Cerpen, Medan Pos, Putri Khairani

Kepulangan yang Tak Kuinginkan

1.3
(3)

Awal tahun ini sengaja aku ingin pulang kampung. Jatah libur kali ini sengaja tak kuhabiskan waktu untuk bekerja, sebab ingin sekali aku punya waktu berkumpul dengan ayah dan ibu di rumah. Rasa rindu terhadap masakan ibu dan menyeduh teh bersama ayah setiap pagi adalah hal yang sangat aku rindukan. Belum lagi saat mendengarkan omelan ibu yang selalu kutunggu-tunggu.

Waktu libur pun tiba, saatnya aku kembali ke rumah tercinta. Seperti biasa ayah yang selalu menunggu di halte dengan senyumannya yang semringah menunggu putri kecilnya. Begitulah, walaupun umurku sudah dua puluh dua tahun, tapi di matanya aku tetap putri kecilnya yang selalu di manja, tak pernah ayah memarahiku bahkan membentakku saja tak pernah.

“Assalamualaikum, Ayah.” Sambil mencium lalu memeluk ayah.

“Waalaikumsallam putri kecilnya ayah, segera kita kembali ke rumah.”

“Kenapa kita buru-buru, Yah?”

“Ibu sudah menunggu di rumah.”

Saat menuju rumah, banyak hal-hal yang kami ceritakan, mulai dari bagaimana pekerjaan ayah, aktivitasku di kampus, dan omelan ibu yang tak pernah berhenti saat menyuruhku cepat kembali ke rumah. Wajar aku begitu sangat di manja oleh mereka. Beberapa tahun lalu adikku meninggal, dan kini tinggal aku satu-satunya buah hati mereka. Tak terasa kami sampai di rumah.

“Ibu-ibu, teriakku dari teras depan rumah.”

“Sudah masuk, ibu di dalam mungkin tidak dengar.”

Aku masuk dengan buru-buru, kulihat di meja makan sudah banyak makanan dan ada makanan kesukaanku. Kucari ibu di kamar.

“Ibu, kenapa? Sakit apa?”

“Ayah, ibu kenapa? Yah.”

“Ibu tidak apa-apa, Nak, makan dulu, semua sudah ibu siapkan di meja makan, kamarmu juga sudah rapi.”

Baca juga  Keringat dan Susu

“Sebenarnya kenapa? Kenapa ayah tidak pernah cerita kalo ibu sebenarnya sakit.”

“Ibu tidak apa-apa, Nak, hanya kurang istirahat saja.”

“Ibu pasti bohong.”

Wajahnya terlihat begitu pucat, ibu yang biasanya ketika aku pulang menyambutkku di depan pintu dengan senyum terindahnya, kini terbaring di kamar. Sama sekali ayah dan ibu tak pernah cerita jika keadaannya seperti ini. Hancur sekali rasanya hatiku Tuhan, liburan kali ini aku harus melihat ibu dengan keadaan seperti ini, saat ini hanya kesembuhan yang selalu kuharapkan.

Saat ini setiap pagi, aku yang memasakkan makanan untuk ayah dan ibu. Setelah ayah pergi kerja, aku kembali menyuapi ibu, memberi ibu obat. Aku selalu mengajak ibu bercerita. Hal yang selalu aku katakan adalah bahwa segala penyakit bisa disembuhkan dan ada obatnya.

“Pokoknya ibu harus sehat dan ibu harus menemani aku wisuda nanti.”

“Iya sayang, doakan sembuh ya.”

“Pasti, Bu, tak pernah lupa, sebentar ya, Bu. Mau membereskan bagian ruang tamu.”

“Maafkan ibu ya, Nak, kamu libur justru malah membereskan rumah, dan merawat ibumu yang sakit-sakitan ini.”

“Bicara apa si ibu ini, kan udah kewajibanku sebagai anak membantu orang tua.”

Kembali aku membereskan seiisi rumah dan menyiapkan makanan untuk ayah pulang kerja. Terbesit dibenakku bahwa aku tak ingin kembali lagi ke kota untuk kuliah, ingin rasanya di rumah saja mengurus ibu yang sedang sakit. Tapi aku yakin pasti mereka tak akan mengizinkannya. Rasanya aku tak rela nantinya meningalkan ibu yang sakit di rumah sendiri saat ayah bekerja, dan ayah yang menyiapkan makanan dan membereskan rumah.

Hari ini kondisi ibu mulai membaik, aku dan ayah sangat bahagia sekali. Ibu mulai bisa berjalan lagi, senyumnya yang indah tak pernah sirna dari bibirnya. Ibuku sangat cantik dengan kulit putih dan matanya yang indah.

Baca juga  Suara dari Seberang

“Yah, bagaimana jika hari ini kita ke kebun, supaya ibu dapat merasakan udara segar.”

“Boleh-boleh. Sudah lama juga kita tidak ke kebun.”

“Yey akhirnya kita jalan-jalan lagi.”

Aku menyiapkan bekal untuk kami makan di kebun, ayah menyiapkan kursi roda untuk ibu. Setelah semuanya beres kami langsung berangkat ke kebun. Tetangga juga banyak yang menyapa dan memberikan selamat bahwa kondisi ibu semakin membaik. Alhamdulillah akhirnya, walaupun masih dengan bantuan kursi roda tapi kondisi ibu sudah jauh lebih membaik. Setelah sampai di kebun, kami bercerita banyak hal, kulihat senyum ibu dan ayah. Semoga selalu seperti ini, gumamku dalam hati. Saat menikmati bekal yang sengaja kubawa dari rumah, tiba-tiba ibu berkata.

“Kalau ibu tidak ada nanti, kamu sama ayah harus tetap sering main ke kebun kita ya, Nak.”

“Iya dong, Bu. Pasti. Tapi kita tetap bertiga kok tetep sama ibu juga, atau berempat sama suamiku nanti, hehe sambil bercanda.”

“Iya, Bu. Nanti kita ke kebun sama menantu lo, putri kecil kita kelihatannya sudah ingin menikah ini,” goda ayah.

“Hehe iya dong, Yah, tapi aku ingin membahagian kalian dulu baru aku menikah.”

“Pilihlah pasangan yang baik, yang mencintaimu dengan apa adanya dirimu.”

“Seperti ayah kan, Bu. Hehe. Iya pasti itu Bu, Yah. Aku akan mengingat pesan-pesan kalian.”

Setelah kami bercanda di kebun dan selesai menikmati makanan, ibu mengajak pulang, katanya ibu mulai lelah dan ingin istirahat. Kami segera kembali ke rumah. Setelah sampai di rumah, aku mengambil air untuk membasuh kaki ibu, sebab surganya tak boleh kotor. Lalu ibu kembali berbaring. Aku memandangi wajah ibu ketika ia tertidur. Wajahnya terlihat kembali pucat, kugenggam tangannya. Air mataku mengalir dengan sendirinya aku sangat takut kehilangan ibu.

Baca juga  Kak Ros

“Kok kamu nangis, Nak.”

“Tidak apa-apa, Bu, ibu sehat selalu ya, aku takut ibu pergi.”

“Ibu sudah tidak tahan lagi, Nak. Rajin belajar dan kuliahnya yah. Jaga ayah.”

“Ibu nggak boleh bicara gitu, pokonya kita harus sama-sama terus.”

Genggaman tangannya semakin erat dan tiba-tiba mulai terlepas, matanya mulai terpejam dan ibu telah pergi menghadap Sang Pencipta. Aku langsung berteriak sambil menagis dan memanggil ayah, ayah juga ikut menangis dan memeluk ibu. Matanya terpejam dengan senyum indah yang selalu terpancar dari wajahnya. Di mana lagi kucari surga untukku, Bu? Aku menangis sambil terus memeluknya. (*)

Average rating 1.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: