Amrin Zuraidi Rawansyah, Cerpen, Pontianak Post

Lanting Jamban Terakhir

2.7
(3)

Delapan hari setelah perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pak Ambin berdiri tepat di ambang pintu. Napasnya berat. Sepasang matanya yang kelabu, menyipit dan menatap lurus ke depan. Setelah menoleh ke kanan kiri, ia menunduk. Tangan kirinya memegang sarung parang yang terbuat dari kayu peluntan [1]. Terdapat sejumlah ukiran motif dan lafaz. Tangan kanannya pelan-pelan bergerak menyentuh dan mengelus hulu parang. Bentuknya kepala elang, terbuat dari akar cempedak air [2]. Ia mengangguk. Sesaat kemudian kedua tangannya bergerak ke bagian perut. Memeriksa ikatan tali parang yang terbuat dari pilinan kulit kayu Kepuak [3].

Selesai menarik kuat-kuat simpul tali, ia kembali menatap ke depan. Tiga kali tarikan napas, ia melangkah ke teras dan terus menuruni tangga rumah. Sampai di anak tangga terbawah, ia mengenakan sandal jepit, membalikkan badan dan kembali berjalan dengan langkah-langkah lebar menyusuri jalan yang membelah halaman menuju gerbang pagar.

“Pak Ngah! Tunggu!”

Pak Ambin berhenti. Sesaat kemudian, ia mendengar langkah-langkah terburu menuruni tangga. Lalu suara sandal yang cepat menapaki jalan halaman. Lantas terdengar hela napas yang agak memburu di belakangnya.

“Bahkan, Pak Ngah… ketika terakhir kali tim datang… seminggu sebelum perayaan… parang pusaka itu masih di loteng rumah. Tapi hari ini…”

“Ini hari penentuan, Ugoi.”

“Apakah hari ini… parang akan ditarik dari sarungnya?”

“Kita lihat saja nanti.”

“Tapi…”

***

Selesai mendapat pengarahan dari kepala kantor, duapuluh lima orang Tim Pelaksana segera meninggalkan halaman kantor. Dengan seragam hijau lumut, mereka berjalan rapi dalam formasi empat baris, menuju dermaga milik Pemda di tepian Kapuas. Di belakang tim, Kemalawati, sang kepala kantor, yang mengenakan pakaian dinas lapangan, berjalan didampingi seorang asisten dan dua orang pewarta.

Di belakang mereka, ikut pula enam orang staf pemerintah daerah.

“Kita akan menuju desa Nanga Buluh, Bu?” tanya wartawati berkerudung putih.

Sambil tetap melangkah, Kemalawati menoleh ke kanan dan mengangguk.

“Program relokasi lanting jamban ini,” kata wartawan berbadan gempal dan berambut gimbal, “mendapat kritik dari sejumlah kalangan.”

Kemalawati menoleh sebentar ke kiri. “Menurut mereka, lanting jamban adalah sebuah hasil budaya. Apa pendapat Ibu terhadap kritikan tersebut?”

“Hasil budaya?” tanya Kemalawati sambil melambatkan langkahnya, “Apa mereka paham sejarah? Apa mereka tahu, ratusan tahun lalu, leluhur kita tidak membuat permukiman di tepi sungai besar karena alasan keamanan?”

“Bukankah hasil budaya adalah sesuatu yang dianggap baik, lalu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya?” tanya wartawan berbadan gempal lagi.

“Leluhur jaman dulu, mereka membuat yang terbaik untuk kebutuhan jaman mereka. Sekarang, sudah ada teknologi yang lebih baik, yang lebih sehat.”

“Teknologi keramik water closed, itu dari luar,” sambung wartawati berkerudung putih. “Lantas, bagaimana dengan teknologi dan kebudayaan kita, Bu?”

“Begini, ya. Banyak yang mengira saya memuja teknologi luar dan meremehkan kebudayaan sendiri. Padahal tidak seperti itu. Saya lahir di kampung tepian Kapuas. Kebudayaan leluhur kita luar biasa. Banyak yang masih ada hingga sekarang. Tahu tentang mesin kayu untuk memerah batang tebu? Tahu tentang teknologi leluhur membuat mentega dari buah tengkawang? Tahu tentang filosofi membangun rumah? Pengawetan makanan? Tahu tentang aneka anyaman? Juga alat kerja dan persenjataan perang? Masih banyak lagi. Ambil contoh parang. Tiap wilayah memiliki ciri khas. Dan setiap parang didesain khusus untuk keperluan tertentu. Tapi tentang lanting jamban, kita harus berani mengadakan koreksi.”

Mereka sudah memasuki area dermaga. Tiga buah long boat dan dua buah speed boad berjejer rapi. Anggota tim masuk dengan tertib ke dalam boat-boat operasional tersebut.

“Koreksi demi masalah kesehatan?” tanya wartawan berbadan gempal dengan volume suara agak dinaikkan, sebab mesin-mesin mulai dinyalakan.

“Lebih dari itu. Kesehatan masyarakat dan juga citra Kapuas. Kita harus bisa menghapus stigma Kapuas sebagai kakus terpanjang sedunia.”

***

“Tapi, Pak Ngah. Kabarnya hari ini tim langsung dipimpin Unggal Mala.”

“Biar. Pak Ngah tak peduli. Akan Pak Ngah ajarkan padanya lagi tentang Kapuas, lanting jamban dan manusia-manusia yang hidup di aliran sungai terpanjang di republik ini.”

Baca juga  Jam

Bibir Ugoi membuka, tapi tiba-tiba menutup cepat. Ia mengalihkan tatapannya, dari yang semula ke sosok adik kandung almarhum ayahnya, sekarang ke arah sebatang pohon kelapa di tepi Kapuas. Pelepahnya menari-nari. Batangnya meliuk oleh angin barat daya. Di bawah pohon kelapa, terdapat sebuah pelantar atau bangku panjang yang terhubung ke pohon mangga kweni. Tiga orang warga desa, dua lelaki dan satu perempuan, duduk di situ. Mereka diam mengamati Pak Ambin dan Ugoi di gerbang pagar.

Pak Ambin melangkah menuju pelantar. Tiga warga di bangku pelantar seketika berdiri saat tahu arah tujuan Pak Ambin. Ugoi terdiam. Matanya tertuju ke sosok sang paman yang terus berjalan, sedangkan benaknya tertuju pada kelebat kecamuk dalam diri.

Sejak tinggal di Nanga Buluh setamat Sekolah Menengah Pertama tiga tahun lalu, Ugoi sering berbincang dengan Pak Ambin, termasuk tentang lanting jamban. Ia memahami sikap Pak Ngah. Bagi Pak Ngah, lanting jamban tak sekadar benda yang mengapung di atas sungai, terbuat dari batang kayu, diberi lantai dan dilengkapi sebuah bangunan untuk keperluan buang air. Lanting jamban tak hanya untuk keperluan mandi, cuci dan kakus. Lanting jamban adalah sebuah lambang. Keberanian dan pengakuan keberadaan diri.

“Jaman dahulu, Ugoi,” kata Pak Ngah suatu ketika, “ketika sungai belum dijadikan sebagai jalan raya, pilih-pilih orang yang berani bermukim di tepi sungai besar seperti Kapuas.” Pak Ngah mengakhiri kalimatnya dengan gerakan tangan kanan menebas leher sendiri.

Sejak masa kerajaan, kolonial Belanda, kemerdekaan hingga orde baru, Kapuas mengalami masa jaya sebagai jalan raya. Lanting jamban menjelma sebagai dermaga, pelabuhan atau bandara. Tak cuma untuk pengadaan barang-barang dengan kapal tongkang, kapal bandong [4] dan kapal klotok peraeh [5], tetapi juga melepas dan menyambut penumpang. Baik kenalan, kerabat ataupun kekasih hati yang merantau ke negeri orang.

Di kesempatan lain, Pak Ngah cerita tentang kapal bandong yang kini semakin berkurang keberadaannya. “Nenek kami, memiliki sebuah cita-cita tertinggi, yakni punya anak yang kerja di kapal bandong. Dan cita-cita itu dipenuhi oleh anak sulungnya, ayah kami, kakek kalian.”

Ugoi menarik napas panjang sebelum melangkah menyusul Pak Ngah. Ia memahami. Sangat memahami. Tapi masalahnya, tim kali ini dipimpin langsung oleh Unggal Mala. Apa yang akan terjadi? Apa yang yang akan dilakukannya jika ayah dan anak tungggalnya yang sama-sama keras kepala itu bertemu dengan sikap dan kepentingan masing-masing?

***

Dua buah speed boat berjajar membelah arus menghiliri Kapuas. Limapuluh meter di belakang, tiga buah long boat berjejer mengikuti. Semuanya berkap biru langit dengan cat lambung jingga. Kiri dan kanan lambung terdapat tulisan biru “BADAN LINGKUNGAN HIDUP”, diapit lambang berupa sketsa Pohon Keabadian. Setiap boat didorong sepasang mesin tempel 60 PK, melaju dengan kecepatan sedang. Belakang tiap boat membuat garis-garis gelombang serupa huruf V. Tiap pematang gelombang berlomba-lomba mencapai tepian.

Setelah melewati sebuah teluk, speed boat paling depan bagian kanan, kap depannya terbuka. Kemalawati, berkerudung hijau dan berkacamata hitam, berdiri sambil memegang kerangka kap. Angin mengibarkan kerudungnya.

Matanya menatap ke permukiman penduduk di sebelah kanan. Kampung Sungai Obak. Tak banyak yang berubah. Kecuali sejumlah bangunan walet dan tak ada lagi lanting-lanting jamban. Boat terus melaju. Sesekali bermanuver menghindari kapar [6] atau bambu penanda rawai [7].

Setelah bagian hilir permukiman dilewati, Kemalawati menoleh ke kiri. Tak lama kemudian terlihat sebuah permukiman lagi. Kampung Sawai. Sama. Tak banyak perubahan. Kemalawati teringat masa-masa sekolahnya puluhan tahun silam. Tiap liburan sekolah pulang kampung. Ia masih mengingat dengan baik tiap teluk, tanjung, tepian, pepohon besar, permukiman dan lain-lain.

Setelah melewati enam permukiman, long boat siap memasuki sebuah teluk. Beberapa saat lagi, setelah menikung di teluk, akan terlihat sebuah permukiman. Desa di muara sungai buluh, desa Nanga Buluh. Kemalawati memejamkan mata. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang.

***

Gerbang pagar setinggi pundak Ugoi, terbuat dari sepasang kayu belian dua belas kali dua belas sentimeter. Ugoi terdiam sejenak mengamati bayangan lurus di atas tanah yang dibentuk oleh gerbang pagar kiri. Bayangan itu membujur ke barat sepanjang kira-kira dua pertiga tinggi tiang pagar. Ugoi menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Mengangguk-angguk. Kemudian mengangkat kepalanya, menatap ke bangku pelantar. Pak Ambin tampak berdiri dan berbincang dengan dua tetua kampung, Pak Ocid dan Tok Uban. Sedangkan Mak Ipah, istri Pak Ocid tetap duduk dengan jidat berkerut menyimak pembicaraan.

Baca juga  Pengakuan

Sekali lagi Ugoi menghela napas panjang, kemudian melangkah pelan menuju pelantar. Perlu sekitar dua puluh langkah untuk Ugoi sampai ke tujuan. Semula ia ingin ikut berdiri dan bergabung dengan pembicaraan. Tapi demi mengamati raut serius tiga orang yang berbincang, ia memilih duduk di bagian pelantar tak jauh dari Mak Ipah. Mah Ipah menatapnya sejenak, mengangguk dan kembali menyimak tiga orang yang bercakap-cakap.

“Kami tahu, Bo [8],” kata Pak Ocid, “terakhir kali parang ini ditarik dari sarungnya saat kejadian Pengorek [9], dua puluh lima tahun lalu.”

“Dan kami mohon, Duan [10] tidak terbawa nafsu amarah,” sambung Tok Uban. “Kita sudah jadi orang tua. Harus memberi contoh yang baik ke anak-anak kita.”

Pak Ambin menundukkan kepalanya sedikit. Dengan mata menyipit ia menatap bergantian dua lawan bicaranya. Mulutnya terbuka sedikit. Rahang bawahnya bergerak ke kanan kiri beberapa saat. Saat bibirnya kembali terkatup, tulang pipi dan tulang rahangnya menonjol.

“Contoh,” desis Pak Ambin, “iya, contoh. Akan kuberikan contoh pada anakku.”

Beberapa detik usai mengucapkan kalimatnya, Pak Ambin tiba-tiba menoleh ke arah Kapuas. Pak Ocid, Tok Uban menoleh ke arah yang sama. Demikian juga Mak Ipah dan Ugoi di bangku pelantar. Meski belum terlihat, tapi deru mesin-mesin speed boat terdengar dari arah timur.

Ugoi bangkit dari bangku pelantar, berjalan dan kemudian berhenti di samping kiri Pak Ambin. Deru mesin semakin jelas. Tapi deru napas Pak Ambin juga jelas, berat dan semakin cepat. Ugoi tak berani menoleh.

“Mohon Duan berpikir panjang,” kata Tok Uban, “jangan sampai nanti menjadi sesalan.”

Lima buah boat telah menampakkan diri.

“Kalau Abo sampai pendek akal, mohon maaf, Bo,” lanjut Pak Ocid dengan suara gemetar, “saya tak mungkin tinggal diam.”

Lima buah boat terus melaju.

“Jangan lupa, Ocid,” sahut Pak Ambin, “dulu ketika kau pertama kali belajar, aku yang dipercaya Guru untuk melatihmu kuda-kuda.”

Lima buah boat masih melaju dan kian mendekat.

Tok Uban mendelik sekian detik pada Pak Ocid, lantas menepuk pelan pundak Pak Awan. “Cobalah Duan berbicara baik-baik sekali lagi dengan Nak Mala. Dari hati ke hati.”

Lima buah boat semakin mendekat.

“Lebaran Haji tiga bulan lalu, kami sudah berbincang lama. Dan sampai tiga hari lalu, tiga buah surat resmi disertai surat pribadi Mala, sudah datang dan kubaca. Semuanya jelas. Pandangan kami tanpa titik temu.”

Deru mesin-mesin boat memelan. Seperti menari, lima boat yang semula mengikuti arus Kapuas, berbelok untuk merapat. Deru mesin bersahut-sahutan menyesuaikan sisa kecepatan dengan kekuatan arus air untuk bisa merapat. Satu buah speed boat dengan kap depan terbuka, merapat ke lanting jamban. Sisanya merapat pada steigher di hulu dan hilir lanting jamban. Mesin-mesin dimatikan.

Mala dengan tangkas keluar dari speed boat dan kemudian berdiri tegak di lanting jamban. Wajahnya agak tengadah ke arah daratan. Tangannya memberi kode pada motoris. Speed boat yang berisi asisten, dua pewarta dan lima anggota tim, menjauh beberapa kaki dari lanting jamban dan hanyut. Dengan haluan mengarah ke hulu, tak lama kemudian speed boat itu bergabung dengan boat lain di steigher hilir lanting jamban.

Ugoi terperanjat saat lengan kanannya disentuh Pak Ambin. “Goi. Yuk!”

Ugoi menatap Pak Ambin, tapi yang ditatap sudah lebih dulu berjalan menuruni jembatan kayu tebing sungai. Ugoi melihat ke arah Tok Uban dan Pak Ocid. Mereka mengangguk. Ugoi melangkah sambil mengamati sekeliling. Warga, entah sejak kapan, sudah berkerumun di titik-titik tertentu. Semuanya, tua-muda, lelaki-perempuan, menatap ke arah lanting jamban Pak Ambin.

Ugoi gegas menuruni jembatan kayu tebing sungai. Lalu berjalan cepat menuruti undak-undak jalan menuju papan titian. Saat berjalan di atas titian yang terbuat dari papan belian tebal, ia melihat Unggal Mala sedang menyalami Pak Ambin dengan takzim. Begitu tiba di samping kiri Pak Ambin, satu-satunya yang terbersit dalam pikirannya adalah harus segera menyalami Unggal Mala.

Baca juga  Keraguan nan Membatu

Ugoi maju dua langkah dan menyalami Mala. Selesai bersalaman, Ugoi terdiam. Haruskah aku mundur dua langkah, pikirnya, kembali ke samping Pak Ambin? Ataukah cukup mundur selangkah, lalu berdiri seolah menengahi mereka?

“Goi,” panggilan Pak Ambin membuat Ugoi mundur selangkah dan membalikkan badan, “cabut tiang-tiang penyangga.”

Setelah sekian detik terperangah, Ugoi mengangguk. Lalu mulai bergerak ke arah tiang lanting jamban di bagian hilir yang terbuat dari kayu jonger [11]. Sambil melepaskan tali pengikat dan mencabut tiang jonger di buntut lanting, ia tak menangkap adanya percakapan antara si ayah dan si anak tunggal. Usai mencabut dan meletakkan tiang jonger seukuran pergelangan tangan orang dewasa ke lantai, ia berjalan ke bagian kepala lanting jamban sambil melirik. Ternyata dua anak beranak itu tidak sedang berhadap-hadapan, mereka malah sedang memperhatikannya.

Tiang jonger kedua agak lebih alot. Tanah dan lumpur dasar Kapuas seolah mengigitnya. Dua pemuda mendekat ke pangkal papan titian, menawarkan diri untuk membantu Ugoi, tapi ditolak Pak Ambin. Beberapa anggota Tim yang berada di steigher hulu lanting, meminta izin untuk menolong, tapi Mala menggeleng.

“Goi, kau naiklah,” ujar Pak Ambin setelah tiang kedua tercabut, “kami tak lama. Jaga rumah.”

Ugoi menuruti. Berhati-hati ia melewati papan titian yang tak stabil. Karena tiang penyangga-penyangga telah dicabut, posisi lanting jamban hanya ditopang titian dan dua tali tambang. Satu tali di kepala lanting yang terikat pada akar pohon bungur. Tali lain di buntut lanting terikat pada tonggak kayu di pantai sungai.

Saat menjejakkan kaki ke tanah pantai sungai, Ugoi membalikkan badan. Seketika itu juga ia menyiapkan diri untuk berlari melompat di atas papan titian untuk kembali ke lanting jamban, sebab melihat Pak Ambin telah memegang gagang parang dan pelan-pelan mencabutnya. Tapi, demi melihat Mala tetap tersenyum, Ugoi menahan diri.

Pak Ambin menyerahkan parang dengan khidmat pada Mala. Mala mengangguk. Meyambut parang. Kemudian bergerak ke ikatan tali tambang di buntut lanting jamban. Sambil sedikit membungkuk, dengan satu kali tebasan, tali tambang itu putus. Posisi lanting jamban berubah.

Mala mengembalikan parang pada Pak Ambin. Sekarang, Pak Ambin melangkah ke kepala lanting jamban dan memotong tali tambang. Tali itu jatuh dan seolah mengelepar saat mencapai muka air dan kemudian tenggelam.

Parang disarungkan kembali. Pak Ambin berjalan ke tengah lanting jamban dan berdiri di samping Mala yang sedang menatap Ugoi.

“Unggal menemani Pak Ngah sampai ke muara. Mungkin sepekan. Nanti Unggal bawa Pak Ngah kembali. Jaga rumah baik-baik.”

Perlahan lanting jamban itu hanyut.

Mesin-mesin boat dihidupkan. Ugoi dan semua warga, tak ada yang bersuara, saat lanting jamban terakhir itu dikawal lima buah boat bergerak pelan meninggalkan kampung, mengikuti arus Kapuas. []

Catatan

[1] Peluntan nama binomialnya Artocarpus sericicarpus.

[2] Cempedak air, nama binomialnya Artocarpus teysmannii.

[3] Kepuak, berasal dari kulit pohon Kepuak, nama binomialnya Artocarpus elasticus.

[4] Kapal bandong, kapal dagang khas sungai Kapuas.

[5] Peraeh, pedagang yang membawa serbaneka kebutuhan masyarakat sekaligus membeli hasil kebun dan hutan.

[6] Kapar, rupa-rupa benda yang hanyut di aliran Kapuas.

[7] Rawai, salah satu jenis alat tangkap ikan.

[8] Kata “Bo” singkatan dari “Abo” yang berarti “Abang”.

[9] Pengorek, orang atau kelompok yang meneror warga dengan isu mencari kepala manusia. Konon, kepala manusia digunakan untuk tumbal pembangunan jembatan atau proyek-proyek besar lainnya.

[10] Duan, sapaan sopan yang berarti “Anda”.

[11] Jonger, nama binomialnya Ploiarium alternifolium (Vahl) Mech.

Average rating 2.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: