Conie Sema, Koran Tempo, Puisi, Wirja Taufan

EPISODE HUJAN; SORE PADA JENDELA TAMAN

3
(2)

EPISODE HUJAN

/

Saya tak pernah bertemu Socrates

dan muridnya Plato. Bahasa saya berbicara

Melalui kelopak-kelopak yang menari

dalam sebuah putik

/

Detak jantung adalah bunga yang tumbuh

seadanya. Merindukan hujan di tanah gersang

Mengelilingi jiwa, menyalakan mata saya

/

Mungkin saya tidak ada setiap waktu

Hanya jiwa saya. Mencarimu sepanjang jalan

Sampai di ujung-ujung jalan

Yang akan ditutup atau diledakkan

/

Di bawah hujan matamu, jalan-jalan berlari

Menyimpan ribuan pelangi di dalam dirimu

Saya mati. Saya mati setiap saat

menghirup nafas saya. Dunia imajiner

membangun kembali kota-kota yang terluka

/

Saya akan terus melukis kata-kata

Dengan tetesan hujan dari banyak warna

Meninggalkan jejak tanpa berjalan

Tak ada pagi, siang menjadi malam

Yang menakutkan

Memanjat seribu mimpi-mimpi

/

Langit adalah laut di mana mimpi-mimpimu

terbakar. Meleleh dalam kota-kota

yang hilang dalam dirimu. Suaramu memanjat

jiwa saya. Hanyut dalam gelombang

Ke tengah-tengah lautan

Menuju langit-langit hujan

/

Padang, 2019

/

Wirja Taufan lahir di Medan, 15 September 1961, dengan nama Suryadi Firdaus. Buku puisi terbarunya adalah Bunga, Kupu-kupu, Mimpi dan Kerinduan (Imaji Indonesia, 2020). Pada 1984 ia menerima Hadiah Kreativitas Sastra Bidang Puisi dari Dewan Kesenian Medan (DKM).

/

SORE PADA JENDELA TAMAN

/

kita seperti benda-benda masif menyusun

matahari lain dari buku tua epicurus yang

berjalan sendiri di bentang waktu, kalender

hujan, ritus-ritus cuaca dan musim tanam

tumbuh, sebuah tata hidup manusia tanpa

harus memasang mata sebagai saksinya

/

2020

/

Conie Sema lahir di Palembang. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan naskah panggung. Puisinya terhimpun dalam sejumlah antologi bersama, yang terbaru adalah Selasa di Pekuburan Ma’la (2019) dan When The Days Were Raining-Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival (2019).

Leave a Reply

%d bloggers like this: