Kompas, Maya Dewi Kurnia, NuBi

Semangat Raras

1
(1)

Raras tinggal di Desa Astanalanggar, Losari, Cirebon. Desa ini dikenal banyak melahirkan maestro tari topeng Losari Cirebon. Setiap pulang sekolah, Raras biasa berlatih menari di sanggar milik ibunya.

Namun, sejak pandemi Covid-19, aktivitas Raras terhenti. Sanggar terpaksa ditutup.

“Bu, aku rindu menari bersama teman-teman,” lirihnya. Ibu yang sedang menyapu lantai lantas mendekati Raras dan memeluknya.

“Sabar ya, Raras. Kita berdoa semoga pandemi ini cepat berlalu,” ujar Ibu.

Di sanggar, Raras tidak sekadar berlatih menari, tetapi juga menjadi guru tari untuk teman-temannya. Ada sekitar 25 anak yang dilatih Raras dan Ibu setiap hari secara cuma-cuma. Mereka bahkan ada yang berasal dari desa tetangga.

Terlahir dari ibu yang penari tradisional, sejak usia empat tahun, Raras sudah dilatih menari. Sekarang di usianya yang genap sebelas tahun, beberapa jenis tari dari tari topeng Losari Cirebon telah dikuasainya.

“Raras, Ibu punya ide,” kata Ibunya. Ibu meminta Raras mengambil telepon genggam. Ibu kemudian menuliskan pesan ke salah satu grup tari yang dikelola beliau. Anggota grup itu adalah para orangtua dari anak-anak yang berlatih menari di sanggar milik Ibunya Raras.

“Selamat siang. Apa kabar? Semoga semuanya dalam keadaan baik. Saya ingin mengabarkan, mulai besok akan ada latihan menari secara online.” Begitu bunyi pesannya.

Raras tersenyum senang.

Keesokan harinya di sanggar, perlengkapan menari, seperti selendang dan topeng, sudah tertata di meja. Juga, sudah siap pengeras suara. Ada juga sebuah telepon genggam yang disandarkan pada sebuah tripod yang menghadap ke cermin.

Rencananya Ibu akan merekam Raras menari. Tapi, sebelumnya, Raras dan Ibu menyapa terlebih dahulu teman-teman Raras dan mengajak mereka tetap semangat berlatih.

Baca juga  Seekor Anjing Manis

“Baik, sekarang waktunya Raras menari,” kata Ibu.

Raras mengambil langkah siap. Saat musik mulai dibunyikan, Raras bergerak mengikuti irama musik tradisional. Setelah selesai, Ibu mengunggah rekamannya ke grup tari yang kemarin sudah dihubunginya.

“Bu, apakah kira-kira teman-teman akan ikut berlatih di rumah?” Raras penasaran.

“Sabar, kita tunggu saja,” jawab Ibu menenangkan.

Dua jam kemudian, Sinta, Mela, Tini, dan Ajeng mengirimkan video di grup.

“Raras, coba lihat ini ada video dari teman-temanmu,” kata Ibu.

Raras berlari mendekat ibu, dan keduanya lalu membuka satu per satu video yang dikirim teman-teman Raras.  Di ujung video tari kiriman Sinta, ada sepenggal ucapan terima kasih yang ditujukan kepada Raras.  Melihat itu, wajah Raras berubah semringah.

“Nah, meskipun sedang pandemi, kamu masih bisa menjadi pahlawan budaya buat teman-teman kamu,” kata Ibunya. Raras pun tersenyum senang. *

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: