kau masih mencintainya?” Laki-laki itu melempar pandang ke celah jendela yang sedikit terbuka. Kabut pagi masih menyungkup pepohonan.

Gadih menarik napas dalam-dalam, melangkah keluar, lalu menutup pintu sedikit kasar.

Kaok enggang dan kuai siamang bersahut-sahutan di kejauhan, seolah menyambut langkah gegas perempuan itu. Setelah melewati rumpun betung, Gadih berlari-lari kecil menuruni ujung tanjung menuju anak sungai di kaki ladang. Mencapai batu besar di bibir sungai, ia kemudian meloncat ke seberang, dan mendarat tepat di jalan setapak bertabur bunga-bunga sungkai yang gugur. Dari sana, ia akan berjalan sedikit ke hulu, ke lubuk kecil di pangkal sarasah. Sudah tak sabar rasanya ia melihat ikan-ikan kulaghi bertelur itu menggelepar di dalam tangguknya.

Ini memang waktu yang tepat untuk menangkap ikan bersisik keperakan dengan segaris warna kesumba yang memanjang dari rongga insang hingga ujung ekornya itu karena, seperti yang diyakini sejak dulu, begitu kuntum terakhir bunga pohon baghu di hutan lepas dari tampuk dan jatuh ke pelukan sungai, serombongan besar ikan kulaghi dari muara akan berenang ke hulu, membawa perut buncit penuh telur. Meranggasnya reranting pohon baghu memang menjadi pertanda bahwa musim bunga di hutan akan segera usai. Hujan akan turun lebih lebat, dan angin berembus kian tajam. Maka, bunga-bunga bangan, durian, tilan-tilan, dan jambu air akan luruh ke sungai, membawa serta serangga-serangga yang akan menjadi santapan ikan-ikan bertelur sepanjang perjalan mereka menuju hulu.

Dan lubuk di pangkal sarasah itu sungguh menjadi tempat terbaik untuk menunggu ikan-ikan seukuran pergelangan tangan orang dewasa itu. Mereka yang berenang dalam rombongan besar dari muara biasanya melesat sangat cepat melewati bagian sungai berpasir. Namun, begitu mencapai lubuk kecil di pangkal sarasah, ikan-ikan yang sudah kelelahan itu akan berhenti sejenak, berkumpul menyantap serangga-serangga yang terjebak di dalam bunga-bunga yang mengapung. Kalau ia tiba di sana pada saat yang tepat, Gadih tinggal turun ke lubuk dan menangguk ikan-ikan kulaghi itu.

Biasanya, memang tak hanya ia saja yang menunggu rombongan ikan kulaghi itu. Orang-orang di kampung juga sudah menanti musim ini datang. Namun, karena Gadih tinggal di ladang, ia bisa sampai lebih dulu dan karenanya bisa menangkap ikan kulaghi lebih banyak. Apalagi dulu, ketika Angah Nuan suaminya masih segar bugar. Sementara Gadih masuk ke dalam lubuk, Angah Nuan biasanya akan menunggu di atas sarasah, siap melemparkan jala untuk menyungkup ikan-ikan yang meloncat melawan arus, melarikan diri dari ceruk lubuk.

Baca juga  Serikat Orang Tak Berjodoh

Namun, itu sudah lama berlalu. Setelah orang-orang mulai mengeruk pasir di bantaran, rombongan ikan yang menyusuri sungai hingga ke hulu semakin sedikit. Pun, pohon-pohon di hulu yang mulai ditebangi telah membuat anak-anak sungai tertimbun gelondongan sehingga ceruk-ceruk lubuk tempat ikan-ikan kulaghi bertelur semakin berkurang.

Jika dulu di setiap musim mereka bisa mendapatkan sekeranjang besar ikan kulaghi bertelur, kini pada musim baik sekalipun, Gadih hanya bisa membawa pulang setengahnya. Bukan saja karena Angah Nuan sudah tidak sanggup lagi ikut bersamanya ke hulu, melainkan juga karena ikan-ikan yang ada semakin menyusut. Itulah kenapa, dalam beberapa musim belakangan, selain Gadih, hanya satu-dua orang yang masih mau bangun pagi-pagi dan turun ke sungai untuk menunggu ikan-ikan kulaghi datang berenang dari muara.

Ya, meski hanya sekali semusim, ikan-ikan dari muara itu memang menjadi tumpuan harapan Gadih agar terus bisa mengasapi dapurnya. Selain untuk mereka makan sendiri, ikan-ikan sebesar pergelangan tangan itu akan ia keringkan di atas bara kayu cempedak hutan. Begitu bagian sisik berubah kecokelatan, Gadih akan memindahkan ikan-ikan itu ke atas salaian yang digantung di atas tungku pondok. Setelah dua hari, ikan-ikan salai itu biasanya sudah siap untuk dijual. Dan, siapa yang tidak akan menitikkan air selera melihat ikan kulaghi salai dengan segumpal telur jingga yang masih melekat di perutnya?

Orang-orang pun tahu belaka bahwa tak ada yang bisa menandingi ikan salai yang dijual Gadih. Entah apa rahasia yang ia miliki, ikan-ikan salai itu terasa sangat pas di lidah, dengan daging yang masih empuk dan telur-telur yang matang sempurna. Ada yang mengatakan bahwa kayu cempedak hutan yang dipakai untuk mengasapi ikan itulah yang menjadi rahasia kenikmatan ikan salai Gadih. Ada pula yang menyebut kunci kenikmatan ikan salai itu berasal dari daun salam segar yang dibakar Gadih dengan siraman minyak kelapa.

Namun, ketika orang-orang mencoba hal yang sama, anehnya ikan salai yang dihasilkan tetap tak bisa mengimbangi ikan salai olahan Gadih. Ketika ditanya mengenai resep rahasia yang ia miliki, Gadih biasanya hanya tersenyum simpul, lalu mengatakan bahwa ia hanya meneruskan apa yang dulu dilakukan oleh mendiang ibunya. Bahwa sebelum diolah, ikan-ikan itu harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Bagaimana cara memperlakukan ikan-ikan dengan baik? Bagian inilah yang agaknya tak pernah bisa dipahami orang-orang dan mereka kemudian menyimpulkan bahwa keahlian mengolah ikan itu memang sudah mengalir di dalam darah Gadih.

Gadih tiba di lubuk di pangkal sarasah ketika halimun sudah sepenuhnya menguap dan burung-burung pencur sudah riuh rendah berkicau sambil berloncatan mencari nektar di antara reranting pohon pauh yang masih memekarkan bunga-bunga kuning muda. Ditingkahi gemericik sungai, ia dengar ikan-ikan berkecipak di ceruk lubuk.

Baca juga  Bulan Sabit dan Kekasih

Tanpa menunggu lama, setelah mengucap doa, Gadih segera turun ke sana dan mulai membenamkan tangguknya. Ikan-ikan berlarian, beberapa di antaranya melompat ke mudik jeram, dan ketika Gadih mengangkat tangguknya, ia dapati tiga ekor ikan kulaghi menggelepar di dalamnya.

Saat ia memasukkan ikan-ikan itu ke dalam tas goni, tiba-tiba Gadih mendengar suara langkah kaki dari arah hulu. Gadih menengadah, dan ia lihat Junan telah berdiri di atas sebongkah batu, menenteng jala yang masih dipenuhi dedaunan basah.

“Ah, tanganku sepertinya sudah tak mahir lagi melempar jala,” ujarnya sedikit berteriak.

“Padahal tadi ada beberapa ekor kulaghi yang lewat di depan hidungku!” Membungkuk, Gadih kembali membenamkan tangguknya, berharap ikan-ikan kulaghi yang masih ada di lubuk kembali masuk ke dalamnya. Entah karena perhatiannya yang tengah terpecah atau memang nasib sial belaka, pada percobaan kedua itu, tak seekor pun ikan yang berhasil ia tangkap.

“Sepertinya ikan-ikan dari muara sudah semakin sedikit saja,” Junan kembali bersuara, kali ini ia sudah turun ke bibir lubuk. “Mungkin tak lama lagi ikan-ikan kulaghi sama sekali menghilang dari sungai ini.”

Gadih masih terus menyisir dasar sungai dengan ujung tangguknya. Satu-dua ekor ikan tersangkut juga di sana.

“Kudengar, perusahaan kayu milik bupati sudah setahun belakangan menebangi pohonpohon di hulu.” Junan meletakkan jala di pinggir sungai, lalu mencangkung di akar pohon pauh. “Dan kupikir itu hanya permulaan. Setelah hutan di sana dibabat, mereka tentu akan segera menanam bibit-bibit sawit. Dan tentu tak butuh waktu lama hingga pohon-pohon rakus itu menyerap semua air di sana sehingga sungai ini pun akan mengering.”

“Apa pedulimu?” Gadih sudah tak bisa lagi menahan diri. “Hidupmu tak bergantung sama sekali pada hutan dan sungai ini. Jika kau mau, kapan pun kau bisa pergi meninggalkan kampung. Terbang bebas ke mana pun kau suka!”

Gadih keluar dari lubuk. Setelah berkali-kali hanya menangguk dedaunan dan bunga pohon, tentu tak ada lagi alasan baginya untuk berlama-lama di sana. Ikan-ikan kulaghi yang tak seberapa itu sepertinya memang sudah tidak ada lagi yang tertinggal.

“Kau juga bisa terbang ke mana saja kau mau,” ujar Junan sambil memainkan sepotong ranting.

“Aku bukan orang bebas sepertimu.” Gadih mulai membuka langkah menuju jalan setapak. Junan berdiri, menyambar jalanya, dan segera menyusul Gadih. Mengetahui laki-laki itu berjalan di belakangnya, Gadih memutar badan.

“Tolong, aku tak ingin orang-orang terus menyebar gunjingan mengenai kita.  Berhentilah. Kembalilah ke Malaysia. Sampai kapan pun, aku tak akan pergi meninggalkan Angah Nuan.”

“Kau bisa ikut denganku ke Malaysia. Bawa Lian. Aku punya orangtua angkat di Kelantan yang bisa menampung kita sementara.”

Baca juga  Daun-Daun Ketapang

Gadih menatap Junan lekat-lekat. “Aku ini istri orang!” Ia hampir saja memukulkan tangguknya ke kepala laki-laki itu. “Kau pikir aku masih Gadih yang sama, yang dulu kau tinggalkan begitu saja ketika ia meminta pertanggungjawaban darimu?”

“Maafkan aku, Gadih. Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku.”

“Tak ada gunanya lagi meminta maaf.” Gadih mempercepat langkah. “Dan tolong, jangan pernah lagi menemuiku. Mulailah hidupmu sendiri. Jika umurku panjang, akan kuceritakan tentang kita pada Lian.”

Junan tahu tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk membujuk perempuan itu.

Di pondok, setelah membersihkan ikan-ikan yang berhasil ia tangkap, Gadih segera menyalakan api di dapur. Lian masih tidur, sementara Angah Nuan sudah menghabiskan kopinya.

“Angah sudah lapar?” tanya Gadih sambil mengangkat periuk ke atas tungku. “Ini, aku akan memasak tumis ikan.”

Terdengar derit dipan kayu. “Jadi, kau bertemu Junan di sarasah?”

“Sudahlah, Ngah. Aku tak ingin membicarakan itu lagi.”

“Kau masih muda, Gadih. Kau berhak mendapatkan kehidupan yang lebih layak.” Derit dipan kembali terdengar. “Junan, aku yakin, bisa memberimu semuanya.”

Gadih duduk di depan tungku, menatap api yang mulai melahap kayu.

“Sampai kapan kau bisa membohongi dirimu sendiri. Aku sekarang sudah lumpuh, sudah tak mampu lagi menafkahimu sebagai seorang suami. Lagi pula, aku sadar, setelah tak ada lagi yang mampu menyembuhkan kakiku yang membusuk, seharusnya aku kembali saja ke rumah Amak. Dan, kau, kau bisa memulai kembali hidup baru.”

Mata Gadih berkaca-kaca. “Sampai detik ini, aku tak pernah berpikir untuk meninggalkan Angah. Kalau bukan demi kami, Angah tentu tak harus turun naik bukit, mengangkut kayu-kayu balok. Dan tentu Angah tak akan jatuh ke ngarai…”

“Itu sudah nasibku, Gadih.”

“Celaka sekali aku sebagai istri jika pergi di saat Angah seperti ini…”

Tumis ikan di periuk sudah matang, dan Gadih segera memindahkannya ke dalam mangkuk.

“Kau tak perlu menanggung beban ini sampai akhir hidupmu. Kau bisa berbahagia bersama Junan. Pergilah. Ikutlah bersamanya ke Malaysia.”

Gadih keluar mengambil air di bak penampungan. Sebelum kembali masuk, ia berhenti sejenak di depan pintu, memandang ke ujung tanjung, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali warna kelabu menyungkup hatinya. Dan, lihatlah, bahkan di penghujung musim sekalipun, pohon tilan-tilan masih menyisakan bunga-bunganya yang merah menyala. (M-2)

Catatan:

[1] Air terjun

Bekasi, 2020

Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul Di Palung Terdalam Surga bisa dibaca di Pitu Loka (2019).

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: