Cerpen, Suara Merdeka, Yuditeha

Sejarah Orok

4.8
(5)

Meski matahari tertutup mendung, tidak lantas udara menjadi adem. Siang itu memang tidak begitu panas, tetapi terasa lebih gerah dari hari-hari sebelumnya.

Jayanti, murid perempuan berambut kepang satu, kebelet pipis saat pelajaran. Meski tahu bel istirahat sebentar lagi, karena tak kuasa lagi menahan, ia berdiri dari kursi, permisi pada pak guru. Begitu keluar kelas, Jayanti lari kecil agar cepat sampai ke kamar mandi. Tepat di tikungan pojok selasar kelas, dia bertabrakan dengan Bu Tutik, guru muda yang masih lajang di SMA itu. Dia tergesa-gesa keluar dari kamar mandi. Jayanti dan Bu Tutik sama-sama terjatuh. Bu Tutik marah-marah.

Karena terkejut dan jatuh, bahkan dimarahi, sejenak Jayanti lupa sedang kebelet. Perlahan Jayanti bangkit, lalu berjalan gontai menuju ke kelas, tetapi kemudian tersadar. “Oh iya lupa, mau ke kamar mandi,” gumamnya sembari buru-buru balik arah.

Di kamar mandi, dia menaikkan rok, siap memelorotkan celana hendak pipis, lalu pandangannya tertuju ke lantai. Seketika Jayanti terkejut karena di lantai ada orok tergeletak. Spontan Jayanti menaikkan celana. Tidak jadi pipis, lalu gegas pergi. Jayanti lari cepat menuju ke kelas.

“Ada orok, ada orok!” teriak Jayanti begitu sampai di ambang pintu kelas.

Mendengar teriakan Jayanti, kontan teman di kelas gaduh. Pak guru langsung mendekati, bercakap dengan Jayanti. Pak guru menyuruh murid di kelas belajar sendiri, tidak dia perkenankan keluar kelas. Dia pergi bersama Jayanti untuk memeriksa keadaan, sekalian memastikan apakah teriakan Jayanti benar. Pak guru dan Jayanti tidak mengobrol selama menuju ke kamar mandi. Ketika memeriksa ruangan kamar mandi dan tidak melihat orok seperti laporan Jayanti, pak guru heran dan menyelidik Jayanti.

“Kamu bercanda?” tanya pak guru.

Jayanti menggeleng dan tampak sedang berpikir. Pasti tentang apa yang terjadi saat itu. Apa yang dia yakini dan apa yang orang lain lihat ternyata berbeda. Jayanti bingung.

“Lalu apa ini?” tanya pak guru.

“Tapi…,” sahut Jayanti.

“Tapi apa?”

“Tadi benar-benar ada, Pak.”

“Buktinya tidak ada. Sudah, cepat kembali ke kelas!”

“Tapi, Pak….”

“Begini. Mungkin kamu tidak sehat.”

“Tadi beneran, Pak!”

“Beresi perlengkapan sekolahmu, lalu pulang. Istirahat di rumah,” kata pak guru.

“Tapi….”

“Tidak usah ngeyel.”

Jayanti akhirnya pulang. Tiba di rumah, ibunya tidak ada. Karena merasa baik-baik saja, dia tidak istirahat. Saat pulang dan tahu Jayanti sudah di rumah, ibunya heran dan mempertanyakan hal itu. Jayanti tidak menceritakan apa yang terjadi, tetapi mengatakan hari itu semua murid dipulangkan awal karena para guru rapat. Ibunya percaya. Hari itu berlalu tanpa sesuatu yang mencurigakan, baik pada ibunya maupun Jayanti.

Baca juga  Bayi

Menjelang malam, Jayanti makan sembari menghidupkan televisi yang menyiarkan berita. Awalnya Jayanti tidak fokus pada acara televisi. Namun beberapa waktu kemudian dia terkejut. Pandangan matanya lekat mengarah ke televisi. Apa yang dia lihat dan dengar ternyata laporan kejadian yang hampir sama dengan peristiwa di sekolahnya. Berita tentang orok di kamar mandi sekolah menengah atas. Bahkan penemuan orok itu tidak hanya di satu sekolah. Jayanti memperhatikan berita itu secara saksama.

Saat tidur, dia bermimpi buruk, lalu terbangun tengah malam. Dia tidak bisa tidur lagi. Pikirannya masih tertuju pada mimpinya hingga sulit melelapkan diri. Bahkan sampai fajar tak ada tanda-tanda dia bisa tidur. Benaknya memang memikirkan mimpi itu.

Dalam mimpi, Jayanti menyaksikan kejadian mengerikan. Dia tidak melihat hantu, tetapi darah. Jayanti melihat hampir seluruh teman perempuan di sekolah mengalami perdarahan hebat di kemaluan. Rok seragam mereka bernoda darah. Anehnya, ketika dia beri tahu mereka tidak menyadari. Bahkan mengatakan tidak melihat rok mereka bernoda darah.

Hari itu Jayanti masuk sekolah dan menceritakan pada pak guru tentang berita di televisi semalam. Pak guru menanggapi sambil lalu. Namun ketika Jayanti kembali membuat keributan dengan mengatakan melihat ada orok di salah satu kamar mandi sekolah, pak guru ditemani beberapa murid langsung memeriksa kamar mandi itu. Ketika tidak menemukan fakta, sebagian besar guru dan hampir seluruh teman makin yakin: Jayanti benar-benar sakit jiwa. Kembali Jayanti dipulangkan, diantar beberapa teman, karena pak guru tidak ingin terjadi sesuatu pada diri Jayanti di jalan.

Saat Jayanti dalam perjalanan pulang, sekolah kembali geger. Bu Tutik ditemukan pingsan dekat kamar mandi khusus bagi para guru. Beberapa murid segera melapor ke kantor guru. Bu Tutik dibawa ke ruang UKS. Pak guru menyuruh seorang murid memanggil dokter. Begitu datang, dokter langsung memeriksa Bu Tutik, yang tak lama kemudian siuman.

Baca juga  Maksim dan Perihal Mobil

“Apa yang terjadi, Bu Dokter?” tanya Bu Tutik.

Dokter menjelaskan sesuatu.

“Bu Dokter juga melihat ada sesuatu di kamar mandi guru?”

“Saya tidak mengerti maksud Ibu. Begitu datang, saya langsung menuju ke sini.”

“Oh, maaf, maaf.”

“Tidak apa-apa,” sahut dokter sembari memeriksa Bu Tutik.

“Bu Dokter sudah menikah?”

Gimana?”

Bu Tutik mengulangi pertanyaan.

“Belum ketemu jodoh, Bu.”

“Jadi belum pernah punya anak ya?”

Dokter tersenyum.

“Oh, maaf, maaf.”

“Tidak apa-apa, Bu. Ibu kelelahan dan butuh istirahat. Ini obat untuk mengatasi lelah dan vitamin. Minum setelah makan ya, Bu,” kata dokter.

Saat dokter memberesi peralatan, Bu Tutik memanggil.

“Ada apa, Bu?” tanya dokter.

“Tidak jadi, Bu,” jawab Bu Tutik tampak seperti bingung.

Dokter permisi pergi. Baru beberapa langkah menuju ke pintu keluar, kembali Bu Tutik memanggil. Dokter menoleh, lalu kembali mendekati. “Perlu bantuan, Bu?” tanya dokter lembut.

“Bu Dokter jangan bilang-bilang ya,” kata Bu Tutik.

“Ada apa, Bu?”

“Saya tadi melihat orok di kamar mandi guru,” bisik Bu Tutik.

“Maksud Ibu?”

Bu Tutik kembali mengulangi perkataan. Wajah dokter menampakkan keheranan.

“Coba Bu Dokter lihat, apa masih ada di sana,” kata Bu Tutik lagi.

“Baiklah, akan saya lihat,” sahut dokter sebelum beranjak.

Sampai di luar ruangan, dokter tidak pergi ke kamar mandi, tetapi langsung menemui salah seorang guru.

“Kelelahan parah bisa memicu halusinasi. Kondisi Bu Tutik sepertinya begitu. Sebaiknya diminta cuti dulu,” kata dokter.

“Baik, Bu Dokter. Nanti saya sampaikan kepada Kepala Sekolah,” jawab guru itu.

Sebelum berlalu, dokter memberikan masukan perihal kebersihan sekolah. Meski tidak dari kamar mandi, dokter menyatakan kamar mandi guru banyak kotoran dan sangat bau. Dokter menjelaskan, kamar mandi adalah cermin paling jujur untuk menggambarkan kepribadian. Karena itu, dia menyarankan sekolah menjaga kebersihan, terlebih kamar mandi.

Pak guru merasa tertohok atas kritik dokter. Dia merasa tidak nyaman. Begitu dokter berlalu, dia segera mencari penjaga yang bertanggung jawab mengurusi kebersihan.

“Bapak sudah bersihkan kamar mandi?” tanya pak guru begitu bertemu penjaga sekolah.

“Sudah, Pak.”

“Kamar mandi guru?”

“Sudah, Pak.”

“Coba cek lagi. Baru saja ada laporan, di sana banyak kotoran dan bau.”

Baca juga  Tiga Perempuan Murung yang Terkurung dalam Sebuah Cerita Pendek yang Murung

“Saya baru saja dari sana, Pak. Bahkan hari ini sudah tiga kali saya bersihkan.”

“Pokoknya cek lagi, sekarang!”

***

Di rumah, Jayanti merasa baik-baik saja. Namun karena sudah diperlakukan seperti orang sakit, beberapa hari kemudian dia tidak masuk sekolah. Orang tuanya pun akhirnya tahu dan membawanya ke rumah sakit. Setelah memeriksa, dokter mengatakan Jayanti sehat.

Hari berikutnya Jayanti kembali masuk sekolah berbekal surat keterangan sehat dari dokter. Pak guru belum yakin atas keadaannya. Jayanti menyerahkan surat keterangan dokter sebagai bukti. Melihat surat itu, mau tidak mau pak guru memercayai.

Saat pelajaran, seperti menjadi kebiasaan, Jayanti kebelet pipis lagi. Meski tahu bel istirahat sebentar lagi, karena tak kuasa menahan, ia berdiri dari kursi, permisi kepada guru. Begitu keluar kelas, Jayanti lari kecil agar cepat sampai di kamar mandi. Tepat di tikungan pojok selasar kelas, dia bertabrakan dengan Bu Tutik yang tergesa-gesa keluar dari kamar mandi. Jayanti dan Bu Tutik sama-sama terjatuh. Bu Tutik marah-marah.

Karena terkejut dan jatuh, bahkan dimarahi, sejenak Jayanti lupa sedang kebelet. Dia perlahan bangkit, lalu berjalan gontai menuju ke kelas, tetapi kemudian ingat sesuatu, lalu buru-buru balik arah.

Dia merasa seperti pernah mengalami kisah serupa. Jayanti berusaha mengingat-ingat. Ingatan Jayanti mengemuka dan mengerucut pada satu kisah. Namun entah kenapa, ketika mengingat kembali kisah itu dia jadi ragu masuk ke kamar mandi. Ingatan Jayanti tertuju pada orok-orok yang pernah dia lihat. Keraguan Jayanti makin besar ketika membayangkan orang lain menganggap apa yang dia alami hanya sebagai ilusi. Akhirnya dia hanya berdiri terpaku di depan pintu. Jayanti tidak begitu menyadari saat itu ada murid perempuan berambut kepang satu masuk ke kamar mandi. Sedetik kemudian murid itu keluar, berlari sembari berteriak, “Ada orok, ada orok!” (28)

Yuditeha, pegiat Komunitas Kamar Kata Karanganyar, telah menerbitkan 16 buku. Buku cerpen terbaru Sejarah Nyeri (Marjin Kiri, 2020)

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: