Eka Kurniawan, Esai, Jawa Pos

Ada Rumput Tetangga yang Lebih Kering Meranggas

4.5
(4)

Ada orang-orang yang demikian beruntung, lahir di keluarga yang stabil dan berada sehingga tak hanya memperoleh lingkungan yang sehat untuk tumbuh, tapi juga memperoleh nutrisi yang baik untuk perkembangan jiwa dan raganya.

ADA negeri dengan jumlah penduduk yang cuma ratusan ribu semacam Islandia, tapi memiliki setidaknya sebelas pemain bola yang bisa berkompetisi di tingkat dunia. Mereka mungkin beruntung karena memiliki fisik yang jauh lebih baik, pengetahuan tentang teknik dan fasilitas bertanding yang lebih baik daripada orang-orang di negeri yang rakyatnya ratusan juta orang, tapi terengah-engah bahkan di kompetisi regional sekalipun.

Jangan lupa ada juga pekerja kreatif yang menghasilkan karya dan memperoleh sambutan hangat dari kritikus, akademisi, sekaligus pasar. Sebagaimana ada manusia macam Elon Musk yang barangkali duduk melamun dan ingin menciptakan sesuatu, tak lama kemudian impiannya segera terwujud seolah-olah gampang saja.

Kita hidup di planet yang dengan mudah menemukan apa pun yang lebih baik, lebih hebat, lebih beruntung, lebih berkilau, dari apa yang ada pada diri kita. Dengan jarak dan waktu dilipat sedemikian rupa melalui revolusi digital, kenyataan tersebut terpampang bahkan demikian nyata di depan mata, dalam sentuhan ujung jari.

Kali ini saya tak mencoba bicara tentang ketimpangan dunia, yang menghasilkan kesempatan yang jomplang, atau tentang berlari dari garis start yang berbeda, yang membuat satu pihak bisa meninggalkan yang lain dengan mudah. Soal ini saya yakin sudah banyak dibahas, dan banyak orang, lembaga, negara yang mencoba memperbaikinya (sekaligus ada yang mencoba mempertahankan ketimpangan ini).

Saya rasa ada semacam naluri dalam diri kita untuk berkompetisi, untuk menjadi lebih baik, dan karenanya kita sering menatap ke segala hal yang lebih baik. Kadang-kadang itu menghasilkan sesuatu yang sehat, berupa pelecut semangat untuk berprestasi, untuk menghajar segala rintangan. Kali lain membuat kita terpuruk, merasa dilahirkan jadi orang malang, dan terus merutuki, marah, dengan keberengsekan dunia yang menciptakan kelas-kelas sosial bengis ini.

Baca juga  BURUNG-BURUNG ADAM

Kita tahu fenomena ini nyata. Bahkan kita memiliki pepatah untuk itu, bahwa “rumput tetangga selalu lebih hijau”.

Belum lama saya membaca novel karya penulis Jepang Yoko Tawada berjudul The Last Children of Tokyo (versi lain novel yang sama diberi judul The Emissary). Novel itu membuat saya berpikir tentang banding-membandingkan, tentang kompetisi, tentang hidup yang lebih baik, dengan cara yang sungguh-sungguh berbeda. Ia tak lagi bicara di tingkat rumput tetangga yang lebih hijau, tapi apa yang telah kita lakukan kepada rumput-rumput di bumi ini?

Kita pernah, bukan, membandingkan diri sendiri tidak dengan orang lain, tapi dengan diri sendiri di waktu yang berbeda? “Dulu bisa makan apa pun dan serbaenak, tapi sekarang harus pilih-pilih kalau tak mau ambruk dan masuk UGD”, misalnya.

Tak selamanya kita membandingkan satu hal dengan hal lain untuk berkompetisi. Tak selamanya melihat mereka-mereka yang menjadi juara untuk mematok standar baru tentang apa yang berhasil. Sesekali kita perlu benar menoleh ke sisi lain, ke mereka yang tertatih-tatih, yang terjatuh, bahkan yang tak bisa berlari. Dunia semestinya tak melulu soal menjadi lebih baik setiap hari, tapi juga memastikan tak ada yang ditinggalkan.

Di novel ini, Yoko Tawada berkisah tentang Jepang yang sial, jauh di masa depan. Jepang memutuskan kembali mengisolasi diri dari sisa dunia karena kehancuran ekosistemnya yang terkontaminasi racun. Tokyo menjadi kota setengah mati karena udara dan tanahnya yang tak bisa diandalkan.

Ia menyodorkan gambaran masa depan yang jauh dari cemerlang: generasi baru tumbuh sangat rentan, gampang sakit, dengan pertumbuhan tubuh terganggu. Si tokoh utama, Mumei, digambarkan tak bisa berjalan, kurang kalsium sehingga tulangnya lembek, dan giginya lemah sehingga tak bisa menggigit kerupuk, apalagi buah-buahan. Bandingkan dengan kakek buyut yang memeliharanya, yang umurnya lebih dari seratus tahun dan tetap sehat.

Baca juga  Sipleg

Jika kita tak bisa membayangkan nasib negeri atau planet ini di masa dua ratus tahun yang akan datang seperti di novel ini, setidaknya mungkin kita bisa membayangkan sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang. Meskipun sekarang kita merasa sehat, aktif, punya uang, bayangkan gaya hidup ugal-ugalan yang kita jalani, membuat kita rentan terkena stroke, asam urat, darah tinggi, kolesterol. Mengerikan?

Hasrat untuk hidup lebih baik saya kira tak melulu harus melihat gambar yang cemerlang, tapi juga pemandangan yang muram. Tak melulu cari inspirasi dari gambar-gambar cantik di Instagram, tapi juga berita-berita horor yang memaksa kita berpijak.

Bahwa ternyata ada rumah tetangga dengan rumput yang lebih kering dan meranggas, tapi kita lebih senang melihat tetangga lain dengan rumput hijau subur. (*)

EKA KURNIAWAN Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: