Cerpen, Kartika Catur Pelita, Republika

Tumis Blenyik

3
(3)

Mak Rondiyah sudah nazar kelak kalau anak bungsunya, Lutfi Khakim, menikah, ia harus tinggal serumah dengan menantu. Tumi, sang menantu, sebenarnya suka tinggal bersama mertua. Ia sayang pada janda pesisir, pedagang ikan, yang tujuh tahun lalu mendapat wangsit sebagai dukun pijat. Menolong orang melahirkan, keseleo, atau sekadar buang capek.

Mak Rondiyah berumur tujuh puluh tahun, sehat, kuat, dan cerewet. Tumi merasa apa yang dilakukan selalu saja salah di mata sang mertua. Mak Rondiyah gemar mencela cara Tumi masak, bergaul, bahkan soal ranjang.

***

Tumi mengiris cabai, bawang, dan jahe. Menyiapkan bumbu tumis blenyik. Bosan mengolah blenyik kukus melulu. Ia sedang mencuci blenyik, membayangkan suaminya senang menikmati masakannya, ketika Mak Rondiyah memasuki dapur dan menyelidik. “Mau masak apa, Tum?”

“Tumis blenyik untuk Kak Khakim, Mak.”

“Tumis blenyik? Ogak enak iku! Khakim pasti tak suka! Kowe tahu, semenjak piyik Khakim suka makan blenyik kukus, bukan blenyik ditumis pakai minyak. Minyak bisa bikin kolesterol. Kowe mau suami sakit kolesterol, kena darah tinggi?”

“Bukan begitu maksud Tumi, Mak.”

“Sudah ngumbah blenyiknya, nanti remuk, tak enak. Kowe tahu, blenyik sekarang tak seenak saat aku kecil dulu. Mengapa? Karena dulu orang kalau bikin blenyik, teri-teri nasinya tidak dikumbah, dari laut langsung ditiriskan dan dibikin blenyik. Tapi sekarang, uh.”

“Blenyik dicuci supaya higienis, bersih, dan sehat, Mak. Kan untuk dimakan.”

“Tapi, tetap enak blenyik zaman aku kecil dulu.” Mak Rondiyah ngotot dan kini pandang matanya menemukan mangsa baru. Cabai merah dan rawit yang dipotong kasar tergeletak nelangsa di atas talenan. Tumi segera meniriskan blenyik yang sudah dicuci. Mak Rondiyah lebih cekatan menyela.

“Apalagi ini. Ngiris cabai kasar dan bijinya nongol. Kalau ngiris cabai, buang bijinya. Kalau seperti ini yang makan bisa kena usus buntu. Kowe mau suami sakit usus buntu? Dioperasi, dan…”

“Tentu saja tidak, Mak.”

“Nah, buang biji cabainya. Kemudian pergilah ke kebun belakang. Ambil daun pisang, kemudian taruh blenyik. Kasih cabai, bawang, moto, lalu dikukus di dandang saat nanak nasi.”

“Tapi, Mak, sejak kemarin Tumi sudah beli mejikkom. Tumi tidak nanak nasi pakai dandang lagi.”

“Nah, ini masalahnya kan, mengapa tempo hari Mak tak setuju kowe beli mejikkom, apa itu. Karena itu pekerjaan orang malas. Menanak nasi sejak dulu pekerjaan perempuan, istri. Bukan pekerjaan mesin. Nasi yang ditanak di dandang berasa lebih enak, apalagi kalau masaknya pakai kayu bakar. Tunggu apa lagi? Cepat sana ke kebun. Ambil daun pisang. Sekalian petikkan godhong beluntas. Sudah lama aku tidak ngurap beluntas!”

Baca juga  Lanting Jamban Terakhir

***

Sambil bersenandung kecil Tumi menjereng pakaian di jemuran depan rumah. Sebentar lagi selesai. Tubuh mungilnya membungkuk, tengah mengambil baju terakhir, ketika Mak Rondiyah muncul dan tanpa babibu ngentasi pakaian yang baru dijemur. Bruk-bruk, ia menjatuhkan kembali pakaian basah ke dalam ember. Tumi memandang bingung.

“Ada apa, Mak? Mengapa pakaian…”

“Sudah Mak bilang, pamali menjemur pakaian di depan rumah. Apalagi ini, ada daleman, kutang, sempak. Kau mau orang-orang yang hendak pijat pada balik gara-gara jemuranmu ini!”

“Tentu saja tidak, Mak. Tapi masalahnya jemuran samping sudah penuh.”

“Bikin jemuran di belakang rumah.”

“Di situ dekat kandang ayam, Mak. Kalau angin kencang tahi ayam beterbangan kena pakaian bisa bikin penyakit.”

“Alaa… gampang. Pakaian setelah kering disetrika. Kumannya pada mati.”

Maka, dok-dok-dok. Tumi memaku dua batang pohon mangga, sebisanya membuat tali jemuran baru.

***

“Entah, Bu. Beberapa hari ini Tumi merasa mual. Mau muntah.”

“Oalah, itu pertanda hamil, Nok. Sudah periksa ke dokter?”

“Nanti, Bu.”

“Tunggu apa lagi? Ibu-bapakmu sudah lama menunggu kabar bahagia. Kapan kau memberi kami cucu, Nok.”

“Insya Allah. Bu sudah dulu, ya, Tumi mau masak siang. Sebentar lagi Kak Khakim datang.”

Tumi mematikan ponsel, bersamaan Mak Rondiyah menghampiri dengan tangan belepotan minyak kelentik. Ia baru selesai memijit. Seorang tamu sudah pulang. Tapi, pasien lainnya sudah antre di ruang tamu. Mak Rondiyah kewalahan. Saban hari ia membatasi, hanya memijit empat orang. Hari Jumat ia libur, ngaji, sekalian istirahat.

“Nelepon siapa, Tum? Sepertinya asyik banget?”

“Ibuk, Mak”’

“Takaraku sopo. Si Khakim kemarin cerita, katanya saat nganter belanja di swalayan, kowe ketemu mantan pacar.”

“Teman, Mak. Namanya Muhammad Zufar, teman akrab saat Aliyah dulu.”

“Si Khakim cerita katanya kowe mesra sama dia. Oalah, Tum, kowe saiki wis dadi bojone wong, kowe iku guru, ora cah sekolah sing bebas gaul karo sopo ae.”

Baca juga  Korsakov!

“Iya, Mak.” Tumi mengiyakan, ketika tiba-tiba rasa mual kembali menyerang, ia menahan muntah. Mak Rondiyah menghentikan bicaranya. Mendelik, memandangi menantunya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Menyelidik.

“Kowe meteng?”

“Entah, Mak. Beberapa hari ini mual.”

“Pasti kowe hamil, Tum. Nanti tak suruh Khakim nganter ke dokter. Ah, sebentar lagi si Taqim memberiku cucu. Aku sudah punya banyak cucu, tapi cucu dari anak lelaki tentu sangat istimewa. Wis suwe tak enteni.”

***

“Hasilnya negatif. Ibu tidak hamil. Mungkin hanya kondisi stres sehingga mengganggu menstruasi.”

Tumi membayangkan peristiwa tiga bulan lalu. Entah untuk ke berapa. Dan hasilnya belum seperti yang diharap. Seandainya saja Kak Khakim mau sedikit mengerti. Tumi meninggalkan cermin rias, menghampiri suaminya yang tengah membaca sambil tiduran di ranjang. Melihat kehadiran sang istri, Kak Khakim buru-buru melipat koran, meletakkan kacamata baca, lalu…

“Ada apa, Dik?”

“Kak Kim, sudah sebulan kita tidak…”

“Aku lelah, Dik. Tadi banyak tugas. Bikin laporan akhir semester. Capek.”

“Kalo gitu biar Tumi pijat Kak Taqim…”

“Tidak, Dik. Aku ngantuk, pengin tidur. Aku mau tidur. Tolong jagain ya kalau ada nyamuk gigit.”

Lutfi Khakim membalikkan tubuh, mendekap guling, menghadap tembok, memunggungi Tumi. Tumi tergugu, batinnya bergejolak. Kak Khakim suami yang baik, bertanggung jawab, memberikan gaji bulanan. Ia lembut, jarang marah. Tapi, kebutuhan istri bukan hanya materi. Tumi tak ikhlas jika Kak Khakim seperti ini. Sebulan sekali tak mesti memberinya nafkah batin.

Dulu saat awal pernikahan mereka rutin melakukan. Walau mungkin tak sekerap yang dilakukan pasangan suami-istri lain. Tumi bisa mengerti setiap orang memiliki kebiasaan berbeda. Namun, jika keadaan semakin lama seperti ini, ia sudah berusaha untuk mengerti dan memahami keadaan suami. Mungkin suaminya stres karena memikirkan mereka belum memiliki keturunan.

Padahal perkawinan sudah lewat tiga tahun. Dokter menganjurkan agar mereka berdua cek ricek ke rumah sakit. Hanya Tumi yang melakukan pemeriksaan. Ia sehat dan tidak ada gangguan alat reproduksinya. Kandungan Tumi siap siaga ditumbuhi janin.

Entah dengan Kak Khakim. Lelaki tampan berkumis tipis itu hanya menghindar, menggeleng, dan berucap ikhlas, bikin Tumi gemas. “Insya Allah kita memililiki keturunan, Dik Tumi, jika berusaha. Gusti Allah yang menentukan.”

Baca juga  Pohon Jejawi

Namun, jika periksa ke dokter pun tak mau, bukankah yang dikatakan Kak Khakim seperti menggantang asap di langit. Sia-sia. Percuma. Batin Tumi bergejolak. Ia perempuan yang untuk memiliki anak dibatasi usia subur. Memandangi suaminya yang sudah tidur pulas, napasnya lembut, mengalun turun naik, Tumi perlahan mencium pipi, bibirnya, kumisnya. Pelan, ia tak ingin Kak Khakim terbangun. Tumi hendak tidur di sisi suaminya, ketika perutnya terasa melilit. Ia hendak ke kamar mandi, melewati ruang tengah, dan di sana ada Mak Rondiyah sedang asyik menonton Jodha Akbar. “Mau ke mana, Tum?”

“Kamar mandi Mak. Perih.”

“Semoga perihmu jadi anak.”

Tumi separuh hati mendengar, tergopoh ke kamar mandi. Lama. Saat keluar ia memilih tak kembali ke kamar. Ia duduk di bangku, menerawang dapur yang temaram. Ia teringat ibu-bapak yang mendamba cucu. Kak Khakim yang berperilaku aneh. Mak Rondiyah yang selalu ingin tahu dan Tumi lelah dengan keadaan ini.

Tumi memandangi sekeliling dapur. Sepasang cicak berkejaran. Tumi merasa iri? Entah. Ia memilih membuka tudung saji. Di mangkuk kaca masih tersaji tumis blenyik. Hari ini untuk pertama kalinya ia berani membuat tumis blenyik, walau sang mertua misah-misuh.

Padahal kenyataannya, Kak Khakim, suami tercinta, hanya makan sejumput masakan yang dibikin dengan segenap cinta dan pengorbanan seorang istri. Mata Tumi memanas. Tumi memakan tumis blenyik sambil berusaha tidak menangis. ■

Kota Ukir, Rusunawa, 10 Agustus 2020

Catatan:

Blenyik: makanan khas Jepara, berupa kumpulan teri dibumbui garam, yang dibentuk menjadi kepalan seperti bakwan dan dijemur hingga kering.

Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1970. Karya prosa dan puisi dimuat di puluhan media cetak dan daring, di antaranya: Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Republika, Kartini, Koran Merapi, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solo Pos, Bangka Pos, Media Indonesia, Nova, Kompas. Menulis buku fiksi Perjaka, Balada Orang-orang Tercinta, dan Kentut Presiden. Bermukim di Kota Jepara, Jawa Tengah, dan bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara(AMJ).

Average rating 3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: