Kedaulatan Rakyat, M Husein Heikal, Resensi

Trakl, Cinta, Kutukan

3.4
(5)

MENGAPA kita mau membaca puisi? Jawabnya tentu macam-macam. Bagi saya cukup sederhana. Membaca puisi membawa saya kepada suatu posisi di mana saya mesti mencari dan menemukan di mana letak makna yang disajikan dalam puisi bersangkutan. Proses menemukan makna ini, meski bukan tujuan utama, di samping saya menikmati kata-kata yang disajikan oleh penyairnya. Itulah mengapa saya sebenarnya berupaya keras melepaskan diri dari pengaruh pengantar ataupun penutup dalam suatu buku puisi. Saya tak ingin tercemari oleh pandangan orang lain dalam menghadapi puisi-puisi yang terangkum dalam buku itu.

Membaca pengantar puisi sebelum membaca puisi-puisinya, ibarat mengisi teka-teki silang tanpa berpikir, cukup dengan mencari padanannya di internet. Tak menarik dan tak mendebarkan. Namun seberapa keras saya berusaha, ada titik dimana pada akhirnya saya butuh membaca pengantar atau penutup sebuah buku puisi. Seringnya ketika saya sudah merasa kebingungan menemukan makna puisi, semisal saat membaca ‘Kepada Adik Perempuanku’ dalam buku puisi Georg Trakl ini.

Pada awalnya saya menduga sang penyair menyayangi adik perempuannya sebagaimana rasa sayang kakak terhadap adik belaka. Tapi saya salah. Puisi memang begitu kan? Ia membuka berbagai kemungkinan, berbagai tafsir dan pemahaman.

Georg Trakl mencintai adiknya sendiri, sebagaimana cinta seorang kekasih. Tragis? Bisa jadi ya. Parahnya lagi, ternyata cinta itu justru menjelma jadi hantu yang menghadirkan sesal sepanjang hidupnya. Maka disebutlah oleh Berthold Damshauser dalam pengantarnya, bahwa ‘perpuisian Georg Trakl adalah keindahan yang lahir dari trauma’.

Dalam puisi yang menjadi judul buku ini, ‘Mimpi dan Kelam Jiwa’, yang barangkali lebih tepat disebut sebagai prosa liris (4 paragraf raksasa plus 5 epigram), trauma hadir sebagai pokok bahasannya. Kali ini Trakl turut mengutuki trah (keluarga)-nya. Barangkali ia menganggap bahwa dirinya ditakdirkan untuk menanggung beban kutukan itu. Trakl sepertinya sangat mengkhawatirkan adik yang dicintainya ini. Cinta menciptakan fobia. Kecemasan yang berlebihan berwujud siksaan. Memang kemudian adiknya menikah dan pergi meninggalkannya. Trakl menganggap ini sebagai pengkhianatan.

Baca juga  Akurasi Misteri yang Kompleks
Judul : Mimpi dan Kelam Jiwa
Penulis : Georg Trakl
Penerbit : DIVAPress
Cetakan : Pertama, Juli 2020
Tebal : 80 halaman
ISBN : 978-623-293-001-8

Nasib tragis abang-beradik ini pada akhirnya berakhir di tali gantungan. Keduanya bunuh diri. Trakl menutup hidupnya pada umur 27 (tahun 1914). Sementara Grete, demikian panggilan adiknya, pada 1917. Tampaknya benarlah apa yang dimaksud Trakl sebagai trah yang terkutuk. Kebencian membakar hatinya, juga nafsu birahi, saat di taman musim panas itu ia nodai si anak senyap, saat pada cemerlang wajah anak itu ia kenali kelam jiwa wajahnya sendiri. (hal. 52)

Dalam puisi-puisinya, Trakl tak mau tampil sebagai aku-lirik. Ini dapat dilihat sebagai upaya mengelak dari kutukan trahnya. Kesimpulan saya terhadap puisi Trakl ialah bahwa pada akhirnya, dari sekian kutukan atas trahnya, Trakl membenci dirinya sendiri. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Tak menyangka apa yang dilakukannya, walau dilandasi oleh perasaan cinta sekalipun, justru menghancurkan dirinya sendiri. Puisi-puisi yang dituliskan ini merupakan bentuk keberanian atau justru keputusasaan Trakl. Tak setiap manusia punya tempat mengadu. Lewat puisi kita dapat menyampaikan apa yang tidak bisa kita sampaikan kepada orang lain. Dengan jujur, dan tentunya kita tak harus mengemukakan makna secara terbuka. Biarlah para pembaca menelisiknya, sedikit demi sedikit. ❑

*) M Husein Heikal, esais, editor.

Average rating 3.4 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: