Cerpen, Fajar Makassar, Muhammad Zulkifli

Si Bangrukulu

4.5
(2)

Semburat cahaya mentari mulai terlihat di ufuk timur. Ini adalah hari pertama aku tiba di Pangkep setelah dua tahun tak pernah menjamah kampung halamanku ini. Kebahgiaan kian membuncah ketika aku melihat burung-burung berkicau di dahan, kabut yang mulai naik ke gunung, dan mamak-mamak yang siap terjun ke sawah. Ini semua adalah pemandangan yang tidak pernah aku temui selama berada di ibu kota.

Sesuai jadwal yang telah kudesain sedimikan rupa selama liburan akhir tahun, minggu pertama adalah jadwal membantu Amma a’galung, setelah itu menghabiskan waktu membaca buku di taman dekat pos ronda. Rindu rasanya dengan aroma persawahan, gemercik airnya, terlebih desiran anginnya. Hingga hari ke delapan, mappadendang siap diritualkan sebagai bentuk syukur atas panen yang melimpah. Kegiatan ini menjadi sarana bersilaturahmi antara warga. Lagi-lagi aku mendapati pemandangan yang tidak akan bisa kutemui di perkotaan.

Satu minggu sudah cukup bagiku untuk berbaur dan bergumul dengan warga. Mereka adalah bagian dari diriku dan aku bagian dari mereka. Besok harinya karena tidak ada kerjaan, juga jadwal di list pertama liburanku telah usai, maka sekarang tiba giliran bagiku untuk menghabiskan waktu membaca buku di taman. Setelah tiba, aku jadi sadar apa yang dinamai taman di sini tidak sama dengan taman yang ada di kota dengan segala fasilitas bermainnya. Namun, taman ini cukup menjanjikan ketenangan. Di sana ada dua tempat duduk. Satu di bawah pohon rindang yang lebat. Dan satu lagi berada di pojok taman di bawah pohon jambu. Aku melihat tempat duduk di bawah pohon rindang sudah ditempati oleh seorang pria. Jadi aku beranjak menuju tempat duduk di pojok taman.

Baca juga  Mahkota Mawar, Niscaya Bertabur

Baru saja aku membuka buku, pria yang berada di bawah pohon rindang menatapku tajam. Tatapan yang dingin. Aku salah tingkah sendiri dibuatnya. Aku berusaha tidak mengusiknya lalu khusyuk mengonsumsi buku bacaanku. Namun beberapa menit kemudian, pria itu masih saja menatapku tajam, lalu sepersekian detik selanjutnya pria itu berjalan ke arahku, semakin lama langkahnya semakin cepat. Aku kaget dan termangu dibuatnya. Aku mengambil langkah seribu ketika pria itu berlari ke arahku. Aku kabur ke pos ronda. Untung di sana ada Pak Baco dan beberapa bapak-bapak yang lain. Aku berusaha mengatur frekuensi napas ketika bapak-bapak itu kaget melihatku yang tiba-tiba muncul.

“Eh kenapaki lari-lari begitu? Apa yang terjadi?” Tanya Pak Baco kaget.

“Itu… itu…” belum tuntas, Pak Baco memotong perkataanku.

“Itu itu apa? Bikin penasaran saja kau ini?”

“Itu… ada seseorang di taman yang mengejarku,” aku berusaha menjelaskan meski masih ngos-ngosan.

“Oh. Kukira apamih. Tidak usah takut. Itu orang gila, tapi tidak berbahaya jih. Namanya si Bangrukulu,” jelas bapak-bapak yang lain.

Jadilah pagi itu kami berbicara banyak tentang si Bangrukulu. Seingatku, dua tahun yang lalu tidak ada warga di sini yang bernama demikian, apalagi warga yang gila. Dari perbincangan kami siang itu di pos ronda, aku baru tahu kalau si Bangrukulu itu sebenarnya adalah si Pudding, penjual bale yang dulu langganan orangtuaku. Satu tahun yang lalu, ia ditinggal kawin oleh kekasihnya, lantaran uang panai yang ia miliki tidak cukup untuk mempersunting kekasih hatinya. Keluarga mempelai perempuan mempersyaratkan uang panai yang membuat otak Pudding meradang. Ia ditolak mentah-mentah lalu ditinggal kawin. Jadilah ia dendam kusumat hingga kewarasannya minggat dan berakhir jadi orang gila.

Baca juga  Tem Ketetem

Sebenarnya, ia dan kekasihnya saling mencintai, bahkan sempat bersiasat kawin lari. Namun peri cinta tidak bekerja dengan baik. Di pinggir jalan raya, mereka berdua tertangkap basah sedang menunggu bus antarprovinsi, hendak kawin lari di Gorontalo. Si perempuan dibawa pulang oleh bapaknya, dan si Pudding sendiri dimurkahi lalu dicecar habis-habisan. Nyalinya jadi ciut. Akhirnya, si Pudding terkapar di rumahnya beberapa bulan lamanya, hingga kewarasannya betul-betul minggat setelah ia mendengar kabar kalau kekasih hatinya telah dipersunting oleh orang lain dan hidup bahagia.

Aku jadi berempati medengar kisah si Bangrukulu alias si Pudding. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyaknya korban adat istiadat. Aku juga jadi paham, mengapa tetangga rumahku, si Andi Dagong, memilih istri perempuan jawa ketimbang perempuan bugis yang terkenal mahal. Setelah mendengar riwayat si Bangrukulu, aku sudah lega dan tidak takut lagi membaca di taman.

Besok harinya, aku kembali beranjak ke taman untuk menyantap buku bacaanku. Setelah tiba, aku tidak mendapati seorang pria yang duduk di bawah pohon rindang. Tanpa berpikir macam-macam, aku segera mengambil posisi di pojok taman. Ketika sedang khuysuk-khusyuknya menikmati untaian kata, tiba-tiba dari balik pohon rindang muncul sosok pria yang berpakaian kumal. Pria itu perlahan mendekat. Tampangnya sangat geram dan menakutkan. Sekonyong-konyongnya aku ketakutan dan bersiap-siap kabur. Pria berpakaian kumal itu lari ke arahku ketika aku kabur menuju pos ronda. Kulihat pria itu terus mengejarku. Aku terus berlari dengan napas terengah-engah. Dari kejauhan, Pak Baco sudah terlihat di pos ronda lalu aku berlindung di sana. Aku berdiri gemetaran di balik tubuh Pak Baco, melihat pria kumal itu terus mendekat ke arahku. Ia berjalan kaku, semakin mendekat, lalu menyerahkan sesuatu.

Baca juga  Dodolitdodolitdodolibret

“Ini… bukumu ketinggalan,” katanya kaku. (*)

Catatan

a’galung: Berkebun di sawah

mappadendang: Adat suku Bugis-Makassar pasca panen

bale: Ikan

panai: Uang belanja untuk mempelai wanita yang diberikan oleh mempelai pria. Bukan uang mahar.

MUHAMMAD ZULKIFLI. Lahir di Pangkep, 17 November 1997. Ia alumni Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: