Kedaulatan Rakyat, Norrahman Alif, Puisi

CATATAN KAKI DESEMBER

5
(2)

CATATAN KAKI DESEMBER

/

desember gemetar menunggu ajal

pun bulan-bulan lusuh menjadi catatan kaki kesedihan

tahun segera dimakamkan tuan!

/

maka mari kumpulkan luka-luka tanggal

yang melekat di telinga hari-hari kemarin

untuk kita jadikan buku panduan kebaikan hidup di hari depan.

/

namun mengapa tahun harus berganti?

dan kepergiannya selalu dirayakan dengan tepuk tangan kembang api

bukankah semua hari adalah hari raya air mata bagi kita.

/

padahal tahun kemarin dan esok akan selalu sama kacaunya:

hantu-hantu negara masih ramai dibicarakan televisi sebagai

tokoh-tokoh pahlawan koruptor dan korona masih menjadi

tokoh paling berbahaya di abad kematian ini.

/

sesungguhnya aku tak butuh tahun baru puan

karena tahun cenderung basi kurayakan

padahal hari-hari selalu baru dengan kebusukan dan

kebencian.

/

2020

/

DOA-DOA KECIL

/

1.

/

doa-doa kecilku tersusun dari mendung langit pagi di kampung

orang-orang bangun setelah kokok ayam membangunkan matahari

dan mereka pun berjalan di atas harapan yang sederhana

menuju ke pematang sawah. sementara di bahunya cangkul

telah duduk melengkung. siap turun tangan untuk merajam

kerasnya dada tanah. sekeras doa-doa subuh di hati masa lalu.

/

2.

/

doa-doa kecilku terbuat dari butir keringat kuning kaum tani

tangan-tangannya yang kekar serupa niatnya yang segar di

tengah sawah: menanam binis dan membalik tanah adalah

dua rakaat sembahyang kita di atas sajadah musim hujan ini.

/

3.

/

doa-doa kecilku menetes dari kening kaum tani – pada saat peluh

telah menandai harapan baik mereka. menjelang sore jatuh dari

duan-daun jati. mereka pun angkat kaki dari sawah: tanah pun

siap lapang dada untuk ditanami. serupa hatinya yang telah lebih

siap menerima segala kebaikan dan keburukan cuaca. lalu di sepanjang

Baca juga  Dari Laut

pematang – kaki-kaki ngilu melangkah menuju kandang malam

sekadar untuk merebahkan segala pegal tulang dan penat perasaan.

/

2020

/

*) Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara, Sumenep, Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Beberapa karyanya dipublikasikan di berbagai media massa. Buku puisi tunggalnya “Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan” (sublimpustaka-2019) telah mendapat anugerah sebagai buku puisi terbaik dari lomba antologi buku puisi Festival Musim Hujan Banjarbaru’s Rain Day Literary Festival 2020.

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: