Cerpen, Jawa Pos, Sarita Rahel Diang Kameluh

Prometheus Ubud

4.6
(8)

Konon, beberapa selang tahun ke depan, akan terjadi sebuah kisah tragis antara manusia dan para dewata, mirip seperti Prometheus yang menyodorkan api dan membuat Zeus murka di Yunani masa lampau.

DI HALAMAN belakang sebuah rumah di Banjar Kawan di Desa Mas, Ubud, seorang wanita bernama Iloh Maitri, setengah makhluk luar angkasa, berusia nyaris separo abad, sedang duduk santai di lantai semen kusam yang sebagian sisinya sudah berlumut. Ia tidak pernah punya bapak dan konon ibunya dihamili oleh benih makhluk bercahaya raksasa bertelinga kendi, begitu kata para saksi di desa, dan menyebut makhluk raksasa itu adalah arwah Kumbakarna yang turun dari kayangan. Konon patung marmer Kumbakarna di area pura Uluwatu sempat menghilang hari itu, ketika ibunya dihamili oleh makhluk bercahaya dari langit. Saat usia wanita itu baru dua tahun, ibunya menjadi sawe, mulutnya diberi emas dan dingabenkan masal di Desa Pakreman. Ia pun diasuh oleh para wanita pemahat patung Ubud hingga dewasa.

Tetapi, tak ada yang menyukai dan dekat dengannya: ia bermuka buruk rupa dan sangat tinggi. Tetapi, tangannya tampak diberkahi oleh Brahman, seperti orang Arya Maha Resi yang diserbu sruti, sebab ia begitu cakap hingga ukirannya terlihat sempurna seakan-akan patung-patung itu berdarah dan berdaging. Ada desas-desus dari tetangga Desa Mas yang risau bahwa togog-togog Iloh Maitri berjalan-jalan, berkedip, dan menarik napas pada malam hari. Patung Dwarapala hasil tangannya yang terpasang di gerbang pintu Pura Tirta Empul yang rimbun dengan janur dan harum dupa serta bunga-bunga itu terkenal pernah menonjok kepala seorang wisatawan karena menginjak sesaji Canang Sari.

Tangan Iloh Maitri memegang pahat lurus, palu, dan sebongkah kayu potong berwarna putih. Dia memahat kayu itu tanpa mengukurnya lagi. Sambil menggebuk-gebukkan palu di tangan kanan ke bonggol pahat lurus di tangan kirinya.

“Sebenarnya, geg, alasan utama untuk mengukir para dewata ini adalah… karena orang-orang desa menjauhi saya sebab saya buruk rupa, berbadan terlalu tinggi, dan saya adalah keturunan raksasa Rahwana dari kayangan. Tetapi, bayi mana yang terlahir sebagai monster? Lalu, saya menyadari para dewa-dewi itu pasti memiliki rencana untuk saya, mungkin rencana yang hebat dan menggemparkan seluruh Bali. Bukanlah suatu kebetulan bahwa Kumbakarna datang dari kayangan memerkosa ibu saya. Karena ingin lebih mendekatkan diri pada mereka, saya memutuskan untuk menjadi pengukir.”

“Sejak remaja saya sudah mengukir ratusan togog dewa-dewi, makhluk mitos, serta manusia Nirvana. Saya mendengar bahwa patung-patung yang diukir sempura, penuh kecakapan, dan ilmu batin akan dirasuki oleh arwah nama-nama patung itu. Lalu, patung-patung itu siap diberi nilai tukar, dirasuki roh, menjaga rumah dan pura, didoai, diberi sesajen. Kadang saya merasa menjadi patung dewa itu hal yang sulit: sebab kau terdiam membatu atau mengayu mendengar keluh kesah manusia. Ha ha! kita membelinya dengan uang. Doa rupanya seharga seratus ribu rupiah.”

Baca juga  Siapa Tahu yang Kelima?

Wisatawan itu tertawa kurang nyaman dengan ungkapan itu. Seperti yang diperingati warga desa, Mbok Iloh memiliki darah raksasa yang memberontak dan menantang awatara Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi di masa lampau.

“Dan kau tahu… andaikan memang mereka menjadi hidup oleh roh-roh dewata, aku adalah pencipta wadah-wadah mereka. Dan aku menciptakan wadah-wadah itu atas kehendak diri, jadi kesimpulannya: kehendak diriku menciptakan Tuhan… Tuhan di muka dunia! Kita para pengukir dan pemahat lebih berkuasa dari dewata!”

“Matur suksma, Mbok, tetapi berhati-hatilah dengan ucapanmu. Kita di Ubud. Patung-patung itu mendengarkan.”

Malam itu gerhana bulan hingga bulan terbias merah. Orang-orang sibuk membunyikan kentongan atau benda apa saja yang bisa dipukul. Tujuannya adalah mengusir kepala butung Kala Rahu yang menelan Bulan, yang terputus dari badannya oleh cakram Wishnu karena raksasa itu meneguk Tirta Amertha. Dwarapala di depan Pura Gunung Lebah Campuhan, yang merupakan hasil cakap tangan Iloh Maitri, tiba-tiba berkedip dan menghela napas panjang-panjang.

Mereka pun bergegas bersama togog-togog dan ukiran kayu lainnya. Ada Patung Wishnu dengan kencana garudanya yang melintas langit, ada Patung Ganesha yang menjawab segala pertanyaan, ada lelaki tua agung berkepala empat dan berjanggut putih itu, Patung Brahma dan Patung Shiwa yang begitu tegas dan gagah bersama istrinya Patung Parvati, disusul Patung Siddharta Gautama, yang berjalan tanpa alas kaki, tampan, dan memikat. Dewa Candra Bulan masih bertempur dengan kepala Kala Rahu dan menolak ikut berbaris. Patung Kumbakarna Karebut dari daerah pura Uluwatu serta pasukan monyet-monyet mengiringinya. Begitu juga Patung Hanoman yang gesit dan Patung Kelompok Wanara-nya. Beberapa makhluk kayangan yang rendah kastanya mengikuti, termasuk togog-togog Dwarapala penjaga pura-pura luhur. Sampailah gerombolan itu di depan rumah Iloh Maitri yang sedang terlelap, lelah oleh pekerjaannya seharian.

“Selamat malam, Iloh Maitri Sang Pengukir,” sapa seorang Dwarapala dengan tegas. Iloh yang membukakan pintu langsung dihadang keringat dingin dan pucat seketika. Patung-patung dan ukiran itu hidup semua, bernapas dan berbadan batu dan kayu, dengan mata bergelora penuh dengki yang meluap-luap. Tubuh wanita itu bergemetar hebat dan ia terkulai lemas di kaki kedua togog itu. Siddharta menghampirinya dan mengelus-elus pundaknya penuh kasih sayang.

“Kau bertutur siang ini… bahwa tanganmu, yang dikendalikan oleh kehendak diri, lebih berkuasa ketimbang kesaktian dewata. Coba kau pikirkan, makhluk fana penuh dukkha, siapa yang mengendalikan gerak-gerikmu, atau kehendak dirimu, atau tanganmu yang lihai?” Patung Shiwa yang berwajah bengis mengulas tingkah lakunya dengan berapi-api. Air mata Iloh semakin keras mengucur. Ia menghampiri kaki batu Shiwa dan sekali lagi terkulai jatuh, lalu bersujud mengecup jemari kaki patung itu.

Baca juga  Kepura-puraan

“Kami semua ingin menggulingkan kekuasaan manusia di muka bumi ini. Kami sudah memberikan dunia ini kepada kalian, tetapi hanya kalian manusia yang gemar merusak, berperang, dan tersesat. Kami bahkan sudah tidak bisa menemukan tubuh manusia dalam tiga ratus tahun terakhir ini untuk menjadi reinkarnasi seperti yang Wishnu lakukan dulu pada Rama dan Krishna, sebab imanmu semakin terkikis dan memilih untuk lupa. Kau memilih abu dan deru mesin peradaban ketimbang berdoa. Nilai kami terburai tak berarti seperti bongkahan kerikil bangunan. Mantra-mantra kini terempas bebas seperti gunung sunyi. Dan kau, Iloh Maitri, mengukir dan memahat kami sebab kau butuh uang, penuh hasrat ingin mengibarkan Bali Dwipa sebab kau, manusia modern yang berkelabut, mengalami gejolak akan tempatmu di dunia yang serba menekan. Para turis berhamburan ke setiap sudut pulau mistis kami. Kini di tepi pantai terdapat arak-arak manusia dengan arak. Kami sudah sering memperingati manusia akan alam yang mereka rusak: gunung meletus, longsor, banjir, badai, musim kemarau berkepanjangan yang membuat hutan-hutan dilahap lidah api.

Kami dituduh untuk segala macam hal: genosida ras tertentu, terorisme, ajaran kebencian, dan kekerasan. Kami begitu dibenci hingga banyak yang mengatakan kami tak pernah ada. Mereka melihat pura-pura, candi-candi, gereja dan masjid, dan ukiran pahatanmu, ya Makhluk Fana, sama seperti melihat bunga-bunga liar, amuk ombak di pantai tebing, gua-gua stalagmit, dan pepohonan: mereka mendambakan keindahan, sebab alam dikeruk diubah menjadi putaran roda-roda dan asap. Kita harus bertindak tegas. Kami telah memutuskan…”

Patung Brahma berhenti berbicara sesaat. Semua orang menyimaknya dengan jantung berdengup. Iloh Maitri masih mendongak bercucuran air mata.

“Kami akan membinasakan manusia!” seru Patung Brahma dengan lantang, disusul sorak-sorai bernyali dan penuh semangat dari patung-patung dan ukiran-ukiran dewata, makhluk halus dan manusia yang setia pada dewata. Mereka semua rupanya sudah membawa kelewang, krempangi, busur panah, ular, katapel batu, tombak tinggi. Orang-orang Majapahit membawa tombak Pataka dan keris-keris sakti pusaka. Brahma berteriak memerintah arwah-arwah gunung untuk bangun dari tidurnya dan mengamuk. Seluruh gunung di Bali seketika meletus. Udara mulai dirubungi oleh belerang dan debu vulkanis. Banjir lahar mulai melahap lereng-lereng dan sawah penduduk. Korban berguguran, yang polos maupun pendosa. Patung Shiwa memanggil badai dan menyambarkan petir pada rumah-rumah manusia. Patung Wishnu membuat gempa berkekuatan dahsyat hingga air laut berbuih dan menghantam tepi pantai. Kumbakarna mengeluarkan kelewangnya dan menusuk Iloh di dada dengan dalam.

Baca juga  Hilangnya M.Aplus

“Ingatlah, patung-patungku, aku adalah penciptamu. Dan kau telah membunuhku!” Ia terkulai dalam kubangan darahnya sendiri di depan rumahnya yang kini roboh akibat gempa.

Para Trimurti mengirimkan hujan petir dan badai api ke rumah-rumah, orang-orang yang berjalan setapak, tetapi melindungi pura-pura, hutan-hutan, dan danau dari bencana. Terdengar tangisan, jeritan orang-orang biasa, dan sahutan doa-doa para pendeta yang tenggelam dalam air bah yang tercampur lumpur lahar.

Dalam sekejap Pulau Bali kembali seperti sediakala, tetapi tak ada gedung-gedung modern, pabrik-pabrik, tiang-tiang listrik maupun menara pemancar, dan waduk di sungai-sungai. Udara terasa bersih seperti beribu-ribu tahun yang lalu, ketika manusia baru memulai menyembah dewa-dewa, membangun tempat ibadah, beternak, dan bercocok tanam. Tetapi, kali ini hanya ada binatang dan tumbuh-tumbuhan, dan mereka semua tidak memiliki akal atau pancaindra untuk menyembah, berdoa, dan memuja-muji para dewa.

“Sekarang apa? Apa tugas kita selanjutnya?” tanya Patung Wishnu.

“Jika kau memberi akal budi dan pancaindra tinggi pada binatang, manusia akan bermunculan lagi. Seperti yang aku utarakan sebelumnya, jika manusia binasa dari muka bumi, tak ada lagi yang tersisa untuk menyembah kita,” jawab Patung Ganesha.

Ada bau darah dan tengik jasad yang menjalar hingga ke penjuru pulau, tetapi burung-burung, bunga-bunga di atas gunung, dan pepohonan itu bahagia. Para binatang juga tidak mengerti akan kehadiran dewata. Mereka bahkan tidak pernah berpikir soal dewata. Biasanya setiap detik ada yang memuja-muji nama mereka, ada yang berdoa dan berkeluh kesa, ada yang menangis bahagia karena anaknya lahir sempurna atau disembuhkan dari penyakit. Kini sepi melanda. Lumut mulai bersarang di tubuh berbatu mereka. Begitu juga jamur mulai mengakar dan rayap menggerogoti tubuh-tubuh kayu itu. Tak ada seorang pun yang mampu merawat dan memberinya ampelas. Barulah mereka sadar bahwa wadah roh mereka ini fana dan tak bisa bertahan tanpa tangan dan perawatan manusia.

“Kita semua menuju ke ambang kerusakan. Dalam waktu dekat kita harus kembali ke kayangan dan tidak pernah menyentuh bumi lagi,” tutur Patung Ganesha gelisah. (*)

 

*) SARITA RAHEL DIANG KAMELUH, Lahir di Surabaya pada 10 April 1998. Kini menempuh pendidikan di jurusan teknobiomedik di universitas ilmu terapan FH Aachen, Juelich, Jerman.

Average rating 4.6 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. fela

    cara bercerita yang asyik…

Leave a Reply

%d bloggers like this: