Cerpen, Elvin Maulana Firdaus, Solopos

Siul Secangkir Kopi

4
(1)

Pagi mendung awan kelam menggantung. Angin mendesir. Daun-daun kering tak sanggup bertahan, lepas dari tangkai, berayun, jatuh lalu terbentur batu dan tanah. Dari jendela tak berkaca ia terus memandang. Mata lelaki tua yang sudah kusam dengan pandangan buram. Meskipun demikian matanya tak rela diam. Ia tetap menatap ke depan. Dibiarkannya angin memainkan rambut putihnya yang sedikit bergelombang. Sesekali ditatanya rambut itu agar tak ikut menghalangi pandangan. Ia tersenyum. Entah ingatan apa yang mem buatnya seperti itu. Gerimis jatuh. Suara hela napasnya perlahan hilang dikalahkan suara hujan.

“Hujannya semakin deras, Pak,” seorang wanita yang hampir sebaya muncul dari dalam membawakan secangkir kopi hitam panas. Aromanya begitu menyengat buyarkan lamunan lelaki tua.

“Tahu saja Ibu ini,” dilepaskannya sedikit senyum untuk wanita yang telah menemaninya puluhan tahun itu. Senyuman penuh arti. Senyuman ikatan keharmonisan mereka berdua yang tidak perlu diragukan lagi. “Dapur kita bocor lagi, Bu?”

“Sudah enggak, Pak. Bapak hebat.”

“Syukurlah,” lelaki tua itu menganggukkan kepala penuh kepuasan sambil menyeruput kopi yang asapnya tampak jelas melawan hawa dingin. Dirasakannya tegukan pertama. Wajah lelaki tua itu tampak heran. Panas yang mengalir hingga ke lambungnya terasa begitu nikmat. Jemari lelaki tua tidak langsung meletakkan cangkir itu kembali ke meja. Diarahkan lagi bibir cangkir itu ke bibirnya. Ada nafsu yang tidak mau dilewatkannya dari aroma dan nikmatnya kopi pagi ini.

“Kopi ini kenapa jadi enak begini, Bu? Tidak biasanya.”

Istrinya hanya tersenyum dan mulai membereskan buku-buku yang bergeletakan di meja dan kursi. Lelaki tua itu tidak mau nenunggu lama jawaban istrinya. Kembali ia pandangi luar jendela. Desut angin, desau dedaunan, keriang-keriut pohon bambu, dan detap air hujan di atas genting menjadi simfoni mahakarya agung Sang Pencipta. Sesekali dirasakannya tempias menerpa wajahnya.Namun semua itu semakin meyakinkan lamunannya pada cerita secangkir kopi.

***

“Pak Dirman! Pak Dirman!” dua orang murid tergopoh-gopoh mengejar Pak Dirman yang baru saja memasuki gerbang sekolah. Napasnya terengah-engah.

“Ada apa, Di? Ada apa, Wan?”

“Memet…. Memet, Pak! Memet babak belur, Pak!”

“Memet berkelahi sama Jamal! Tolong, Pak. Cepat, Pak!” ucap Wawan menegaskan apa yang disampaikan Didi sambil sesekali menggoyang besi boncengan sepeda onthel berharap agar Pak Dirman cepat memberikan reaksi.

“Hahh! Jamal? Jamal lagi? Ayo cepat!” dituntun sepedanya sambil berlari menuju ke tepat kerumunan.

“Awas! Awas! Awas, hoi! Ada Pak Dirman.” Seketika terbuka jalan meski sesak Pak Dirman terus menuju pusat perkelahian. Tampak Memet dan Jamal tengah berguling-guling saling mengunci lawannya. Sayup-sayup terdengar suara yang menyesalkan kehadiran Pak Dirman. Pertunjukan tentu segera berakhir.

“Berhenti! Sudah, Mal, Met!” Pak Dirman berusaha menarik dan melepaskan kepitan siku tangan Jamal di leher Memet. “Jaammaallll!” teriakan Pak Dirman membuat suasana langsung hening. Namun itu tak berjalan lama. Meskipun tangan keduanya sudah dipegang di tangan kiri dan kanan Pak Dirman, Jamal masih berusaha melayangkan sebuah tendangan. Memet sigap mengelak, tapi juga berusaha cepat membalas. Pak Dirman tampak sekuat tenaga menahan kedua anak tersebut. Siswa yang lain riuh kembali. Ini yang mereka harapkan. Keramaian akan membuat pelajaran terganggu dan tentu sebagian besar berharap tidak belajar dan cepat pulang dan cepat pula mereka bermain.

Baca juga  Ikan Terbang Kufah

Dengan cepat, akhirnya Memet dan Jamal dibawa Pak Dirman ke ruang guru. Pak Dirman mencoba menenangkan dirinya. Keringat tampak bercucuran. Kemeja hijau yang dikenakannya tampak jelas basah pada sebagian besar badannya. Kelelahan itu seketika terobati saat Mang Endin menghampiri Pak Dirman dan menyuguhkan secangkir kopi.

“Terima kasih, Mang,” ucap Pak Dirman sambil memberikan segaris senyum. Dicobanya menyeruput kopi racikan Mang Endin. Namun, seketika wajahnya berikan raut kecewa. Kopi itu belum dapat menenangkan perasaannya. Terlalu panas. Bibir Pak Dirman tak sanggup menempel di ujung cangkir dengan uap panas yang mengepung wajahnya.

Jamal dan Memet masih berdiri di depan meja menghadap Pak Dirman. Dari deretan jendela, kerumunan murid terus menantikan akhir cerita perkelahian Jamal dan Memet. Suara gaduh masih terus memanaskan suasana. Wajah Memet tampak meringis menahan sakit. Lebam tampak di beberapa bagian wajahnya. Jamal dengan lagak jagoan masih bersiap dengan kepalan tinju di kedua tangannya. Jamal belum puas. Pak Dirman dapat menangkap gelagat Jamal.

“Hei, Jamal ….!”

“Huuakkk! Huuah! Jamal kembali menyerang Memet. Gerakannya begitu cepat. Pak Dirman belum sempat bangkit. Gerakan Jamal menabrak meja kerja Pak Dirman dengan kencang.

“Prangkk!” kopi panas tumpah dan mengarah tepat ke badan Pak Dirman. Cangkir pun jatuh dan pecah di lantai.

“Aaaahhhhh!!” Pak Dirman memekik ditahan. Wajahnya menahan sakit. Panas seakan menjalar ke seluruh tubuhnya. Kemeja seragam hijaunya ternoda air dan ampas kopi. Pak Dirman langsung bergerak ke luar. Memet diam tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jamal mencoba mengejar Pak Dirman. Namun baru beberapa langkah, ia pun mengurungkan niatnya. Kali ini ia benar-benar ketakutan.

***

Pagi-pagi Jamal sudah duduk di depan ruang guru. Raut mukanya kusut. Detik demi detik kejadian kemarin terus terulang-ulang di memori kepalanya. Bola matanya tak henti mengawasi sekeliling sekolah berharap Pak Dirman segera datang ke sekolah. Biasanya Pak Dirman sudah datang dengan sepeda onthel Venno kesayangannya. Jamal dapat membayangkan bagaimana lincahnya Pak Dirman memainkan sepeda itu. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi namun tetap dapat dengan cekatan turun dan naik melewati besi melintang bawah jok. Jamal paham sekali bagaimana Pak Dirman yang selalu dengan perlahan-lahan mengayuh sepedanya lewati jarak yang cukup panjang. Wajah Jamal seketika meringis ingin menangis membayangkan sepeda antik itu yang sering ia jahili pula hingga tak sekali dua kali Pak Dirman harus pulang berjalan kaki sambil mendorong sepedanya.

Baca juga  Hantu Kebun Tebu

Lonceng besi terdengar tiga kali. Murid-murid lari berhamburan berbaris di depan kelas masing-masing. Jamal pelan-pelan menyusup keluar pagar sekolah lalu berlari dengan tas yang masih diselempangkan di dadanya. Tak ada keinginan lain, Jamal ingin cepat bertemu Pak Dirman. Dilewatinya jalanan sepi yang biasa dilalui Pak Dirman setiap hari. Napasnya sudah terengah-engah. Tapi Jamal tidak mau berhenti. Ia ingin menemui Pak Dirman. Sosok yang ia kagumi. Langkah Jamal terhenti di depan rumah sederhana yang halamannya cukup luas dan bersih. Banyak tanaman dan pohon buah. Pagar bambu mengitari sekelilingnya. Rumah kayu itu tampak sepi. Sepeda Pak Dirman tampak distandarkan di sebelah kanan rumah. Jamal perlahan melangkah hingga sampai di depan pintu kayu. Lama Jamal terdiam berdiri mematung.

“Mau cari siapa, Nak?” Tiba-tiba sudah berdiri seorang ibu di belakang Jamal. Jamal kaget dan langsung mendongakkan kepala ke belakang.

“Assalamualaikum, Bu,” ucap Jamal dan langsung mencium tangan wanita itu. “Saya Jamal, Bu. Murid Pak Dirman. Eeee…. Pak Dirmannya ada, Bu?”

“Waalaikumsalam. O, ini ta Nak Jamal,” wanita itu lepaskan senyum. “Bapak suka cerita tentang kamu. Ayo silakan duduk. Ibu mau tarok belanjaan dulu ya, sebentar.” Jamal menganggukkan kepalanya. Perlahan ia duduk pada bangku. Ada kegamangan atas kenekatannya hingga beraninya datang ke rumah seorang guru yang sudah ia ke cewakan.

“Ayo, diminum dulu. Kamu sepertinya haus sekali.” Jamal langsung menyambut segelas air putih dari tangan wanita itu. Sedari tadi memang ia sangat kehausan. Hanya sebentar, air itu pun habis.

“Heeee… Terima kasih, Bu.”

“Iya, sama-sama. Nak Jamal, sebaiknya langsung masuk saja, ya. Bapak ada di kamar. Tadi sudah Ibu katakan ada kamu. Bapak senang banget. Mari!”

Jamal mempercepat langkah, nendekat, lalu mencium tangan guru yang berwajah teduh itu. Tidak cukup sampai di situ, Jamal langsung memeluknya erat.

“Bagaimana keadaan Bapak sekarang?”

“Alhamdulillah, sudah lebih baik. Kemarin habis kejadian itu, Bapak sedikit terkejut dan badan Bapak jadi lemas.” Tanpa diketahui Jamal, Pak Dirman menyembunyikan rasa sakit yang teramat sangat karena saat jantungnya berpacu cepat, tulang pinggangnya pun langsung seperti tertarik dan menyulitkannya bernapas. Penyakit apa itu, Pak Dirman dan istri pun tak tahu karena Pak Dirman tak pernah mau untuk diperiksakan kesehatannya ke dokter.

Pak Dirman mengusap-usap kepala dan punggung Jamal. Air mata Pak Dirman menetes merasakan keharuan yang dalam. Istrinya pun yang duduk di dekat kaki suaminya terharu atas kebesaran hati seorang guru dan murid. “Nak. Bapak bangga padamu.”

“Maafkan Jamal, Pak. Jamal banyak salah. Jamal suka melawan Bapak. Jamal suka mencelakai Bapak. Maaf, Pak.”

“Bapak tahu apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Bapak selalu memaafkan kamu, Mal. Tapi hari ini Bapak bangga padamu. Inilah pelajaran terbesar yang baru saja kamu lakukan. Mengalahkan diri sendiri. Kamu anak baik. Semoga kamu sukses, ya Nak.”

Baca juga  Perempuan Shalat di Tengah Malam

Jamal mengangguk-anggukkan kepalanya dan kembali memeluk Pak Dirman. Cerita pun berkembang dengan tawa. Jamal membongkar satu per satu kejahilan yang pernah ia lakukan baik terhadap Pak Dirman maupun teman-teman sekolahnya.

“Bu, tolong buatkan Bapak minum, Bu. Ini ceritanya semakin rame. Hahaha….”

“Pasti kopi ya, Pak?” Jamal mencoba menebak.

“Iya, Nak Jamal. Bapak itu sukanya minum kopi. Kamu mau juga?”

“Nggak, Bu. Terima kasih.”

“Tapi awas, Bu. Nanti ngasih ke Bapaknya hati-hati. Ada Jamal, nanti ditumpahin lagi. Hahaha….” Jamal tersipu malu.

Kopi yang ditunggu pun tiba. Diserahkannya secangkir kopi panas itu ke suaminya yang sudah tadahkan tangan siap menyambut. Perlahan, didekatkannya bibir cangkir ke bibirnya. Jamal memperhatikan setiap gerak Pak Dirman apa lagi saat terdengar suara seruput yang biasanya menandakan kenikmatan mengopi. Jamal tersenyum sendiri.

“Pak…,” Jamal terdiam sesaat. Pak Dirman menatap dalam. “Suatu saat nanti, kalau saya sudah besar, saya akan buatkan kopi paling enak untuk Bapak.”

Pak Dirman mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah mengapa, Pak Dirman seakan mendengarkan suatu kekuatan kata-kata dari apa yang baru saja diucapkan Jamal. Penuh keyakinan. Matanya berkaca-kaca.

***

“Aaahhh….,” dilepaskannya desahan panjang akhir seruputan kopi. Ada rasa tidak puas kala matanya memandang ke isi cangkir yang telah habis. Namun, beribu kenikmatan dirasakannya pagi itu. Seiring hal itu, cuaca telah terang. Lelaki tua pun bangkit dari kursi tempat ia habiskan sebagian masa pensiunnya dengan membaca dan menulis.

“Bu, sepulang dari sawah nanti, tolong buatkan Bapak kopi seperti tadi ya, Bu. Itu kopi enak sekali. Juara!” ujarnya sambil mengangkat capingnya tinggi. Istrinya mengangguk senyum sambil terus mengantarkannya hingga menaiki sepeda onthel. Ia tak akan khawatir untuk suguhkan kopi juara seperti yang diminta suaminya. Satu kardus besar berisi paket kopi semalam diantarkan Jamal saat suaminya tertidur. Jamal tak tega untuk membangunkan seseorang yang sangat dikaguminya. Kopi kenangan yang menginspirasi hidupnya untuk sebuah ungkapan kebesaran hati seorang murid atas sosok guru yang dapat mengilhami hidupnya.

“Hu hu hu hu..uuu.. huh uuu huhuu ……,” siulan Pak Dirman begitu nyaring terdengar di telinga istrinya meskipun sesekali yang keluar hanya suara desis angin.

Tangerang, 2 November 2020

Elvin Maulana Firdaus. Alumnus Unpad Bandung, saat ini aktif sebagai guru di Sekolah Dharma Putra Tangerang

Average rating 4 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: