Cerpen, Maya Sandita, Singgalang

Problema Malina

5
(5)

Potret-potret di pajang di dinding. Mengisi sisi polosnya yang kosong dengan kenangankenangan dalam bingkai dan dilapisi kaca bening. Mereka ada di dinding ruang tamu, di dinding kamar bercat biru, sampai ke lorong dapur yang singkat itu. Ukurannya beragam, mulai dari yang sebesar telapak tangan sampai yang menyaingi lebarnya pintu. Mereka berisi wajah-wajah masa lalu. Lebih tepatnya, wajah Malina kecil bersama pemilik wajahwajah lainnya terpampang di situ. Malina membutuhkan semua potret itu dipajang jelas dan memadati rumah.

Demikian hasil ia bersikukuh dan berdebat hebat dengan suaminya seminggu yang lalu. Hanya demi potret-potret itu dapat dipajang di rumah mereka yang baru.

“Rumah kita tidak bisa dipenuhi dengan foto-foto ini, Malina. Ayolah, mulai hidup baru kita. Jika kita memajang seluruh foto ini, tempat untuk foto pernikahan kita tidak ada lagi.” Fahri mencoba membujuk dengan kalimat ini beberapa kali. Namun kalah. Tangisan Malina yang membuatnya menyerah. Akibatnya, mereka hanya punya satu foto berdua yang – seperti dipaksa – ikut dipajang bersama-sama dengan foto-foto lawasdi dindingdinding rumah yang begitu luas.

Fahri termasuk tipikal lembut dan penyayang untuk seorang lelaki dan Malina sangat beruntung tuhan memberinya pasangan seperti ini. Tak pernah sekalipun Fahri dengan sengaja marah pada Malina atau bicara keras padanya. Biasanya Malina menangis karena terharu atau saat ia dengan sendirinya teringat dan menyesali masa lalu. Beruntungnya, Fahri ada di sana. Ia akan mengusap rambut panjang Malina dan berkata, “Aku di sini, Malina. Takkan kemana-mana.” Lalu dengan ajaib air mata Malina akan sirna dalam dekapan suaminya.

Fahri selalu begitu dan karakternya menjadi semakin kuat ketika ia tahu istrinya tengah mengandung buah hati mereka. “Malina jangan menangis, nanti adik bayi juga menangis. Bukankah kita ingin bayi mungil yang ceria dan manis?” Ia katakan itu tiap kali emosi Malina memburuk. Ia yakin ini disebabkan perubahan hormon, karena itulah perasaan istrinya bisa melambung kadang ambruk. Untung saja Fahri senang membaca. Kali ini artikel kehamilan yang kerap ikut-ikutan ia baca seperti yang dilakukan istrinya. Ia juga perlu paham kondisi Malina, begitu pikirnya.

Sore itu, sepulang Fahri bekerja, ia lepaskan helm dari kepala dan memburu Malina yang duduk menunggunya di beranda. “Hai, ibu dan calon bayi, ayah sudah pulang!” katanya riang.

Baca juga  Perempuan dalam Baju Zirah

Tapi raut wajah Malina murung. Ia tak sama dengan cantiknya langit sore yang mengusir mendung. Fahri tahu ada yang tak biasa, maka diajaknya Malina masuk dan duduk di dalam saja.

Malina duduk di sofa. Matanya melihat sebuah foto lama yang – tentu saja – ada di dinding. Ada seorang perempuan di sana, tengah menggendong seorang anak kecil dengan gaun merah muda. Ya, itu Malina dan ibunya.

“Kita belum memberitahunya,” katanya dengan mata masih terpaku ke arah yang sama.

“Siapa?” tanya Fahri.

“Perempuan itu,” tunjuk Malina pada foto ibunya.

Fahri tak menjawab segera. Ia sudah tahu dan sadar bahwa mereka baru hanya mengabari orang tua Fahri saja. Ibu dan ayah Malina belum dapat berita kehamilan anaknya. Fahri sengaja diam, sebab ia khawatir Malinaentah Malina akan jadi semakin muram.

Fahri mengenal Malina sejak lama. Bangku usang di SMA jadi saksi bagaimana dulu mereka sering duduk berdua untuk tugas sekolah atau menghabiskan makanan yang dibeli dari kantin Mbok Mijah. Malina dewasa sebagai gadis yang tak biasa.

Ibu dan ayah Malina berpisah dan telah memilih untuk mengawali hidup lagi dengan pasangan baru mereka. Tapi bukan sejak saat itu Malina merasa sepi menjalari seluruh hidup dan relung hatinya. Sudah sejak lama. Sejak Malina mulai merasakan lecutan ikat pinggang atau tangkai sapu di kakinya, atau ketokan gayung di kepala dan hidung kecilnya, atau juga umpatan di depan mata yang mencincang hatinya. Begitu tentu jika Malina salah. Tapi jikapun Malina berprestasi di sekolah, tak ada pujian yang bisa membuat ia lebih semangat di semester depan. Untungnya Malina belajar karena ia suka, bukan karena siapa-siapa – bahkan ayah atau ibunya.

Sampai Malina akhirnya memilih kuliah di luar kota. Fahri memilih kampus yang sama hanya demi bisa selalu dekat dengan Malina.

Gadis itu tak pernah ditelfon orang tuanya. Hanya ibu dan ayah Fahri yang bertanya setiap hari. Hidup Malina sangat sepi.

Tapi ia selalu memajang fotofoto di kamar kosnya. Isinya kenangan-kenangan yang dulu ia tak ingat memilikinya ketika di usia berapa. Yang ia lihat, di sana ia tertawa bahagia, ibunya tertawa bahagia, ayahnya juga. Begitu cara Malina mencoba agar tak merasa sendiri.

Baca juga  Tuan dan Tamu

“Kita telfon, ya?” katanya tibatiba. Membuyarkan lamunan Fahri tentangnya.

Fahri segera melihat ada sesimpul senyum yang coba dilahirkan dari sana. Berharap ada balasan yang juga berarti bahagia.

“Pakai nomorku saja,” tawar Fahri seketika. Wajah Malina lagilagi berubah. Ia ingat selama ini telepon dengan nomor pribadinya tidak pernah diangkat.

“Halo, Bu. Ini Fahri,” kata suami Malina setelah panggilan dijawab di ujung sana.

Fahri lantas memberikan ponsel pada Malina.

“Sebentar lagi Malina akan jadi ibu.” Hanya itu yang ia ucapkan.

“Kau ini bicara dengan siapa? Tidak panggil nama, tidak ada kata sapa.”

Malina mengulang lagi kalimatnya, “Sebentar lagi Malina akan jadi ibu.”

“Jadi ibu? Kalian baru menikah tiga minggu dan kau bilang akan jadi ibu? Apa itu anak sudah kalian bikin duluan?” Omongan perempuan di seberang telepon hanya berisi kecurigaan-kecurigaan. Fahri bisa dengar itu. Ia juga bisa lihat istrinya diam bak batu. Sementara air matanya jatuh satu-satu. Tanpa suara, sedu sedan tak ada.

Fahri meraih ponselnya dan langsung menonaktifkannya pelan-pelan, seolah telepon tak sengaja diputuskan.

Ia peluk Malina. Ia bawa duduk di sofa.

Sampai besok pagi, sedih Malina belum pergi. Ia masih nyata dalam pandangan dan sudut mata sayu dalam bingkai wajah yang sesungguhnya ayu.

“Malina jangan menangis, nanti adik bayi juga menangis. Bukankah kita mau bayi mungil yang ceria dan manis?” Fahri mengulang kata-kata itu lagi. Malina membalas dengan senyum tipis. Tipis sekali.

Hari-hari Malina dihabiskannya dengan menulis cerita. Hanya itu yang bisa ia lakukan sementara tak bisa bekerja seperti biasa. Ia cuti mengajar di sekolah sebagai guru bahasa Indonesia. Mual muntah yang berat serta sakit pinggang yang terlalu membuat ia harus mengambil keputusan itu. Ya, selain mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan tentu saja. Selain itu, kadang-kadang ia akan menghabiskan waktu untuk ngobrol di telepon dengan adiknya. Seperti siang ini, ketika matahari belum lagi naik terlalu tinggi.

“Kak Malina, bagaimana kabarmu di sana?” suara merdu itu menyambangi telinga Malina.

“Baik, Dik. Hanya saja masih mual muntah dan pinggang terasa sakitnya lumayan parah.”

Baca juga  Prometheus Ubud

Seseorang di dekat adik Malina tiba-tiba menyelonong masuk ke pembicaraan, “Berlebihan sekali! Anakku tujuh, aku tidak sakit pinggang dan mual muntah agak satu kali. Heh!” kalimatnya terdengar seperti ledekan di telinga Malina.

Malina menutup teleponnya. Ia berkata harus menyelesaikan tulisannya karena batas pengiriman karya lomba sudah di depan mata. Malina tak betah berlamalama mendengar suara yang sama dengan sore kemarin itu. “Suara perempuan itu.” Tangannya mendadak kaku.

Tiga bulan berlalu sejak penutupan pengiriman karya sastra yang Malina ikuti. Pengumuman pemenang hari ini. Malina dengan sengaja menunggunya.

Dan memang rejeki tidak kemana. Malina meraih peringkat pertama.

Lalu, apakah berita itu sampai pada seorang perempuan di seberang pulau sana?

Tentu saja, sebab sebentar kemudian datang telepon pada Malina. Perempuan itu tahu bahwa hadiah yang Malina dapat cukup besar jumlahnya. Lalu ia berkata bahwa ia butuh biaya untuk cicilan ponsel pintar adik Malina dan televisi LED di rumahnya. “Boleh ibu pakai, Nak?”

Malina tersentak.

Ia seperti bangun dari tidur panjang yang lelap dan sunyi. Ia seperti pernah mendengar kalimat ini dulu, dulu sekali.

“Nak?” ulangnya sendiri.

Di mana kata itu selama ini? Kemana ia pergi dan kenapa ia bisa pergi? Malina bertanya-tanya tapi tak tahu pada siapa. Ia tenggelam dalam pikirannya.

Telepon itu masih menghubungkan panggilan antara keduanya. Telinga Malina tak lagi fokus pada suara yang keluar dari sana. Matanya memandang satu persatu potret yang terpajang di dinding rumahnya. Ada wajah Malina dan wajah-wajah lain di sana. Ada wajah seorang perempuan yang menggendong anak perempuan dengan gaun merah muda. Selama ini Malina memajangnya agar ia tak lupa siapa dirinya, yang mana wajah ayah dan ibunya, ia punya masamasa yang bahagia sepanjang masa kecilnya. Dan kini perempuan yang ada dalam bingkai kaca itu meneleponnya setelah sekian lama – demi cicilan hutang yang harus dibayarnya.

Dan Malina bukanlah Malin yang kondang kisahnya, ia bukanlah anak durhaka. (*)

Batam, 5 Oktober 2020

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: