Cerpen, Herumawan PA, Radar Mojokerto

Pengusir Hantu

4.5
(2)

Aku dan anakku baru beberapa hari menghuni rumah tua di ujung jalan kampung. Konon kata warga kampung, rumah tua itu ada “penghuni”-nya, semacam hantu. Dan hantu-hantu akan selalu menganggu manusia yang mencoba menempati rumah tua itu. Pokoknya tidak boleh ada yang mengusik ketentraman dan kenyamanan hantu-hantu di situ.

KONON katanya lagi, beberapa penghuni rumah tua sebelumnya juga sering diganggu, membuat mereka tidak betah lalu angkat kaki dari sana. Anakku sudah ketakutan ketika mendengar cerita warga soal rumah tua yang kami tempati ternyata berhantu. Kutenangkan ia, kuelus rambut kepalanya sambil berkata, “Ayah tidak akan membiarkanmu ketakutan, Nak.”

Ia mulai bisa tenang, tidak tampak lagi guratan ketakutan di wajahnya. Tapi pagi harinya, anakku datang menghampiriku dengan wajah penuh ketakutan.

“Yah, semalam aku lihat kompor nyala sendiri.” suaranya tampak bergetar.

“Kamu lupa belum matikan kompornya ya.” Anakku menggeleng pelan.

“Itu pasti ulah hantu penghuni rumah ini kan, Yah.” Aku tersenyum.

“Sudah jangan takut, nanti malam Ayah atasi. Sekarang kamu main dulu bersama teman-temanmu ya.” Ia mengangguk lantas menuju ke halaman rumah di mana teman-teman sebayanya sedang bermain engkling.

“Aku kira hanya manusia yang main kompor-kompori masalah.” Aku lalu bergegas ke dapur, mempersiapkan sesuatu untuk nanti malam.

***

“Yah, kenapa tadi tumpangkan ketel air di atas kompor?” tanya anakku pada malam hari menjelang tidur. Aku tersenyum sambil menyelimutinya.

“Nak, itu buat hantunya. Biar mereka kapok.”

Anakku mengangguk lalu memejam matanya. Aku kembali ke kamarku. Menunggu sesuatu yang akan terjadi. Dan benar saja, sepuluh menit kemudian, ketelnya berbunyi. Aku bergegas menuju dapur. Ketika tiba di dapur, kulihat api di kompor sudah padam sendiri. Segera, kuambil gelas, kutuangkan kopi dan sedikit gula, lalu ganti air panas dari ketel.

Baca juga  Pengintai

“Ah mantap, punya kompor ajaib, bisa nyala dan mati sendiri. Terima kasih, Hantu.”

Kubawa segelas kopi ke ruang tengah sembari menonton pertandingan sepak bola. Tapi semenjak itu, kompor kembali semula. Tidak pernah lagi menyala sendiri pada malam hari. Sayangnya itu bukan terakhir. “Teror” hantu yang lain muncul. Pagi itu, anakku datang dengan raut wajah ketakutan menghampiriku yang sedang menulis di kamar.

“Yah, semalam aku lihat kursi malas di ruang tengah bergoyang sendiri.”

“Mungkin kena angin.”

“Enggak mungkin, Yah. Semua jendela kan sudah ditutup.”

Aku terdiam sesaat.

“Ayah bisa atasi kan.”

“Tenang, Ayah bakal atasi.” kata-kataku membuat raut ketakutan di wajahnya memudar. Ia lantas kembali ke kamarnya.

“Apa mungkin hantunya rebutan naik ke kursi malas sampai buat bergoyang sendiri? Ah hantu kok mirip manusia, sukanya rebutan kursi saat pemilu tiba.” Aku membatin lalu memikirkan cara yang akan kupakai hadapi hantu nanti malam.

***

“Ayah sudah punya cara atasinya?”

Aku mengangguk. Lalu menyelimutinya. Keluar dari kamarnya, aku kembali ke kamarku. Melanjutkan aktivitas menulis novelku yang sudah mendekati deadline.

Tengah malam, kudengar suara kursi malas bergoyang pelan. Aku keluar kamar. Kudekati kursi malas. Langsung kududuki. Karena tubuh yang lelah ditambah goyangan pelan kursi malas, aku segera tertidur pulas. Esok harinya, anakku yang melihatku tertidur di kursi malas langsung membangunkanku.

“Ayah, bagaimana hasilnya?” tanyanya saat aku sudah terbangun.

“Hantunya tidak akan ganggu lagi. Kamu sekarang tidak perlu takut lagi.”

Ia gembira mendengarnya. Tapi kegembiraannya hanya pagi itu saja. Karena pagi berikutnya, ia datang menghampiriku yang sedang menyelesaikan bab terakhir novelku di kamar. Tampak raut wajah ketakutan.

Baca juga  Pengakuan

“Yah, semalam lampu di ruang tengah tiba-tiba hidup mati sendiri.”

“Mungkin baru ada pemadaman bergilir.”

“Enggak mungkin, Yah. Kalau pemadaman bergilir, pasti matinya lama.”

Aku berpikir sejenak.

“Hari ini kita beli banyak kue di toko, jangan lupa nanti undang dua atau teman sekolahmu bersama orang tuanya.”

Ia hanya mengangguk, tanpa banyak tanya.

“Ini hantu kok suka mainkan lampu. Enggak beda dengan manusia yang mainkan ketakutan lewat hoax atau fitnah untuk kepentingan sesaat.” Aku membatin.

“Yah, ayo berangkat.”

***

Tiga teman sekolah anakku datang bersama orang tuanya ke rumah, malam ini. Kue-kue enak yang tersaji di atas meja langsung jadi rebutan meskipun orang tua mereka sudah mengingatkan soal sopan santun bertamu di rumah orang. Lampu di ruang tengah tiba-tiba hidup mati. Mereka sempat ketakutan, juga anakku. Kutenangkan mereka.

“Tenang, tidak perlu takut. Kan jadi mirip disko.”

Kuajak mereka ke ruang tengah. Kuperdengarkan lagu Campursari yang sedang populer saat ini. Kuajak mereka berjoget. Lama kelamaan, ketakutan mereka sirna berganti keceriaan.

Waktu sudah beranjak, mereka bergegas pulang ke rumah masing-masing. Lampu ruang tengah kembali seperti semula, tidak berkedap kedip lagi.

“Terima kasih, Yah. Sekarang hantunya enggak bakal ganggu lagi.”

Aku hanya tersenyum. Padahal aku sendiri juga takut hantu, tapi demi ketenangan hidup anakku, apa pun akan kulakuan.

Yogyakarta, 20 Desember 2020

HERUMAWAN PRASETYO ADHIE (HERUMAWAN PA). Pernah dimuat di Apajake.com, Bangka Pos, Banjarmasin Post, Harian Analisa Medan, Harian Jogja, Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Koran Merapi, Suara Pembaruan, Koran Pantura, Majalah Story, Minggu Pagi, Majalah Kuntum, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Jombang, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Republika, Serambi Ummah, Solopos, Tabloid Nova dan Utusan Borneo (salah satu surat kabar Malaysia). Tiga buku antologi indie. Satu horor, satu romantis dan satu cerita tentang sosok ibu. Satu buku antologi indie cerita anak. Tulisan saya di Kompasiana masuk dalam buku Cinta Indonesia Setengah terbitan Bentang Pustaka berkerjasama dengan Kompasiana bulan Agustus tahun 2013. Buku Kumpulan Cerpen berjudul Pulsa Nyawa karya saya, terbit bulan Agustus 2019 oleh AT Press Lombok. Cernak karya saya masuk dalam Antologi Cerita Pendek Anak Indonesia berjudul 20 Pesan Cerita Hebatkan Anak Indonesia terbitan Kinomedia, September 2019.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: