Cerpen, Ranang Aji SP, Republika

Jumra

4.7
(3)

Pria itu sungguh tak tahu diri, pikirnya—dan betapa bodohnya dirinya, rutuknya pada dirinya sendiri. Ah, desahnya. Matanya mengerjap berat. Nanar. Ia bahkan tak mampu lagi menggambarkan bagaimana parahnya suaminya itu dalam bentuk yang lebih buruk dari keadaannya sekarang. Seorang pria yang tak tahu malu yang hidup dari keringatnya dan berkhianat.

“Huh!” Mulutnya menyeringai, tertawa perih sembari berjalan cepat.

Suara-suara bising di sekitar bandara membuatnya semakin tak sabar. Beberapa sopir taksi menawarkan jasanya secara agresif. Ia tak bereaksi. Matanya menatap kasar. Tapi, kemudian ia sadar bahwa dirinya memerlukan kendaraan agar cepat sampai. Ia segera meralat kekasarannya dan meminta salah satu sopir taksi yang menguntitnya mengantarnya. Tak peduli lagi berapa pun ongkosnya.

“Cepat, Pak, ke Samigaluh!” pintanya tak sabar. Sopir itu memintanya menunggu, bergegas mengambil taksinya.

“Di mana, Mbak? Luar kota?” tanya sopir itu setelah ia masuk ke dalam taksi. Ia menyebutkan alamatnya. Di kursi belakang ia mencoba mengontak suaminya lewat telepon selulernya, tapi tak ada tanggapan. Perasaan masygul dan marahnya kembali meluap. Tangannya sedikit membanting selulernya di atas kursi. Kali ini ia bertekad akan bersikap tegas. Pria itu lebih baik pergi, tapi anaknya harus ia bawa.

“Cepat dikit, Pak!” Suaranya terdengar kaku.

“Sabar,” jawab sopir itu ketus. “Kita butuh waktu sekitar dua jam jika lancar, saya harus mengisi bensin dulu.”

Ia tak menggubrisnya. Hanya diam. Tubuhnya bersandar setengah selonjor. Matanya menatap jalanan dan toko-toko yang menyala terang dengan lampu neon. Wajahnya yang kecokelatan menegang. Benaknya terus memikirkan anaknya dan kelakuan suaminya yang khianat. Ia menghela napas dalam dan berat hingga menarik perhatian sopir taksi, yang mengintipnya lewat kaca spion dalam.

Taksi itu terus berjalan, sementara hatinya dipenuhi penyesalan yang menyesakkan. Tiba-tiba ia kembali menyalahkan dirinya sendiri. Duduknya gelisah. Setelah menyandarkan kepalanya di gigir jok, matanya menatap kaca mobil, menembus jalan-jalan yang tampak bergerak bersama kilatan cahaya. Pikirannya melayang-layang.

Sepuluh tahun lalu, ia menikah. Usianya 17 tahun dan suaminya 18 tahun saat itu. Tak ada tujuan lain baginya kecuali menikah. Semua anak-anak di desanya seperti itu. Bahkan teman-temannya telah menikah saat usia mereka 13 tahun. Tak ada yang bisa dilakukan di desanya kecuali itu.

Baca juga  Kepura-puraan

Tanah desanya tak pernah berubah dari tahun ke tahun. Dari generasi ke generasi. Tanah berkapur, lembap, dan murung. Tanah yang tak mampu menghasilkan semua jenis tanaman yang dibutuhkan. Setiap generasi harus bekerja keras untuk bertahan hidup di sini. Para perempuannya pun akhirnya memilih pergi untuk bekerja.

“Sudah lama kerja di Taiwan, Mbak?” Sopir taksi itu bertanya tiba-tiba memotong lamunannya. Membuatnya kaget.

“Bukan di Taiwan. Saya kerja di Hong Kong,” jawabnya serak, tak bersemangat menjawab. Mata sopir taksi itu meliriknya dari kaca spion. Cahaya-cahaya lampu berkilat-kilat di sepanjang jalan yang kelam.

***

Pada tahun ketiga pernikahannya, satu per satu teman-temannya pergi bekerja ke luar negeri. Mereka menerima tawaran sebagai babu di beberapa kota di Arab dan sebagian lagi di Taiwan dan Hong Kong. Sementara para pria tetap tinggal di rumah, menanti kematian para orang tua mereka yang semakin dekat.

Memang beberapa temannya berhasil membangun dan mengisi rumah mereka dengan pelbagai perabot bagus. Kursi empuk, lemari dan telivisi. Para suami membeli gawai dan sibuk dengan media sosial yang baru mereka kenal. Namun, desa makin sepi dan murung seperti para orang tua yang kehilangan gairah hidup.

“Kamu ikut Mbak Parmi saja ke Arab,” pinta suaminya yang menganggur suatu kali usai nongkrong di rumah temannya.

Namun, ia tak ingin pergi saat itu. Ia hanya ingin tetap di rumah. Menjaga ibunya yang tua dan rapuh. Suaminya marah. Kemudian dengan suara kasar menyebutnya sebagai perempuan tak berguna.

“Lebih baik matilah kamu di sana daripada di sini tidak ada gunanya!”

Hatinya sakit mendengar ucapan itu. Ia diam. Mencoba menahan diri. Namun, malam harinya, suaminya meminta maaf tanpa nada menyesali. Merayunya, menidurinya, dan kembali membujuknya. Katanya, semua orang berubah dan hidup bahagia karena punya banyak uang.

“Kita akan senang kalau kamu mau kerja sama Mbak Parmi,” bujuk suaminya kembali. “Aku nanti yang bilang sama dia biar kamu berangkat. Gajinya besar. Di sini kamu cuma dapat tiga ratus ribu jadi buruh cuci. Di sana kamu dapat lima juta sebulan.”

Baca juga  “Aku Ngenteni Tekamu...”

Angka yang disebut suaminya membuat matanya mengerjap. Itu angka yang besar. Menggodanya. Namun, ia butuh waktu untuk menguatkan hati. Itu membuat suaminya tak sabar. Akibatnya dia selalu marah dan mengata-ngatainya seenak hatinya.

Kenapa tidak kamu saja yang berangkat? Kamu kan laki-laki!” teriaknya protes karena terus didesak. Tangan suaminya menamparnya keras. Plak! Bibirnya pecah. Berdarah.

“Perempuan goblok! Berani melawan suami!”

Hatinya sakit. Ia mulai tak betah di rumah. Ibunya yang tua menasihatinya agar pergi. “Kau bisa mati muda di sini,” kata ibunya memelas.

Akhirnya ia setuju berangkat ke Hong Kong, bukan Arab. Suaminya pun senang. Setiap bulan dia memintanya mengirim jatah uang. Setelah dua tahun, akhirnya ia pulang. Namun, kehidupan semakin sulit. Uang tabungan habis dan suaminya kembali uring-uringan seperti orang gila. Desa juga semakin sepi. Yang tersisa hanya para orang tua, tanah yang muram, dan anak-anak kecil yang ditinggalkan ibunya.

Setelah tak ada pilihan, ia memutuskan berangkat kembali meninggalkan anak balitanya.

***

“Sudah dekat, Mbak?” Sopir taksi itu membuyarkan lamunannya.

Ia kemudian memberikan petunjuk arah. Taksi meluncur ke arah jalanan yang semakin sunyi. Mata sopir itu tampak berkilat. Berkali-kali matanya melirik ke arah kaca untuk mencuri lihat dirinya yang duduk lemas. Kemudian sopir itu mulai mengajaknya bicara. Menanyakan namanya yang terdengar basa-basi.

“Jumra, Pak,” jawabnya pendek. Sopir taksi itu tertawa. Suaranya mirip tokek serak. Mengingatkannya pada suaminya yang kasar dan berkhianat. Ia mendengus. Ingin sekali ia segera sampai dan menuntaskan urusannya. Ia sudah siapkan gugatan cerai dan membawa anaknya. Membebaskan dirinya dari laki-laki tak berguna itu.

Di jalan hanya sesekali mereka berpapasan dengan mobil lain. Sopir taksi itu mulai bicara genit, menggodanya. Tapi, ia abaikan saja. Tangannya mengambil minyak putih dari tas kecilnya. Menghirup beberapa kali.

Setengah jam kemudian, taksi melintasi jalan berkelok yang panjang dan sepi. Ketika mobil memasuki jalan simpang di antara bukit-bukit yang tampak hitam dan angker, tiba-tiba mobil itu menepi dan berhenti. Di kanan-kiri, tebing menjulang tinggi dan suram. Sopir itu mengatakan mobilnya mogok. Pria berperawakan besar itu memintanya keluar sebentar. Ia menolak. Perasaannya tidak enak. Ia merasa ada sesuatu yang aneh di mata sopir itu. Seluruh tubuhnya menegang. Jantungnya berdetak kencang. Darahnya berdesir-desir.

Baca juga  Kisah Batu Menangis

Sopir itu keluar dari mobil. Sekali lagi memintanya keluar. Suara pria itu tiba-tiba seperti desis ular berbisa. Ia mulai khawatir. Matanya berlinang dan tubuhnya gemetar ketakutan.

Dalam beberapa detik, sopir itu tiba-tiba membuka pintunya dan menyeretnya keluar. Ia memberontak dan berusaha berteriak. Tapi, suaranya seperti tercekat. Sementara sopir itu dengan napas memburu, mendekapnya, dan menciumi tubuhnya yang memberontak. Mereka jatuh bergulingan di samping mobil—di atas rumput berbatu.

Ia tak berdaya menerima perlakuan itu. Seluruh tubuhnya terasa sakit hingga menembus tulang dan jiwanya. Matanya samar melihat langit hitam kelam di atas bayangan pohon-pohon yang tegang.

Setelah pria itu selesai, ia hanya duduk menangis. Geram dengan apa yang menimpanya. Ia melihat jalanan yang sunyi dan muram. Melihat batu-batu yang membeku. Pria jahanam itu lantas mengatakan sesuatu yang tak ia dengarkan. Ketika sopir itu berbalik ke arah mobil, tanpa pikir panjang, ia ambil batu sebesar genggam dan menghantam kepala pria jahanam itu berkali-kali. Ketika tubuh itu rubuh tersungkur, segera saja kakinya menginjak-injak kepalanya dengan rasa marah seperti badai lautan menghantam karang. Beberapa saat kemudian, ia sadar dan lari menjauh, menangis sepanjang jalan. Ia tahu, masalah baru akan segera menimpanya. ■

Ranang Aji SP, menulis fiksi dan nonfiksi. Beberapa cerpennya terbit di Koran Tempo, Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, dan lain-lain. Saat ini tinggal di Magelang.

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: