Cerpen, Fahrus Refendi, Pontianak Post

Mengundang Kematian

5
(1)

Usia Sargito telah menginjak setengah abad. Ia dikaruniai empat orang anak hasil pernikahannya dengan Hartatik. Sargito sehari-harinya hanya bekerja serabutan, jika ada panggilan untuk melaut ia akan melaut, tapi jika tidak ada ia hanya tiduran saja di rumah. Apalagi jika musim angin kencang Sargito bisa tidak bekerja selama berminggu-minggu.

Sehari upah yang didapat Sargito dari melaut tak menentu, tergantung hasil ikan yang didapat. Anak Sargito tiga laki-laki dan satu perempuan. Tiga puluh lima tahun usia pernikahan Sargito dan Hartatik tapi tak pernah sekalipun mereka merasa hidup nyaman, keluarga mereka selalu dirundung kesedihan. Lantaran kemiskinan.

Selain bekerja melaut, Sargito beternak ayam jago di rumahnya. Setiap hari Jumat rumah Sargito banyak didatangi orang-orang penyuka sabung ayam, fasilitas pendukung untuk sabung ayam tersedia lengkap. Dari situ Sargito mendapat bayaran atas penyewaan: gelanggang, karpet gelanggang, dan jasa memandikan ayam jago yang akan adu.

Kemahiran Sargito dalam hal memandikan ayam jago sudah tidak diragukan. Pemilik ayam jago banyak yang berkeyakinan bahwa jika ayamnya dimandikan oleh Sargito ayamnya akan sehat kembali ketika diadu. Dari jasa itulah Sargito banyak memperoleh pundi-pundi rupiah. Cukup untuk beli rokok dan sisanya diberikan pada Hartatik. Suatu hari Sargito mendapat job untuk memandikan ayam jago lagi. Siang itu Sargito dijemput mobil ke rumahnya.

“Cepat naik!” Dengan langkah tenang Sargito masuk dan duduk di jok tengah mobil. Sargito merasakan kursinya empuk, beda dengan kursi di rumahnya yang sudah usang dan reot. Di dalam mobil Avanza tersebut ada sekitar enam orang di dalam.

“Kenapa diam saja, To?” ucap lelaki yang duduk di jok depan.

“Oiya, sebelumnya perkenalkan namaku Malin, kudengar kau… oh sudahlah nggak penting, yang terpenting nanti laksanakan tugasmu dengan baik! Dan satu lagi, jika ayamku menang, ada bonus khusus buatmu!”

Mendengar hal itu hatinya semakin bersemangat dalam menikmati perjalanan, angannya berpetualang ke mana-mana.

Sepanjang perjalanan Sargito memperhatikan betul jalan yang dilaluinya. Setelah melewati jalan raya mobil yang ditumpanginya masuk gang. Habis itu mobil melaju menembus rimbunnya pepohonan, banyak pohon kelapa dan pohon lontar menghiasi pandangan Sargito. Beberapa saat kemudian mobil berhenti dan penumpang dalam mobil tersebut keluar dan berjalan menyusuri jalan setapak ke arah Timur. Setelah sampai pada tempat yang dituju, semua rombongan tersebut sudah ditunggu, ada banyak orang di tempat itu. Sejurus kemudian Sargito melakukan tugasnya dengan cekatan.

Baca juga  Perempuan Tua dalam Kepala

Hari itu Sargito menerima bonus dari Malin karena ayam yang Sargito mandikan menang dalam aduan. Mereka Pulang dengan muka senang.

Tiap hari keluarga Sargito selalu jauh dari kata cukup. Bila Sargito mendapatkan panggilan mandiin ayam itu hanya cukup untuk membeli lauk saja. “Apa tidak kita jual saja tanah yang di depan itu, Kak?” ucap Hartatik. Hartatik melontarkan kata-kata itu pada suaminya. “Jika hanya menunggu mendapat panggilan melaut dan mandiin ayam kita bisa mati konyol,” lanjutnya.

“Aku juga pusing memikirkan hal ini, mengapa hidupku selalu susah begini!” terdengar oleh Hartatik suara suaminya menangis tersedu-sedu. Sargito berdiri dan membuka pintu depan dia keluar dari kamarnya dan duduk di kursi depan.

“Sudahlah, Kak. Kita jual saja tanah warisan orang tuaku ini untuk menutupi semua kebutuhan kita! Itu bagianku kok!”

“Tidak baik menjual tanah warisan orang tua, Tik! Pamali.”

Malam itu Sargito dan Hartatik terlibat pembicaraan yang pelik bagi keduanya. Pembagian tanah warisan oleh orang tua dari Hartatik sudah dibagi rata. Hartatik mempunyai satu saudara perempuan. Sewaktu masih belum sama-sama bersuami, Hartatik dan saudaranya pernah dikumpukan dalam satu meja oleh bapaknya. Bapaknya berpesan pada mereka supaya jangan sampai bertengkar gara-gara warisan. Memang dalam hal warisan inilah yang sering ada percekcokan antar saudara. Bapaknya menginginkan hal itu tidak terjadi pada mereka berdua.

Hartatik mendapat tanah warisan di depan tepat di depan rumah yang di tempatinya, sedangkan bagian saudaranya di belakang rumahnya. Dalam kehidupan sehari-hari saudara perempuan Hartatik lebih mapan kehidupannya dari pada keluarga dia sendiri. Suami saudaranya bekerja sebagai guru di sekolah menengah atas di kota. Kehidupan mereka sejahtera dengan hanya mempunyai dua orang anak. Terkadang Hartatik dan Sargito sering dipanggil ke rumah saudaranya untuk bantu-bantu mengangkat telur ke truck untuk nantinya dikirim ke luar kota. Memang keluarga dari saudara Hartatik juga mempunyai usaha telur. Dari sana Sargito dan Hartatik dikasih uang oleh saudaranya.

Baca juga  Di Bawah Pohon Beringin

Di sisi lain memang saudara Hartatik banyak membantu keluarga Sargito. Mereka sangat menyayangi, apalagi kalau urusannya anak-anak Sargito. Anak Sargito yang paling tua sudah lulus SMA dan semua biaya pendidikan ditanggung saudara Hartatik tersebut.

“Aku punya cara jitu biar cepat dapet uang, Kak?”

“Jangan bilang kau pelihara tuyul, Tik!” Sargito yang duduk sambil memegangi kepalanya menjawab pertanyaan dari Hartatik.

Kemelaratan hidup memang sudah menghiasi keluarga Sargito. Beruntung Tuhan masih memberi kesehatan pada mereka sejauh ini, tidak pernah masuk rumah sakit. Jika musim penghujan datang rumah yang mereka tempati bocor di mana-mana, lubang kecil banyak terlihat di setiap sudut rumah yang sudah lapuk dan usang. Setiap hari dapur harus selalu mengepul. Berbanding terbalik sama Sargito yang akhir-akhir ini tidak bekerja: cuaca di laut buruk, dan tidak ada pesanan mandiin ayam jago lagi, membuat Sargito dan Hartatik memutar otak biar anak-anak mereka bisa makan.

Tuntutan hidup setiap hari Sargito rasakan, dia merasa tidak becus menjadi kepala keluarga dan merasa telah gagal dalam berumah tangga, sempat berpikiran Sargito ingin pergi jauh meninggalkan anak-anak dan istrinya untuk nantinya kawin lagi bersama wanita lain, namun hati kecilnya tidak tega jika harus meninggalkan anak dan istrinya. Ada semacam rasa kasihan melihat mereka hidup susah.

Terkadang Sargito menangis sendiri tatkala melihat tetangga bisa hidup berkecukupan, sedangkan keluarganya untuk makan saja susah. Tetapi meski hidupnya sangat susah Sargito masih menyempatkan untuk selalu bersyukur, karena bagi dirinya kesehatan nomor satu. Dan Tuhan memberikan itu pada keluarganya.

Sore itu Sargito menunggu kedatangan Hartatik, Sargito ingin menanyakan perihal pekerjaannya. “Dari mana kaudapatkan uang, Tik?” Ucap Sargito. Tanpa menoleh sedikitpun Hartatik masuk ke dalam kamarnya. Hal tersebut membuat dada Sargito semakin penasaran terhadap istrinya tersebut. Seminggu yang lalu Sargito mengalami demam, badannya menggigil. Dingin ia rasakan di sekujur badannya. Akibatnya Sargito harus beristirahat, kepalanya pusing dan membuat ia tidak bisa bekerja.

Baca juga  Pertanyaan Aneh Pak Sudi

Meski suaminya tak lagi bekerja Hartatik tetap bisa membeli keperluan dapur, bahkan lebih dari cukup. Sehari-hari Hartatik merawat suaminya yang sakit. Setiap Sargito menanyakan tentang pekerjaannya Hartatik selalu bungkam. Beruntung selama ini anak-anak mereka tidak pernah meminta yang bukan-bukan. Sepertinya mereka memahami kesulitan kedua orang tuanya. Kelaparan! Ya, kata itulah yang akrab dengan keluarga Sargito sehari-hari, mereka sekeluarga hidup dalam serba kekurangan. Dalam satu meja makan keluarga Sargito berkumpul.

“Kok tumben, minggu-minggu ini kita sering makan enak, Bu!” Anak yang paling bungsu mereka menjawab. Sargito hanya mendongakkan kepalanya dan memandang mata Hartatik. Sementara Hartatik hanya mengelus rambut anaknya itu yang masih berusia lima tahun.

“Kita diberi rezeki oleh Allah… Sayang, kita harus syukuri ya! Sudah makan lagi, habiskan makanannya ya. Jangan ada sisa, mubazzir.” Raut wajah anak-anak itu kelihatan sangat gembira sekali. Sehabis Isya bulan tampak menggantung di bawah pohon mangga. Angin malam berdesir sepoi-sepoi menerpa kulit Sargito dan Hartatik. Hidup memberikan kelu yang pelik di dada. Kebengisan hidup telah menyiksa keluarga mereka.

***

Selamat pagi pemirsa, apa kabar Anda, kabar pagi kembali menemani Anda selama dua jam ke depan, kami akan memberikan rangkaian informasi menarik untuk Anda bersama saya Haris Pahlevi inilah kabar pagi selengkapnya.

Satu keluarga tewas di desa Tagunna, mereka diduga menenggak racun yang di campur dalam makanan. Mulut mereka ketika ditemukan berbusa. Kepolisian saat ini sudah berada di tempat kejadian. Pihak kepolisian masih menyelidiki penyebab pasti kematian satu keluarga ini. Di duga kuat mereka sengaja minum racun karena ditemukan racun serangga di samping meja makan.

Demikianlah kabar pagi hari ini. Sampai jumpa. []

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: