Cerpen, Medan Pos, Siti Rahmah

Matahari Tanpa Cahaya

1
(1)

Sudah sepuluh tahun Kirana kehilangan sang anak. Kala itu sang anak pamit sebentar untuk bermain. Biasanya ketika pamit, pasti akan datang tak lama sebelum sore tiba. Dengan senyum semringah, juga peluh di wajah. Akan tetapi, hari itu berbeda. Sang anak memang pamit pergi untuk bermain seperti biasa, tetapi datang berupa berita duka yang dibawa oleh orang lain. “Baskara dan teman-temannya hilang. Tadinya bermain di dekat hutan. Namun, tiba-tiba saja mereka sudah tidak ada lagi di sana.” Sejak saat itulah, Kirana bak kehilangan separuh dari dirinya.

Banyak yang mengatakan bahwa Baksara dan kedua temannya itu hilang dibawa makhluk gaib. Sebab katanya mereka telah melanggar pantangan untuk tidak bermain di dekat hutan pada sore hari. Akan tetapi, Kirana sedikit kurang percaya dengan hal tersebut. Wanita itu hanya percaya bahwa Baskara diculik oleh orang lain. Dibawa ke kota dan diperkerjakan begitu rupa. Hanya, banyak yang tidak percaya anggapan logisnya itu. Para warga lebih percaya bahwa anak-anak telah dibawa oleh makhluk gaib. Jadilah para warga sibuk melakukan serangkaian tradisi kuno untuk membawa pulang anak yang hilang. Hasilnya apa? Nihil.

“Bunda harus ke kota lagi. Siapa tahu bertemu dengan Baskara.” Wanita yang telah ditinggal mati oleh sang suami itu mulai beranjak dari duduknya. Tak peduli pandangan sayu ketiga anaknya. Tungkainya yang ringkih itu melangkah perlahan menuju pintu. Namun, belum sampai tangan rentanya meraih kenop, tubuhnya tiba-tiba limbung. Syukurnya, ada tangan kokoh yang bergerak cepat menumpu tubuh ringkih itu.

“Bun, sudah. Bunda sedang tidak sehat,” ucap pria—anak tertua—bernama Tirta. Dibawanya sang ibu untuk duduk tenang di kursi kayu. “Urusan ke kota, biar Tirta dan Ardi saja.”

“Bunda harus bertemu Baskara sebelum pergi, Nak,” lirih Kirana dengan dua bola mata serupa obsidian yang tak lagi memancar cahaya. Hanyalah ada tatapan sendu yang selalu terpancar di matanya. Bahkan, sesekali air mata meluruh membasahi kedua pipi tirusnya. Teringat ia oleh anak berumur sembilan tahun yang telah lama menghilang tak tahu rimbanya.

“Entah ke mana Baskara hilang,” ucap Kirana membuka suara dengan parau. “Baskara tidak pernah ditemukan sampai sekarang. Jika masih hidup, mungkin Baskara sudah besar, gagah, lagi tampan.” Pandangan renta itu memandangi ketiga anaknya yang sudah beranjak dewasa. Kirana paham pandangan duka sang anak kepada dirinya. Senyum mulai terulas dengan tulusnya.

“Jangan berduka. Biarlah Bunda yang terselimuti duka. Kalian jangan.”

Sungguh suatu keironian. Kirana meminta sang anak agar tidak lagi berduka. Namun, sendirinya masih terpaku oleh perasaan duka. Duka yang telah lama mengakar kuat dalam dirinya. Apakah hal tersebut merupakan suatu keegoisan? Tentu, tidak. Memang fitrahnya seorang ibu yang tak ingin duka juga hampiri anak-anaknya. Biarlah ia sendiri yang menanggung segala duka, pedih, dan tangis dalam menghadapi segala realitas semesta. Janganlah sang anak juga menanggung kepedihan yang sama.

Baca juga  Kafe

“Sebentar lagi istriku akan melahirkan, Bun. Jika laki-laki, aku berjanji akan menamainya dengan nama Baskara. Semoga dengan itu, rasa rindudan duka Bunda terhadap Baskara sedikit terobati,” ucap Tirta yang seketika itu pula membuat senyum terulas manis di atas bibir tipis Kirana.

Tampak seorang pria yang datang tergesa menuju rumah bercatkan abu tua itu. Pria itu tampak membawa secarik kertas dengan potret wajah familier terpampang. Dengan tidak sabaran, pria itu mulai mengetuk-ngetuk pintu rumah itu sembari terus memanggil nama pemilik rumah.

“Ibu Kirana. Ini saya, Badu. Saya membawa kabar gembira untuk Ibu Kirana.”

Pintu terbuka menampilkan sesosok muda yang mirip sekali dengan Kirana. Ialah Hawa, anak bungsu Kirana.

“Ibu ada, Dik?”

“Bunda sedang sakit, Pak Badu. Sedang tidak bisa ditemui.”

“Saya membawa kabar gembira, Dik. Coba lihat! Itu kakakmu, ‘kan? Baskara!” Badu menyerahkan secarik kertas kepada Hawa. Sebuah kertas brosur yang tertulis bahwa akan diresmikannya Baskara Corp. Terlebih terpampang nyata potret familier di brosur itu. Tak ayal membuat Hawa terkejut bukan main. Bergegas ia menghampiri sang ibu. Memberitahu berita bahagia itu.

“Bunda! Kak Baksara, Bun! Kak Baskara!” Hawa sudah basah oleh air mata. Ditunjukkannya brosur itu kepada Kirana. Sejenak, Kirana terpaku dalam hening. Bergeming. Dalam mata yang tak lepas dari memahami apa yang terpampang begitu nyata di matanya. Sosok itu, sosok yang dicarinya selama ini. Telah menjadi seorang pengusaha muda dan terpandang di kota.

Air mata mulai meluruh. Kirana beranjak dari pembaringan dan meraih tangan sang anak pertama. “Tolong, antarkan Bunda menemui Baskara. Sekarang juga.”

Jarak antara desa dan kota memang terpaut satu jam perjalanan. Kini, Kirana bersama Tirta membelah jalanan menuju kota dengan menggunakan kendaraan. Sepanjang perjalanan, Kirana tak pudarnya terus tersenyum. Mengetahui bahwa sang anak telah sukses di kota, membuatnya senang bukan main.

Tak berapa lama, sampailah mereka di depan sebuah bangunan yang merupakan kediaman dari Baskara. Begitu bangganya Kirana atas pencapaian sang anak selama ini. Meski jauh dari sanak keluarga, ternyata Baskara mampu meraih asa. Disapunya pandangan pada kediaman besar itu. Sungguh, Kirana agaknya masih tidak percaya bahwa kediaman itulah tempat yang selama ini menampung Baskara. Bocah kecil yang selalu pamit untuk bermain itu. Kirana merasa sangat bahagia, sampai-sampai tak sadar bahwa air mata mulai luruh membasahi pipinya.

Baca juga  Cinta Paling Hebat

Sampai kemudian, waktu seolah berhenti kala mata Kirana bertemu pandang dengan mata tajam yang begitu dirindukan. Ialah Baskara, dengan tampilan gagahnya berdiri tak jauh dari dirinya. Akhirnya, setelah penantian sepuluh tahun, Kirana dapat bertemu dengan Baskara. Sesosok yang kini telah mencapai cita-cita semasa kecilnya, yakni menjadi seorang yang sukses dan kaya raya.

“Baskara, Baskara ini Bunda, Nak,” ucap Kirana dengan haru. Tangannya yang ringkih mulai meraih tangan sang anak yang kukuh. Namun, dengan tidak berhatinya tangan itu ditepis mentah-mentah. Membuat Kirana langsung terpancang, dengan mata menatap sendu tangannya sendiri. “Mengapa? Lupakah kamu bahwa tangan ini yang selalu menghapus air matamu, Nak? Lupakah kamu bahwa tangan ini lah yang selalu memberimu ketenangan dan kehangatan sewaktu kecil? Tangan yang juga selalu terangkat untuk mendoakan keselamatanmu selama ini.”

Kirana sudah semakin basah oleh air mata. “Mengapa kamu seperti ini, Nak? Kembalilah. Kembalilah ke tempatmu berasal. Jangan jadi mentari yang lupa akan cahaya.”

“Aku sudah menjadi seorang yang kaya. Untuk apa aku kembali lagi, Bunda?” Baskara tampak jemawa. Tampak tak sopan di hadapan ibu kandungnya sendiri. Harta, takhta, dan segala kesemuan dunia benar-benar menutup mata hati pemuda itu. “Kembali kepada orang-orang yang tidak pernah mau peduli. Untuk apa?”

“Maksudmu apa, Nak? Siapa yang tidak memerdulikan siapa?”

“Sepuluh tahun sudah berlalu. Selama itu pula, adakah usaha untuk mencariku?” Baskara berdeceh remeh. Matanya selama beberapa saat bersitatap dengan Tirta. Kemudian, diputuskannya pandangan itu sembari berdeceh remeh. “Bunda dan ketiga saudara itu memang tidak pernah memedulikanku. Jika peduli, harusnya kalian mencariku!” Rahang pemuda itu mengeras. Kedua tangannya juga mengepal sampai buku-buku tangannya memutih. “Tergopoh aku seorang diri hidup di kota. Terpisah dari kawananku ketika telah berhasil bebas dari pelaku penculikan. Berusaha mencari sesuap nasi, berusaha bertahan hidup seorang diri. Tak sedikit aku dicaci kala berusaha meminta untuk diantarkan ke desa yang tak seorang pun tahu desa itu. Adakah kalian peduli, hm?” Rahang Baskara mulai mengeras. “Tidak! Sama sekali tidak! Aku tidak akan kembali. Tempatku yang sebenar-sebenarnya adalah di sini.”

“Apa yang kamu pikirkan, Nak? Demi Allah, tak pernah tebersit pun rasa tidak peduli padamu.” Kirana akan kembali meraih tangan Baskara. Namun, lagi-lagi kembali ditepis. Kali ini penuh kekasaran sampai Kirana nyaris terjatuh ke tanah jika tidak ada yang menumpu badan ringkihnya. “Bunda, Tirta, Ardi, dan Hawa selalu berusaha mencarimu ke kota. Namun, kamu seolah hilang ditelan bumi, Baskara. Kembalilah, Nak. Kembalilah kepada keluargamu yang selalu peduli padamu.”

Baca juga  Seperti Capung

“Baskara sudah berubah, Bun.” Tirta yang merengkuh sang ibu mulai menatap Baskara dengan pandangan amarah dan benci. “Tinggalkan dia. Biarkan dia hancur dengan segala kesenangannya.”

Kirana hanya bisa menatap Baskara dengan sendu. Sarat akan harap untuk pemuda itu kembali ke pangkuannya. “Baskara, anakku. Ingatlah satu hal bahwa Bunda selalu ada dan memperhatikanmu dari jauh. Kembalilah jika kamu ingin kembali.” Setelah mengatakan itu, Kirana bersama Tirta pun pergi dari hadapan Baskara.

Kenyataan memang menyakitkan. Kadang kala tebersit rasa tidak sanggup untuk menghadapinya. Namun, begitulah hidup. Selalu ada ujian di dalamnya. Sebagai bentuk bahwa kepedulian dari Tuhan itu masih ada. Sebagai bentuk bahwa kasih sayang Tuhan senantiasa tercurah untuk hamba-Nya yang diuji.

Kirana. Telah lama idamkan pertemuan dengan Baskara. Namun, kenyataan menampar dirinya bahwa Baskara tidak menginginkan pertemuan itu, tidak menginginkan untuk kembali. Wanita itu hanya bisa menjadi pengamat untuk sang anak. Berharap sang anak akan kembali. Sampai pada akhirnya ia terbaring lemah saat ini.

“Istriku sudah melahirkan, Bunda. Laki-laki!” Tirta meremas tangan Kirana yang melayu. “Seperti janjiku, aku akan memberi nama Baskara. Meski aku tidak rela, tetapi janji tetaplah janji. Harus ditepati.”

Mendengar itu, Kirana mengulas senyum tipis di bibirnya yang pucat. “Jangan beri nama Baskara saja, Nak. Sandingkan dengan nama yang berartikan cahaya. Biar nasibnya tidak sama dengan Baskara yang sudah jauh dari cahaya, yang tak ada lagi cahaya di hidupnya.” Kirana menampilkan sorot sayu yang sarat akan kelembutan hatinya. “Jika suatu saat nanti Baskara sadar akan hidupnya dan kembali, katakan … katakan bahwa Bunda sudah memaafkannya.”

Tepat pada hari Jumat, Kirana telah mengembuskan napas terakhirnya. Asanya memang tak sampai untuk meraih Baskara kembali kepada cahaya. Namun, perasaan yakin hampiri dirinya. Bahwa sejauh apa pun melangkah, mataharinya tidak akan pernah lepas dari cahaya. Matahari tanpa cahaya, tak akan pernah ada.

Siti Rahmah, berasal dari Kalimantan Selatan.

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: